
Raditya datang ke Samudera Grub dengan diantar oleh pak Supri.
"Tuan muda, selesai mengantar. Boleh saya ijin untuk mengantar istri" pamit pak Supri.
"Kemana?" tukas Raditya tanpa menengok dari tab yang dipegangnya.
"Belanja atuh tuan muda" bilang pak Supri.
"Ke mall mana?" Raditya masih fokus dengan laporan Beno.
"Mana mau istri saya ke mall. Pastinya ke pasar tradisional dekat terminal" jelas pak Supri.
"Oke, abis aku turun. Balik aja. Siang ini aku sekalian ke ErDua dengan Beno" tandas Raditya.
"Siap tuan muda" laju mobil tepat berhenti di depan lobi perusahaan Samudera.
Security yang berjaga di depan pun siap membukakan pintu mobil yang sangat dihafal oleh mereka.
Dengan kacamata hitam bertengger di hidung, membuat aura Raditya semakin tampan tentu saja.
Bahkan banyak karyawan Samudera sangat mengagumi penerus kedua perusahaan besar ini.
Banyak juga yang terang-terangan berbuat sesuatu untuk menarik perhatian sang bos muda itu.
Raditya dengan wajah datar dan dingin bagai es batu, berjalan tegap melangkah masuk.
Jam masih menunjukkan tepat sembilan pagi.
Saat akan masuk ke lift, nampak seseorang menghampiri dirinya.
"Raditya, tunggu" panggilnya.
'Siapa nih, pengganggu pagi-pagi' gerutu Raditya dalam hati.
"Raditya, kemana saja seminggu ini? Aku menunggu kamu. Aku ingin minta tolong" kata wanita itu.
Malas sebenarnya Raditya menanggapi.
Raditya menengok ke arah orang itu, yang ternyata sesuai dugaan Raditya. Dia adalah Andah, anak dari teman lama papa Andrian.
Melihat Raditya yang menghentikan langkah seakan memberikan angin bagi Andah untuk segera mendekat.
"Raditya, tolong aku. Ada yang mengancam aku. Tolong lah" kata Andah dengan wajah sengaja dibuat ketakutan.
"Cih, takut tapi masih bisa menunggu di sini selama seminggu. Aneh!" tukas Raditya meninggalkan begitu saja Andah di depan lift.
Saat Andah akan naik dan menekan tombol lift, ternyata dia tak ada akses untuk masuk.
"Sialan, gagal lagi gue" gerutu Andah.
__ADS_1
Raditya menelpon karyawan bagian front office untuk mengusir wanita yang ada di depan lift dan meminta nya untuk segera mengusir jika wanita itu datang lagi kapan saja.
Sementara itu Andah di bawah dihampiri oleh dua orang security yang bersiap untuk menyeretnya keluar.
"Gini-gini gue dokter tahu. Tak perlu kalian usir, aku pun akan pergi. Lagian urusan ku dengan bos kalian juga sudah selesai" kata Andah sok pede.
Kedua security itu hanya tersenyum sinis. Padahal keduanya mendekat ke arah wanita tadi karena mendapat perintah dari bos untuk mengusir nya. "Pede amat bilang urusannya sudah selesai. Nyatanya sudah ditolak mentah-mentah" ucap salah satunya sepeninggal Andah yang sudah pergi menjauh.
Sementara di ruang rapat, Raditya tengah duduk di antara para anggota direksi.
Raditya juga meminta Beno sebelumnya untuk memanggil para staf yang berkaitan dengan perusahaan rekanan.
"Selamat pagi semua. Sudah pada tahu tujuan aku memanggil kalian pagi ini?" tegas Raditya.
Semua menjawab sudah, karena apa yang akan disampaikan Raditya telah dishare oleh Beno.
"Berdasar laporan yang aku terima, ada beberapa perusahaan yang memutuskan kerjasama dengan Samudera?" ungkap Raditya seakan membalikkan pertanyaan ke yang hadir.
"Kira-kira apa sudah diketahui penyebabnya?" tanya direktur keuangan.
"Andai aku tahu, aku tak akan minta kalian duduk di sini" imbuh Raditya.
"Menurut analisa kalian, kira-kira apa sebabnya?" tanya Raditya meminta pendapat.
Padahal bagi Raditya, mudah saja baginya untuk menyabotase para rekanan yang sudah menyalahi kontrak kerjasama. Tentu mereka akan kena pinalti yang banyak karena mengingkari kontrak kerjasama. Rasain kalian. Umpat Raditya.
Beno membisikkan sesuatu ke telinga Raditya.
"Bagaimana tuan-tuan? Kira-kira apa yang musti aku lakukan?" tanya Raditya seolah meminta pendapat.
Raditya ingin tahu sejauh mana loyalitas para direksi dan staf yang menduduki posisi lumayan tinggi di perusahaan Samudera.
"Tumpas mereka semua. Jangan beri kesempatan" usul staf paling senior di sana.
"Kalau ada keterlibatan orang dalam?" pancing Raditya.
Beberapa orang menunduk tak berani menatap Raditya yang jelas-jelas melihat ke arah mereka.
Dengan bahasa isyarat, Raditya menyuruh Beno untuk berdiri di depan orang yang mencurigakan bagi Raditya.
Aku harus tumpas benalu di perusahaan. Janji Raditya.
"Tuan, kira-kira pendapat anda seperti apa?" sela Beno ke arah orang yang ditunjuk oleh Raditya dengan sorot mata nya. Beno dapat menangkap sinyal yang dilempar oleh Raditya.
Orang itupun memberikan usulan sesuai yang diminta oleh Raditya. Raditya mengangguk sinis.
Rapat diakhiri dengan perencanaan pemanggilan para rekanan itu. Raditya tak akan segan memberikan pinalti tinggi jika perusahaan masih meneruskan untuk tetap memutus kontrak dengan Samudera.
Mengenai keterlibatan orang dalam, penyelidikan dan audit internal akan tetap dilakukan.
__ADS_1
.
Sementara itu di lapas, Mahendra diseret oleh beberapa orang petugas untuk keluar dari sel isolasi yang ditempati oleh Mahendra sejak kemarin.
"Hei, tunggu! Aku mau dibawa ke mana?" Mahendra menepis tangan petugas yang menyeretnya itu.
"Bisa diam nggak sih? Kita akan membawamu ke lapas yang lebih tinggi karena di sini sudah tidak bisa mengatasi semua ulah kamu" hardik petugas yang lebih senior daripada yang lain.
"Apa karena ada perintah dari tuan Rahardian?" telisik Mahendra.
"Siapa dia?" telisik petugas lapas itu yang ternyata tak tahu nama yang disebutkan Mahendra.
'Mendingan aku diam aja, daripada salah omong' Pasti tuan Rahardian sudah menyiapkan semua untukku. Batin Mahendra.
Mahendra sudah berada dalam mobil tahanan tertutup yang berjalan ke arah ibukota.
Kali ini Mahendra diam tanpa banyak bertanya. Kepindahan yang diyakini Mahendra karena campur tangan tuan Rahardian. Dan dia juga meyakini jika tuan Rahardian pastilah orang yang berpengaruh karena dengan mudahnya meminta kepindahan lapas Mahendra.
Mahendra terkaget kala merasakan getaran hebat di mobil yang ditumpanginya ini.
"Seperti tabrakan beruntun?" tebak Mahendra karena tak bisa melihat bagian luar mobil yang tertutup itu.
Mahendra menatap ke arah pintu mobil kala pintu belakang mobil dibuka dan nampak dua orang dengan penutup wajah menyeretnya untuk pindah ke mobil yang lain.
"Siapa kalian?" hardik Mahendra.
"Kita adalah orang yang akan membantumu melarikan diri" beritahunya.
"Melarikan diri?" tukas Mahendra tak percaya, jikalau dirinya tengah dibantu untuk lolos.
Dan saat ketiganya sudah pindah ke mobil yang lain, mobil lapas yang ditumpangi Mahendra meledak dan menimbulkan suara yang keras dengan radius beberapa kilometer.
"Nggak usah heran, untuk ngehilangin jejak. Di sana tadi sudah kita taruh jenazah pengganti kamu" bilang salah satu orang itu.
Mahendra semakin dibuat melongo oleh kedua orang yang jahatnya tak tanggung-tanggung itu.
"Apa yang kita lakukan tadi, kira-kira sudah seperti adegan di drama Korea belum ya?" sela yang lain. Membuat keduanya terbahak.
Hanya Mahendra yang masih diam.
"Oh ya, siap-siap aja. Abis ini wajahmu akan dipermak sedemikian rupa, agar orang-orang tak tahu jika kamu warga binaan yang melarikan diri" imbuh mereka.
Mahendra memegang wajah yang menurutnya tampan itu.
"Urusan dengan tuan Rahardian, akan dibicarakan kemudian. Tunggu info berikutnya" seru mereka lagi.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1