Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Akad


__ADS_3

Pagi itu Raditya sudah disibukkan dengan persiapan akad nikah dengan Rania.


Dia sengaja masih tinggal di hotel untuk persiapan semua.


Sementara Rania dirias di apartemen.


Nanti setelah prepare dan semua siap, baru mereka akan menuju tempat acara dari tempat masing-masing menuju ke rumah orang tua Rania.


"Beno, kamu nggak ada yang terlupa kan?" tanya Raditya saat Beno masuk ke kamar hotel tempat Raditya.


"Sudah sih" terang Beno.


"Keamanan?" Raditya memastikan.


"Semua sudah stanby di tempatnya masing-masing" jelas Beno.


"Baiklah. Aku percaya sama kamu" tandas Raditya.


"Jangan lupa awasin pergerakan Mahendra dan istri" suruh Raditya.


"Riska sudah pulang dari rumah sakit kemarin, sementara bayinya masih dalam perawatan dokter anak" imbuh Beno.


"Aku sudah antisipasi bos, jika seandainya Mahendra mengganggu acara bos. Maka hari ini juga dia akan diciduk pihak berwajib" ulas Beno.


"Kenapa nggak skalian diciduk aja barengan staf yang lain kemarin-kemarin?" tukas Raditya.


"Kurang bukti, keterangan itu yang aku dapat dari penyidik" ucap Beno menimpali.


"Pastikan dia tak main belakang dengan para petugas itu" ujar Raditya mengingatkan Beno.


"Siap bos" jawab Beno.


.


Di apartemen, Rania pun melakukan hal yang sama dengan Raditya.


Pagi sekali, MUA yang disewa Raditya telah datang ke penthouse milik Raditya.


Saat masuk, mereka kagum akan interior tempat Rania tinggal.


"Anda sungguh beruntung nyonya" kata salah satunya.


Rania hanya menjawab dengan seulas senyum.


Hampir dua jam wajah Rania disulap sedemikian rupa.


"Waaooooowwww...anda memanglah sangat cantik nyonya. Tak sia-sia tuan Raditya menikahi anda" kata yang lain.


Bu Marmi yang barusan masuk pun juga memuji Rania.


"Kenapa aku baru nyadar kalau kamu sangatlah cantik Rania" ujar bu Marmi membuat semua yang ada di ruangan itu terbahak.


Kebaya yang dibelikan Raditya saat itu juga pas di badan. Kebaya yang langsung dibawa oleh Raditya saat beli, karena untuk pesan khusus jelas tidak ada waktu untuk itu.


"Aku nitip kembar ya bu selama acara" bilang Rania.


"Tanpa kamu minta, aku pasti jagain kedua cucuku itu" tukas bu Marmi.


Rania berangkat dengan mobil pengantin mewah yang tentu saja disiapkan oleh Raditya.


Dengan disopiri oleh pak Supri tentunya.

__ADS_1


Mana percaya Raditya percaya dengan yang lain. Karena selain sudah lama ikut keluarga Marino, pak Supri juga dibekali ilmu beladiri yang mumpuni untuk pembelaan diri.


"Sudah siap nyonya?" tanya pak Supri sopan.


Rania tersenyum, "Panggil dengan namaku aja pak, rasanya aneh dipanggil dengan sebutan itu" pinta Rania.


"Wah, nggak bisa itu nyonya. Bisa dimarahi abis-abisan aku sama tuan muda" celetuk pak Supri.


"Kita berangkat pak" tukas Rania.


"Baik" imbuh pak Supri.


Di perjalanan pak Supri bercerita tentang Raditya kecil. Pak Supri adalah salah satu saksi hidup pertumbuhan Raditya.


"Dia nakal nggak pak?" telisik Rania.


"Kalau menurutku sih masih dalam tahap wajar sih non" kata pak Supri sembari nyengir kuda.


"Nggak usah disembunyiin pak. Raditya juga sudah cerita kok sebagian. Dia suka ke club malam kan?" lanjut Rania.


"He...he...iya sih non" pak Supri mengaku juga.


"Tapi itu sih menurutku wajar Non. Apalagi tuan Raditya ada fasilitas dan penerus tunggal Samudera Grub" imbuh pak Supri.


"Sebatas nakalnya anak muda" terang pak Supri berikutnya.


Mobil melaju dengan lancar.


.


Raditya yang telah sampai duluan, kaget juga dengan kehadiran tante Yasmine dan juga dokter Andah yang merupakan putrinya.


"Hai Raditya, kok nggak ngundang sih. Kan kebayanya juga dari tante" kata pertama dari mulut tante Yasmine.


Raditya tak menghiraukan mereka berdua, tapi langsung menghampiri mama dan papanya.


"Doakan acaranya lancar Pah, Mah" sungkem Raditya kepada kedua orang tuanya.


"Tentu saja Raditya. Doa terbaik papa dan mama buat kamu" tukas mama.


"Aamiin" sambut Raditya mengaminkan doa orang tuanya.


Raditya juga menghampiri tuan Handono beserta nyonya.


Kali ini Raditya mengenalkan papa dan mama nya kepada calon mertua.


Karena terbiasa menjadi pelayan masyarakat, tuan Handono lumayan cepat berbaur dengan orang tua Raditya.


Bahkan tuan Andrian terlibat obrolan seru dengan calon besan. Demikian juga mama malah sudah nggibah bersama dengan nyonya Handono.


Raditya tersenyum melihat keakraban mereka.


Sementara nyonya Yasmine dan anaknya hanya manyun karena tak ada yang memperdulikan kehadirannya.


Tetangga Rania yang suka nggibah pun telah pada datang. Dan mereka ikutan gabung dengan nyonya Yasmine.


Nyonya Yasmine yang merasa berasal dari kalangan atas seakan jijik didekati oleh tetangga Rania.


Raditya terlihat gelisah, karena mobil yang dibawa pak Supri belum terlihat sampai sekarang. Malah molor tiga puluh menit dari yang diacarakan.


"Beno" panggil Raditya ke arah Beno yang sedang sibuk juga ngatur acara.

__ADS_1


"Iya, sudah kutelpon pak Supri. Tapi sedari tadi nggak nyambung" jelas Beno.


"Issshhhh kemana mereka?" Raditya galau dan cemas campur aduk jadi satu.


.


"Nyonya, sepertinya ada yang ngikutin mobil kita di belakang" kata pak Supri.


"Siapa pak?" tanya Rania sembari menengok ke belakang.


Rania coba amati lagi mobil di belakang itu.


"Pak, itu seperti mobil punya mantan suami aku" terang Rania yang hafal dengan plat mobil miliknya dahulu.


"Benarkah nyonya?" tanya pak Supri menegaskan.


"Iya, aku hafal dengan nomor polisi yang tertera" lanjut Rania.


"Oke nyonya. Pegangan yang erat" tukas pak Supri membuat Rania takut.


"Pak, hati-hati" ujar Rania sambil terus berpegangan. Dia sangat takut kali ini. Takut jika Mahendra nekad.


"Siap nyonya" pak Supri mencoba mencari celah jalan yang bisa dilewati oleh mobil dengan cepat.


Kesempatan datang kala di perempatan, lampu hijau berganti kuning. Pak Supri menginjak gas kencang dan Mahendra tak punya kesempatan itu. Hingga akhirnya dia harus menginjak rem dengan keras menimbulkan bunyi berdecit di sana.


"Aman nyonya" kata pak Supri.


Dengan takut Rania mulai membuka mata dan mengendorkan pegangan tangannya.


"Pak, mendingan lewat gang depan itu. Daripada lewat jalan raya ntar kesusul sama mobil Mahendra" jelas Rania.


"Mana nyonya?" tanya pak Supri yang memang belum begitu kenal dengan jalanan kota ini.


"Gang depan kanan jalan, belok aja di situ" sambung Rania.


Sebuah gang yang cukup besar mereka lewati. Gang dengan perumahan yang cukup padat di kiri kanannya sehingga akan aman jika memang Mahendra mengikuti mereka.


"Nyonya, tolong hubungi tuan Raditya. Pasti tuan sangat cemas sekarang" kata pak Supri.


"Tapi aku nggak bawa ponsel" tukas Rania.


"Pakai ponsel punya aku aja nyonya" pak Supri menyerahkan ponsel miliknya kepada Rania.


Rania buka, "Pak low bat" kata Rania.


"Matih aku nyonya" kata pak Supri menepuk jidat.


"Kenapa?"


"Bisa kena semprot tuan muda. Nanti belain aku nyonya" kata pak Supri.


"Siap beres pak" kata Rania menimpali. Lucu juga reaksi pak Supri kalau takut begini. Batin Rania.


"Pak, keluar gang belok kanan" beritahu Rania.


"Siappppp" imbuh pak Supri mengiyakan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2