Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Ekspedisi Company


__ADS_3

Laki-laki itu dengan serius membuka tab miliknya, tentu saja memantau bisnisnya.


Riska keluar hanya dengan memakai handuk mandi dengan rambut basah terbungkus handuk juga.


"Mas, aku sudah selesai" bilangnya.


"Pakai baju kamu, abis ini kita keluar" suruh laki-laki itu ketus.


"Kita mau ke mana?" tanya Riska manja.


"Jangan banyak nanya, aku ada perlu" serunya.


Tanpa banyak kata, Riska melakukan apa yang diminta oleh tuan XX nya.


"Melihat bahannya baju ini pasti mahal" gumam Riska ketika memegang isi paper bag.


Bahkan di dalam nya juga telah disiapkan baju dalaman untuk Riska. Riska tertawa kecil melihatnya.


Riska dan tuan Rahardian yang diketahui Riska sebagai tuan xx berlalu meninggalkan hotel bersama sang sopir yang setia menunggu tuan nya di lobi.


Riska sangat hafal dengan jalan yang dilalui kali ini.


'Bukannya ini jalan kalau mau ke lapas?' Riska membatin.


Dan benar dugaan Riska, kali ini mobil berhenti di parkiran lapas.


"Untuk apa ke sini tuan?" seru Riska kala tuan xx melenggang turun.


"Kamu boleh ikut, boleh juga kalau menunggu di sini. Aku ada perlu dengan seseorang" bilangnya.


"Aku akan menunggu anda di sini saja tuan" tolak Riska, karena sejatinya Riska menghindari Mahendra yang juga berada di dalam sana.


"Baiklah" katanya sembari membetulkan letak jas nya yang sedikit berantakan karena ulah Riska di mobil tadi.


Sudah hampir sejam, Riska menunggu di dalam mobil.


"Bosan juga main ponsel sedari tadi" gumam Riska sembari beranjak dari duduknya.


Penasaran juga dengan siapa yang ditemui oleh laki-laki tadi.


Riska yang memakai kacamata hitam dan juga pakaian mahal menempel di badan, membuat beberapa petugas segan untuk bertanya.


"Pak, di mana toilet?" tanya Riska ber alibi.


"Sebelah sana nyonya" tunjuk salah satu petugas.


"Oke, makasih tuan" Riska bergegas melangkah ke tempat yang ditunjukkan oleh petugas tadi.


"Hhmmmm, bukannya ini toilet yang berada di ruang tempat kunjungan" seru Riska dalam benak.


Tak sengaja mata Riska bertampuk dengan sepasang mata Mahendra yang sepertinya sedang menemui seseorang.


Melihat punggung bidang itu, tentu saja Riska tahu siapa yang ditemui oleh Mahendra saat ini.


Alis mata Riska saling bertaut, berpuluh tanya mengendap di dada.


'Kenapa tuan xx bisa menemui Mahendra, ada hubungan apa mereka?' Batin Riska.


Riska segera berbalik kala laki-laki yang bersamanya beranjak dan bersalaman dengan Mahendra.


'Ada kerjasama dan rencana apa laki-laki ini dengan Mahendra?' batin kekepoan Riska penasaran.


Riska telah duduk di mobil kembali dan berpura-pura menata riasan kala tuan Rahardian balik ke dalam mobil.

__ADS_1


"Nggak bosan nungguin di mobil?" tanya saat tengah duduk di samping Riska.


"Hhhmmmm enggak" ujat Riska, tak mau mengaku. Padahal dia tadi barusan dari dalam dan melihat pertemuan dengan Mahendra tadi.


"Nyariin siapa tuan? Kok ke lapas? Ada saudara yang kesandung kasus kah?" tanya Riska dengan pura-pura.


"Tak perlu kamu tahu apa urusan aku. Yang penting kamu harus puaskan aku sampai besok kita balik ibukota" tandasnya membuat Riska pura-pura manyun karena pertanyaannya yang tak terjawab.


Laki-laki itu dengan nakal menoel pipi Riska dan tangan satunya menjamah area sensitif Riska.


"Ah, tangan tuan nakal dech. Tapi buat aku suka" imbuh Riska dengan nakal. Tangannya pun ikutan meraba sesuatu yang sudah menegak di sana.


"Tuan nggak sabar sekali sih" ujar Riska lengkap dengan kedipan mata.


"Nakal" seru laki-laki yang sepertinya sedang puber ke sepuluh itu.


"Balik hotel?" Riska menawarkan diri.


"Kamu juga nggak sabar?" serunya dan dijawab anggukan Riska.


Dan si bos yang bersama Riska pun meminta sang sopir untuk balik hotel.


"Bilang si Alex untuk menunda pertemuan hari ini" kata nya kepada pak sopir.


"Baik tuan, saya akan bilang ke tuan muda menantu anda" seru pak sopir yang sepertinya paham betul dengan sifat bos nya itu.


Riska dan tuan xx melenggang ke hotel laiknya sepasang muda mudi yang tengah dimabuk asmara. Mungkin orang yang melihat pasti mengira kalau lah mereka bukan pasutri yang sebenarnya karena terlalu lebay bersikap mesra.


.


Rania tengah tertidur pulas karena dihajar Raditya entah berapa ronde mereka main tadi.


"Yank, ayo ke pantai" kata Rania kala membuka mata, didapatinya Raditya sedang memakai kacamata dan serius menatap tab yang dipegangnya.


"Tengah malam? Perasaan bentar aja aku tidur" sanggah Rania.


Rania raih ponsel untuk melihat jam. "Hah? Beneran nih jam sebelas malam?" tanya Rania.


Raditya mengedikkan bahu.


"Ih kamu nakal yank. Ini semua karena ulah kamu" tukas Rania kesal.


"Kok aku sih? Siapa juga yang ketiduran" gurau Raditya.


"Kok aku nggak dibangunin, aku kan ingin ke pantai yank" ucap Rania.


"Iya, besok pagi ya. Sekarang kamu istirahat aja dulu" suruh Raditya.


"Enggak ah, mau mandi aja. Lengket semua nih badan" keluh Rania.


Raditya tertawa melihat istrinya yang masih saja manyun.


"Semua karena ulah kamu yank" gumam Rania kala mau masuk ke kamar mandi.


"Tapi kamu suka kan?" goda Raditya membuat Rania kembali tersipu. Sampai Rania tak ingat berapa kali mendapatkan pelepasan karena kungkungan sang suami.


Rania geleng kepala karena teringat akan hal itu. Sejurus kemudian, air shower mengguyur kepala dan badan yang sudah tak berbalut busana itu.


Air hangat yang keluar seakan bisa menghilangkan letih yang terasa.


Dengan mata terpejam, Rania menikmati semuanya.


Sebuah tangan nakal mengagetkan Rania.

__ADS_1


"Eh kecebong" latah Rania keluar karena terkaget.


Raditya yang ternyata sudah polos ikutan masuk ke guyuran shower.


"Loh, kamu belum mandi?" tanya Rania heran.


"Sudah. Tapi ingin mandi lagi" serunya tanpa memperdulikan Rania yang masih memandangnya heran.


Diangkatnya tubuh Rania yang termangu dan dimasukkannya ke dalam bath up.


Aroma yang disiapkan Raditya menggugah rasa yang terpendam, dan hasrat pun mulai kembali naik.


Sungguh Raditya memanglah pria yang sempurna dan pintar memanjakan Rania.


Dan endingnya bisa ditebak, lagi-lagi Raditya merengkuh kenikmatan bersama sang istri. Pasutri baru harap maklum ya readers...he...he...


Raditya membersihkan badan Rania kala sudah terpuaskan. Rania sampai lemas karena ulah sang suami.


"Yank, aku capek" keluh Rania.


"Iya abis ini kita tidur ya" seru Raditya sembari terkekeh.


Melihat tubuh Rania selalu saja membuat hasratnya kembali naik. Tapi melihat Rania yang bahkan sudah tak mampu membuka kelopak mata membuat Raditya tak tega untuk melakukannya lagi.


Rania kembali terlelap kala sudah sampai di ranjang.


Raditya menyelimuti sang istri yang mungkin saat ini sudah terbuai mimpi untuk bertemu dengan Celo dan Cio.


Dia kecup kening Rania dan sedetik kemudian telah berkutat ke tab yang sempat ditaruhnya tadi.


"Hhmmm, sepertinya ada yang mau main-main dengan perusahaan aku" gumam Raditya yang tengah mantengin nilai saham perusahaan ekspedisi miliknya sendiri. Perusahaan yang mulai dibangun oleh Raditya saat masih kuliah, dan mulai berkembang pesat kala usaha jualan online juga tengah menjamur sekarang.


"Kemarin-kemarin Samudera grub, dan sekarang perusahaan aku sendiri" gumam Raditya dengan mata masih tertuju ke layar tab yang dipegangnya.


Raditya dengan serius mantengin laporan yang dikirim Adam, anak buah yang dipercaya Raditya di perusahaan. Adam yang juga masih ada hubungan saudara jauh dengan Beno.


Dini hari Raditya baru bisa memejamkan mata, setelah memberi perintah Adam dan juga Beno untuk meneliti laporan yang dikirimkan oleh nya.


Laporan yang ditandai Raditya, karena ada yang janggal di sana.


Raditya terhenyak dari tidur, seperti merasakan ada yang menggoyang-goyang tubuhnya.


Matanya masih malas untuk membuka.


"Yank...ayolah ke pantai" suara Rania terdengar samar.


"Yank, katanya ke pantai" seru Rania di telinga Raditya.


"Aku masih ngantuk yank" balas Raditya.


"Isshhhh nggak seru. Jauh-jauh pergi ke sini, ngendon di kamar mulu" sungut Rania karena Raditya susah bangun kali ini.


"Lima menit aja sayang" tukas Raditya yang masih saja enggan membuka mata. Karena baru dua jam Raditya tertidur.


"Kalau begitu, libur juga jatahnya" seru Rania di telinga Raditya membuat mata Raditya langsung terbuka lebar.


"Oke...oke...aku siap-siap dulu" kata Raditya langsung beranjak ke kamar mandi.


Rania tersenyum penuh kemenangan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2