Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Derita Mahendra?


__ADS_3

Dan sekarang Mahendra telah berada di depan dokter, yang menurut Mahendra lumayan cantik dan humble itu.


"Silahkan duduk tuan Mahendra. Seperti yang dibilang oleh perawat saya tadi. Di sini akan aku jelaskan kondisi bayi yang dilahirkan ibu Riska" kata dokter Andah mengawali bicara.


"Makasih dok" jawab Mahendra singkat.


"Begini tuan. Perlu aku sampaikan di awal untuk anda ketahui" terang dokter Andah.


"Jangan berbelit-belit dokter. Ada masalah apa dengan bayinya?" tanya Mahendra.


"Melihat tanda-tanda saat bayi lahir, saya curiga bayi anda mengalami kelainan jantung bawaan" jelas dokter Andah.


"Apa itu bahaya dok?" tanya Mahendra. Mahendra sudah tak bisa berpikir jernih lagi.


"Harus kita evaluasi seberapa besar kelainannya. Dan itu hanya bisa dengan dokter spesialis bedah jantung anak. Dan kebetulan di rumah sakit ini tidak tersedia dokter dengan sub spesialisasi itu" sambung dokter Andah.


"Lantas?" seru Mahendra.


"Bayi anda harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Dan itu hanya ada di rumah sakit ibukota" kembali dokter Andah memberi penjelasan.


Mahendra duduk lemas di depan sang dokter.


"Apa itu tercover asuransi dokter?" tak tahu lagi Mahendra dapat biaya darimana. Dia sudah tak bisa berpikir lagi dengan semuanya.


"Anda pakai asuransi apa tuan? Kalau asuransi resmi dari pemerintah? Anda punya?" tukas dokter Andah.


"Saya kurang tahu nyonya, asuransi dari kantor istri saya" jelas Mahendra.


"Di cek aja di bagian admin. Lumayan bisa mengurangi biaya" saran dokter Andah


"Terus kapan dirujuknya dokter?" tanya Mahendra.


"Sebaiknya tunggu stabil. Bayi ini musti diperiksa lengkap dulu untuk mendapatkan diagnosa akurat sehingga penanganan yang diberikan tepat sasaran" sambung dokter Andah.


"Anda masih diberi waktu untuk siap-siap tuan, karena biaya operasi jantung sangatlah tidak murah" kata dokter Andah menambahi.


"Apa itu harus?" sela Mahendra.


"Tentu tuan" jawaban dokter Andah membuat Mahendra semakin lemas dibuatnya.


"Oke tuan Mahendra, apa ada yang perlu ditanyakan lagi?" tanya nya.


"Sementara belum dok. Boleh nggak sih kalau aku berharap diagnosa dokter salah?" tukas Mahendra.


"Ha...ha....boleh saja. Itu hak anda. Yang penting saya sudah menyampaikan hasil analisa saya setelah memeriksa bayi anda yang baru lahir" terang dokter Andah.


Tak ada wajah sedih di wajah Mahendra, hanya ada wajah murung karena kalut memikirkan biaya dari mana untuk semua nya itu.


"Oh ya tuan Mahendra, apa anda mengenal nyonya Rania?" tanya dokter Andah tiba-tiba.


Mahendra yang sebelum nya menunduk, akhirnya menatap sang dokter. Dia menautkan alis saat mendengar dokter Andah menyebutkan nama Rania di depanya.


"Ada apa dok?" tanya Mahendra.

__ADS_1


"Oh nggak, hanya ingin nanya aja. Karena aku pernah lihat anda berada di kamar nyonya Rania saat dia rawat di sini beberapa waktu yang lalu" tukas dokter Andah.


"Ooohhh dia mantan istri saya dokter" beritahu Mahendra.


"Ooooo...begitu ya?" timpal dokter Andah nampak ada rona bahagia yang disembunyikan olehnya.


"Lantas tuan Raditya itu apanya?" sambung dokter Andah.


Padahal dokter Andah tahu, gosip apa yang terjadi antara Raditya dan Rania.


"Heemmmm..." Mahendra nampak berpikir untuk menjawab.


"Sudahlah tuan Mahendra, saya sudah tahu kok hubungan mereka" tukas dokter Andah sembari tersenyum mengejek.


"Malah saya tidak mengikuti lagi perkembangan hubungan mereka dokter" bohong Mahendra.


"Oh ya, apa anda terlalu sakit hati dikhianati mantan istri anda?" tanya dokter Andah.


"Begitulah" Mahendra berlagak sebagai korban di sini. Tentu saja Mahendra ingin mendapatkan simpati dari dokter yang sepertinya kepo dengan urusan pribadi Raditya dan Rania.


"Baiklah tuan Mahendra, kapan-kapan kita sambung lagi saat aku visite. Sepertinya anda asyik juga buat teman ngobrol" kata dokter Andah beringsut dari duduk dan melangkah menjauhi Mahendra.


Mahendra keluar ruangan operasi setelah mendapat penjelasan dokter anak itu.


"Apa yang terjadi?" tanya ibunya.


"Anakku diduga mengalami kelainan jantung bawaan bu" kata Mahendra menimpali.


"Cobaan apa lagi ini?" tukas ibu Mahendra.


"Hah..." kata Mahendra yang ingin melepaskan beban.


Semenjak menikah dengan Riska ada saja hal tak mengenakkan yang dialami.


Seandainya dia tak tergoda rayuan Riska dan tak berujung pengkhianatan yang menyebabkan Riska hamil saat Mahendra masih menikahi Rania.


Mahendra memukul-mukul kepalanya sendiri. "Kamu itu memang bodoh Mahendra...bodoh...bodoh..." kata Mahendra merutuki dirinya sendiri.


"Kenapa? Menyesal sekarang?" sindir ibu kepada Mahendra.


"Bisa diam nggak sih? Kalau ibu di sini hanya ingin mengolok aku saja, mendingan pulang sana" kata Mahendra dengan ketus.


Saat Mahendra masih bersitegang dengan sang ibu, panggilan kembali datang.


Mahendra masuk kembali, ternyata Riska telah dipindah di ruang pemulihan.


"Puas kamu, sudah buat repot aku" kata pertama yang keluar dari mulut Mahendra saat bertemu dengan Riska.


"Apaan sih kamu ini? Kamu nggak senang apa, anak kamu sudah lahir selamat" tukas Riska menanggapi. Riska yang hanya diberikan anesthesi spinal tentu saja bisa mengobrol dengan Mahendra sejak dia keluar kamar operasi.


"Iya lahir selamat, tapi tetap saja akan menambah bebanku" ungkap Mahendra.


"Kok beban?" tanya Riska menegaskan apa maksud Mahendra mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Iya, karena anak yang kamu lahirkan punya kelainan jantung bawaan" jawab Mahendra menegaskan.


"Anak yang aku lahirkan itu anak kamu juga" sergah Riska.


Mahendra tersenyum sinis.


"Sayang, kenapa tanggapanmu seperti itu?" tanya Riska heran.


"Aku pusing tau, pusing memikirkan darimana biaya operasi jantung nanti" terang Mahendra.


"Kita cari bersama, karena itu anak kita mas" jawab Riska mencoba memberi saran.


Tapi Riska mulai terdiam, saat dirinya teringat bagaimana pelitnya Mahendra untuk mengeluarkan biaya saat Chiko berada di ruang ICU. Padahal Chiko adalah darah dagingnya sendiri.


Riska menutup mulut urung bicara. Memikirkanya aja dia takut sendiri. Takut Mahendra akan meninggalkannya.


'Semoga saja dia tak tahu sampai nantinya' harap Riska dalam benak.


Karena lelah, marah-marah melulu. Mahendra tertidur di samping ranjang Riska.


"Lebih baik kamu tak tahu sayang" gumam Riska sembari mengelus puncak kepala Mahendra.


Riska ikutan tertidur karena badannya berasa capek akibat masa persalinan yang lama dengan kontraksi yang kuat. Apalagi pengaruh bius spinal yang masih ada, sehingga nyeri luka operasi belum berasa membuat Riska bertambah nyenyak.


.


Sementara itu Raditya yang masih di jalan bersama pak Supri mendapat telpon dari Beno.


"Bos, aku ada info terupdate. Anak Mahendra sudah lahir dan disinyalir ada kelainan jantung bawaan" terang Beno langsung saat panggilan tersambung.


"Heemmmmm, dengar dari mana?" tanya Raditya.


"Beno gitu loh" sombong Beno.


"Beneran bos. Saat ini Mahendra pasti sedang pusing mikirin biaya operasi anaknya, apalagi musti dirujuk ke ibukota" kata Beno menjelaskan detail. Info darimana, hanya Beno yang tahu.


"Oh ya Beno, untuk nyiapin acara di tempat tuan Handono tunggu info dariku saja. Paling lambat besok siang" jelas Raditya.


"Kenapa? Takut ditolak ajakan kawinnya?" ledek Beno.


"Sialan loe. Gue ngajak nikah ya, bukan kawin" tolak Raditya.


"Ha...ha...iya..iya...gitu aja sewot sih bos" tukas Beno.


"Di mana loe sekarang? Kutunggu di lounge hotel nanti" suruh Raditya.


"Bahas apalagi?" Beno menimpali.


"Masalah perusahaan yang disini. Aku ingin minggu depan masalah di sini sudah clear, beres dan kita balik ibukota" ucap Raditya.


"Yeeeiiiii....Siska I'm coming" teriak Beno bahagia.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading 😊


__ADS_2