
"Sebaiknya kamu pulang dulu Rania. Istirahatlah! Kehamilan kamu juga harus diperhatikan" saran tuan Andrian. Tapi Rania menggeleng lemah. Tak mau meninggalkan sang suami yang masih dalam kondisi kritis.
Rania kekeuh ingin menunggu Raditya meski dipaksa oleh tuan Andrian untuk pulang.
Bu Marmi datang menghampiri.
"Nyonya, aku bawakan baju ganti. Gimana kalau ganti dulu. Baju nyonya berlumuran darah" ujar bu Marmi.
Pecah lah tangis Rania kembali.
"Bu, Raditya..." seru Rania tak meneruskan kata.
"Berdoa ya nyonya. Semoga tuan muda kuat dan bisa melewati semua" kata bu Marmi menguatkan.
Dipeluknya tubuh ringkih Rania.
Cobaan yang menimpanya seakan tak ada habisnya.
"Sabar, yang kuasa yakin anda mampu mengatasinya. Makanya diberi cobaan seperti ini" imbuh bu Marmi.
Tuan Andrian masih mondar mandir.
Karena masih berada dalam masa kritis, Raditya dipindah ke ruang intensif.
Rania dan semua mengikuti kepindahan Raditya yang terpasang berbagai macam selang di tubuhnya.
Rania masih naik kursi roda yang didorong oleh anak buah Beno yang bersiaga di rumah sakit.
"Nyonya, ganti baju dulu" kata bu Marmi.
Sementara Raditya dibawa masuk ruang intensif, Rania mengikuti apa kata bu Marmi.
Saat akan berganti, tiba-tiba saja Rania merasakan sakit yang luar biasa di perut bawahnya.
"Aaaaggghhhhh" teriak Rania menahan sakit.
Bu Marmi yang berada di luar toilet, mengetuk pintu dengan keras.
"Nyonya....nyonya...." panggilnya dengan keras.
Sekali...dua kali....tak ada sahutan.
"Bang...bang..." panggil bu Marmi ke anak buah Beno yang mendorong Rania di atas kursi roda tadi.
"Ada apa bu?" tanya nya.
"Tolong dobrak pintu ini! Nyonya ada di dalam dan sepertinya pingsan" seru bu Marmi.
Anak buah Beno itu pun melakukan apa yang diminta oleh bu Marmi.
"Hati-hati, jangan sampai kena badan nyonya" kata bu Marmi mengingatkan.
Hampir lima menit pintu baru bisa dibuka.
__ADS_1
Rania tergeletak di sana dengan baju yang masih sama.
"Nyonya...." teriak bu Marmi.
Beberapa perawat wanita yang kebetulan melintas pun menghampiri.
"Ada apa bu?" tanya salah satu diantaranya.
"Tolong. Nyonya ku pingsan" tutur bu Marmi menjelaskan.
Beberapa perawat itu dengan sigap mengangkat tubub Rania dan diletakkan ke bed beroda yang ada di depan ruang instensif.
Tanpa banyak kata, mereka membawa Rania ke unit gawat darurat yang lokasinya tak jauh disitu.
Rania musti di rawat inap di ruang kebidanan karena menunjukkan tanda-tanda persalinan prematur.
Tuan Andrian yang ikut menyusul pun meminta penjelasan ke dokter jaga.
"Nyonya Rania sepertinya kelelahan tuan. Maka ada kontraksi di rahim nya. Makanya saya sarankan di rawat saja" kata dokter itu.
"Apa bahaya buat kedua janinnya?" seru tuan Andrian.
"Iya, kalau dibiarkan begitu saja. Kontraksi yang berlangsung akan membuat pembukaan jalan lahir, yang nantinya bisa menyebabkan bayi lahir sebelum waktunya. Hasil kita konsul dokter obgyn barusan, nyonya Rania harus bedrest dan mendapatkan obat-obatan yang diharapkan dapat menunda waktu persalinan nyonya Rania" jelas dokter itu sejelas-jelasnya.
Tuan Andrian mengangguk.
Belum lewat masa kritis Raditya, sekarang ditambah keadaan Rania yang juga musti diperhatikan.
.
Di depan penyidik, Mahendra saat ini berada.
Tak ada rasa penyesalan sama sekali di raut muka, malah lebih menunjukkan ke arah puas.
"Selamat siang tuan Mahendra, saya harap anda bisa diajak kerjasama dengan kasus yang menimpa anda kali ini" tegas sang penyidik.
Mahendra malah mengoceh sedemikian rupa tanpa menyahut apa yang dikatakan oleh penyidik.
"Raditya kena kau. Akhirnya aku bisa membalas dendam. Meski awalnya tujuan aku adalah Rania...ha...ha..." gumam Mahendra dalam tawa.
Beno mengikutinya dari luar ruangan.
"Gila" seru Beno.
Beno berpesan ke penyidik tentang cerita Rudi sampai bisa mengaku bernama Mahendra.
Dengan pengakuan Mahendra saat ini, penyidik dan aparat hukum yang lain pun merasa dibohongi oleh mereka berdua.
Dan keberadaan Mahendra saat ini di ruang penyidik, membuat mereka ingin segera menjebloskan Mahendra ke penjara dengan hukuman seberat-beratnya.
"Tuan Mahendra, apa anda bisa memghentikan tawa yang membuat telingaku gatal" tukas penyidik mulai kesal.
"Silahkan...silahkan...kalian pasti menanyakan motif aku apa kan?" seru Mahendra seakan tahu arah pertanyaan penyidik.
__ADS_1
"Asal kalian tahu, dan sudah kusebutkan tadi. Aku ingin membalas dendam ke mantan istriku. Dan aku ingin Rania merawat anakku yng sudah berada di surga. Sekarang, mana bisa Rania merawat anakku di sana jika dia masih hidup?" Mahendra mengutarakan alasannya.
Kejadian ini tadi bisa disimpulkan kalau Mahendra sebenarnya salah sasaran.
"Tapi nggak papa lah, meski aku salah korban. Tapi hati aku puas telah membuat Rania mantan istri aku menderita dengan suaminya yang mungkin saja tak tertolong" ujar Mahendra menjelaskan dengan panjang.
"Hhhhmmm" timpal penyidik dengan tangan menggerakkan jari mencatat apa yang menjadi keterangan tersangka.
"Siapa Rudi?" sela penyidik.
"Ha...ha...ha... Apa anda juga penasaran?" tukas Mahendra belum ingin menjelaskan.
"Tanya saja sendiri" lanjut Mahendra.
"Ini sangat berkaitan erat dengan kasus anda, maka jawablah apa yang kutanyakan barusan. Untuk Rudi, jangan kuatir pasti akan kita hadirkan di sini" tandas penyidik membuat tawa Mahendra langsung terhenti.
Mahendra pun menjawab rentetan pertanyaan penyidik. Jika memang dirinya dan Rudi bukan orang yang sama. Mahendra melakukan itu karena ada tujuan. Mahendra tahu saat itu dirinya merasa diawasi oleh penyidik dan juga suami dari mantan istrinya.
Makanya Mahendra membuat skenario sedemikian rupa agar tak ditengarai kalau dirinya bersembunyi di suatu tempat. Dan dia suruh Rudi mengaku sebagai dirinya. Saat operasi lah dia bertukar dengan orang yang bernama Rudi. Sehingga Andah dan Dimas tak juga mengetahui itu.
Sementara Mahendra yang asli selalu mengamati kegiatan Rania dalam diam.
Sering juga dirinya menyanggong depan mansion Raditya meski tak pernah keluar dari mobil.
Dan kesempatan itu akhirnya datang saat Mahendra mengetahui Rania mengunjungi makam bersama sang suami.
Mahendra ikuti kemana Rania pergi hari itu.
Saat Rania dan suami pergi ke mall, Mahendra memaksa sang ibu untuk membantu menjalankan aksinya.
Hingga terjadilah aksi itu.
Mahendra berprinsip jika Rania tak boleh dimiliki siapapun jika dirinya sendiri tak bisa memiliki.
Picik memang. Tapi itulah Mahendra.
Penyidik mengakhiri sesi penyelidikan di ruangan bersama Mahendra.
Beno telah mendapatkan informasi hasil penyelidikan secara garis besar, dan saat ini dia akan menyusul tuan Andrian ke rumah sakit untuk melaporkan semua sekaligus menjenguk sang bos muda.
Sementara Rania baru terbangun dari pingsan.
"Bu, kita di mana?" tanyanya dan melihat lengannya telah terpasang infus.
"Di rumah sakit dan saat ini nyonya dirawat di ruang kebidanan" beritahu bu Marmi.
"Apa yang terjadi?" tanya Rania.
Bu Marmi menjelaskan apa yang disampaikan dokter tadi. Meskipun tak rinci tapi penjelasan bu Marmi telah membuat Rania paham.
Dia musti dirawat, agar bayinya tak lahir prematur.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading