Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Tragedi


__ADS_3

Riska hendak beranjak dan meninggalkan kamar.


Tapi tiba-tiba pusing menyerang dan Riska pun ambruk tepat di belakang pintu.


Laki-laki tua itu kebingungan karena Riska yang pingsan. Beberapa kali tubuh Riska disenggol tapi tak ada reaksi.


Dia ambil yang diberikan kepada Riska tadi, dan berlalu cepat meninggalkan kamar hotel yang disewa atas nama Riska.


Riska sadar saat ponselnya berbunyi dengan keras. Entah sudah berapa kali panggilan masuk.


Riska mencoba menggerakkan badannya yang terasa kaku.


Kembali dia hubungi Alex saat ponsel terpegang.


"Lex lo di mana? Jemputin gue di hotel" bilang Riska sembari menyebut nama hotel dia menginap.


"Ogah, gua ada pelanggan nih. Sedari tadi lo dihubungin nggak bisa" jawab Alex.


"Ayolah Lex, plisssss" kata Riska memohon.


Tapi panggilan Riska ditutup begitu saja oleh Alex. Alex yang seorang player. Semenjak didepak oleh Vero, hanya menjadi pria panggilan lah yang bisa dilakukan olehnya.


"Sialan kau Lex" umpat Riska.


Riska menghubungi nomer resepsionis. Minta tolong agar dipanggilkan ambulan rumah sakit karena badannya berasa lemas. Keluhan yang sama akhir-akhir ini.


"Ada apa sih dengan badan gue?" gumam Riska.


Sering juga Riska mengalami kram perut bawah.


Ambulan membawa ke rumah sakit terdekat.


"Anda bersama siapa nyonya? Adakah keluarga yang mendampingi? Kalau ada tolong suruh daftar ke admisi" kata perawat jaga yang menghampiri Riska.


"Hhmm ribet amat sih rumah sakit. Aku ditangani dulu atau bagaimana. Datang-datang sudah buat emosi saja" kata Riska sengit.


"Maaf itu sudah prosedural nyonya " sela perawat itu.


"Aku sendirian, terus aku musti daftar ke mana?" tukas Riska mulai jengkel.


"Apa biar didaftarin sama petugas jaga depan itu? Kalau begitu saya boleh minta identitasnya nyonya?" tanya sang perawat.


Riska memutuskan untuk daftar sendiri aja dulu. Dan perawat itu mengarahkan di mana admisi berada.


Riska melakukan apa yang diminta oleh perawat tadi. Ternyata tak ada keluarga memang repot juga. Apa-apa musti sendiri. Gumam Riska.


Tak lama sebenarnya, Riska hanya perlu menyerahkan identitas dan tanda tangan untuk daftar aja.


Kembali Riska ke tempat semula, dan menghampiri orang yang menurut Riska adalah dokter jaga.


Oleh perawat tadi Riska dihampiri dan disuruh untuk baring.


Setelah ditanya keluhan dan dilakukan pemeriksaan, Riska masih dibiarkan terbaring di sana.


"Lama amat sih?" gerutu Riska dengan tak sabar.


Mendapatkan pasien dengan typikal seperti Riska memang butuh kesabaran yang luar biasa.


"Nyonya, kali ini anda harus rawat inap. Ada pemeriksaan lanjutan yang perlu dilakukan" saran dokter jaga.


"Aku sudah tak kenapa-napa dok. Badan hanya lemas saja. Apa nggak boleh rawat jalan saja?" tanya Riska.

__ADS_1


"Sebaiknya dirawat nyonya, biar ketahuan pingsan anda karena apa" tegas sang dokter.


Sementara Riska masih menimbang untung rugi jika sampai rawat inap.


Ini saja barusan Riska kehilangan dua puluh juta karena pingsan.


Kalau sampai rawat inap berapa puluh juta dia akan rugi. Pikir Riska.


"Kalau anda setuju, biar perawat saya memberikan infus untuk anda" jelas dokter itu.


Riska masih saja diam belum memutuskan.


"Dok, apa sakit saya berbahaya? Kenapa sampai harus rawat inap?" tanya Riska.


"Tergantung hasil pemeriksaan penunjang yang lain nyonya. Untuk sementara obat yang saya berikan hanya bersifat sementara untuk mengurangi keluhan anda" imbuh dokter itu memberikan penjelasan.


"Aku harus rawat kalau gitu?" tanys Riska.


"Sebaiknya begitu" ujar sang dokter.


"Berapa lama dok?" tanya Riska kemudian.


"Tergantung kondisi anda nyonya. Kalau anda setuju, setelah obat masuk maka anda akan dipindah ruangan" imbuh sang dokter.


Akhirnya Riska menyetujui daripada nanti di rumah pingsan lagi. Pikir Riska.


Tak lama Riska dipindahkan ke ruang rawat inap.


Riska coba hubungi kembali nomor Alex. Hanya Alex satu-satunya yang bisa diharapkan kali ini.


Selain tak punya siapa-siapa lagi, selain Alex.


Sudah lima kali Riska tekan nomor Alex. Yang terakhir malah ponsel dimatikan.


"Sialan Alex" gerutu Riska.


"Laper lagi gue" seru Riska.


.


Setelah makan, Rania diajak Raditya ke mall. Lama juga dirinya tak membahagiakan sang istri.


"Males aku yank" tolak Rania.


Perutnya yang semakin membesar membuatnya malas pergi ke mana-mana. Kalau ingin apapun juga tinggal bilang ke bu Marmi. Tak menunggu lama semua sudah siap.


"Sekali ini aja yank. Lama juga loh kita tak keluar dari sarang sama-sama" seru Raditya dalam canda.


"Emang kita lebah? Keluar sarang" tukas Rania.


"Iya, raja dan ratu lebah" imbuh Raditya terbahak.


Kadang omong kosong seperti ini juga jadi bumbu pemanis dalam rumah tangga.


Rania akhirnya mau juga. Daripada terus dipaksaian oleh sang suami.


Saat jalan pun, Raditya mendorong sang istri yang tak dibiarkan kelelahan dengan naik kursi roda.


"Tuh kan, malah kamu capek dibuatnya" ujar Rania.


"Nggak papa lah demi istriku tercinta" kata Raditya menimpali.

__ADS_1


Raditya dan Rania terlibat canda tawa saat jalan mengelilingi mall.


Seorang wanita tua tiba-tiba bersimpuh di kaki Rania.


"Maafkan mama Rania" katanya tiba-tiba.


Untung reflek Raditya bagus, sehingga kursi roda bisa langsung berhenti saat wanita tua itu bersimpuh.


Raditya pun pasang badan untuk sang istri. Tak akan dia biarkan sesuatu yang membahayakan istrinya mendekat.


"Siapa anda?" hardik Raditya dan menjauhkan kursi roda yang di tumpangi sang istri.


Otomatis mereka bertiga menjadi pusat perhatian pengunjung mall.


Seorang wanita tua yang lusuh duduk bersimpuh di depan pasangan muda itu.


Semua pasang mata mengarah ke mereka.


"Siapa dia yank?" tanya Rania yang memang tak mengenal siapa wanita itu.


Raditya mengedikkan bahu karena juga tak mengenal.


Sesaat wanita tua itu mendongak, membuat Rania tertegun melihat nya.


"Mama nya Mahendra?" gumam Rania. Raditya pun mendengarnya.


Apa maksud wanita tua ini tiba-tiba menghadang.


"Maafkan mama Rania, maafkan!" serunya dengan derai air mata.


Ada apa ini, tak ada angin tak ada hujan. Kenapa dia tiba-tiba minta maaf. Bagaimana seorang wanita tua bisa tahu keberadaan aku dan istriku. Ini kebetulan atau disengaja. Pikir Raditya waspada.


Wanita itu hendak mendekat ke arah Rania, tapi keburu dicegah oleh Raditya.


"Jangan mendekat!" cegah Raditya.


"Saya hanya ingin meminta maaf pada menantu saya tuan. Apa salahnya?" tukas wanita tua itu dengan air mata berderai.


Rania yang memang gampang tersentuh, "Biarkan saja sayang, sepertinya mama tulus mengucapkan" kata Rania membuat Raditya membelalak tak percaya, karena begitu mudahnya Rania percaya dengan air mata yang mungkin saja itu air mata buaya.


Tapi Raditya tak kuasa mencegah ketika wanita tua itu memeluk sang istri.


"Makasih nak, sudah memaafkan mama" seru wanita itu ketika mengurai pelukan.


Sebuah pergerakan cepat dilakukan oleh Raditya karena ada yang mencurigakan di antara para pengunjung mall yang berjubel menonton mereka.


Dan....


Dorrrrrr...


Sebuah tembakan terdengar.


Suasana menjadi kalang kabut dan panik semua.


Raditya terkapar bersimbah darah dekat Rania, setelah pelukannya terurai karena pingsan.


"Sayaaaaannnnngggg..." teriak Rania.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2