Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Biro Jodoh


__ADS_3

Di lobi besar dekat pintu masuk utama, Raditya dan Rania kembali bertemu dengan Andah.


"Eh, kalian lagi. Jodoh kali ya, kita sering bertemu" sapa Andah menghampiri Raditya dan Rania dan dengan sok akrab sekali.


Rania hanya menanggapi dengan senyum.


"Loh, enak ya kamu Rania. Bundanya jalan-jalan, anaknya ditinggalin" sindir Andah.


"Hheemmm, nggak papa lah. Sekali-kali" terang Rania.


"Seorang ibu pun harus punya otak yang waras agar bisa merawat anak-anaknya. Betul begitu ya dok? Anda pasti lebih paham" sambung Rania.


"Dan ini adalah salah satu usaha untuk menjaga kewarasan saya" Rania mengangkat beberapa paper bag yang ditentengnya. Menunjukkan ke arah Andah. Bukan niat mau pamer, tapi jengah juga bila beberapa kali harus menjawab sindiran dan olokan Andah.


"Dan beruntungnya saya, suami saya sangat pengertian akan hal ini" kembali Rania menyindir sang dokter itu.


Andah diam, tak bisa membalas kata-kata Rania.


"Permisi dokter Andah" sambung Rania meninggalkan Andah yang masih berdiri di tempat, sementara Rania menggandeng mesra sang suami.


.


"Pintar juga istriku" kata Raditya setelah kaki mereka keluar dari lobi.


"Pintar ngomong ya?" tukas Rania menanggapi.


"Heemmmm" Raditya mengangguk.


"Kalau dibiarin lama-lama mereka ngelunjak. Aku tak mau diinjak-injak lagi oleh mereka" ujar Rania.


"Nah, itu baru nyonya Raditya" sambung Raditya.


"Mulai sekarang, kamu harus belajar menutup mata dan menutup telinga" kata Raditya.


"Untuk?" Rania menanggapi.


"Gosip-gosip yang mungkin akan menguras emosi kamu" sambung Raditya.


Rania mengangkat alis sebelah.


"Sayang, akan gosip bermunculan jika aku mengumumkan pernikahan kita. Mau tak mau kamu harus menyiapkan mental juga" ucap serius Raditya kala mereka sudah berada di mobil.


"Kok?" Rania masih heran.


"Apa hubungan nikah kita dengan menyiapkan mental?" Rania masih belum ngeh apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Sayang, kamu tahu kan latar belakang keluarga Marino?" tatap mata Raditya serius mengarah ke Rania.


Rania menggeleng. Sementara Raditya menepuk jidat kala mendapat jawaban Rania.


Bagaimana mau menjelaskan, dia aja tak tahu keluarga Marino yang sebenarnya.


"Coba kamu gogling dan ketik keluarga Marino" suruh Raditya. Daripada repot ngejelasin tentang keluarganya.

__ADS_1


Rania melakukan apa yang diminta sang suami.


Apa yang keluar ketika ketikan keluarga Marino berhasil dia buka, Rania membelalak tak percaya.


Keluarga terkaya nomor dua setelah keluarga Baskoro.


"Sudah bisa mencerna apa yang kukatakan tadi?" tanya Raditya.


"Aku berasa menjadi cinderela sekarang" tukas Rania.


"Ha...ha...tapi bukan karena sepatu kaca. Tapi karena jejakku yang tertinggal dan menghasilkan dua bocah yang sangat menggemaskan" sambung Raditya menimpali.


"Tapi jujur bukan karena itu saja sih. Dari awal kejadian itu, aku suka dengan gaya kamu yang agresif meski waktu itu kamu masih dalam pengaruh obat. Rona merah pipi kamu pun masih aku ingat saat itu" imbuh Raditya.


"Ih, mesum. Stop jangan dibahas lagi. Aku malu" kata Rania.


"Makanya, seperti yang aku bilang tadi. Siapin mental kamu. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi di belakang, saat tiba waktunya aku mengumumkan berita pernikahan kita" terang Raditya kembali ke topik awal.


"Kalau gitu nggak usah dipublikasikan" jawab Rania.


"Wah, nggak bisa begitu dong. Berita bahagia ini harus di sampaikan. Agar kolega bisnis tahu kalaulah Raditya ini sudah laku dan punya ekor dua" jawab Raditya sembari terbahak.


.


Sampai di mansion, Rania mampir ke kamar Celo dan Cio.


Didapatinya kedua bayi sedang tidur di pangkuan suster-suster.


"Baru selesai minum. Takutnya kalau langsung ditaruh, muntah nantinya" jawabnya.


"Oke mba, mumpung tidur. Kutinggal ke kamar ya" kata Rania pamit istirahat.


"Baik nyonya" jawab kompak keduanya.


Saat akan keluar Rania berpapasan dengan bu Marmi.


"Rania, sudah makan?" tanya bu Marmi.


"Sudah bu, tadi diajakin Raditya makan di luar" jelas Rania.


"Oke lah kalau begitu. Oh ya, tadi tuan dan nyonya Andrian barusan balik" beritahu bu Marmi.


"Iya, tadi juga nelpon daddy nya Celo dan Cio" sambung Rania.


"Bu, kalau capek istirahat aja" suruh Rania.


"Capek apaan? Aku malah bingung di sini mau ngerjain apa. Semua sudah ada yang ngerjakan" kata bu Marmi.


"Atau kalau suami kamu boleh, bu Marmi mau balik aja ke kota asal. Toko gerabah kamu biar ibu aja yang nerusin" imbuhnya.


"Jadi nggak kerasan nih tinggal sama cucu?" tandas Rania.


"He...he...kalau lihat mereka sih sebenarnya nggak tega. Tapi mau gimana lagi, jenuh juga kalau tak ngapa-ngapain" terang bu Marmi.

__ADS_1


"Terus nanti pak Supri gimana?" Rania meneruskan guaraunnya.


Bu Marmi hanya bisa garuk kepala.


"Nah, bu Marmi nikah aja sama pak Supri. Agar ada kegiatan" lanjut Rania.


"Mana ada pihak wanita ngelamar duluan Rania??" tukas bu Marmi.


Wah, pak Supri ada lampu hijau nih. Tinggal bilang ke pak Supri untuk melamar bu Marmi. Biro jodoh dibuka. Batin Rania.


"Sayang...sayang...kamu di mana?" terdengar suara Raditya memanggil Rania.


"Tuh dicariin" seloroh bu Marmi. Membuat Rania berlalu begitu saja untuk mendekat ke arah suara.


Raditya yang nampak baru keluar dari ruang kerja, menghampiri Rania yang juga mendekat ke arahnya.


"Celo dan Cio?" tanya Raditya.


"Tidur sama mba-mba suster" beritahu Rania.


Wah, kesempatan nih. Batin Raditya bersorak dan langsung menggandeng Rania.


"Ada apaan sih? Buru-buru amat?" tanya Rania.


"Ada sesuatu yang urgen dan musti segera kuselesaikan denganmu" tukas Raditya serius.


"Ada masalah apa?" sedari tadi Raditya baik-baik saja. Pikir Rania.


"Ikut saja. Jangan banyak nanya" Raditya menutup pintu kamar dan tak lupa mengunci. Dan tak lupa dia menekan tombol peredam suara di kamarnya.


Raditya menghampiri Rania yang masih berdiri bengong di tempatnya.


Kadang Raditya dibuat heran dengan tingkah sang istri yang polos seperti itu.


Apa memang Mahendra tak mengajarkan variasi apapun. Ishhhh kok aku malah kepikiran mantan suami Rania sih. Gerutu batin Raditya.


Beruntung juga kalau Rania masih polos.


Raditya cium bibir ranum di depan matanya dan Rania mulai paham dengan hal urgen yang disampaikan Raditya tadi.


Pelan-pelan Rania mulai mengimbangi permainan Raditya. Lama juga Rania tak merasakan hal itu. Tapi bersama Raditya ada sensasi yang tak dirasakannya kala bersama Mahendra.


Raditya yang lama tak mendapatkan sensasi aneh yang mulai menggelayar dalam tubuhnya, mulai menyerang sang istri.


Rania dia tidurkan pelan di ranjang. Raditya mulai menelusuri leher jenjang itu dengan sapuan bibir. Sementara tangan nya mulai tak terkondisikan dan meraih pengait di punggung Rania.


Saat melihat aset kembar yang seakan menantang, tanpa menunggu waktu Raditya pun menikmati puncaknya.


Rania yang mulai masuk ke permainan Raditya pun mengeluarkan suara indah membuat Raditya bertambah semangat.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2