Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Lampu Hijau


__ADS_3

Pagi ini oleh dokter Andah kedua bayi kembar diijinkan untuk pindah ruang perawatan menjadi rawat gabung dengan bunda. Betapa senangnya hati Rania.


Bahkan Rania berjalan mengikuti langkah suster yang mendorong inkubator ke ruang rawatnya.


"Loh, pakai kursi roda aja nyonya. Jaraknya lumayan dari ruang bayi ke ruang vvip" terang suster sambil mendorong.


"Nggak papa sus, sekalian latihan mobilisasi. Kata dokter yang merawat aku harus banyak gerak biar cepat sembuh" kata Rania.


"Oke kalau begitu, pelan aja. Aku juga nggak keburu kok nyonya" bilang suster.


Di tengah perjalanan menuju ruangan yang dituju, ketemulah mereka dengan Raditya.


"Bun, kok jalan?" serunya. Raditya malah kebiasaan memanggil Rania dengan kata bunda.


"Nggak papa, latihan gerak. Biar nggak tergantung orang lain terus" kata Rania seakan menyindir Raditya.


Raditya tak menyahut, daripada ramai.


Sampai di kamar dan suster yang mengantar si kembar telah pergi. Rania meringis seperti menahan nyeri.


"Obat nya sudah diminum belum?" tanya Raditya penuh perhatian.


Tania hanya geleng, karena semenjak pagi dirinya sudah berada di ruang bayi.


Raditya mengambilkan obat yang dimaksud.


"Makannya kok masih utuh?" sela Raditya yang tak sengaja melihat makanan yang masih utuh di atas meja.


"Makan dulu, aku suapin" kata Raditya.


"Nggak usah, aku makan sendiri aja" tolak Rania.


"Menurutlah, biar cepat. Abis itu minum obat. Luka kamu dan si kembar butuh asupan gizi yang tak sedikit" terang Raditya.


Rania pun akhirnya menuruti apa kata Raditya.


'Dia beda sekali sama Mahendra. Kalau dulu aku selalu melakukannya sendiri. Sibuk dan lelah selalu menjadi alasan Mahendra untuk tidak membantu Rania. Enakan Rania yang diberi jatah cuti melahirkan, itu yang selalu dikatakan Mahendra saat Rania minta tolong untuk membantunya merawat Chiko'. Tak sengaja Rania selalu membandingkan keberadaan Raditya dengan Mahendra dulu.


"Kok malah melamun sih? Aaaaa..." Raditya membuka mulut untuk nyuapin Rania seperti sedang nyuapin anak kecil.


Rania pun membuka mulut untuk menerima makanan yang disodorkan oleh Raditya.


"Nah, gini dong. Biar cepat sembuh" tukas Raditya.


Rania menengok kanan kiri, "Bu Marmi ke mana ya?" gumam Rania dan sengaja tak mengajak bicara Raditya.


"Heemmmm...bu Marmi pamitan pulang sekitar tiga puluh menitan yang lalu sewaktu aku mampir ke sini dan kamu sedang di ruang bayi tadi" jelas Raditya.


Sejatinya bu Marmi disuruh pulang oleh Raditya, karena Raditya ingin segera mendapatkan tujuannya. Menjadikan Rania seorang istri.


Rania makan dengan lahap. 'Kenapa makanan dari suapan tangannya berasa nikmat? Padahal biasanya hambar' pikir Rania.


"Saatnya minum obat" kata Raditya terdengar ceria daripada biasanya.

__ADS_1


Rania menandaskan tiga kapsul obat yang diresepkan oleh dokter obgyn.


Sementara Raditya sibuk mengamati kedua bayi yang tertidur karena sudah diberikan minum saat Rania masih berada di ruang bayi tadi.


.


Terdengar ketukan dari arah luar.


"Kamu ada tamu?" tanya Raditya.


Rania menggeleng. "Siapa yang mau berteman lagi denganku?" ucap Rania berikutnya.


Raditya mengangkat kedua bahu, tanda dia pun tak tahu.


"Tolong bukain pintunya dong" pinta Rania.


"Heemmmm, gimana ya?" seru Raditya sengaja menggoda.


Rania yang sedang posisi duduk di ranjang, perlu banyak waktu untuk bangun dan jalan ke pintu ruang rawat. Rania beranjak dari duduk hendak membuka pintu sendiri.


"Hadech...gitu aja marah. Lekas tua ntar" olok Raditya sambil melangkah ke arah pintu untuk membukanya.


Saat pintu terbuka, alangkah kagetnya saat melihat siapa yang datang.


"Radit, siapa?" teriak Rania dari dalam.


"Silahkan masuk tuan dan nyonya" kata Raditya mempersilahkan tuan Handono dan istri menemui Rania.


Ancamanku kepada Mahendra kemarin membuahkan hasil. Pikir Raditya.


Rania bengong dan kaget kedua orang tuanya datang ke rumah sakit. Bahkan ibunya langsung memeluk putri satu-satunya itu.


"Maafkan ibu nak. Maafkan" katanya dengan bahu terguncang. Rania masih diam dan tak berkata apapun untuk menanggapi sang ibu.


Rania syok atas keadaan di depannya pagi ini, kadatangan orang tua yang bahkan tega mengusir nya dari rumah saat itu.


"Ayah juga minta maaf Rania. Ternyata semua hanya kesalah pahaman" tukas tuan Handono yang akhirnya menghampiri dan memeluk putri tunggalnya itu penuh haru.


Rania masih ragu membalas pelukan tuan Handono. Tapi saat melihat Raditya mengangguk padanya, barulah Rania yakin.


Rasa nyaman menjalar di relung hati Rania. Hampir setahun dia tak mendapatkan pelukan sang ayah dan ibu. Mereka tangisan bersama.


"Apa kalian tak ingin melihat cucu yang ganteng-ganteng ini?" sela Raditya mencoba bercanda untuk mengurai suasana sedih.


Tampak Tuan Handono dan nyonya yang mengusap kedua sudut matanya. Dan beralih menatap ke Raditya.


Karena terlalu fokus ke Rania, mereka berdua tak begitu memperhatikan kehadiran Raditya.


"Loh, bukannya kemarin anda yang datang ke rumah untuk minta restu?" celetuk tuan Handono.


Raditya hanya bisa garuk kepala, karena itu memang benar adanya. Sementara Rania menatap tajam pada Raditya untuk meminta jawaban dari mulut Radit.


"Benar tuan Handono" tukas Raditya tegas.

__ADS_1


"Apa yang membuat kamu yakin menikahi putri saya? Janda beranak satu...eh tiga malah sekarang" ujar Tuan Handono meralat kata-katanya.


"Karena dua putra Rania adalah putraku kandungku juga. Sedangkan putra pertamanya adalah paket komplit dari Rania. Tanpa melihat itu semua, saya sebenarnya sudah tertarik pada putri anda saat kejadian malam itu. Tapi saya menjauh karena ternyata Rania adalah seorang istri" tandas Raditya.


"Biarkan saya membahagiakan putri anda tuan. Saat ini dan nanti" janji Raditya di hadapan orang tua Rania.


Dalam hati Rania mulai tersentuh dengan ucapan Raditya.


"Saya terlalu picik dan takut, hingga tak mengetahui jika kejadian malam itu sangat melukai hati Rania dan menghasilkan dua benih sekaligus. Tapi ternyata sang Pencipta mempertemukan kami kembali dalam keadaan yang tak disangka" jelas Raditya.


"Mungkin itu sudah takdir kalian" sela nyonya Handono.


"Oh ya, apa ini putra kembar kalian?" tanya nyonya Handono mendekati si kembar.


"Kenapa mereka mirip sekali denganmu tuan? Tak menyisakan sedikit pun untuk bundanya?" ungkap nyonya Handono membuat Raditya tergelak. Tapi memang itu kenyataannya. Rania bersungut mendengar penuturan sang ibu.


"Tuh jari-jari mereka mirip denganku, lentik" sela Rania.


Terdengar ketukan pintu, yang ternyata dokter Andah dan perawat yang masuk untuk melihat kondisi kedua bayi Rania.


Rania diam mengamati apa yang akan dilakukan oleh dokter itu.


Setelah memeriksa, "Kondisinya sudah membaik daripada kemarin-kemarin. Jika seperti ini terus, besok infus dan injeksi kita stop dan diganti obat minum" jelasnya.


"Apa itu artinya besok bisa boleh pulang dokter?" tukas Raditya.


"Kita lihat besok lagi. Aku belum bisa janjikan itu" lanjut dokter Andah menerangkan.


"Oh ya, tawaranku kemarin masih berlaku loh. Kalau ada waktu, bisa hubungi aku" kata dokter Andah membuat Rania menautkan alis dan menatap tajam Raditya. Meski kenyataan mereka tidak ada hubungan apa-apa kecuali keterikatan karena lahirnya bayi kembar hasil hubungan semalam itu.


"Maaf dokter. Pastinya saya tak bisa" tegas Raditya menolak.


"Saya akan menunggu" kata dokter Andah kekeuh.


Raditya membalas dengan senyum terpaksa. Dan itu juga dilihat oleh Rania yang diam saja tanpa komentar.


"Sepertinya dokter itu tertarik padamu tuan?" ulas nyonya Handono setelah dokter Andah dan perawatnya keluar.


"He...he...ibu bisa saja. Ya biarin aja, kita kan tak bisa ngelarang orang suka pada kita. Tapi aku tetap pada putri ibu" tukas Raditya.


"Itu bukan modus kan tuan?" ucap nyonya Handono.


"Jangan panggil tuan bu, panggil aja Raditya" mohon Raditya.


Raditya meraih bayi pertama yang menangis dengan cekatan, "Sepertinya dia haus?" katanya menatap Rania.


"Rania, kok melamun sih? Raditya bilang apa coba?" seru nyonya Handono.


"Enggak tahu" ucap Rania.


"Aku bilang besok kita menikah. Mau?" canda Raditya.


"Niat baik harus disegerakan" tanggap tuan Handono.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2