
Bu Marmi telah balik rumah sakit sebelum dirinya sampai mansion.
"Bu, tolong kupasin" bilang Raditya saat bu Marmi telah sampai ruang rawat Rania.
"Siap tuan muda" bu Marmi mengulum senyum. Pasti saat ini tuan muda nya jengkel setengah mati karena ulah nyonya.
Perkara ngupas kesemek aja sampai berujung drama.
"Sabar tuan, mendingan kita ke depan bentar cari angin" usul pak Supri.
"Males ah pak, aku ke ruangan sebelah aja. Mau nelponin Beno" ujar Raditya.
"Sayang, aku ke ruang sebelah" bilang Raditya dan Rania pun mengangguk.
Sementara Rania telah menerima buah kesemek yang telah dikupas dan dibersihkan oleh bu Marmi.
Baru separuh sudah Rania letakkan kembali.
"Ingin muntah bu" seru Rania.
Rania bangun dan hendak ke toilet.
"Bentar nyonya, aku pegangin infusnya dulu" bilang bu Marmi.
Raditya yang balik ke sana hendak mengambil catatan, tak didapatinya sang istri.
"Sayang...." panggilnya.
Tapi bu Marmi yang nongol dari balik pintu toilet.
"Nyonya muntah" lapornya.
Raditya mendekat dan langsung masuk toilet.
'"Mual lagi?" ujar Raditya sembari memijat tengkuk sang istri.
Rania mengangguk lemas.
Raditya gendong begitu saja Rania yang barusan memuntahkan semua isi perutnya.
"Ntar kalau berasa ingin muntah lagi, ditandongin aja dalam wadah plastik yank. Hawa dingin di toilet buat tambah parah mual nya loh" seru Raditya.
"Buah kesemeknya lagi nyonya" bu Marmi menawari.
"Sudah bu, kenyang aku" tukas Rania.
Raditya melihat baru separo buah yang termakan, tapi istrinya sudah kenyang.
"Kok nggak dimakan lagi?" tanya Raditya.
"Enggak ah, sudah nggak kepingin" jawab Rania.
"Oh ya bu, buah kesemeknya bawa aja ke mansion bagi-bagi buat semua" sambung Rania menyuruh bu Marmi.
"Hah?" Raditya terbengong.
Bagaimana istrinya dengan mudahnya membagi-bagikan semua. Tak tahu bagaimana susahnya perjuangan sang suami untuk mendapatkan buah itu.
"Nggak ditinggalin satu atau dua biji kah yank? Ntar kamu ingin lagi" seru Raditya.
"Enggak! Biar dibawa bu Marmi aja semua" tukas Rania sewot.
'Ih marah lagi dia. Kenapa istriku jadi sensi banget' pikir Raditya.
"Iya.. Iya...bu Marmi bawa aja" Raditya ikutan memberitahu bu Marmi.
"Jadi boleh nih kita balik duluan?" seru bu Marmi, takutnya belum sampai mansion suruh balik lagi rumah sakit.
Rania mengangguk membolehkan demikian juga Raditya.
Raditya duduk di kursi panjang samping ranjang. Niatnya ingin menelpon Beno terjeda karena sang istri muntah tadi.
"Yank" panggil Rania dan Raditya pun menoleh.
"Ada apa?" tanya Raditya dengan rasa sabar.
"Tapi janji dulu kamu nggak bakalan marah" bilang Rania.
"Hhmmm lihat-lihat" tukas Raditya bergurau.
"Nggak jadi aja" Rania membatalkan ucapannya.
'Sabar Raditya' batin Raditya menyemangati dirinya sendiri.
"Nggak papa, bilang aja" rayu Raditya agar sang istri mau mengutarakan keinginannya.
"Beneran?" Rania menandaskan.
"Hhhmmmm" hanya gumaman Raditya yang terdengar oleh Rania.
"Aku ingin ayam panggang bumbu rujak yang pedes itu loh yank. Kayaknya makan itu enak banget pake nasi putih yang mengepul" jelas Rania.
"Kalau ayam panggang aku tahu yank, tapi kalau bumbu rujak itu coba aku cariin dulu" jawab Raditya.
'Sabar...sabar...ini semua akibat ulah kecebong lo Raditya' bisik hati Raditya.
"Harus segera dapat. Aku nggak mau menunggu lagi, perutku sangat lapar yank" bilang Rania.
"Waduh...mobilnya dibawa pak Supri" ujar Raditya karena baru teringat.
"Naik taksi online aja" seru Rania.
"Aku???" tunjuk Raditya ke arah dirinya sendiri.
"Heemmm. Kenapa? Nggak mau kah?" tukas Rania.
__ADS_1
"Cuman belum biasa aja naik taksi online" bilang Raditya.
"Ayam panggang bumbu rujak? Di mana itu?" tanya Raditya barangkali tahu tempatnya.
"Kalau di kota asalku jelas aku tahu yank, tapi kalau di sini mana aku paham" tukas Rania.
"Kamu sendiri nggak apa-apa kan?" tanya Raditya. Dan Rania pun kembali mengangguk.
"Tapi jangan lama-lama" Rania merajuk.
"Iyaaaa...aku usahain dech" tukas Raditya.
"Nih, ponsel kamu on kan terus ya?" Raditya menyodorkan ponsel Rania yang memang jarang terpegang oleh sang pemilik.
Rania tersenyum menanggapi.
Raditya mencoba ke kantin rumah sakit, barangkali aja bisa reques menu. Mencoba peruntungan tentu saja. Daripada naik taksi online, pikir Raditya.
Kantin rumah sakit lumayan ramai.
"Kak, ada ayam panggang bumbu rujak nggak sih?" tanya Raditya.
"Sebentar tuan, aku lihat dulu" jawabnya.
"Emang saben hari bikin kah kak?" tanya Raditya penasaran.
"Bikin. Kak ini tinggal seporsi. Gimana?" ujarnya.
Raditya tersenyum senang, nggak usah jauh-jauh belinya.
"Oke kak, seporsi. Sama nasi hangat nya ya" pinta Raditya.
"Baik, silahkan ditunggu" ujar pelayan kantin.
Tak sampai sepuluh menit pesanan jadi.
Raditya mengambil air kemasan dalam botol, serta menyodorkan selembar uang seratus ribuan.
"Bentar tuan, kembaliannya" tukas pelayan itu tadi.
"Buat kamu aja. Makasih" bilang Raditya.
Dengan selembar uang seratus ribu aja, sudah bisa buat menyenangkan sang istri.
Raditya masuk ke ruang rawat, dan melihat sang istri menangis.
"Yank" panggilnya.
"Eh, kok cepet" Rania kaget sembari mengusap air mata nya.
"Kok nangis, aku buat sedih ya?" Raditya ikutan melow.
Rania menunjuk ke arah layar televisi yang sedang nayangin drama Korea.
"Nangisnya karena lihat itu?" tanya Raditya heran.
Raditya mengacak rambutnya kasar. 'Ada-ada saja' batin Raditya.
"Mana ayam panggang bumbu rujaknya?" tanya Rania antusias.
Melihat bungkusan yang dibawa sang suami dan aroma ayam yang menggiurkan, membuat Rania antusias.
"Waaaooooowww, sepertinya lezat" ucap Rania.
Ditambah nasi yang mengepul, sungguh sesuai ekspektasi Rania.
Rania maka dengan lahap, tapi saat melihat ke sang suami yang sedang menatapnya juga.
"Kamu nggak makan?" tanya Rania.
"Tinggal seporsi" tukas Raditya.
"Kamu makan aja, kalau aku mah gampang. Ntar nyuruh Beno aja" sambung Raditya.
"Aaaaaaaa...." Rania menyodorkan sesuap nasi dan ayam dengan tangannya langsung.
"Enak loh yank ini, coba aja" tangan Rania tetap mengarahkan ke mulut Raditya.
"Kalau aku habisin gimana?" tanya Raditya.
"Ya nggak papa, beli lagi" seru Rania.
'Apa dia nggak ingat kalau aku tadi bilang tinggal seporsi?' Batin Raditya.
"Ayo sayang" ulang Rania.
Raditya pun menuruti apa kata sang istri.
"Hhhmmmm gimana?" tanya Rania untuk mendapatkan komen layaknya food vlogger.
"Perfecto" tukas Raditya.
"Tapi habis ini kamu saja yang makan, sedari pagi belum masuk apa-apa kan? Mau aku suapin?" Raditya menawarkan diri. Rania menggeleng.
Dia lanjutkan makannya dengan lahap sampai bersih tak bersisa.
"Besok mau lagi?" ucap Raditya.
"Besok pikir besok aja yank" tukas Rania terkekeh.
.
Anak buah Beno datang ke salon kecantikan sesuai waktu yang dijanjikan.
"Kak, aku sudah reservasi sebelumnya" bilang anak buah Beno.
__ADS_1
"Atas nama?" tanya nya.
"Anton" jawab anak buah Beno sesuai nama yang dia daftarkan waktu itu.
"Anda daftar untuk perawatan muka? Menghilangkan jerawat?" tanya karyawan salon yang nampak cantik bak boneka itu.
"Yaappp"
"Oke, anda bisa duduk di ruang tunggu sebelum nanti dipanggil tuan" serunya.
"Oh ya kak, kenapa kok sepi sekali di sini?" tanya anak buah Beno pura-pura heran.
"Emang dibuat seperti itu kak. Tapi yakin saja, dokter yang melakukan perawatan sangat ahli kok. Malah ada yang didatangkan dari negara lain" bilangnya.
"Oh ya?" anggota Beno semakin dibuat penasaran.
"Oh ya tuan Anton, apa yakin hanya ingin perawatan jerawat aja?" pancing karyawan salon.
"Emang apa saja perawatan yang bisa aku lakukan?" anggota Beno ikutan memancing juga.
"Banyak. Mau ganti wajah juga bisa" tandas karyawan itu dengan sangat meyakinkan.
"Hah, benarkah? Kalau muka ku ini bisa nggak dirubah seperti artis Korea?" tukas orang yang mengaku bernama Anton ini.
"Konsul aja dengan dokternya. Kalau anda minat sih" seru sang karyawan.
"Biaya nya boleh diinfo" bilang Anton.
"Murah, hanya lima puluh jutaan. Kalau ke negara nya dokter itu, tuan bisa dikenai biaya di atas dua ratus juta" jelas sang karyawan.
"Mahal juga ya" komen Anton.
"Lima puluh juta mah nggak mahal tuan, dibanding dua ratus juta. Daripada anda harus terbang ke sana. Biaya lagi" imbuh sang karyawan yang semakin ke sini semakin banyak omong juga.
Ya wajar sih, dia kan dibayar untuk promosi salonnya juga.
"Sini kubisikin tuan" panggilnya supaya anak buah Beno mendekat.
"Apa?" Anton penasaran.
Karyawan itu membisikkan sesuatu yang membuatnya terbengong.
"Benarkah?" tukas Anton tak percaya.
Sang karyawan mengangguk pasti.
"Tapi itu rahasia, jangan sampai kedengaran orang luar" serunya.
'Nggak boleh denger orang luar, tapi dia nya sendiri ember' batin anak buah Beno itu.
Anton tiba-tiba mengeluh perutnya sakit dan melilit.
"Kenapa tuan?" tanya sang karyawan kepada pelanggan baru nya itu.
"Toilet mana?" seru Anton sambil meremas perutnya seakan tak tahan untuk buang air besar.
"Di dalam. Anda jalan aja lurus, mentok belok kanan" kata sang karyawan.
'Kesempatan untuk melihat isi di dalam sini' pikir Anton dengan jalan membungkuk. Untuk menyempurnakan akting pastinya.
"Hhhmmm luas juga area di dalam. Ada beberapa ruangan mewah dan bersih juga" gumam nya.
"Owh, apa ini ruang operasinya?" Anton menghentikan sejenak langkahnya dan melongok ke kaca yang ada di pintu ruangan itu.
"Siapa kamu?" tanya seseorang dengan badan tinggi besar.
Untung saja Anton masih berposisi menbungkuk memegang perut.
"Saya bingung nyari toilet tuan, tapi kok nyasar ke sini" Anton meringis menahan sakit perut.
"Aku antar" seru nya tegas.
"Silahkan" katanya setelah sampai ke tempat yang dimaksud.
Anton masuk dengan tetap membungkuk.
"Huh, capek juga jalan begini" keluh Anton lirih biar nggak kedengaran orang yang tadi.
"Tuan sudah belum?" tanya orang yang tadi setelah menunggu beberapa saat.
"Ngapain sih, nungguin orang di kamar mandi? Kayak nggak ada kerjaan lain aja" gerutu Anton dalam hati.
"Tuan" orang tadi menggedor pintu karena tak mendapatkan jawaban.
"Iya, bentar. Perutku sakit nih" teriak anak buah Beno sama kerasnya dengan orang yang memanggil.
"Uuuhhh...leganya" seru Anton setelah hampir tiga puluh menit mendekam di toilet.
"Makasih tuan, masih menunggu aku dengan setia" ucap Anton sengaja mengeluarkan senyuman termanis buat orang yang beberapa kali menggedor pintu toilet.
"Eh, sudah giliran aku belum ya?" tanya Anton berpura-pura.
"Nama anda?" seru laki-laki tadi.
"Anton"
"Oke kalau begitu mari ikut dengan saya. Dokter Lee telah menunggu anda di ruangannya" jelasnya.
"Dokter Lee?" tukas Anton.
"Betul. Dan hanya orang yang sudah daftar member aja yang bisa ketemu dengannya" lanjutnya memberi penjelasan.
"Ooowwhhh gitu ya?" tanggap laki-laki yang mengaku bernama Anton itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
***To be continued, happy reading
Happy weekend, selalu sehat buat semua***