
Sepeninggal Raditya yang keluar lagi dari ruang bayi, dokter Andah sengaja mendekati Rania.
"Anda memang beruntung sekali nyonya, mendapat perhatian yang begitu besar dari tuan Raditya" kata dokter Andah mengawali obrolan.
Rania diam. Rania tak begitu suka karena sang dokter mulai membahas masalah pribadi.
"Bukankah anda adalah wanita yang sangat tenar beberapa bulan yang lalu? Digerebek suami karena kedapatan selingkuh" imbuh dokter Andah.
Lama-lama Rania jengah juga mendengar kata-kata dokter Andah yang membuat telinga merah bagi yang mendengarnya.
"Bukan urusan anda dokter" tandas Rania.
"Dan bisa-bisanya anda menggaet bujang tampan seperti tuan Raditya untuk menjadi ayah bagi si kembar" kata dokter Andah semakin sinis.
"Kamu punya ilmu pelet apa nyonya?" suara dokter Andah semakin membuat panas telinga.
"Maaf dok, apa mencampuri urusan pribadi pasien sekarang juga menjadi tugas seorang dokter?" tukas Rania.
"Ha...ha...apa anda marah?" dokter Andah malah terbahak.
"Aku hanya bicara berdasar fakta yang ada nyonya" lanjutnya.
"Fakta yang hanya berdasar pembenaran versi anda kan?" tukas Rania.
Dokter Andah terdiam.
"Kalau tak tahu benar tidaknya, jangan sok tahu dok" imbuh Rania.
"Ha...ha...semua orang bahkan sudah tahu nyonya, bahwa anda suka selingkuh" terang dokter cantik itu.
"Siapa yang suka selingkuh?" sela Raditya yang datang di waktu yang tepat, membuat dokter Andah gelagapan.
Raditya sudah bisa menebak arah pembicaraan mereka tadi. Dan pasti Rania sedang dirundung oleh dokter yang merawat kedua putranya itu.
"Sori dok, admin sudah kuselesaikan. Kedua putraku bisa langsung dibawa pulang?" tanya Raditya.
"Sebenarnya itu yang mau kubicarakan tuan. Sepertinya bayi kedua, masih besok pulangnya" jelas dokter Andah. Tapi Raditya melihat ada niat terselubung dari dokter itu. Sengaja mengulur-ngulur waktu kepulangan bayinya.
Lama dibiarkan, dokter ini makin menjadi aja. Batin Raditya.
"Alasannya?" netra Raditya memicing dan butuh penjelasan.
"Berat badannya turun hari ini" jelasnya untuk meyakinkan Raditya.
"Kalau tak boleh pulang, aku minta dirujuk saja. Karena bukannya membaik, kenapa berat badannya malah menurun?" tegas Raditya dan tak ingin berbasa basi dan sok baik lagi kepada dokter yang telah merundung Rania barusan. Mana bisa Raditya terima itu.
__ADS_1
"Coba aku periksa sekali lagi" kata dokter Andah meralat ucapannya. Takut juga akan kata Raditya barusan.
Setelah memeriksa kembali, dokter Andah membolehkan keduanya dibawa pulang bersamaan.
Dengan binar mata bahagia Rania menggendong bayi pertama, bayi kedua digendong oleh bu Marmi yang menyusul masuk.
"Sehat-sehat kalian cucuku" tutur bu Marmi.
.
Pak Supri melajukan mobil ke arah yang berbeda dari biasanya. Bukan kediamaan tuan Handono dan bukan juga kontrakan milik bu Marmi.
"Kita ini mau ke mana? Kamu nggak ada niatan menculik aku dan kedua putraku kan?" tanya Rania.
"Kamu ini banyakan nonton sinetron dech" tanggap Raditya.
"Beneran nanya. Ini mau ke mana?" tanya ulang Rania.
"Kan kemarin sudah aku bilang, kita pulang ke rumah" kata Raditya kembali menjelaskan.
Bu Marmi sampai terbengong saat mobil berhenti di bawah bangunan tinggi menjulang. Yang sangat terkenal di kota ini, jikalau yang tinggal di sini pasti orang-orang yang uangnya tak terhingga.
"Tuan Raditya tinggal di sini?" tanya bu Marmi tak percaya.
"Belum bu dan baru akan tinggal di sini" kata Raditya menjelaskan.
Bu Marmi aja terbengong, apalagi Rania. Mimpipun tak pernah dia alami, jika suatu saat akan tinggal di hunian mewah ini.
"Sampai kapan kalian duduk di situ, ayo turun" suara Raditya membuyarkan lamunan Rania.
Raditya ganti menggendong bayi yang ada pada Rania, sementara tangan satu menggandeng lengan Rania seakan tak mau lepas.
"Yeeeiiiii, anggep aja kita nyamuk ya Supri" tukas bu Marmi yang mengikuti langkah Raditya. Barang-barang di mobil pun diberesi oleh pak Supri.
"Ini kamar kembar" beritahu Raditya setelah mereka masuk ke penthouse nya.
Rania tercengang, di sana sudah ada inkubator dan perlengkapan bayi lengkap tak ada satupun yang ketinggalan. Sangat berbeda dengan sambutan keluarga saat Chiko lahir.
Air mata Rania lolos begitu saja.
"Loh, kok malah nangis sih?" kata Raditya sembari mendekat ke Rania.
"Makasih atas perhatian kamu kepada kedua putraku" ucap Rania.
"Jangan bilang seperti itu lagi. Ingat mereka juga putraku" tulas Raditya.
__ADS_1
Dan yang tak kalah mengejutkan, Raditya juga menyiapkan dua perawat bayi yang ada di rumah sakit untuk bekerja padanya. Raditya tak ingin Rania terlalu lelah merawat keduanya.
Perhatiannya sungguh besar kepadaku. Batin Rania.
"Bu Marmi, aku minta tolong" ujar Raditya.
"Untuk apa tuan?" tanya bu Marmi.
"Bantulah Rania merawat kedua putraku di sini" pinta Raditya.
"Loh, terus toko kelontongnya?" tanya bu Marmi yang masih memikirkan kelanjutan sumber penghidupan Rania.
"Biar nanti kusuruh Beno cari orang untuk mengelolanya" kata Raditya.
"He...he....sampai lupa kalau tuan Raditya sultan yang sebenarnya" bu Marmi menjawab sembari tertawa. Demikian juga Rania, tak mengira. Kesalahan satu malam nya berakhir di penthouse mewah ini.
.
Raditya masih sibuk dengan keriwehan penyambutan kedua putra kembarnya, sementara Beno juga riweh dengan urusan pemanggilan Mahendra sebagai saksi.
Siang ini memang jadwal pemanggilan Mahendra untuk dimintai keterangan.
Mahendra sengaja dijemput orang-orang Beno untuk menghadap ke penyidik, sehingga Mahendra tak bisa mengelak lagi.
"Ingat tuan Mahendra, kata-kata tuan Raditya beberapa hari yang lalu itu bukan ancaman belaka" jelas Beno saat Mahendra hendak turun menghadap ke penyidik.
Ucapan Raditya bukanlah gertak sambal.
Hampir dua jam Mahendra berada di ruang penyidik.
Mahendra membenarkan semua tindak penggelapan uang yang dilakukan Dimas. Mahendra tak menampik jika Dimas melakukan melalui tangannya sebagai bawahan dan beberapa staf direksi yang lain.
Oleh penyidik, staf direksi yang diajak rapat oleh Raditya kemarin ternyata juga dilakukan pemanggilan terhadap mereka. Sementara status mereka sama, masih sebatas saksi.
Mahendra juga mengutarakan motif apa sehingga Dimas melakukan semua itu. Selain untuk membuat Grub Samudera bangkrut, ternyata dirinya juga punya dendam pribadi terhadap Raditya.
Veronica, mantan tunangan Raditya adalah orang yang dicintai Dimas sejak lama. Dirinya sakit hati karena Veronica lebih memilih Raditya pada saat itu. Padahal Dimas saat itu juga telah menikah dan sudah punya anak.
Veronica yang saat ini juga tengah berbadan dua hasil hubungan dengan pacarnya. Begitu memutuskan tunangan Raditya sudah tak mau tahu lagi berita tentang putri tuan Rahardian.
Dan di sana Mahendra memberi tahu kemungkinan lokasi di mana Dimas sekarang berada.
Tak ingin menunggu lama, pihak berwajib langsung tancap menuju lokasi yang disebutkan Mahendra. Segala kemungkinan harus diantisipasi.
Laporan Raditya tentang Dimas tak hanya kasus penggelapan saja. Tapi juga kasus penjebakan dirinya delapan bulan yang lalu. Penjebakan yang berujung dengan penggerebekan suami wanita yang ternyata juga ikut membantu Dimas.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading