
Pagi itu Beno datang di perusahaan hampir bersamaan dengan Raditya sang bos.
"Tumben bos datang pagi-pagi" sapa Beno.
"Heemmm, hanya ingin lihat aja. Asisten ku ini rajin atau enggak" ujar Raditya dengan terus saja melangkah ke arah lift.
"Sialan. Dasar bos..." gerutu Beno. Tapi belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Beno dikejutkan oleh adanya Siska di depan ruang direktur.
"Sekarang tak ada alasan lagi kamu menolak perintahku Beno" ujar Raditya.
"Kamu menyogokku?" tanya Beno sambil bersungut.
"Ngapain nyogok? Emang tongkat sama tongkat bisa?" jawab Raditya absurd.
"Nggak jelas banget" sela Beno.
"Selamat pagi tuan Raditya, selamat pagi tuan Beno" sapa Siska kala dua atasannya itu berdebat di depannya.
"Pagi Siska. Apa kabar?" tanya Raditya.
"Baik tuan" jawab Siska full senyum.
"Oh ya Siska, ntar kalau diajak karaokean sama Beno jangan mau. Mix punya dia sudah..." belum selesai mengucapkan kata-katanya, mulut Raditya telah dibungkam Beno.
"Issshhhh...bisa diam nggak sih?" tukas Beno.
"Punya dia karatan Siska" Raditya meneruskan kalimatnya saat Beno lengah.
"Sialan kamu bosssss" sekali lagi Beno mengumpat ke arah Raditya.
"Ha....ha..." Raditya pun tertawa senang.
"Mending karatan, daripada sudah nikah tapi belum tes drive ulang" ledek Beno.
"Rugi dong ngucapin kalimat sakral itu tapi sampe sekarang dianggurin" sambung Beno meledek sang bos.
Ganti Raditya yang sewot.
"Pasti punya loe lebih karatan daripada punya gue" ledekan Beno semakin menjadi.
"Yang penting punya gue sudah kebukti tokcer. Langsung jadi dua sekaligus. Lah punya loe????" jawab Raditya.
"Nyatanya Siska aja merem melek dibuatnya. Betul nggak Sis?" kata Beno sambil menatap ke arah Siska yang sudah bagai kepiting rebus.
"Maaf tuan, kok saya dilibatin? Semua kan atas permintaan tuan Beno" jawabnya malu-malu.
"Betul Siska, jangan ladenin lagi permintaan Beno jika dia tak mau menikahi kamu. Cari yang lebih baik dari Beno banyak kok" kata Raditya memanas-manasi Beno.
"Enak aja. Jangan mau Siska" tandas Beno.
"Terserah Siska dong. Daripada loe PHP-in" sela Raditya.
Beno masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu. Karena merasa sebal dengan ulah Raditya.
"Siska, selamat bergabung di sini. Tolong dampingi Beno untuk enam bulan ke depan" suruh Raditya.
"Baik tuan" jawab Siska.
"Terus apa yang membuat kamu mau menerima langsung saat dipindahin ke sini?" tanya Raditya.
"Saya asli kota ini tuan. Begitu tuan Andrian memberikan opsi untuk pindah ke sini, maka aku iyain aja" terang Siska.
"Begitu ya? Oke dech, aku masuk dulu" ujar Raditya dan Siska pun mengangguk.
__ADS_1
Raditya dan Beno tengah sibuk dengan berkas-berkas di depannya, sementara Siska banyak menghabiskan waktu untuk belajar sistem kerja di tempat yang baru.
"Aku harus mencari Rania, lama aku tak sua dengannya" gumam Siska.
"Ntar jam istirahat siang, aku ijin aja" kata Siska bermonolog.
"Semoga saja Rania masih bekerja di bank itu. Lama aku kehilangan kontak dia, gara-gara ponselku yang kecopet" Siska masih saja berbicara sendiri.
.
Menjelang makan siang, Raditya dan Beno keluar bersamaan.
"Sis, aku sama tuan akan keluar. Kalau kamu mau istirahat keluar silahkan saja" ucap Beno.
"Iya, kita agak lama keluarnya" imbuh Raditya.
"Baik tuan. Kalau aku ijin makan di luar boleh nggak?" tanya Siska.
"Mau ke mana?" telisik Beno dengan curiga.
"Yeeiiiii...biarin aja Siska. Dia pasti ingin mengenang memori lawasnya tinggal di kota ini" jelas Raditya.
"Mau ke mana?" tanya ulang Beno sambil menatap tajam Siska.
"Apaan sih loe? Pacar bukan, tunangan juga bukan" ledek Raditya.
"Diam loe" sela Beno kala Raditya terus saja bicara memprovokasi Siska.
"Aku mau ke daerah barat kota, mencari teman lamaku. Telah lama aku kehilangan kontak dengannya" terang Siska.
"Cewek atau cowok?" kejar Beno dengan segala pertanyaannya.
"Cewek lah" terang Siska.
"Sis, pasti Beno sekarang ngasih ijin untuk kamu pergi istirahat makan siang" ledek Raditya.
"Jadi berangkat nggak nih?" sela Beno. Beno tak ingin Raditya terus saja mengolok dirinya.
"Ayo" Raditya menyetujui ajakan Beno.
"Jika mau makan di luar hati-hati" pesan Beno sambil berbisik ke Siska.
Hubungan tanpa status, tapi keposesifan Beno patut diacungi jempol.
.
Siska keluar dari area parkir dan menjalankan mobil ke arah barat kota.
Tujuannya kali ini benar-benar ingin memberikan kejutan untuk sahabat yang sangat baik itu.
Tepat di depan kantor Rania, sebuah bank swasta yang cukup mentereng di kota itu.
Seorang security menyapanya.
"Ada yang bisa dibantu nona?" tanyanya dengan ramah ke arah Siska.
"Iya pak, aku sedang mencari Rania. Karyawan bank ini. Apa sekarang sudah waktunya istirahat?" tanya Siska.
"Sudah sih, tapi di sini tidak ada yang bernama Rania loh Non" beritahu sang security.
"Dia dulu kerja di sini pak" beritahu Siska.
"Mungkin aku yang belum kenal dengan teman anda Non. Karena semenjak aku bekerja, sudah tidak ada orang yang Non maksud" jelas Security itu.
__ADS_1
"Baiklah pak, makasih" ucap Siska sembari keluar dari ruangan tunggu ber AC.
Security itu pun mengangguk hormat.
Siska keluar lobi bank yang sangat sejuk.
Tak sengaja dia berpapasan dengan seorang wanita yang nampak sedikit lusuh.
"Bukankah dia Riska?" gumam Siska.
"Kupanggil aja, kalau keliru bukan Riska aku akan langsung ngabur" kata Siska dalam hati.
"Riska?" Siska pun memanggil seseorang yang dikenalnya di masa lalu. Meski tak begitu dekat dengannya tapi Siska tahu jika Riska juga lumayan dekat dengan Rania.
Riska yang kebetulan datang ke kantor karena mengambil haknya, yaitu gaji bulanan meski dia saat ini sedang cuti.
Riska yang merasa ada yang menyebut namanya, menoleh ke arah suara.
"Siapa ya?" tanya Riska.
"Kamu Riska kan?" tanya wanita di hadapannya.
"Yap, ada yang bisa dibantu?" tanya Riska penuh diplomasi.
"Kamu nggak ingat siapa aku, aku Siska teman sekolah Rania dulu. Kita seangkatan kan?" bilang Siska full senyum.
Riska menggaruk kepala seakan mengingat sesuatu.
"Owwwhh, kamu teman sekelasnya Rania di jurusan MIPA kan?" ujar Riska.
"Nah itu kamu ingat" ujar Siska menimpali.
"Aku ke sini mencari Rania, kamu tahu nggak di mana dia sekarang? Kok security bilang nggak ada yang namanya Rania. Bukannya kalian dulu rekan kerja ya?" telisik Siska.
Wah, kesempatan untuk menghasut nih. Rasain kamu Rania. Sahabat kamu pun tak akan percaya lagi denganmu. Ancam Riska dalam hati.
"Loh, apa kamu nggak tahu kalau Rania dipecat tak hormat di kantor ini" Riska memulai cerita bohongnya. Padahal sebelum dipecat, Rania mengundurkan diri terlebih dahulu.
"Kamu nggak tahu cerita tentang Rania?" tandas Riska.
Siska menggelengkan kepala, karena dia lost contact dengan Rania semenjak nomor kontaknya sirna kebawa pencopet sialan itu.
"Rania terlibat skandal dengan seorang bos waktu itu dan digrebek saat menginap di hotel. Bahkan Mahendra suaminya juga memergoki langsung" lanjut Riska penuh semangat bercerita.
Siska mengernyitkan alisnya, 'tak mungkin Rania melakukan hal hina seperti itu' pikir Siska.
Pasti ada yang salah dengan wanita ini. Batin Siska bermonolog.
"Oh ya? Apa kamu keberadaan Rania saat ini?" tanya Siska tak ingin mendengarkan lebih panjang cerita Riska.
Riska mengangkat kedua bahu karena dia juga tak tahu sekarang Rania tinggal di mana bersama suami barunya.
Andai Riska tahu di mana Rania saat ini tinggal, pasti dia akan bengek.
.
Sementata itu di ruangan jenguk lapas, telah berhadapan Beno dengan Mahendra.
Raditya menunggu di ruang penyidik karena tak sudi untuk bertemu Mahendra langsung.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
to be continued, happy reading
__ADS_1