
Luruh airmata Riska, menahan luka hati dan nyeri persalinan.
"Apa dulu kamu juga diperlakukan seperti ini Rania?" Batin Riska.
"Dokter...dokter...tolong aku" teriak Riska kala kontraksi datang lagi.
"Ngapain kamu teriak-teriak. Sabar dikit napa? Sudah pembukaan tujuh, tinggal tiga lagi Riska. Sebentar lagi anak kamu akan lahir" kata ketus ibu Mahendra.
"Ini cucu ibu juga" tukas Riska.
"Beneran cucuku? Kamu nggak sedang menipu anakku kan?" bisik wanita tua itu di telinga Riska.
"Untuk apa aku menipu kalian?" tatap tajam Riska dengan uraian air mata.
"Apaan sih kalian, malah bahas hal tak penting?" sela Mahendra di antara obrolan menantu versus mertua.
"Aku pusing nih, mikirin biaya persalinan kamu malah tengkar sendiri" sambung Mahendra.
"Aduuuhhh kenapa sakitnya nggak hilang-hilang" kembali Riska berteriak.
Mahendra malah membungkam mulut Riska, "Diam lah" suruh Mahendra.
Datanglah bidan yang akan memeriksa Riska.
"Maaf tuan, bisa minggir sedikit. Waktunya pemeriksaan pembukaan dan yang lainnya" terangnya.
"Kenapa nggak lahir-lahir, mulasnya sudah sangat luar biasa ini?" keluh Riska.
"Berdoa nyonya, biar dikasih kelancaran" saran bu bidan yang memeriksa Riska.
"Sudah. Aku sudah berdoa. Tapi kenapa tak lahir-lahir???" tukas Riska mengeluhkan hal yang sama.
"Ya harus sabar, adik bayinya masih mencari waktu yang pas untuk keluar" petugas itu mencoba menghibur Riska.
"Aku mau operasi saja sus" kata Riska sembari menahan sakit yang kembali datang.
"Kenapa harus operasi, kalau bisa melahirkan normal" ulas nya.
"Coba ibu terlentang lebih dahulu, aku mau cek detak jantung janin. Seletah ini mau kulaporkan ke dokter Alex" terang bidan itu.
Dengan dibantu sang bidan, Riska merubah posisi tidurnya dari miring ke terlentang.
Terdengar lup..dug..lup..dug...detak jantung bayi yang teratur.
"Semuanya masih normal, yang jadi masalah adalah pembukaannya yang sampai sekarang belum bertambah" jelas sang bidan kepada Riska dan Mahendra yang mendampingi saat ini.
"Huaaaaa...aku mau operasi saja sus. Seperti Rania" teriak Riska. Membuat Mahendra jengah mendengarnya.
"Bisa diam nggak sih. Itu juga mau dilaporin ke dokternya" hardik Mahendra.
"Kenapa sih kamu ini, marah mulu. Sakit tau" kata Riska mulai emosi menghadapi suami yang tak sabaran itu.
"Kamu juga nggak bisa diam sedari tadi, buat naik tensiku aja" kata Mahendra dengan nada mulai meninggi.
__ADS_1
"Terserah kamu" kata Riska sewot. Dia tak ingin berdebat lagi dengan Mahendra.
Bidan yang memeriksa tadi kembali untuk menyampaikan hasil konsul dengan dokter penanggung jawab nya Riska.
"Nyonya, berdasar hasil konsul saya. Dokter Alex menyarankan agar diobservasi empat jam lagi" terangnya.
"Aku nggak kuat sus, dokter tolong aku" teriak Riska mulai tak terkendali.
Rasa sakit yang dirasa sungguh luar biasa, tapi pembukaan dalam persalinan tidak bertambah.
"Jangan bilang seperti itu nyonya. Alangkah lebih baik kalau dibuat berdoa" saran sang bidan.
"Kamu itu tak merasakan, jangan hanya bisa menasehati saja" hardik Riska sengit.
"Aku juga pernah melahirkan nyonya, bukan hanya anda yang merasakan sakit. Pasien-pasien di sebelah anda menjadi terganggu karena teriakan anda" tukas sang bidan yang mulai tak sabar menghadapi ulah Riska.
"Kalau terganggu ya pindah aja ruangan sebelah" kata Riska sengit.
"Tuan, tolong nasehatin istri anda" kata bidan itu ke Mahendra dan berlalu begitu saja meninggalkan Riska.
"Sialan" umpat Riska.
"Kamu itu mau melahirkan masih saja menyela orang lain" ujar Mahendra ingin menasehati sang istri.
"Diam kamu. Kamu aja marahin aku terus sedari tadi. Jangan sok bijak dech" balas Riska sengit.
Mahendra beranjak hendak pergi.
"Mau ke mana? Jangan pergi! Kamu ini kenapa tega sekali sih? Makanya Rania ninggalin kamu" ucap Riska menyela Mahendra.
Mahendra jadi teringat dengan ucapan Raditya yang menyuruh Beno menyiapkan acara pernikahan di kediaman mantan mertuanya.
Pernikahan siapa lagi kalau bukan pernikahan Raditya dan Rania.
Mengingat hal tadi membuat tangan Mahendra mengepal erat.
"Aku harus menghalangi niat bos sialan itu" umpat Mahendra berlalu ke luar ruangan. Menghindar sebentar dari Riska, daripada akan berujung berantem hebat.
Mahendra menyulut sigaret di taman belakang rumah sakit yang merupakan area bebas rokok. Beberapa kali dia terlihat menghela nafas panjang. Entah apa yang dipikirkan Mahendra saat ini. Antara biaya rumah sakit Riska atau cara menggagalkan pernikahan Raditya dan Rania. Hanya Mahendra yang tahu.
.
"Pak Supri, makasih ya. Aku naik dulu" kata Raditya setelah sampai kompleks apartemen yang barusan terbeli dan sekarang ditinggali oleh Rania dan kedua putra kembarnya.
"Iya tuan muda. Aku tinggalin ngopi dulu di warung depan" pamit pak Supri.
"Kalau sudah selesai, nanti aku calling" kata Raditya berjalan masuk menuju lift untuk naik ke penthouse nya.
Dia tekan pasword untuk membuka pintu depan.
Dilihatnya bu Marmi yang sedang lihat layar besar di ruang tengah.
"Lihatin apa bu Marmi, serius amat?" tanya Raditya.
__ADS_1
"Eh tuan Raditya, sudah datang aja. Ini, lagi lihatin sidang putusan seorang pejabat yang menghilangkan nyawa anak buahnya. Sadis banget tuan" cerita bu Marmi.
Raditya mengulas senyum melihat bu Marmi yang semangat bercerita kali ini.
"Abis bosen tuan. Di sini nggak ngapa-ngapain" terang bu Marmi.
"Ya sudah bu, lanjutin aja nontonnya. Oh ya, Rania kemana?" tanya Raditya.
"Di kamar si kembar tuan sama mbak-mbak suster" jawab bu Marmi.
"Oke, makasih" tukas Raditya sembari berjalan ke kamar si kembar.
Raditya lupa mengetuk pintu dan langsung saja masuk ke kamar kembar.
Sebuah pemandangan yang tentu saja akan membuat para laki-laki menahan nafas.
Rania sedang dilatih oleh suster untuk memberikan minum pada si kembar bersamaan, otomatis kedua bukit kembar Rania terpampang jelas di mata Raditya.
Raditya sampai menelan ludah dibuatnya.
'Shitttt, dia mulai bangun aja' umpat Raditya dalam hati, dan langsung balik kanan keluar kamar sebelum Rania menyadari semuanya.
"Kok keluar lagi tuan?" tanya bu Marmi.
"Boleh minta tolong bu Marmi" kata Raditya.
"Iya tuan. Siap" tukas bu Marmi.
"Tolong buatin kopi panas, jangan dikasih gula" pinta Raditya.
"Siap lapan enam tuan" jawab bu Marmi meninggalkan Raditya yang panas dingin menahan hasrat.
Bu Marmi kembali membawa kopi yang diminta oleh Raditya. "Silahkan diminum tuan"
"Loh, bu Marmi mau kemana?" tanya Raditya saat bu Marmi balik kanan untuk ke kamar kembar.
"Mau lihatin cucu-cucuku" imbuh bu Marmi.
Tak lama Rania keluar, setelah bu Marmi masuk ke kamar si kembar.
"Sudah lama?" tanya Rania menghampiri Raditya yang duduk di ruang tengah.
"Barusan kok, ini kopinya juga masih panas" terang Raditya.
"Makasih ya atas semuanya" ucap Rania tulus.
"Jangan bilang seperti itu. Kamu dan anak-anak sudah menjadi tanggung jawab aku sekarang. Jadi jangan bilang makasih lagi. Capek juga musti menjawab sama-sama terus" gurau Raditya.
Rania ikutan tersenyum. Hal yang sangat berbeda seratus delapan puluh derajat saat Rania bersama dengan Mahendra.
"Oh ya, aku mau bilang sesuatu yang serius padamu Rania" tatap mata Raditya tepat lurus ke arah mata Rania.
Rania tak menjawab.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading π