
"Kita ke outlet sebelah sana" tunjuk Raditya ke arah outlet yang nyediakan baju wanita dan baju pria dalam satu tempat, setelah Rania selesai membayar semua keperluan bayi yang telah dibelinya.
"Kau cari apa?" tanya Rania.
"Bentar aja kok" imbuh Raditya dengan tetap menggandeng sang istri.
Riska yang ada di balik baju-baju yang tergantung tersenyum sinis.
"Nikmati lah masa mu sekarang Rania, awas saja nanti" umpat Riska sambil mengepalkan tangannya erat.
Raditya nampak memilah milah baju untuknya.
"Bukannya di rumah sudah banyak. Kok boros sih?" ujar Rania yang belum tahu kebiasaan sang suami.
"Baru ini yank, aku milih baju sendiri. Biasanya juga Beno semua. Aku ajak kamu ke sini, agar kamu bisa milihin buat aku" jelas Raditya.
"Beno? Kok bisa ya?" tanya Rania.
"Nyatanya bisa tuh. Dia sudah lama jadi asisten aku. Selain itu dia juga teman aku mulai jaman sekolah menengah atas" terang Raditya.
Rania memilihkan baju buat sang suami. Saat lihat label harga yang tercantum, dia sampai melongo. Sepuluh juta untuk satu baju, tanyanya dalam hati.
"Ini beneran?" tanya Rania ke karyawan wanita yang sedang meladeninya.
"Beneran nyonya" jawabnya.
'Gila suamiku, satu baju segini harganya. Gimana kalau borong semuanya' tanya Rania bermonolog.
"Memang baju merk ini rata-rata harganya segitu nyonya" lanjut karyawan wanita yang juga berpakaian rapi.
Dulu waktu Mahendra ulang tahun, dia kasih kemeja seharga lima ratus ribu saja sudah woooowww menurut Rania.
"Baju yang anda pakai itu harganya dua puluh lima juta lho nyonya" beritahunya kembali.
Rania semakin dibuat melongo oleh keterangan karyawan itu.
Sementara Raditya tengah memperhatikan sebuah tas cantik, maksudnya ingin membelikan sang istri.
"Sayang, kemarilah" panggil Raditya.
Rania mendatangi keberadaan Raditya.
"Kamu suka nggak?" tanya Raditya.
"Warnanya cantik" ulas Rania memberi jawaban.
"Heemmmmm" Raditya manggut-manggut.
Rania lihat label harganya, kembali dia terlonjak.
"Beneran ini?" tanya Rania ke Raditya.
Raditya mengangguk.
"Yank, nggak jadi aja. Kita balik aja yuk" ajak Rania karena bengek lihat harga semua barang yang ada di toko itu.
Saat masuk outlet itu, sepertinya Rania terlewat melihat logo di sana. Logo huruf 'C' besar yang menempel.
"Kak, yang ini ya. Untuk tagihan seperti biasa" kata Raditya melemparkan tas yang dipegang oleh Rania barusan.
Tentu saja karyawan wanita itu mengenal Raditya, karena seminggu yang lalu Raditya memborong hampir separuh toko untuk mengisi apartemen yang baru dibelinya saat itu.
Dan dia menangkap tas yang dilempar dengan sengaja oleh Raditya.
"Huh, hampir saja" katanya sembari memeluk tas yang berhasil ditangkapnya.
Raditya dan Rania melenggang di area foodcourt sekarang.
"Mau makan apa?" tanya Raditya.
"Heemmm, nggak selera aku" ujar Rania yang melihat-lihat makanan apa yang dijual di sana.
"Nggak lapar?" tatap Raditya.
"He...he...lapar sih. Tapi aku nggak suka makanan yang di sini" terang Rania.
"Terus?" tanya Raditya.
"Beli nasi padang depan rumah sakit aja yuk?" ajak Rania.
__ADS_1
"Yang dekat tempat kamu pingsan dulu itukah?" tandas Raditya.
"Kok ingat aja sih" seru Rania.
"Ya ingatlah. Di sana tempat aku menemukan wanita yang sedari lama aku cari" ucap Raditya menegaskan.
"Masak sih? Kemana wanita itu sekarang? Sudah ketemu belum?" canda Rania.
"Heemmm...gimana ya. Aku jawab jujur atau bohong?" kata Raditya mengimbangi candaan Rania.
Rania pun tertawa lepas, tawa yang jarang sekali muncul beberapa waktu yang lalu.
"Ayo" ajak Raditya ke tempat di mana mobil terparkir.
Raditya mengikuti apa kata sang istri. Menghentikan laju mobil tepat di depan warung makan padang yang berada di depan rumah sakit.
"Nanti sekalian kita kontrol aja" ulas Raditya.
"Kontrol apa?" tanya Rania, karena dia sudah tak ada keluhan.
"Perban luka kamu bukannya belum dibuka?" kata Raditya.
"Iya sih" imbuh Rania.
"Mumpung di sini, skalian aja. Ini juga jadwalnya dokter obgyn yang merawat kamu waktu itu" jelas Raditya.
"Oke lah kalau begitu. Tapi makan dulu ya" tukas Rania. Raditya mengiyakan apa kata Rania.
Raditya duduk cari tempat kosong, saat Rania memesan makanan.
Riska sudah berada di sana aja ternyata. Sungguh sudah bagai hantu aja dia, nongol di mana-mana.
Dan Rania tak sengaja melihatnya.
"Sayang, kamu lauknya apa?" sengaja Rania memanggil Raditya dengan kata langka yang keluar dari mulutnya itu.
Raditya sampai termangu mendengarnya.
Riska pun mencebikkan bibir, tanda dia tak suka.
"Sayang" panggil Rania sekali lagi.
"Oke"
'Semoga saja terus begitu dia memanggil aku' harap Raditya dalam hati.
Setelah memesan Rania duduk di depan Raditya.
"Sudah?" tanya Raditya.
"Ya belum lah. Pesanannya belum datang" tukas Rania tersenyum.
"Ha...ha...benar juga. Kalau sudah kan tinggal bayarnya aja" Raditya terbahak.
Mereka berdua makan nasi padang, Raditya yang tak begitu suka dengan sayur daun ketela agak menyisihkan ke tepi.
"Nggak suka?" tanya Rania.
"Iya, sayurnya alot gimana gitu" jelas Raditya.
"Buat aku aja ya" Rania mengambil begitu saja sayur yang ada di piring sang suami tanpa sungkan.
"Kalau suka, kenapa nggak pesan lagi?" tanya Raditya.
"Punya kamu kan nggak kemakan. Dosa loh buang-buang makanan" tukas Rania.
"Orang tua aku juga ngajarin, jangan suka buang makanan. Yang tak bisa makan itu banyak, bahkan mereka rela mengais sampah hanya untuk sesuap nasi. Makanya jangan suka buang makanan. Kalau tak suka mendingan bilang aja ke pelayan agar tak diberikan sayurnya" jelas Rania.
Raditya terdiam seperti anak kecil yang sedang mendengarkan nasehat orang tua.
"Kok diam sih?" tanya Rania.
"He...he...sedang meresapi kata-kata kamu barusan" tukas Raditya.
"Isshhhhh" gumam Rania.
"Suapin" pinta Raditya, manja.
"Hah?" bengong Rania.
__ADS_1
"Suapin sayur yang kamu ambil tadi. Katanya tak boleh buang makanan" ujar Raditya.
Rania masih saja bengong.
"Kok bengong sih?" Raditya menoel hidung Rania.
"He...he...baru ini ada orang dewasa manjanya ngalahin anak kecil. Makanya aku bingung" kata Rania terkekeh.
"Manja sama istri sendiri itu sangat dianjurkan sayang" kata Raditya terbahak.
Riska yang berada di belakang mereka berdua hanya mencebikkan bibir.
Salah sendiri sudah tahu ada yang sedang kasmaran, malah nungguin. Bodoh nggak sih? Komen netijen.
Karena kupingnya panas, dengerin mereka berdua. Riska beranjak sambil menghentakkan kaki. Sebal karena ulah Rania.
"Sepertinya ada yang marah sayang" kata Rania kembali mengeraskan suara.
"Siapa?" ujar Raditya menimpali.
"Tuh" arah mata Rania mengarah ke Riska yang melangkah menjauh.
"Owwwhhh...karena ada dia kamu manggilin aku dengan kata sayang?" telisik Raditya.
"He...he..." Rania tersipu karena ketahuan.
"Boleh loh manggil itu terus" sambung Raditya tertawa, mengoda Rania adalah hobi yang layak diteruskan.
"Sudah belum, ayo kita ke rumah sakit" Raditya beranjak.
Rania termangu di tempat.
"Kenapa?" tanya Raditya.
"Aku nggak bawa tunai, cuma kartu yang kamu beri itu tadi" jelas Rania.
"Hah, celaka dunia. Aku juga nggak bawa" Raditya mengacak rambutnya kasar.
"Terus?" sela Rania.
"Bentar, kutelpon Beno aja" jelas Raditya.
"Beno lagi" sungut Rania.
"Daripada kita disuruh cuciin piring yang banyak minyak nya tuh. Ogah" tukas Raditya.
Mau tak mau Rania terima aja usulan sang suami.
"Beno, kutunggu kamu sepuluh menit di warung makan padang depan rumah sakit tempat Rania dirawat. URGEN" kata Raditya menekan kata yang paling belakang saat menelpon Beno.
"Bos, nggak bisa kalau sepuluh menit. Lebih dikit" ucap Beno.
"Oke, lima belas menit" kata Raditya menutup panggilan.
Raditya membiarkan begitu saja Beno mengumpat pastinya.
Setelah lima belas menit, Beno datang tergopoh.
"Ada apaan bos?" tanya Beno heran.
"Minta tunainya seratus ribu?" kata Raditya.
"Hah????" ganti Beno yang bengong.
"Gue mau bayar nasi padang. Tapi nggak ada uang tunai" jelas Raditya.
"Bos...bos...miskin banget sih" olok Beno.
"Nggak usah banyak omong, mana uangnya?" pinta Raditya.
"Nih" Beno menyerahkan selembar uang yang diminta oleh Raditya.
"Harusnya bos, tuh di depan ada mesin anjungan tunai. Tarik tunai tuh di sana" tunjuk Beno ke arah yang dituju.
"Oh iya ya" kata Raditya terbahak, tapi membuat senewen Beno.
Rania saja sampai menahan tawa karena ulah sang suami.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading