
Riska masuk ke kamar yang telah lama tak ditempatinya.
"Owh, akhirnya bisa meluruskan pinggang juga" ujar Riska sembari melempar tubuhnya sendiri ke ranjang empuk di sana.
Kalau tak ke sini, ke mana lagi Riska akan menuju.
Tak ada sanak saudara dan tak ada tempat tinggal di ibukota.
"Apa aku pergi saja ya dari sini? Punya usaha seperti mommy ini sepertinya menjanjikan juga. Hanya tinggal terima bersih aja dari anak-anaknya" ujar Riska yang tak langsung istirahat meski badannya sudah terbaring daripada tadi.
"Aku hanya butuh koneksi saja" pikiran culas Riska langsung tuning jika memikirkan hal jelek seperti itu.
"Hhhmmm baiklah. Sambil mencari anggota, aku akan cari koneksi. Sambil menyelam minum air" ujar Riska terkekeh.
Tak lama Siska terlelap dalam tidur.
Sudah terbiasa dengan dinginnya lantai penjara, ranjang single di kamar itu menjadi tempat ternyaman bagi Riska.
Walau Riska sudah dinyatakan bebas dan hanya wajib lapor sampai kasus dinyatakan selesai, tapi tak menutup kemungkinan status Riska bisa menjadi tersangka lagi.
"Mom, sudah dengar berita belum kalau kasus Riska tambah meluas" seru laki-laki cantik itu.
"Mom juga akan kena imbas lagi" lanjutnya.
"Bukankah kasusnya telah ditutup, mommy juga sudah keluar uang sangat banyak untuk menutupnya" seru mommy.
"Nggak tahu juga sih Mom, itu berdasar info yang aku dapat" tukas nya.
"Prostitusi?" tukas mommy.
"Sudah, kamu yang tenang. Kepala di sana, kenal baik dengan mommy. Jika mommy sampai kena masalah, maka orang itu akan aku seret juga" ujar mommy terkekeh.
Laki-laki cantik itu tak komen lagi. Percaya dengan sang bos. Meski sudah tua tetap saja cantik.
.
Beno meninggalkan rumah sakit dengan tergesa, sesuai perintah sang bos.
"Laki-laki yang bersama dengan dokter itu? Ngapain juga diselidikin?" gumam Beno masih tak abis mengerti.
Beno menelpon seseorang dan menyuruhnya untuk pergi ke rumah sakit dan mengawasi Andah di sana.
"Apa bos sudah menemukan sesuatu tapi belum sempat cerita ke gue ya. Pasti ada alasan bos nyuruh gue untuk melakukan itu" batin Beno.
Akhirnya Beno sendiri ikutan pergi ke rumah sakit di mana Andah mengenyam pendidikan.
Beno duduk di ruang tunggu pasien depan poliklinik.
"Dia pasti di poli anak" tebak Beno. Bererapa anak buahnya juga sudah berada di beberapa titik di ruang tunggu.
Pergerakan Andah tak boleh Beno lewatkan hari ini.
Entak keberuntungan dan nasib baik berpihak pada Beno.
Andah keluar ruangan bersama laki-laki yang barusan masuk ke poli anak.
"Owh, dia sudah punya kekasih ya? Syukurlah. Pasti tak akan mengganggu keluarga bos lagi" batin Beno.
Dengan gerakan mata, Beno menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengikuti Andah dan laki-laki yang bersamanya.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa tak asing dengan gestur laki-laki tadi ya? Tapi wajahnya asing" gumam Beno.
Tring. Sebuah pesan masuk ke ponsel Beno. Berasal dari anak buahnya tadi.
"Laki-laki yang bersama dokter Andah bernama Rudi" ketiknya.
"Rudi? Rudi?" gumam Beno sambil mengingat sesuatu. Nama yang asing bagi Beno. Tapi tidak ketemu juga.
"Kalau aku chat Raditya, pasti tak akan dibalas" gumam Beno.
Beno hendak melangkah keluar dari lobi poliklinik tapi tak sengaja mendengar obrolan beberapa perawat yang menggosip tentang Andah.
"Ternyata dokter Andah itu banyak juga ya gandengannya. Kemarin-kemarin tuan Dimas. Sekarang tuan Rudi. Mana mereka keren-keren lagi" kata mereka bercerita.
"Eh, kok nama Dimas disinggung oleh mereka?" pikir Beno.
"Apa kalian kenal dengan tuan Dimas, dia itu temanku. Tapi lama kali tak jumpa. Kira-kira kalian tahu nggak sih kemana seringnya dokter Andah pergi bersama Dimas?" Beno menyela di antara mereka. Bahkan dengan santainya duduk di antara kerumunan para perawat yang sedang istirahat ngobrol. Biasa modus Beno keluar untuk dapat informasi.
"Tuan nama nya siapa? Tampan sekali. Beruntung sekali dokter Andah berada di antara nya" seru mereka.
Beno tersenyum sok manis. Kalau mau dapat info ya musti manis-manisin mereka dulu.
Awas saja bos, kalau tak naikkin bonusku. Kubela-belain duduk di antara gadis-gadis agar dapat informasi. Gerutu Beno.
"Siapa namanya tuan tampan?" salah seorang dari mereka dengan postur paling gedhe menoel pipi Beno.
Beno sampai istighfar dalam hati karena kagetnya.
"Kasih info dulu dong kemana perginya Dimas, atau Andah. Baru nanti kukasih tahu nama ku" tutur Beno menimpali dengan segala akal bulus nya.
"Oke tuan. Biasanya dokter Andah tuh sukanya ke salon kecantikan di daerah yang dekat mall itu loh. Oh ya tuan, kukasih info rahasia" kata orang yang menoel pipi Beno tadi.
"Apa?" tanggap Beno menimpali.
"Oh ya? Apa hidungku ini bisa dirampingkan?" canda Beno.
"Jangan tuan, ntar mancungnya hilang dong" kata mereka kompak.
Beno pun tertawa.
"Takut gue ikutan begituan. Jangan-jangan ilegal lagi" seru Beno.
"Nggak kok tuan, yang melakukan tetap dokter" tampik mereka atas perkataan Beno.
"Meski dokter kalau nggak ada ijin namanya tetap ilegal" tukas Beno.
"Oke, makasih semua. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Aku mau cari Dimas duluan" Beno mencari alesan untuk pergi.
Mereka sepertinya tak ingat untuk nanyain nama gue. Batin Beno senang.
Saat Beno sudah tak nampak, barulah mereka teriak mencari Beno. Beno hanya tertawa menanggapi, karena saat ini Beno sudah berada dalam mobil dan melaju ke tempat yang disebutkan tadi.
"Salon kecantikan, dekat mall" Beno mencoba mengingat. Karena setahunya tak ada salon di daerah situ. Yang ada klinik kecantikan, itu pun ada dalam mall.
Beno melajukan mobil pelan, dengan pandangan menelisik melihat kanan kiri sisi jalan.
"Hhhmm ketemu. Apa salon kecil itu?" kata Beno saat netranya menemukan tulisan salon di sana.
"Apa mungkin? Salon kecil begitu" Beno masih saja bermonolog.
__ADS_1
Beno menepikan mobil di bawah sebuah pohon.
Untuk mengawasi dari jauh kesibukan di sana.
Dan memang keberuntungan memihak Beno kali ini.
Beno yang awalnya meragukan apa benar itu salon yang tepat, ternyata dilihatnya pergerakan sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan salon.
Mobil yang sangat Beno hafal. Cuman nopolnya aja yang beda. Karena seperti mobil yang menguntit Beno kemarin.
Beno menatap ke sana tanpa berkedip. "Untung gue nggak pake mobil nya bos hari ini".
"Bukannya itu laki-laki yang bersama Andah tadi?" gumam Beno karena hafal dengan gesturnya.
"Owh, tampan juga dia" Beno semakin mengamati rupa wajah orang yang kebetulan menghadap ke arahnya.
"Sorot matanya juga tak asing" masih saja Beno berkata sendirian.
Beno menyembunyikan wajah, saat laki-laki itu melihat ke arah mobil yang dikemudikan Beno.
"Kalau dia ke sini, berarti orang itu mengenali mobil gue" gumam Beno di dalam mobil.
Telah ditunggu lama nyatanya tak ada yang mendekati mobil Beno.
Beno kembali mendongak untuk melihat situasi. Dan orang itu telah menghilang lengkap dengan mobil mewah tadi.
"Sial, hilang buruan gue" gerutu Beno.
Dan sekarang Andah yang terlihat keluar dari salon dan menuju ke mobil sedan mewah yang terparkir tepat di depan mobil Beno.
"Hhhmm berarti emang benar salon ini yang mereka maksud. Aku harus turun untuk melihatnya sendiri" ucap Beno.
Tapi sejenak Beno mengurungkan niat karena teringat sesuatu.
"Bukannya gestur orang tadi itu gesturnya Mahendra? Bahkan sorot matanya juga sama dengan Mahendra. Kalau begitu aku suruh anak buah aja masuk ke sana. Bisa gagal nih urusan kalau aku sendiri yang masuk. Cepat ketahuan oleh mereka" kata Beno.
Beno menelpon anak buah yang disuruhnya tadi untuk meluncur ke tempat Beno berada sekarang. Dan tak lupa memberi kabar ke sang bos yang kemungkinan sekarang direpoti oleh permintaan sang istri.
Dan tepat dugaan Beno, Raditya tengah bingung sekarang.
Rania baru saja minta buah kesemek.
"Beli di mana yank?" tanya Raditya yang memang belum tahu rupa buah itu. Apalagi rasanya.
Rania menangis karena Raditya tak segera berangkat.
"Loh kok malah nangis?" tukas Raditya.
"Tuan muda" panggil pak Supri.
"Iya pak" Raditya menoleh ke arah sang sopir yang tengah duduk di bawah bersama istrinya, bu Marmi.
"Biar aku aja yang nyariin" pak Supri menawari.
"Nggak mau" sela Rania.
Pak Supri membisikkan sesuatu ke Raditya. Dan Raditya paham.
"Oke...oke...aku beliin" lanjut Raditya mengabulkan permintaan sang istri. Meski dia harus ke pasar buah sekalipun.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading