
Tiga hari berlalu, kini Rania sudah diijinkan pulang oleh dokter yang merawatnya.
Rasa syukur tiada terkira yang terucap dari bibir Rania, setelah hampir sepekan dirinya menginap di rumah sakit.
Sang suami dengan setia menungguinya.
Rasa capek yang mendera seakan tak dirasa. Pagi berangkat kerja, sore pulang kerja langsung balik rumah sakit. Belum lagi kalau ada permintaan aneh-aneh sang istri. Raditya tetap sabar menjalani.
Bu Marmi dan pak Supri telah prepare dan bersiap pulang. Barang-barang pun telah dikemasi.
Tapi mereka berdua belum berani mengajak pulang nyonya muda nya karena belum ada mandat dari tuan muda.
"Sudah selesai semua?" tanya Rania.
"Sudah nyonya" jawab pak Supri.
"Nunggu apalagi? Ayo bersiap! Mobilnya siapin depan lobi aja pak" seru Rania.
"Masih nunggu tuan muda nyonya. Tuan Raditya bilang akan menyempatkan menjemput sendiri saat nyonya diperbolehkan pulang" lapor pak Supri.
"Baiklah" jawab Rania.
Menunggu Raditya memang harus ekstra sabar, karena kerjaannya yang bejibun.
Sementara yang ditunggu masih berada di ErDua, menyelesaikan masalah yang terjadi sejak tiga hari kemarin.
"Adam, hari ini harus selesai. Defisit di divisi luar negeri sudah banyak dibantu dengan omset dalam negeri loh. Usahakan defisir diminimalir" suruh Raditya.
"Siap bos. Tapi kendalanya, terobosan yang buat kemarin belum menunjukkan hasil yang signifikan" terang Adam.
"Yap aku tahu itu. Pertahankan langkah yang kalian ambil kemarin. Kalau perlu tambah lagi ide yang lain. Tampung aja usul karyawan yang mungkin saja punya ide kreatif" saran Raditya.
Di ErDua, saran-saran dari karyawan sangat lah dihargai. Raditya membiasakan itu, karena di ErDua sengaja menampung tenaga-tenaga muda yang tentu saja banyak ide kekinian yang sangat diperlukan dalam bisnis terutama di era nya sosmed ini.
"Adam, sore ini aku tunggu laporan seperti biasa. Kasih kabar baik padaku" ucap Raditya sekaligus akan pergi.
"Baiklah bos" tukas Adam.
Ponsel Beno berdering. Beno yang mengikuti Raditya sejak tadi di ruang rapat itu pun melihat siapa yang memanggil.
"Nyonya Rania?" alis Beno saling bertaut karena heran.
Raditya menoleh saat Beno menyebutkan nama istrinya.
"Ada apaan?" tanya Raditya.
"Mana gue tahu bos" seru Beno menimpali.
"Gue angkat, apa lo yang angkat?" sambung Beno.
"Gue aja" jawab Raditya. Mana rela Raditya jika panggilan Rania diterima oleh Beno.
"Dasar bucin akut" olok Beno disambut gelak tawa yang lain.
Raditya tak memperdulikan itu dan langsung menggeser ikon hijau panggilan.
"Tuan Beno minta tolong sampaikan ke bos kamu. Sampai kapan akan membiarkan istrinya jamuran di rumah sakit. Kata dokter aku sudah boleh pulang, dan suruh nungguin dia datang. Cukup kasih tahu saja, aku sudah menunggunya dua jam lebih loh. Tau gitu aku balik aja sama pak Supri dan bu Marmi" terdengar nada kejengkelan hakiki dari suara Rania.
Tut...tut...tut....panggilan itu diputus begitu saja oleh Rania membuat Raditya bengong.
'Wah, berasa membangunkan singa tidur nih' batin Raditya yang masih dalam mode bengong.
"Eh bos, kesambet ya?" Beno menyenggol bahu Raditya.
Seakan tersadar, "Ayo Beno. Segera merapat ke rumah sakit" seru Raditya.
__ADS_1
"Ada apa dengan nyonya Rania?" tanya Beno karena ngedapatin bos nya bengong setelah mendapatkan telepon barusan. Dan sekarang malah ingin segera pergi ke rumah sakit.
"Bos, apa yang terjadi? Nyonya Rania bagaimana keadaannya? Situasi urgen kah?" Beno terus saja memberondong tanya ke sang bos.
"Iya urgen, makanya ayo cepetan!" seru Raditya langsung tancap berjalan ke mobil, sampai lupa pamitan ke staf-staf ErDua yang barusan diajak rapat oleh Raditya.
Beno diminta Raditya menambah kecepatan laju mobil.
Beno pun melakukan apa yang diperintah oleh sang bos karena mengira situasi Rania sedang gawat.
Raditya turun begitu saja tanpa menunggu Beno memarkirkan mobil dengan benar.
"Bos ini kenapa sih? Buru-buru amat. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan nyonya Rania. Aamiin" doa Beno dalam hati.
Beno menyusul Raditya yang sudah hilang dari pandangan Beno. Tentu saja ke ruang rawat Rania.
Beno tertegun saat sampai di ruang perawatan Rania.
Didapatinya Raditya tengah merayu sang istri yang tengah merajuk.
Beno mengusap tengkuknya sendiri sambil melihat pak Supri yang saat itu juga mengedikkan bahunya.
"Ternyata urgennya karena takut dimarahi sang istri?" Gumam Beno menepuk jidatnya sendiri.
Drama merajuknya Rania kebawa sampai dalam mobil saat perjalanan menuju mansion.
Di tengah jalan ponsel Raditya kembali berbunyi.
"Ada apa nih papa? Nggak tahu apa kalau anaknya sedang ada misi urgen" gerutu Raditya saat melihat layar ponsel tertulis papa incoming. Misi urgen yang dimaksud Raditya adalah merayu sang istri yang kini masih saja sewot.
"Halo Pah" jawab Raditya setelah panggilan ketiga.
"Aku dengar Rania sudah boleh dibawa pulang? Langsung aja ke mansion papa. Biar di sini istri kamu bisa istirahat dan ada yang ngawasin" suruh papa.
"Ogah, habis ini anterin aja Celo dan Cio" tukas Raditya.
"Pah" panggil Raditya.
"Ogah Raditya, kalau tak bawa istri kamu ke sini. Jangan harap Celo dan Cio kupulangin" seru papa Andrian.
"Pak Supri, kita ke mansion papa saja" sela Rania di antara obrolan Raditya dengan papa Andrian.
"Tuh, Rania aja setuju" kata papa lengkap dengan tawanya membuat Raditya reflek mendelik ke arah Rania.
Bagaimana dengan entengnya Rania menyetujui permintaan sang papa.
"Aku kangen Celo dan Cio" jawab Rania lugas saat pandangan Raditya masih saja ke arahnya. Padahal panggilan dari papa belum juga usai.
Mau tak mau Raditya setujui saja permintaan papa Andrian yang dikuatkan oleh persetujuan Rania.
Kalau nggak diikutin bisa sebulan nggak pelukin guling hidupnya itu. Apalagi seminggu kemarin, Raditya sudah dianggurin begitu saja.
.
Setelah dibebasin karena Mommy memberikan jaminan kepada penyidik dan mencabut kesaksiannya, kini Riska akan kembali ke kota kelahirannya.
Beberapa kali Riska merayu mommy untuk memberinya modal untuk ikut menjalankan bisnis seperti induk semangnya itu.
"Mom, ntar aku buka di kota aku sendiri aja. Sementara karena belum ada anak buah, aku sendiri yang akan maju. Tapi jangan lupa langganan mommy yang datang ke sana, rekomin ke aku. Tenang Mom, kita bagi hasil" ujar Riska dengan berbagai modus.
"Berapa bagian kita masing-masing?" tanya mommy mengetes Riska.
Riska berpikir sejenak. Aku harus mengikuti apa yang mommy mau dulu. Biar aku dapat modal darinya. Setelahnya akan kupikirkan sambil jalan. Pikir Riska.
"Kalau itu terserah Mom mau buat perjanjian seperti apa. Toh aku masih dapat delapan puluh persen sisanya. Yang dua puluh persen baru kita bagi kan Mom? Nah kalau yang dua puluh persen, aku ngikut aja apa kata Mommy" seru Riska lantang.
__ADS_1
"Oke, enam puluh buat aku dan kamu dapat yang empat puluh. Habis ini biar dibuatkan berkas kerjasama yang musti kamu tanda tangan di situ" kata Mommya.
"Oke Mom" tukas Riska.
Seiring berjalannya waktu Riska sampai melupakan niatnya untuk balas dendam pada Rania.
Niat awalnya dulu mengganggu Rania karena rasa cemburu yang begitu besar karena Rania berhasil menggaet laki-laki yang diincarnya lama saat itu. Laki-laki itu adalah Mahendra.
Sekian lama hidup bersama Mahendra ternyata kehidupannya tak membaik malah semakin hancur lebur.
Pertimbangan Riska, ibaratnya sudah basah ya mandi sekalian aja.
Riska akan menggeluti bisnis ini dengan serius. Bisnis yang menjanjikan sekali menurut Riska.
Padahal dengan menjalankan bisnis ini, entah akan berapa banyak keluarga yang akan jadi korban, berapa banyak orang yang beresiko terkena penyakit menular seksu4l. Orang macam Riska mana peduli akan hal itu. Yang penting cuan akan masuk ke rekeningnya.
Riska berniat akan memulainya dari club malam yang pernah didatanginya saat itu. Saat dirinya sukses menjebak Rania dan berujung perceraian Rania dengan suaminya.
"Aku akan menggaet korban-korban aku dari sana" gumam Riska saat mommy sudah keluar dari kamarnya karena Riska tadi bilang akan packing dan secepatnya akan balik ke kota asalnya.
"Di sana nanti aku akan tinggal di rumah Mahendra. Pasti sekarang kosong rumahnya" batin Riska.
Karena saat ini yang diketahui oleh Riska, Mahendra sudah meninggal saat terjadi kecelakaan beruntun. Kecelakaan pada saat Mahendra akan pindah lapas itu.
"Sebagai janda Mahendra aku kan juga punya hak untuk tinggal di sana. Anggap saja sebagai warisan mendiang suami" gumam Riska mencari pembenaran. Padahal yang paling berhak mendapatkan gono gini itu adalah Rania.
"Hhhmmmm selesai juga akhirnya" ujar Riska menarik nafas lega karena telah selesai packing. Total ada dua koper yang akan dibawanya balik.
"Sambil nunggu jadwal kereta, mendingan tidur aja dulu" seru Riska sendirian sambil baring di ranjang untuk meluruskan pinggangnya karena merasa capek angkat-angkat.
Riska sengaja naik kereta, karena tak kebagian tiket pesawat.
.
Di lain tempat, dengan diantar Dimas kini Vero tengah mengajukan berkas atas gugatan cerai dirinya terhadap Alex suaminya.
"Lo yakin?" tandas Dimas dan dijawab anggukan Vero.
"Bukannya lo ikutan senang ya?" tukas Veronica.
"Banget" sambung Dimas.
"Selesai dari sini, langsung antar aku ke perusahaan papa saja. Aku akan bilang ke staf yang di sana, aku akan ambil alih kuasa perusahaan yang selama ini dipegang oleh Alex sementara" ujar Vero.
"Apa Alex tak akan kaget nantinya?" seru Dimas.
"Biar aja" jawab singkat Vero.
"Kenapa tak lo bicarakan di rumah dulu?" sela Dimas.
Vero tersenyum kecut. "Lo nggak tahu Dim, kita nih kalau di rumah sudah layaknya orang asing yang tak saling kenal" jelas Vero.
"Really? Hubungan suami istri macam apa tuh Vero?" tukas Dimas. Sejahat-jahatnya Dimas pada mantan istrinya, tapi nggak pernah sampai tak saling bertegur sapa seperti itu. Meski akhirnya berujung perceraian juga sih. Batin Dimas.
"Yaahhh begitulah" ujar Vero menghela nafas panjang.
Dimas mengarahkan laju mobil yang membawa Vero bersamanya menuju perusahaan milik tuan Rahardian.
Lama juga Vero dan Dimas tak menginjakkan kaki nya di sana.
Beberapa karyawan lama perusahaan yang mengenal Vero tentu saja langsung menghampiri dan seperti biasa untuk menjilat atasan.
Saat Vero datang di ruang CEO, tentu saja Alex kaget dengan kedatangan istrinya. Apalagi saat itu Alex tengah main panas-panasan dengan sekretaris barunya.
"Hhhmmm kepergok juga" ulas Alex dengan santainya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading