Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Belanja


__ADS_3

Raditya benar-benar menepati janjinya untuk mengajak Rania belanja.


Raditya akan mengajak Rania ke mall tengah kota. Meski tak sebesar di ibukota, tapi lumayanlah.


"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya Raditya saat dirinya masuk dari pintu depan.


"Rania ada di kamar si kembar tuan" beritahu bu Marmi.


"Eh, bu Marmi kok bersih-bersih?" tanya Raditya karena melihat bu Marmi bawa sapu dan gagang pel.


"Kalau diam saja bawaannya ngantuk aja tuan" beritahu bu Marmi.


"Boleh bu, tapi nggak boleh capek-capek" ujar Raditya.


"Siap tuan"


"Oh ya bu, jika Rania kuboyong ke ibukota. Bu Marmi ikut aja" kata Raditya.


"Loh, kalian mau pindah?" tanya bu Marmi. Ada gurat kesedihan yang nampak di mukanya.


"Makanya bu, ikut kami saja. Di sini bu Marmi juga sendiri kan?" imbuh Raditya.


"Rumahnya dikontrakin aja semua. Selain dapat uang, rumah juga akan terawat" saran Raditya.


"Akan kupikirkan tuan. Kadang berat juga ninggalin tanah kelahiran" jelas bu Marmi.


"Iya, bener. Tapi ini nggak mendesak kok. Dan tidak ada paksaan" Raditya mengurai senyum.


"Aku ke kamar dulu ya bu" kata Raditya dan menjauhi bu Marmi.


"Sayang, si kembar rewel kah?" tanya Raditya mendekati Rania yang sedang menggendong salah satunya.


"Enggak kok, cuman barusan minum nih tadi. Kalau langsung ditaruh takutnya muntah" jelas Rania.


"Oke, aku tungguin" ujar Raditya dan langsung duduk di belakang Rania.


"Tungguin? Kita mau kemana? Jadi belanja kah?" tanya Rania.


"Loh, jadi lah. Sini biar kugendong. Kamu ganti baju aja dulu" suruh Raditya.


Rania menyerahkan bayi yang sudah mulai gemukan dikit itu dan meninggalkan Raditya di sana untuk berganti baju.


"Loh, bunda nya ke mana?" tanya bu Marmi yang masuk ke kamar kembar.


"Ganti baju bu" jelas Raditya.


"Mau kemana?"


"Ngajakin Rania belanja, buat keperluan si kembar" terang Raditya.


"Hiling-hiling ya tuan?" tanya bu Marmi tanpa mengerti maksud dari kata itu.


Raditya tersenyum menanggapi, "Ya seperti itulah bu" tandas Raditya.


Rania kembali masuk setelah dirinya selesai ganti baju. Lengkap dengan riasan tipis yang senada dengan bajunya.


"Cantik" puji Bu Marmi membuat Rania tersipu.


Rania yang awalnya tak begitu memperhatikan riasan kala berpisah dari Mahendra, sekarang dia sudah seperti waktu bekerja dulu.


Pengalamannya saat bekerja membuatnya bisa memadupadankan baju dan riasan.


Raditya tersenyum melihat Rania yang tersipu itu.


"Mumpung si kembar tak rewel, kalian berangkatlah" suruh bu Marmi.


"Tolong jagain ya bu" kata Rania.


"Tentu saja" tukas bu Marmi.

__ADS_1


Dan saat Raditya dan Rania hendak keluar pintu utama, ayah dan ibu Rania kebetulan datang. Bilangnya sih kangen sama cucu.


Dan tak lama papa dan mama Andrian juga datang.


Lengkap sudah opa oma semua berkumpul.


"Kalian mau ke mana?" tanya papa yang memang datang belakangan bersama mama.


"Hiling-hiling pah" jawab Raditya bergurau.


"Enggak kok Pah, hanya pergi sebentar untuk beli diapers nya kembar" jelas Rania.


"Lama juga nggak apa-apa. Puas-puasin aja kalian belanja" kata papa Andrian.


"Jangan lupa Rania, gesek habis tuh kartu hitamnya Radit" provokasi mama.


"Nah, betul juga tuh apa kata mama kamu Rania" papa Andrian terlihat sekali mendukung sang istri.


"Kok manggilnya kembar mulu? Kapan mereka punya nama" sela nyonya Handono.


Raditya dan Rania saling pandang, sampai kini mereka belum menemukan nama yang cocok untuk keduanya.


"Kalian pergilah. Urusan nama biar menjadi urusan kita" kata tuan Handono menimpali.


"Loh, siapa yang buat anak siapa yang kasih nama" ujar Raditya sambil mengusap tengkuk.


"Berangkatlah. Jangan lupa pesan mama, kurangin angka nol di kartu Raditya" imbuh mama.


Rania tersenyum tanpa kata.


Raditya dan Rania telah berangkat. Sementara Oma-oma dan Opa-opa si kembar berkumpul di penthouse Raditya.


Raditya dan Rania telah duduk di dalam mobil mewah milik Raditya. Kali ini pak Supri dibebastugaskan, karena Raditya ingin pergi berdua dengan sang istri.


Raditya menyerahkan sebuah kartu hitam dari dalam dompetnya.


"Untuk apa ini?" tanya Rania.


"Untuk?" tanya Rania.


"Nafkah aku untuk kamu" terang Raditya.


"Kalau itu memang menjadi nafkah buat aku, kenapa nggak tunai aja?" tanya Rania.


"Aku nggak pernah bawa tunai sayang. Di dompet punyaku, jarang ada uang tunai nangkring di situ. Sering-seringnya Beno yang malah metraktir aku...he...he..." imbuh Raditya.


"Sudah bawa aja. Kalau diperlukan malah tinggal gesek aja kan. Lebih praktis" sambung Raditya.


"Kalau belinya di pasar, di toko kelontong seperti punyaku mana ada gesek kartu" sahut Rania.


"Ha...ha...benar juga. Tapi nanti di ibukota jarang toko kelontong di dekat rumah kita" jelas Raditya.


"Wah, repot juga ya. Kalau belanja harus jauh" kata Rania.


Pola pikirnya sungguh sederhana. Beruntung aku mendapatkan dia. Pikir Raditya. Wanita yang tak neko-neko.


"Ya, musti nimbun belanjaan" kata Raditya terbahak.


"Aku nggak paham sayang. Nanti kalau di ibukota nanya nya ke mama aja ya. Tips-tips nya belanja" ujar Raditya terbahak.


"Ini terima dulu, kok arah bicara kita malah kemana-mana" Raditya menyerahkan kartu yang sedari tadi belum diterima Rania.


"Oh ya PIN-nya ulang tahun kamu" jelas Raditya.


"Aku?" tunjuk Rania ke arah dirinya sendiri.


"Heemmmm, biar kamu gampang ingat" jawab Raditya dan mulai menjalankan mobil pelan keluar basement apartemen.


"Kita ke mall yang dekat balaikota itu ya?" tanya Raditya minta persetujuan Rania. Karena rencana awal Raditya memang ke sana.

__ADS_1


"Ngikut aja dech, yang penting nggak macet" imbuh Rania.


"Mana ada kota ini macet. Kamu belum tahu ibukota, parah banget macetnya" cerita Raditya.


"Iya kah?"


"Hemmmm" angguk Raditya.


Tak lama, mereka hanya perlu waktu kurang dari setengah jam untuk sampai di mall yang lumayan besar itu.


"Lumayanlah dapat parkir dekat pintu masuk" ujar Raditya saat mobil telah dia parkirkan.


"Langsung ke toko baby aja ya?" pinta Rania.


"Terserah kamu aja dech tuan putri. Aku mah ngikutin aja" canda Raditya.


Lagi-lagi Rania tersipu. Hal yang tak pernah didapatkan dari Mahendra. Dimanja oleh ulah suami.


Kebetulan atau tidak, nyatanya mereka berdua bertemu dengan Riska yang sepertinya sedang cari diapers.


Letak mall yang tak jauh dari rumah sakit, tentu memudahkan Riska kali ini. Karena bayinya yang masih dirawat. Mau dirujuk keburu Mahendra masuk bui. Jadi untuk sementara Riska minta bayinya tetap di rawat di rumah sakit tempat dia melahirkan.


"Cih, wanita licik sedang pamer suami barunya" kata Riska yang sepertinya sengaja mengeraskan suaranya agar kedengaran oleh Rania.


Raditya menggandeng Rania dan melewati begitu saja di depan Riska.


Rania juga diam tak menanggapi, membuat Riska jengah.


"Nggak suami, nggak istri. Sukanya ngerusak hidup orang" sambung Riska dengan lebih keras lagi.


Seorang karyawan toko itu menghampiri Riska, "Maaf nyonya, kalau ke sini hanya buat rusuh. Silahkan pergi saja" usir karyawan itu.


"Siapa yang buat rusuh? Aku sedang cari diapers buat anak aku" tukas Riska dengan sewot dan berlalu ke arah etalase lampin sekali pakai itu.


Rania yang sibuk memilih lampin untuk newborn, terlalu asyik sehingga tak mengetahui jika Riska ada di belakangnya.


Sementara Raditya berada di balik etalase diapers, karena sedang cari botol dot untuk si kembar.


"Wah, kebetulan. Ketemu lagi dengan wanit4 jal4ng nih" kata Riska emosi.


Rania tetap saja mengambil diapers yang barusan ditemukan. Sesuai merk yang sering dipakai oleh kedua buah hatinya. Karena menurut Rania dengan pakai merk yang dipegang sekarang, tak menimbulkan iritasi.


"Hei" seperti biasa Riska mencengkeram bahu Rania.


"Kamu memanggilku? Apa kita saling kenal?" kata Rania saat dirinya berbalik. Dan mereka saling berhadapan kini.


Riska mendelik mendengar jawaban Rania.


Padahal perhatian pengunjung lain di dekat situ tertuju ke mereka berdua.


"Maaf, apa kita saling mengenal?" kata Rania mengulangi tanya.


"Maaf nyonya, aku harus menyusul suamiku" imbuh Rania dan meninggalkan begitu saja Riska yang berdiri mematung.


"Sial...sial...wanita itu semakin banyak bicara" umpat Riska saat Rania sudah hilang dari pandangan.


Sementara Rania menghampiri Raditya yang tersenyum ke arahnya.


"Sudah dapat?" tanya Raditya dan dijawab anggukan Rania.


Dalam hati Raditya tersenyum bangga, karena Rania tak selemah yang dia kira.


"Sayang, botolnya apa yang seperti ini?" tanya Raditya.


Dengan belanja, mereka saling mengeratkan hubungan.


Riska yang selalu mengikuti Raditya dan Rania, mengepalkan tangannya erat. Pasti ada rasa tak suka yang mengganjal di hatinya.


Apalagi saat Rania membayar belanjaan dengan kartu sakti, semakin meradang Riska dibuatnya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading guyssss


__ADS_2