
Raditya sengaja mengajak Rania ke sebuah mall terbesar di ibukota.
Rania sampai lupa masuk lewat pintu mana.
"Padahal di kota ku aja mall nya sudah gedhe, di sini bisa bingung aku nyari jalan keluar" tukas Rania bergurau.
"Makanya nggak dibolehin pergi sendiri, musti ada suami yang harus ngedampingin" Raditya menimpali.
"Cari makan aja yukkk. Ntar baru keliling" ajak Raditya.
"Makan terus pulang aja, Celo dan Cio bagaimana?" ulas Rania.
"Sayang, Celo dan Cio ada Opa dan Oma nya. Jangan kuatir dech" tanda Raditya.
Raditya kembali meraih lengan Rania berjalan ke arae foodcourt.
"Ingin menu apa?" tanya Raditya.
"Heemmmmm apa ya?" Rania bingung musti memilih apa karena terlalu banyak pilihan.
"Masakan Jepang aja yuk. Semenjak kamu hamil aku hampir nggak pernah makan makanan jenis itu" terang Raditya.
"Emang tahu aku sedang hamil???" sela Rania.
"Enggak...he...he..." Raditya terkekeh.
"Tapi sejak delapan bulan lalu, selera makan aku berubah total. Kapan-kapan kuajakin dech ke warung nasi pecel langganan aku. Padahal sebelum itu, nggak pernah aku makan macam begituan" imbuh Raditya.
Rania mengiyakan saja permintaan sang suami untuk makan di resto Jepang yang ada di mall itu.
"Yank, tapi aku tak paham dengan pilihan menunya" kata Rania jujur.
"Kamu sukanya apa? Manis gurih atau yang lain?" tanya Raditya.
"Boleh coba ramen sama shabu-shabu?" tanya Rania.
"Tentu sayang" Raditya pun memanggil pelayan yang membawakan buku menu untuk mereka tadi.
Bahkan Raditya meminta chef khusus untuk melayani di ruang vip nya.
"Loh kok skalian chefnya?" tanya Rania heran.
Chef yang asli dari Jepang itu mengangguk hormat ke arah Raditya dan Rania.
"Khusus untuk melayani kamu sayang" ujar Raditya.
"Sultan mah bebas ya? Kalau aku bayar sendiri akan berpikir beribu-ribu kali buat makan mahal seperti ini" kata Rania.
"Siapa bilang aku yang nraktir, ntar kamu loh yang bayarin" tukas Raditya bergurau.
"Hah? Balik aja. Nggak jadi pesan" kata Rania beranjak.
Raditya terbahak.
"Kartumu itu digesek beribu kali untuk beli menu ini, nggak akan berkurang nol nya" ujar Raditya menimpali.
"Jadi makan nggak nih?" sambung Raditya.
__ADS_1
Rania masih ragu.
"Sayang, duduklah. Apa perlu kusuapin?" Raditya menawari sang istri yang masih nampak belum yakin.
Rania pun duduk.
Raditya pun menyodorkan ramen yang diminta Rania.
"Coba lah" ujar Raditya.
Rania mencicipi sedikit, "Enak" serunya.
Rania coba lagi, "Kok nggak seperti yang pernah aku coba selama ini ya?" ujarnya.
"Gimana?" sela Raditya.
"Ini lebih enak sih" kata Rania menanggapi.
"Terang aja, chefnya aja dari Jepang langsung. Mau coba ini?" tanya Raditya menyodorkan irisan daging, ikan mentah itu.
Rania langsung saja menggeleng. Rania belum pernah makan itu.
"Kamu pasti bayangin ikan yang yang masih hidup kan? Ini enak loh yank" jelas Raditya sembari menyuapkan sebuah sushi ke dalam mulut.
"Nggak amis kah?" tanya Rania heran. Meski pernah kenalan dengan makanan seperti itu, tapi isinya bukan ikan mentah. Sesuai cita rasa lidah Rania.
"Aaaaaaa..." kata Raditya sembari mengambil sushi dengan sumpit dan menyodorkan ke arah Rania.
Rania buka mulut dan coba mengunyah.
"Heemmmm, kok nggak amis ya? Enak kok" ulas Rania sambil mengunyah sushi yang disuapkan Raditya.
"Huhhhh... Kenyangnya" keluh Rania.
"Gimana nggak kenyang, tuh lihat" tunjuk Raditya ke arah piring kosong di meja.
"He...he...makan aku ini berguna juga untuk Celo dan Cio" alesan Rania.
"Ntar malam untuk aku juga" bisik Raditya di telinga sang istri.
Raditya tersenyum berhasil menggoda wanita di ssmpingnya ini.
"Sudah yuk" kata Rania.
"Kok buru-buru?" imbuh Raditya.
"Ini sudah lama loh yank" ujar Rania sembari melihat arah jam tangannya.
Raditya beranjak menunggu kasir, "Loh katanya aku yang bayarin?" tanya Rania pada sang suami.
"Ntar...ntar aja" tukas Raditya dan mengeluarkan kartu sakti yang ada di dompetnya.
Raditya sedikit memaksa sang istri untuk pergi belanja barang-barang yang diingini.
Mengajak Rania belanja bukan hal mudah bagi Raditya.
Aneh memang sang istri. Batin Raditya.
__ADS_1
"Kita ini mau nyari apaan? Di rumah kan sudah ada yank" tolak Rania saat Raditya memegang sebuah tas yang sangat mahal.
"Heemmmm ini ditolak, itu ditolak" kata Raditya sambil memikirkan sesuatu.
"Ayo ikut aku. Kalau ini kamu tak ada akses untuk menolak" Raditya tetap memegang tangan sang istri.
Saat kaki Raditya melangkah ke arah pakaian dalam wanita.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Rania. Sungguh sangat malu dia saat ini. Tak pernah sekalipun Mahendra menemani di area seperti ini. Mahendra pasti akan langsung menunggu di sebuah outlet minuman jika Rania sibuk memilih pakaian dalaman.
Lah ini Raditya, malah dia yang lebih sibuk memilihkan.
"Yank, ini ya" kata Raditya sambil membawa lingerie merah marun untuk sang istri.
"Ini juga bagus" katanya meraih yang warna hitam.
Bahkan Raditya raih lebih banyak lagi.
Tak tahu di mana lagi Rania musti taruh muka, karena banyak pasang mata melihat ke arah keduanya.
Raditya tak perduli, malah asyik ke blok yang lain.
"Yank, sudah itu aja" Rania tak mau lagi berada di tempat ini. Rasanya ingin Rania bersembunyi di kolong meja. Sayangnya nggak ada tempat seperti itu.
Dengan santainya Raditya menaruh barang di meja kasir.
"Semua kak, bungkusin" pinta Raditya membuat sang kasir bingung. Rania yang bersembunyi di belakang Raditya tentu tak kelihatan, sehingga sang kasir mengira kalau laki-laki di depannya seorang penjahat. Membeli lingerie sebanyak itu.
"Ayo kak, hitung aja" suruh Raditya.
"Ini untuk siapa tuan?" telisik sang kasir.
"Hitung aja, nggak usah banyak tanya dech" imbuh Raditya.
"Heran aja sih tuan, biasanya ibu-ibu yang beli. Untuk menyenangkan suami, kata mereka" sela kasir di sebelahnya.
Raditya mulai paham, jika saat ini kedua kasir di depannya pasti sedang mencurigai dirinya.
"Nih istri ku. Apa salahnya kalau dia yang pilih aku yang bayarin" kata Raditya sambil bergeser untuk memamerkan Rania di depan kedua kasir.
"Maaf nyonya" kata salah satu kasir.
"Hitung aja kak" kata Rania dan hendak menyerahkan kartu sakti yang diberi Raditya beberapa waktu lalu.
Tentu saja sang kasir menjadi gugup kala Rania mengeluarkan kartu unlimited itu.
Tidak sembarang orang bisa punya kartu itu.
Rania menekan nomor pin sesuai kata Raditya beberapa waktu yang lalu.
"Selesai nih. Ayo kita pulang" ajak Rania.
"Kutunggu nanti malam kamu pakai itu" kata Raditya terang terangan.
Di lobi besar dekat pintu masuk utama, Raditya dan Rania kembali bertemu dengan Andah.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading