Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Akad (2)


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Pak Supri melaju santai selepas keluar gang.


"Pak, bisa dipercepat? Takutnya terkejar oleh mobilnya Mahendra" kata Rania.


"Nggak usah nyonya, kanan kiri belakang dan depan mobil kita sudah terkawal. Lihat saja" terang pak Supri.


Dan setelah dilihat Rania, mobil yang ditumpangi olehnya sudah seolah-olah mobil iring-iringan pejabat saja.


"Ini ulahnya tuan muda kamu ya pak?" tanya Rania.


"Begitulah nyonya. Tuan muda tak akan membiarkan orang terdekatnya terluka sedikitpun" jelas pak Supri.


.


Di kediaman tuan Handono, setelah mendapat kabar jika ada mobil tak dikenal yang mengikuti mobil yang ditumpangi pak Supri. Beno segera bergerak cepat.


"Gimana kabar mereka?" Raditya menghampiri Beno. Hampir satu jam acara mundur.


Nyonya Yasmine tersenyum smirk melihat kegelisahan Raditya.


Andah Kirana, putrinya disuruh mendekati Raditya.


"Tenang tuan Raditya, bentar lagi pasti nyonya Rania akan datang" kata Andah yang dokter anak itu mencoba menghibur Raditya.


Raditya memandangnya aneh.


"Sapa loe, SKSD" sela Beno di antara mereka. Beno yang tak merasa mengundang itu sengaja mendekati Raditya.


Beno membisikkan sesuatu ke telinga Raditya.


"Oke, siap-siaplah Beno" tandas Raditya sambil menjauh dari Andah membuat sang dokter menghentakkan kaki karena sebal.


Tak lama, mobil yang dikemudikan pak Supri berhenti tepat di gerbang depan halaman tuan Handono.


Beberapa anak buah Raditya mendekat ke mobil dan membukakan pintu untuk sang calon nyonya.


Raditya menarik nafas lega melihat Rania yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.


"Cantik" gumam Raditya.


"Sudah siap?" Raditya mengulurkan tangan tapi keburu ditepis tuan Andrian.


"Halalin dulu baru pegang-pegang" cegah tuan Andrian.


"Cuman pegang Pah. Lagian sudah jadi produknya. Si kembar" bisik Raditya. Tuan Andrian menimpuk bahu Raditya membuat Raditya tertawa.


Raditya telah bersiap di depan penghulu dan tuan Handono. Sementara Rania duduk di sampingnya.


Meski telah latihan beberapa kali dan terbiasa berhadapan dengan bermacam-macam karakter orang. Nyatanya rasa gugup tetap terlihat di wajah Raditya.


Nyonya Andrian menghampiri sang putra dan memberikan minum untuk Raditya.


"Minumlah, biar tenang" suruh mama.


Setelah meneguk minuman kemasan, rasa gugup sedikit berkurang.


"Sudah siap tuan Raditya?" tanya pak penghulu. Raditya pun mengangguk pasti.


"Baiklah, acara akan kita mulai" kata pak penghulu. Semua perhatian terpusat ke sepasang sejoli yang hendak mengikat janji sehidup semati itu.


Tuan Handono menyalami tangan dingin Raditya. Tuan Handono ingin menikahkan sendiri putrinya itu untuk terakhir kali. Dalam hati, tuan Handono berharap agar putri semata wayangnya bisa menemukan kebahagiaannya dengan menikahi Raditya.


"Raditya Bin Andrian Marino apa kamu siap?" tanya serius pak penghulu.


Dan Raditya mengangguk pasti.

__ADS_1


"Silahkan tuan Handono" penghulu menyilahkan ayah Rania itu.


"Aku nikahkah engkau dengan putriku Rania Putri Handono bin Handono dengan mas kawin dibayar tunai" kata tuan Handono.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Putri Handono bin Handono dengan mas kawin tersebut tunai" tegas Raditya dengan satu kali tarikan nafas.


Kata 'sah' yang ditunggu Raditya akhirnya terdengar juga, membuat lega semua.


Raditya mengecup kening Rania yang telah sah menjadi istrinya.


Meski belum ada rasa cinta dalam relung hati Rania untuk Raditya.


Semua tamu menyalami dan memberikan selamat untuk pasangan sah baru itu.


Nyonya Yasmine dan Andah pun melakukan hal yang sama.


"Andainya aku tahu kalau Andrian punya putra setampan kamu. Pasti sedari dulu aku akan minta menjadi besannya" katanya tanpa berniat bercanda.


"Jangan dengerin kata mama" sela Andah tersenyum.


"Selamat Rania" Andah menyalami Rania. Tak lupa dia membisikkan sesuatu. Hanya Rania yang tahu.


"Tentu dokter, akan aku jaga suamiku jiwa dan raga" kata Rania mengurai senyum seakan mengejek dokter di rumah sakit itu.


Bagaimana mungkin dia akan melakukan kesalahan yang sama. Hanya manusia bodoh saja yang melakukan itu. Batin Rania.


Giliran tetangga-tetangga julid Rania yang menghampiri.


"Selamat ya kalian. Ternyata Oppa Korea sekarang jadi tetangga kita. Asyik bisa ngelihat dia setiap hari" kata mereka dengan maksud bercanda.


Rania hanya menanggapi biasa saja.


"Tuan, hati-hati diselingkuhin" kata salah satunya.


Rania menatap tajam ke ibu-ibu yang punya mulut bagai pisau itu.


"Beneran tuan, nyatanya sudah punya anak aja dia. Padahal kan nggak punya suami" sambungnya memprovokasi.


Dan hal itu didengar oleh tante Yasmine.


"Beneran tuh Andrian?" tanya tante Yasmine kepada papa Raditya.


"Biarlah itu menjadi urusan Raditya dan Rania" kata Papa Andrian menimpali dan tak ingin memperpanjang urusan.


Acara hari ini lumayan lancar, meski ada sedikit masalah karena ulah Mahendra.


.


Di tempat lain, Mahendra memukul-mukul setir mobil karena kehilangan jejak mobil Rania saat di perempatan lampu merah tadi.


Dia juga baru teringat kala sudah melewati jauh gang yang kemungkinan dilewati oleh mobil Rania.


Mobil Mahendra telah sampai di kediaman tuan Handono kala Raditya telah selesai mengucapkan ijab kabul.


"Aku harus cari cara lain untuk memisahkan mereka" gumam Mahendra.


"Kalau aku tak bahagia, Rania pun demikian" janji Mahendra yang terucap saat ini.


Mahendra melajukan pelan mobil yang dikemudikan olehnya.


Tak jauh dari kediaman tuan Handono, laju mobilnya dipotong oleh mobil lain yang tiba-tiba berhenti di depannya.


Gerutuan Mahendra lolos begitu saja.


Tapi saat melihat siapa yang turun, Mahendra berniat hendak melarikan diri.

__ADS_1


Mahendra mundurkan mobil, tapi sebuah mobil lain di belakang membuatnya mengurungkan niat. Mahendra telah dikepung.


"Serahkan diri anda baik-baik tuan Mahendra" kata salah satu petugas itu dengan menodongkan senjata dan dia ketuk pintu mobil Mahendra.


Mahendra yang melamun terkaget dengan ketukan pintu itu.


Pintu mobil dibuka paksa, Mahendra pun terciduk dan digelandang petugas untuk dibawa ke kantor pihak berwajib.


Beno yang berada tak jauh dari situ tersenyum puas melihatnya.


"Siap-siap saja kalian semua" gumam Beno.


Beno kembali saat Raditya tengah bersama dengan Rania.


Tawa lebar selalu menghiasi wajah sang tuan muda.


"Selamat ya bos" kata Beno menyalami Raditya dan Rania tentu saja. Tapi belum sampai tangannya meraih tangan Rania tapi keburu ditepis oleh Raditya.


"Apaan sih bos? Biasa aja kali" tukas Beno.


"Sekarang jadi nggak biasa. Karena Rania sudah sah jadi istri gue" tegas Raditya.


"Yeeeiii...semua yang di sini juga tahu bos" imbuh Beno.


Rania hanya diam melihat mereka berdebat. Seru juga. Batin Rania.


Tuan Handono yang tengah berbincang dengan papa Andrian, terlihat memanggil Raditya dan Rania untuk mendekat.


"Tuh, mau dikasih wejangan" ucap Beno.


Raditya mengernyitkan alis tanda tak tahu arti kata yang diucapkan Beno.


"Nasehat bos" kata Beno menerangkan.


"Ooooo...kirain apa" sela Raditya.


Raditya dan Rania mendekati tuan Handono.


"Raditya, mulai saat ini Rania telah menjadi tanggung jawab kamu. Aku percayakan kebahagiaan nya padamu. Aku harap tak akan kamu sia-siakan" kata tuan Handono memberikan nasehat.


"Baik ayah" ucap Raditya menanggapi.


"Dan aku mohon ijin jika nantinya Rania akan aku boyong ke ibukota" imbuh Raditya.


"Rania sudah menjadi hak kamu. Dan kamu Rania, sebagai seorang istri kamu wajib taat apa kata suami. Ikutlah kemana suami mu mengajak" nasehat tuan Handono kepada putri semata wayangnya itu.


"Raditya, cepat berikan status yang jelas untuk kedua cucuku" sela tuan Andrian.


"Cucu mu itu anakku Pah" terang Raditya.


"Yakin???" tandas tuan Handono.


"Seribu persen yah" jawab Raditya membuat suasana menjadi ramai.


Selesai acara, "Maaf yah, aku dan Rania belum bisa menginap. Kembar nungguin di rumah" kata Raditya hendak pamitan.


"Selamat menikmati malam panjang bos Radit" sela Beno.


"No! Raditya" sela mama.


"Mama apaan sih?"


"Ingat Rania habis melahirkan, jadi tunggu dia selesai nifas nya" terang mama.


Raditya garuk kepala, karena baru teringat akan hal itu.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2