Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Pembicaraan Papa dan Raditya


__ADS_3

"Lihat dulu bagaimana tanggapan keluarga tuan Raditya. Tadi cukup hangat kok" beritahu bu Marmi.


Rania mengurai pelukan dan menatap bu Marmi.


"Iya, bener kok. Serius" ucap bu Marmi meyakinkan Rania.


"Istirahat saja bu, besok pagi-pagi tolong anterin aku ke ruang bayi juga ruangnya Chiko. Aku kangen sama mereka" kata Rania sambil merebahkan diri pelan. Nyeri sedikit di luka, Rania tahan.


Bu Marmi pun melakukan hal yang sama, merebahkan tubuh di kursi panjang untuk penunggu.


"Smoga hari esok ada harapan yang lebih baik" ucap bu Marmi sekaligus doa. Rania pun mengaminkan doa bu Marmi.


.


Di hotel, karena tak bisa tidur Raditya keluar kamar.


Dia menuju lantai di mana lounge hotel berada.


Dia ingin duduk santai menenangkan pikiran.


"Heeeiiiii..." Beno menepuk bahu Raditya.


"Hang out yuk. Bosen gue...gini-gini mulu" celetuk Beno.


"Ogah. Di sini aja, suasananya tenang. Sana pesen kopi!" suruh Raditya.


"Hari gini...kopi. Teh panas saja dech" gurau Beno sambil mengangkat tangan untuk memanggil waiters di ujung.


"Beno, laporan tentang sanggahan dari anak cabang bagaimana?" kata Raditya agar Beno melaporkan semua.


"Amburadul bos. Sepertinya loe harus ganti staf semuanya dech" saran Beno.


"Kok gitu?" ucap Raditya.


"Attitude mereka sungguh tak terjaga" imbuh Beno.


"Oh ya, tadi papa sekilas bilang kalau kejadian delapan bulanan yang lalu itu ada andil si manager loh" terang Raditya.


"Loh, apa mungkin beneran dia mau ngorbanin istrinya sendiri?" sela Beno tak percaya.


"Panjang ceritanya, tapi aku harus bisa menemukan buktinya. Tak sabar aku melihatnya mendekam di bui" ujar Raditya.


"Nggak habis pikir aku, suami masang istrinya sendiri untuk menjebak orang lain. Gila tuh orang" lanjut Beno.


"Awalnya hanya aku yang jadi target, tapi di luar kendalinya sang istri juga kejebak. Dan malah mendatangiku malam itu" jelas Raditya.


"Ooooo begitu???" tandas Beno.


"Makanya, kalian harus bisa cari buktinya" sela tuan Andrian.


"Kejadian ini pasti erat kaitannya dengan Dimas, keponakan Rahardian" lanjut tuan Andrian.


"Apa tuan Rahardian merasa sakit hati tuan, saat tuan Raditya memutuskan pertunangan?" tukas Beno.


"Sepertinya begitu" tanggap tuan Andrian.


"Padahal papa kan sangat ingin menjadi besannya, sampai mama memaksa aku untuk tunangan dengan Vero" olok Raditya.


"Itu dulu Raditya, tapi sekarang kan enggak lagi" elak tuan Andrian. Sebenarnya tuan Andrian merasa menyesal, semua yang terjadi atas diri Ε”aditya ada andil dirinya dan juga istrinya.


"Beno, panggilin Pak Supri dong" suruh Tuan Andrian. Pak Supri yang aslinya sopir Raditya. Tapi karena Raditya lama di kota kecil ini bersama Beno. Mendengar tuan Andrian mau pergi menyusul Raditya, Pak Supri memaksa ikut.

__ADS_1


"Pak Supri ikut?" sela Raditya.


"Ikut, katanya nggak betah kamu tinggalin lama-lama" sergah Beno dengan candaan garing.


"Nggak lucu" tukas Raditya.


"Kalau nggak lucu jangan ketawa dong" imbuh Beno.


"Beno...." panggil tuan Andrian.


"Siap tuan" Beno beranjak menuju front office. Beno akan meminta tolong untuk disambungkan ke kamar Pak Supri. Kalau sudah tidur, akan sangat susah membangunkan sopir itu. Beno juga malas menyusul ke kamar sang sopir.


Sementara di lounge hotel, "Ngapain nyari Pak Supri malam-malam?" tanya Raditya.


"Besok tak suruh nganterin papa ke orang tua Rania. Papa akan melamar Rania untuk kamu besok" ujar papa.


"Tunggu Pah" kata Raditya.


"Semakin cepat semakin baik Radit" tegas papa.


"Itu bagi papa. Tapi belum tentu bagi Rania dan keluarganya" tandas Raditya.


"Apa maksud kamu?" tatap papa.


"Pah, kalau nyelidiki itu jangan nanggung dong. Selesain sampai tuntas" imbuh Raditya dengan maksud untuk mengolok papanya.


"Oh ya Pah, beri tahu dong informan papa yang kasih tau papa semuanya saat kejadian itu" harap Raditya.


"Jawab dulu pertanyaan papa" tuan Andrian pun tak mau kalah.


"Rania diusir keluarganya pasca kejadian malam itu Pah" beritahu Raditya.


"Terus, yang di rumah sakit tadi?" tanya papa.


"Oh...Itu namanya bu Marmi. Tidak ada hubungan keluarga. Tapi dialah yang menolong Rania selama kehamilannya" jelas Raditya.


"Selamat malam tuan-tuan" sapa Pak Supri, si sopir yang seperti orang bangun tidur.


"Wah sepertinya Pak Supri baru balik dari alam mimpi Pah" canda Raditya mengolok Supri.


Pak Supri memaksakan senyum meski matanya masih merah.


"Ada apa tuan?" Pak Supri menanyakan kenapa dia dipanggil mendadak di tengah malam.


"Besok anterin aku ke suatu tempat" perintah tuan Andrian.


"Baik tuan" kata Pak Supri langsung mengiyakan karena dia ingin segera kembali ke pulau kapuk yang menunggunya.


"Jangan dulu Pah. Biar aku saja yang bertemu dengan orang tuanya. Aku harus mempertanggung jawabkan kesalahan yang pernah kubuat" tukas Raditya.


"Biar papa saja. Takutnya kamu malah diusir" tolak papa akan usulan Raditya.


Pak Supri hanya bisa menggaruk kepala melihat perdebatan ayah dan anak itu.


Inginnya cepat, tapi malah menunggu lama.


"Sudah begini saja" kata Raditya pada akhirnya.


"Gimana?" papa menimpali.


"Papa dan mama ketemu sama Rania aja dulu dianterin Pak Supri. Aku sama Beno akan ke orang tua Rania" usul Raditya.

__ADS_1


"Heemmmmmm..." tuan Raditya seperti berpikir.


"Ayolah Pah, aku sudah dewasa. Biarkan aku selesaikan masalah ku" mohon Raditya.


"Baiklah" jawab papa pada akhirnya.


"Boleh saya kembali ke kamar tuan-tuan?" ijin pak Supri.


"Tidak boleh" jawab keduanya kompak, membuat Pak Supri bertambah lemas saja.


"Sudah pak, istirahat saja. Besok pagi tolong anterin papa kemana saja papa mau" terang Raditya.


"Siap tuan" jawab sopir itu sumringah.


"Pah, aku juga sudah ngantuk nih. Mau balik kamar dulu" kata Raditya sepeninggal pak Supri. Raditya beranjak dari duduk diikuti tuan Andrian.


"Jangan lupa, beritahu aku dong siapa informan papa" bisik Raditya yang masih ingat janji papa nya tadi.


"Ish..masih ingat saja kamu" kata papa dengan nada jengkel.


"Kalau nggak ingat, pikun dong" Raditya menimpali.


"Ayolah Pah" rayu Raditya.


"Selesaikan masalah kamu dan masalah perusahaan. Baru papa akan kasih tahu" tukas Papa.


"Yaaaaccchhhh, di PHP in lagi" kata Raditya mencelos.


"Untuk masalah perusahaan akan kukasih waktu seminggu. Lekas selesaikan!" kata papa tegas.


Raditya masuk kamar, dan langsung merebahkan diri.


.


Pagi-pagi Rania meminta tolong bu Marmi untuk ke kamar Chiko.


Entah mengapa saat terbangun, pikiran Rania langsung tertuju ke Chiko putra pertamanya yang sampai sekarang masih terbujur di ruang intensif itu. Sudah hampir tiga hari Rania belum menengok, semenjak dia pingsan dan berujung operasi.


"Ini masih pagi Rania" kata Bu Marmi.


"Tapi pikiran aku kok merasa nggak enak ya bu" beritahu Rania.


"Baiklah aku antar, agar hatimu tenang" ujar bu Marmi.


"Makasih bu" ucap Rania.


Di pagi buta, bu Marmi dan Rania menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang intensif tempat Chiko berada.


"Selamat pagi suster, saya bunda nya Chiko. Bolahkah aku menjenguknya?" tanya Rania dengan sopan.


"Tentu nyonya" kata perawat itu mempersilahkan.


Tetes air mata lolos begitu saja melihat keadaan Chiko yang masih terpasang berbagai selang penunjang kehidupan.


"Lekas sehat nak, maafin bunda. Oh ya, apa kamu tahu? Sekarang Chiko sudah punya adik loh" Rania mencoba mengajak ngobrol sang putra pertama. Chiko menggerakkan jari nya lemah, sampai Rania pun tak menyadarinya.


"Bunda ke tempat adik-adik kamu dulu ya. Baik-baik di sini. Bunda janji akan sering-sering tengokin Chiko. Tapi Chiko harus janji, jika bunda ke sini lagi, harus sudah bangun ya" kata Rania mengelus kepala sang putra.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2