Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Gawe Mantu


__ADS_3

Mulai esok pagi, Raditya bertanggung jawab penuh akan jalannya Samudera Grub.


Malam itu semua berkumpul di ruang keluarga selepas makan malam.


"Yank, bu Marmi tadi siang bilang kalau mau pulang" cerita Rania mengawali pembicaraan.


"Pulang ke mana? Sini kan juga rumahnya" ulas Raditya.


"Bingung mau ngapain katanya" lanjut Rania.


Rania membisikkan sesuatu kepada sang suami.


"Heemmm aku ada ide" Raditya menahan senyumnya.


"Apaan?" papa dan mama pun ikutan.


Raditya membisikkan rencananya. Karena mengingat kebaikan bu Marmi kepada sang istri waktu berjuang.


Tuan Andrian yang berperan memanggil pak Supri kali ini, selanjutnya Rania juga menyuruh Hanan untuk memanggilkan bu Marmi.


"Begini pak Supri, besok tolong anterin bu Marmi pulang. Bu Marmi katanya tak kerasan dan ingin pulang" kata Raditya.


Pak Supri terlihat kaget mendengar niat dari bu Marmi.


"Beneran?" tandas pak Supri.


Bu Marmi pun mengangguk.


Raditya berniat menjodohkan mereka berdua. Agar masing-masing betah ikut dengannya.


"Kalau kangen sama Celo dan Cio?" sambung pak Supri.


"Kan gampang, tinggal balik ke rumah ini" sahut bu Marmi.


"Gini aja dech, gimana kalau kita menikah?" kata pak Supri langsung pada intinya dan membuat bu Marmi terhenyak.


Raditya dan Rania tersenyum melihat mereka.


"Kamu itu melamar seperti beli bawang di pasar aja Supri" ejek papa Andrian yang sedari tadi ikutan duduk di ruangan itu.


"Lha gimana tuan? Saya juga belum berpengalaman untuk itu" terang pak Supri.


"Melamar kok jadi pengalaman, amit-amit. Mau melamar berapa kali kamu Supri?" sela mama.


"Bukan begitu maksudnya nyonya, tapi caranya melamar aku belum tahu" pak Supri menerangkan.


"Nah itu baru benar" tukas mama.


Suasana lamaran pak Supri malah terjadi di ruang keluarga kediaman Raditya.


Dan tak perlu menunggu lama, lamaran pak Supri diterima oleh bu Marmi.


Lamaran singkat dan sukses. Bentar lagi keluarga Raditya punya gawe mantu.


"Di sini aja nikahnya. Bu Marmi sudah nggak ada keluarga lagi kan?" tanya mama.


"Bener nyonya" terang bu Marmi. Pak Supri pun menyetujuinya, karena jarak tempuh yang tak jauh dari keluarga besarnya.

__ADS_1


Rania senang dan ikutan memeluk bu Marmi.


"Ibu ku yang baik hati akhirnya menemukan jodohnya" ujar Rania.


"Lebih cepat lebih baik. Kapan kira-kira kamu siap pak?" tanya Raditya.


"Akhir bulan ini juga bisa?" sela papa Andrian.


Melihat pak Supri yang bingung, "Niat baik harus disegerakan" sela Raditya.


"Sudah, besok abis nganter aku ke perusahaan. Urus surat-surat buat nikah kamu" suruh Raditya.


Pak Supri mengangguk. Bu Marmi mengucapkan terima kasih kepada keluarga baru Rania.


.


Pagi hari Raditya bangun ogah-ogahan karena semalam sampai tak ingat dirinya menggempur sang istri.


Saat dia bangun, ternyata Rania masih lelap di sampingnya.


"Kamu capek ya yank?" kata Raditya sambil mengecup kening sang istri dan beranjak ke kamar mandi dan Rania hanya menggeliat.


Raditya keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan handuk melilit pinggang.


Rania baru saja membuka mata, "Sudah pagi kah?" ucap Rania.


"Mau kubuka tirai jendela nya?" kata Raditya.


Rania bergegas ke kamar mandi dengan selimut melilit tubuh. Malu dong tubuh polosnya di lihat sang suami.


"Bahkan semalam sudah kuhabisin loh yank, masih aja malu" olok Raditya sembari tertawa.


Segera Rania siapkan baju ganti untuk sang suami yang masih setia dengan handuk melilit tubuh.


"Pakaiin" seru Raditya manja.


"Hah? Daleman nya juga?" tanya Rania tak percaya. Raditya mengangguk.


"Isssshhh...manjanya" seru Rania dengan pipi yang sudah merona dan senyum pun tersungging di bibir Raditya.


Mereka berdua keluar barengan. Nampak di meja makan papa dan mama sudah menunggu mereka berdua.


"Kalian ya, mentang-mentang pengantin baru. Dosa loh ngebiarin orang tua kelaparan" seru mama.


"Sapa suruh nungguin" tukas Raditya ketus.


"Anak mama ternyata manjanya luar biasa ya mah" sela Rania di antara obrolan.


"Oh ya? Benar tuh Raditya?" ucap mama menanggapi.


"Dilarang curhat di meja makan" seru Raditya.


Rania mengantar sang suami sampai pintu depan, mengantar sang suami berangkat kerja.


Rutinitas baru bagi seorang Rania.


Jika selama ini Rania selalu berangkat kerja bareng Mahendra dan sering juga Rania harus berdesakan di bus umum kala Mahendra keburu masuk kerja.

__ADS_1


Bersama Raditya, Rania diperlakukan bak ratu di rumah.


"Nyonya, kok malah melamun?" Hanan yang coba menghampiri Rania yang masih berdiri di depan.


"He...he...masih belum terbiasa dengan kebiasaan baru aja" terang Rania dan kembali masuk ke dalam rumah dan langsung ke kamar Celo dan Cio.


.


Di sebuah hotel bintang empat, sebuah ponsel berdering keras di nakas.


Si empunya yang punya ponsel akhirnya mereject panggilan karena berisik dan dirinya masih mengantuk.


Ponsel kembali berdering lagi.


"Siapa sih?" gerutunya dengan sedikit membuka mata.


"Halo" sapa nya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Nyonya Riska, ditunggu kedatangan anda di rumah sakit pagi ini" kata sang penelpon yang sepertinya perawat jaga.


"Heemmm, baiklah" jawab Riska dengan rasa malas membuncah.


"Huh, merepotkan saja" gerutu Riska dan kembali menaruh ponselnya di atas nakas.


Ya, selama bayinya dirawat di rumah sakit. Riska memutuskan untuk sementara tinggal di hotel karena belum menemukan kontrakan yang sesuai kriterianya. Sewa apartemen sangat mahal bagi Riska. Aneh memang si Riska.


Riska melangkah gontai ke ruang bayi tempat di mana anaknya dirawat.


Dan di sana sudah ada dokter anak yang sedang menunggu kedatangan Riska.


Dan yang membuat Riska terkejut, ada dokter Andah yag berada di belakang dokter senior itu.


"Silahkan duduk nyonya" suruh sang dokter senior. Sementara Riska menatap tajam Andah, yang menyebabkan dirinya malu dan harus kehilangan pekerjaan karena skandal malam itu.


"Nyonya" panggil ulang sang dokter. Dan akhirnya Riska pun duduk.


Riska tak konsentrasi kala mendengar dokter itu menjelaskan tentang keadaan putranya.


"Nyonya, apa sudah jelas yang saya sampaikan?" tanya sang dokter mulai menaikkan nada suara, karena merasa jika Riska tak mendengarkan dirinya.


"Je...jelas dok" jawab Riska gugup.


"Silahkan tanyakan biaya ke admin, perkiraan semua biayanya. Tapi untuk pelaksanaan operasi saya tak bisa menjamin akan dilaksanakan kapan, karena kondisi putra anda yang masih lemah. Dan untuk anda ketahui, semalam putra anda beberapa kali mengalami cyanosis" ujar sang dokter kembali menjelaskan.


Tak ada rona sedih di muka Riska, yang ada hanya muka sebal dari Riska terhadap Andah.


Riska menahan Andah kala akan mengikuti sang dokter senior pergi.


"Tunggu!" kata Riska menahan lengan Andah.


"Kalian kenal?" tanya senior Andah itu.


"Kenal dok, dokter Andah ini teman saya" terang Riska.


"Baiklah. Aku duluan" katanya sambil berlalu pergi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2