
Raditya memandang aneh ke istri dan sekretaris Beno itu.
Belum hilang rasa keterkejutan Raditya, Rania dan Siska malah sedang berpelukan sekarang.
"Setelah ini kamu musti cerita" tuntut Siska ke Rania.
"Loe juga, kenapa sulit sekali dihubungin?" kata Rania seakan curhat.
Siska menggandeng Rania untuk duduk di kursi tempatnya duduk tadi.
"Tahu nggak ponsel aku tuh kecopet, dan nomor kontak hilang semua. Teman-teman kutanyain juga nggak tahu keberadaan kamu" jelas Siska.
"Sekarang kamu cerita, bagaimana kamu bisa di sini? Bersama dengan tuan Raditya? Terus kabar suami kamu sama Chiko?" tanya Siska yang belum tahu cerita sebenarnya.
"Rania sekarang istri aku Siska. Dan jangan pernah singgung mantan suami dan almarhum anaknya" sela Raditya menjelaskan dan akhirnya Siska minta maaf.
"Maaf Rania, bukan maksud aku mengorek masa lalu kamu" kata Siska.
"Boleh aku kenalan sama putra kamu" ijin Siska.
"Boleh lah. Ayo" Rania beranjak dan mengajak Siska ke kamar Celo dan Cio.
Siska nampak terkejut kala lihat wajah keduanya. "Mirip sekali sama tuan Raditya" puji Siska.
Tapi dalam benaknya bertanya, apa mungkin yang dibilang oleh Riska sebelumnya benar adanya. Jika Rania selingkuh dengan tuan Raditya, hingga menghasilkan si kembar dan berujung diceraikan oleh mantan suaminya. Pikir Siska.
Melihat Siska yang diam, Rania senggol bahunya.
"Ntar kalau ada waktu kuceritain, biar nggak ada fitnah. Aku tahu jalan pikiran loe" ujar Rania.
"He...he..." Siska tertawa kecil.
"Sus, boleh kugendong?" tanya Siska kepada kedua suster yang merawat kembar.
"Namanya siapa Rania?" Siska mendongak ke arah Rania.
"Yang ini Celo dan yang ini Cio" Rania menunjuk bayinya saling bergantian.
"Celo, Cio ikut aunty yuukk" Siska mulai mengendong Celo.
"Satu-satu aja" ucap Rania sambil menyerahkan Celo ke gendongan Siska.
"Duh gantengnya ponakan aunty. Pingin satu aja kayak gini" ujar Siska.
"Isshhh bikin sendiri dong" olok Rania.
"Oh ya Rania, kemarin aku ketemu sama Siska" bilang Rania.
"Di mana?" tanya Rania penasaran.
"Aku tuh kemarin ke kantor lama kamu" Siska mulai bercerita.
"Terus?" tanggap Rania.
"Ya, aku tanyainlah dia tentang keberadaan kamu. Riska yang notabene sahabat kamu juga kan?" imbuh Siska.
"He...he...Riska satu-satunya sahabatku yang tak kamu sukai Siska" sambung Rania.
Mereka pun terbahak bersama, mengenang masa lalu.
"Tapi aku masih penasaran cerita kamu dech" sambung Siska.
"Suatu saat pasti dech aku cerita" ujar Rania.
"Kapan cerita? Nyatanya loe sudah mau pindah aja" sela Siska.
"He...he..." Rania hanya tersenyum simpul.
Raditya muncul sama Beno, "Kalau reunian ajak-ajak dong" ucap Beno.
"He...he...nggak nyangka aja tuan. Malah ketemu teman lama di penthouse anda. Padahal sedari kemarin aku nyari dia" ujar Siska.
"Jadi sahabat yang kamu cari kemarin siang itu Rania?" tanya Beno.
Siska mengangguk.
"Maaf tuan, Rania malah ku monopoli hari ini" ujar Siska.
"Reunianlah kalian. Ajak Rania jalan-jalan sana Sis. Hari ini kamu kubebasin dari pekerjaan kantor" tukas Raditya.
"Hah? Beneran tuan? Ayo Rania, mumpung tuan bos sedang baik hati nih" Siska langsung tertawa lebar.
Rania menatap sang suami.
"Beneran sayank, jalan-jalan lah sama Siska" tegas Raditya.
Raditya memberi kesempatan Rania untuk me time.
"Biar aku aja yang mengantar mereka" sela Beno.
"No, hari ini tugas kamu mengurus surat pindah Rania sama bu Marmi. Dan jangan lupa akta kelahiran Celo dan Cio" larang Raditya.
"Issshhhh...enak di Siska, nggak enaknya di gue mulu" kata Beno sewot.
"Ngiri bilang bos" sela Siska tertawa lebar.
"Ogah, gue nganan aja" ujar Beno masih saja sewot.
.
Di rumah Riska, Riska baru saja hendak menaruh kepalanya di atas bantal.
Pengaruh minuman semalam, masih sedikit memberikan efek pusing.
__ADS_1
Baru aja mau terlelap, terdengar gedoran pintu depan rumah. Rumah yang dibeli Mahendra saat masih bersama Rania.
"Siapa sih itu? Nggak tahu apa, kalau gue mau istirahat" gerutu Riska.
Riska beranjak dengan kepala keliyengan.
"Siapa sih? Pagi-pagi sudah bertamu saja?" kata Riska sembari membuka pintu yang terus-terusan digedor.
Ibu mertuanya menerobos masuk begitu saja kala pintu sudah dibuka oleh Riska.
"Dasar wanita tak tahu malu, berani-beraninya kamu menaruh aib di muka ini" tunjuk ibu Mahendra ke arah mukanya sendiri.
"Cih, sok suci kamu Mah. Hidup mama juga laiknya benalu yang selalu gerogotin hidup putra kamu" olok Riska.
"Mana mama pernah ngunjungin putra mama yang sekarang jadi pesakitan di lapas? Terus aku dapat biaya dari mana untuk cucu mama yang juga sakit itu" kata Riska dengan penuh cemooh.
Ibu Mahendra terdiam.
"Jangan hanya bisa mengolok tanpa melihat kenyataan" ceramah Riska kepada ibu mertua nya.
"Aku melakukannya karena mencari biaya untuk cucu kamu wahai nyonya yang terhormat. Atau malah biaya rumah sakit bisa ditanggung mama. Itu akan lebih baik. Jadi saya nggak perlu repot jual diri" teriak Riska.
Wanita setengah baya itu pun keluar sembari menghentakkan kaki. Sebal dengan ulah sang menantu.
"Enak saja, datang-datang marah. Emang aku siapanya" gerutu Riska.
"Tapi mau saja wanita tua itu kukelabui...ha...ha..." kata Riska sembari terbahak.
Panggilan kembali berdering di ponsel Riska.
"Rumah sakit????" gumam Riska.
"Halo, selamat pagi" sapa Riska.
"Maaf nyonya, tolong segera ke rumah sakit. Terjadi sesuatu dengan bayi anda" kata si penelpon.
"Ada apa dengan bayi saya?" tanya Riska dengan nada sok sedih padahal mukanya menunjukkan hal yang berbeda. Riska membayangkan cek yang diberikan Mahendra utuh tak digunakan untuk biaya rumah sakit bayinya. Dasar gila Riska. Othor aja sampai geregetan.
"Datang aja ke rumah sakit. Nanti akan kita jelaskan. Usahakan secepatnya nyonya" bilang si penelpon.
"Baiklah, akan kuusahakan" kata Riska ogah-ogahan.
Riska kembali rebahan kala panggilan itu terputus.
"Ntar aja gue ke rumah sakit, mendingan aku ke mall dulu. Beli sesuatu. Sepertinya alat make up aku habis dech" gumam Riska dan segera bersiap ke kamar mandi.
.
Rania dan Siska sudah jalan di mall aja sekarang diantar oleh pak Supri.
"Kamu sudah seperti nyonya besar aja Rania" olok Siska.
"Jangan suka lihat luarnya doang" tukas Rania menimpali.
"Benar juga" tandas Rania.
"Makan dulu aja yukk" ajak Rania.
Sambil menunggu berproses makanan datang, Siska ngajakin ngobrol tentang bu Marmi yang merupakan tetangganya dulu.
Rania sangat menyanjung kebaikan bu Marmi, wanita yang sangat membantu dirinya saat tak ada orang yang mau membantunya.
"Riska bilang apa saja ke kamu Siska?" tanya Rania tiba-tiba.
"Heemmmm, nggak usah dibahas dech. Orang nggak jelas gitu" jawab Siska tanpa mau mengatakan.
Rania menghela nafas panjang.
"Panjang cerita yang harus kulewati tahun ini Siska" kata Rania mulai bercerita.
Siska pun menyimak.
Rania mulai kejadian malam itu. Saat dirinya dijebak sampai dia sukses hamil si kembar. Dan tak sengaja bertemu kembali dengan Raditya, yang ternyata juga mencarinya.
"Culas sekali Riska dan Mahendra" kata Siska dengan mimik muka marah.
"Untuk apa menyimpan dendam Siska, toh nyatanya semua sudah terjadi" imbuh Rania.
"Kamu itu selalu saja begitu, terlalu baik pada semua orang. Padahal Mahendra dan Riska jelas-jelas jahat padamu" kata Siska ikut gemas karena Rania.
"Nggak baik menyimpan dendam, toh nantinya mereka pasti akan dapat balasan masing-masing" ujar Rania.
"Chiko gimana ceritanya?" tanya Siska seakan mengorek luka lama Rania.
"Nggak usah dibahas. Chiko sudah kutaruh di sisi terdalam lubuk hatiku. Chiko tetaplah kakak Celo dan Cio" terang Rania tanpa menjelaskan kronologi yang terjadi pada Chiko.
Obrolan mereka terjeda kala pesanan makanan mereka datang.
Siska menunjukkan berita tentang Riska yang dibacanya pagi ini.
"Nih, lihatlah" suruh Siska.
"Ada apa?" tanya Rania.
"Bacalah, baru komen" suruh Siska.
"Hah? Riska kena grebek. Pasangan ONS nya meninggal. Wuihhhhh" ujar Rania menanggapi.
"Makanya itu" tukas Siska.
"Kok dia bisa melakukan itu?" ulas Rania heran.
"Manusia bisa berubah Rania" terang Siska.
__ADS_1
"He...he...betul juga sih" Rania menyungingkan senyum.
Sambil makan, mereka tetap aja ngelanjutin obrolan. Kadang juga diselingi tawa keduanya.
Nampak seorang wanita bermasker mendatangi meja Rania dan Siska.
"Wah, sudah reuni aja kalian?" suaranya dengan nada mencemooh.
Rania dan Siska memandang aneh wanita yang barusan datang.
Rania menautkan alis, ada lagi nih gangguan datang. Pikir Rania.
"Kamu Riska kan?" tegas Siska.
Dan wanita itu pun mengiyakan.
"Wah, selamat yaaaa. Hari ini kamu jadi trending topik loh. Boleh kita minta foto dengan artis dadakan" sindir Siska.
"Buka masker nya dong, biar semua orang tahu kalau kamu tuh artis in this day" olok Siska membuat Riska tak bisa menjawab lagi dan pergi menjauhi kedua sahabat itu.
"Ciiiihhhh, nggak berani dia" ujar Siska terbahak.
"Kok kamu bisa sabar sih ngadepin dia selama ini?" tanya Siska heran kepada Rania.
"Aku aja heran apalagi kamu. Tak menyangka jika Riska sejahat itu" ujar Rania menimpali.
Rania mengajak Siska ke outlet baju-baju wanita. Niatnya sih belikan Siska aja. Rania tak berniat beli karena Raditya sudah menyediakan semua fasilitasnya.
"Pilih aja" suruh Rania.
"Idih, sombongnya" olok Siska.
"Mau nggak? Tawaranku nggak berlaku lama loh" imbuh Rania.
"Mau....mau...." jawab Siska antusias.
Dan kembali lagi mereka bertemu Riska saat di outlet alat rias.
Dan olokan Siska pun berlanjut.
"Wah ketemu lagi gue sama artis hari ini" ujar Siska dengan nada agak keras.
Semua yang di dekat mereka seakan ada mesin penggerak dan reflek melihat ke arah Riska.
Riska yang sedang mencoba warna lipstik terbaru dan terlihat membuka masker nya.
"Loh, itu bukannya wanita tadi pagi. Wah luar biasa, sudah belanja aja dia. Tuh pasti uang dari laki-laki yang meninggal tadi" kata seseorang tak dikenal mengolok Riska.
"Huh, jadi wanita kok jahat sekali" bahkan ada wanita yang gemas mencubit dengan keras lengan Riska.
"Ngapain sih? Urus saja sendiri hidup kalian. Repot" gerutu Riska, tanpa ada nada penyesalan di suaranya.
Semua yang di sana jadi geregetan dengan Riska.
Baju-baju yang ada di tumpukan rak melayang semua ke arah Riska. Dan tentu saja membuat repot karyawan outlet yang di sana.
Sementara Rania dan Siska sudah menjauh sedari tadi dari keberadaan Riska.
Rania puas seharian bersama dengan Siska.
"Makasih ya" kata Rania ke Raditya saat sudah berada di apartemen.
"Mulai hari ini, tidak ada pemberlakuan kegratisan sayang" terang Raditya.
Rania pun menautkan alisnya.
"Heemmm, aku tagih janji kamu yang selalu saja kamu pending itu" ucap Raditya sembari berbisik.
"Aku belum pakai kontrasepsi loh" ujar Rania.
"Tuh kan, ada lagi alasannya" ujar Raditya sewot.
Rania tersenyum puas.
"Sore ini aku anterin konsul ke dokter kandungan. Dan yang pasti bukan Alex sialan kemarin" terang Raditya.
"Sore ini?" tandas Rania.
"Heemmmm, biar malam ini bisa tes drive lah" kata Raditya absurd.
Rania dibuatnya tersipu.
.
Saat dikeroyok ibu-ibu tadi di mall, Riska menjauh dari keberadaan mereka. Daripada dia hancur.
Kebetulan panggilan dari rumah sakit masuk lagi ke ponsel Riska.
"Nggak sabar amat sih, ini juga lagi otewe" gerutu Riska.
"Nyonya, dokter anak sedang menunggu anda kali ini. Ada yang mau disampaikan kepada anda. Aku harap secepatnya datang" kata petugas rumah sakit dengan nada jengkel.
"Iya, ini sudah di jalan. Lima menit lagi kak" jawab Riska menimpali.
Dan disinilah Riska sekarang, berhadapan dengan dokter anak yang ternyata bukan dokter Andah.
"Loh, kok bukan dokter Andah?" tanya Riska heran.
"Dokter Andah minta pindah ke rumah sakit di ibukota. Jadi perawatan putra anda, sekarang menjadi tanggung jawab saya" tegas dokter anak yang bernama dokter Fina.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading 😊
__ADS_1