Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Sidang Mahendra


__ADS_3

Sampai di bandara, Riska yang buru-buru tak sengaja menabrak sepasang suami istri yang berjalan di depannya.


"Sori...sori..." kata Riska terburu dan tanpa menoleh ke arah sepasang suami istri itu.


Raditya hendak mengejar, tapi langsung saja ditahan oleh Rania.


"Orang sabar disayang Tuhan" ujar Rania sembari tersenyum ke arah sang suami.


Rania tak sengaja kembali melihat ke arah perempuan tadi yang menabraknya.


"Yank, apa tadi Riska ya?" kata Rania.


"Kamu ini terbayang-bayang si Riska mulu? Mana mungkin dia berada di sini. Ngapain? Bukan kah dia harusnya berada di rumah sakit. Nungguin bayinya" ucap Raditya menimpali.


"He...he...iya juga sih. Tapi beneran dech yank. Dia mirip dengan Riska" kata Rania.


"Ngapain bahas Riska, ayo!" gandeng Raditya ke Rania dan berjalan ke arah terminal E, yang merupakan pintu masuk untuk penumpang tujuan luar negeri.


.


Sementara Riska juga tak menyadari jika yang ditabraknya tadi adalah Rania yang sedang bersama Raditya.


"Huh, semoga aja sidang Mahendra belum dimulai" Riska menghempaskan pantatnya di kursi pesawat kelas bisnis itu.


Kembali Riska terlelap karena badannya masih berasa capek semua.


"Nyonya, sudah sampai" beritahu pramugari kala telah sampai tujuan.


Riska menggeliat, dan baru menyadari jika sudah tak ada penumpang lain di sampingnya.


"Makasih sudah ngebangunin" kata Riska ketus.


Tak sempat mampir ke rumah yang selama ini ditanggali oleh Riska bersama Mahendra, Riska langsung menuju pengadilan tempat Mahendra disidangkan.


Ternyata jam sidang mundur karena teman-teman Mahendra lah yang disidangkan terlebih dahulu.


Meminta ijin ke salah satu petugas, Riska menghampiri Mahendra yang terlihat kurus dan kusut seperti tak terawat.


"Melihat penampilan dia sekarang, bagaimana bisa dengan bodohnya aku mencintainya dulu" gumam Riska.


"Apa kabar?" sapa Riska duduk di depan Mahendra dengan menyilangkan kedua kaki jenjangnya. Rok bawahan minim bahan membalut kaki Riska kali ini.


Mahendra yang ditinggal Riska sejak dua bulan lalu dan tidak diberi uang sama sekali, mana bisa mengutamakan penampilan sekarang.


Mahendra mendongak kala ada yang memanggil.


Kedua mata nya memicing kala melihat wanita yang bermake up tebal dengan baju minim bahan itu.


Bahkan beberapa kiss mark nampaknya sengaja diperlihatkan olehnya.


"Riska???" kata Mahendra.


"Iya, aku Riska" seru nya.


Mahendra berdiri dan hendak menarik baju Riska.


"Untuk apa kamu ke sini? Masih ingat kalau kamu punya suami?" hardik Mahendra.


"Karena masih ingat, makanya aku ke sini. Ingin melihat seberapa lama nantinya kamu akan menjadi benalu di hidupku" sarkas Riska.


"Apa maksud kamu? Mana uang lima puluh juta yang kuminta waktu itu?" tagih Mahendra.


"Ha...ha...uang lima puluh juta tak seberapa bagiku sekarang" kata Riska terbahak.


"Kalau begitu kasih aku sekarang" tagih Mahendra.


"Hhhmmmm tidak semudah itu Fergusso" tukas Riska.


Mahendra menatap tajam ke arah Riska.


"Heiiiii...perlu kamu tahu Mahendra. Uang yang kamu minta waktu itu, habis untuk biaya rumah sakit anakmu. Jangan kamu kira aku yang menghabiskan" tandas Riska.


Mahendra yang tidak tahu, jika selama menunggu anaknya di rumah sakit di ibukota Riska selalu menginap di hotel.


"Apa uang itu habis? Padahal bayi yang kamu bilang anakku itu meninggal hanya beberapa hari dirawat di rumah sakit sana" sambung Mahendra.


Riska terdiam. Apa mungkin Mahendra tahu, jika dirinya tak melunasi biaya di rumah sakit. Pikir Riska. Ah masa bodoh.


"Jawab Riska. Jika memang masih, kembalikan padaku" suruh Mahendra.


"Sudah habis. Biaya makan tempat tinggal lumayan mahal di sana" kata Riska beralibi.


"Uang yang kamu bawa waktu itu bukan puluhan juta Riska tapi ratusan juta" terang Mahendra.

__ADS_1


"Itu aku tahu. Tapi kalau sudah habis, mau gimana lagi?" kata Riska sembari mengangkat kedua bahunya.


"Aku tak mau tahu, kembalikan uang hasil kerja ku" kata Mahendra sembari mengancam.


"Ha...ha...kamu sekarang tak berada di posisi bisa mengancamku Mahendra" ujar Riska terbahak.


Tawa Riska terjeda kala ada panggilan ke Mahendra untuk masuk ruang sidang.


Riska pun masuk ruang sidang, lewat pintu yang berbeda saat Mahendra masuk tadi.


Di depan nampak Beno dan juga Siska. Siska yang belum dikenal oleh Riska.


Semua yang hadir di sidang putusan itu mendengar dengan khidmat saat agenda putusan dibacakan.


Ternyata kedua orang tua Mahendra yang juga mertua Riska hadir di sana juga.


Mertua yang bagai benalu menurut Riska.


"Owh, mama hadir juga? Apa sudah dipastikan kalau papa sehat untuk mendengar vonis anaknya. Hati-hati dengan jantung papa loh Mah" sindir Riska.


Wanita setengah baya itu pun mendelik ke arah Riska.


"Apa lagi mau kamu? Setelah kamu hancurkan hidupnya?" kata mama Mahendra penuh emosi.


"Yang tenang Mah. Ingat tak boleh buat kegaduhan di sini" kata Riska memberitahu dan terlihat senyum penuh kemenangan di sudut bibir Riska.


Hakim di muka mulai membacakan pasal-pasal demi pasal yang menjerat terdakwa. Hingga beberapa lembar.


Dan sekarang tiba akhirnya sang hakim membacakan vonis kepada Mahendra.


Mahendra duduk dengan tenang di depan. Semua mata terfokus ke arah hakim yang bicara, tapi ada juga yang fokus dengan terdakwa.


Mahendra dijatuhi hukuman penjara empat tahun lamanya dipotong masa tahanan.


Papa Mahendra yang ikut melihat sidang anaknya itu pun pingsan seketika kala sang hakim mengetuk palu kala putusan selesai dibaca.


Pingsannya papa Mahendra membuat sidang berlangsung sedikit ricuh.


Papa Mahendra dibawa ke pos kesehatan terdekat untuk segera mendapat penanganan.


Riska yang masih duduk dengan tenang di ruang sidang, tak segera menyusul kedua mertuanya tadi.


"Kalau benalu tetap saja akan jadi benalu" gumam Riska.


"Makanya aku harus segera berikan ini ke Mahendra, daripada selama empat tahun ke depan dia akan jadi benalu di hidup ku" seru Riska dalam hati.


Riska memilih membatalkan niat nya. Dan akan mendatangi Mahendra keesokan hari.


"Pulang aja ah, badanku juga berasa pegal semua" gumam Riska.


Laki-laki semalam sangat ganas meski usianya tak lagi muda. Aku harus bisa bertemu lagi dengannya lain waktu. Janji Riska dalam hati.


Riska naik taksi online untuk pulang ke rumah Mahendra yang dibiarkannya terbengkalai selama dua bulan lama nya.


Melihat penampilan Riska yang sekarang, banyak tetangga yang menyambut dan tak lagi mencibirnya.


Dasar penjilat kalian. Umpat Riska dalam hati.


Dengan penuh keramahan bak mencari muka, mereka mengikuti langkah Riska.


Saat membuka pintu depan. Didapatinya rumah yang pengap dan banyak sarang laba-laba di sana.


"Wah, mendingan nginap di hotel aja gue" kata Riska bermonolog dan kebetulan salah satunya mendengar.


"Kenapa tak tidur di rumah aja Riska, kan bisa dibersihkan. Kita bantu dech. Tapi tak gratis ya!" seru nya.


Dasar mata duitan. Lagi-lagi Riska mengumpat.


"Oke, dalam satu jam harus beres. Aku mau keluar dulu cari makan" ujar Riska sembari menyalakan mobil Mahendra yang juga lama ngangkrak di garasi rumah. Mobil sejuta umat karena ramai dipakai oleh khalayak itu.


Beberapa tetangga saling berebut untuk membersihkan rumah Mahendra.


Biasalah mereka saling menggosip saat mengerjakan semuanya.


Kali ini Riska tak berbohong. Setelah satu jam dia kembali ke rumah untuk mengistirahatkan badan yang berasa remuk redam.


Rumahnya kembali bersih.


"Mana upahnya?" todong salah satu ibu-ibu dengan menengadahkan telapak tangan.


"Nih. Bagi aja sendiri" ujar Riska sembari melempar beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Makasih Riska. Sering-sering aja begini" seru yang lain.

__ADS_1


Riska menghempaskan badannya kala beberapa tetangganya telah pergi dari rumahnya.


Tanpa menunggu lama Riska telah terlelap. Sisa pertempurannya semalam dengan kliennya menyisakan letih yang luar biasa.


.


Sementara itu di Raditya dan Rania masih berada di pesawat.


"Masih lama yank?" tanya Rania.


"Bentar lagi kita transit di Doha" terang Raditya.


"Loh, baru transit? Belum sampai?" kembali Rania bertanya.


"Belum. Setelah transit masih sepuluh jam lagi kira-kira" beritahu Raditya.


Raditya sengaja tak memberitahu sang istri mau ke mana tujuannya kali ini.


"Lama nya" kata Rania.


"Nggak kok, kalau capek tidur aja" suruh Raditya.


"Capek juga tiduran mulu" sela Rania.


Rania beranjak.


"Mau ke mana?" tanya Raditya.


"Hemmm toilet. Nih penuh banget" kata Rania menunjuk ke arah dadanya.


"Kenapa nggak di pompa di sini aja" bilang Raditya.


"Oh iya ya" kata Rania menyetujui usulan sang suami.


Raditya berdiri untuk mengambilkan alat pumping yang selalu tersedia di dekat Rania.


"Nih" sodor Raditya.


Setelah memakai kain penutup, Rania pun menyiapkan semua.


"Sudah?" tanya Raditya.


"Huh, rasanya mulai lega yank" kata Rania menghela nafas.


"Pasti tadi kenceng banget? Andai tak di pesawat sudah kubantuin yank" seru Raditya.


"Isssshhh...nggak mau ngalah sama anak" bilang Rania.


"Kan mereka sudah ada gudang susu di lemari pendingin yank" terang Raditya.


Rania pun bersungut menanggapi ucapan sang suami membuat Raditya tertawa menanggapi sang istri.


Setelah transit di Doha, kembali Raditya dan Rania melanjutkan perjalanan.


"Yank, laper" seru Rania.


"Abis dipompa pasti laper dech" terang Raditya.


Raditya memesankan menu makan buat sang istri yang memang nafsu makannya luar biasa kala menyusui dua anak kembarnya.


"Mau disuapin" kata Raditya kala Rania sedang asyik makan.


Rania melakukan apa yang diminta suami manjanya itu.


"Heemmmm, masih laper" kata Rania dan tak lama pramugari menyerahkan dessert yang turut dipesan Raditya tadi.


Rania tersenyum senang. Karena sang suami sangat paham akan maunya.


"Makasih sayang" bilang Rania.


"Sama-sama. Tapi..." kata Raditya menggantung ucapannya.


"Tapi apa?" tukas Rania.


"Semua nya tak gratis. Sampai di sana, gantian kamu yang harus menuruti apa permintaan aku" kata Raditya absurd. Pasti ada udang di balik rempeyek.


Bibir Rania mencebik. Menjadi istri seorang Raditya Marino adalah anugrah yang luar biasa bagi Rania. Rania tak menampik itu. Meski mereka bukan berasal dari kalangan yang sama.


Raditya mengurai senyum melihat reaksi Rania.


"Semoga kita bisa membersamai anak-anak kita hingga menua sayang" kata Raditya semberi mengelus puncak kepala Rania.


"Aamiin" tukas Rania kala dirinya masih mengunyah makanan.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading


__ADS_2