Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Tes Drive


__ADS_3

Raditya keluar kamar dengan wajah segar dengan memakai kaos dan celana selutut.


Rania yang masih polos, Raditya tutupi dengan selimut.


Tersenyum puas kala melihat sang istri yang tertidur pulas setelah mereka melakukan senam bersama tadi.


"Nagih kamu yank" gumamnya seraya mencium kening sang istri dan bergegas keluar kamar.


Sengaja dia sedari tadi mensilent suara ponselnya. Dan barusan dilihat yang ternyata ada puluhan kali panggilan dari Beno.


Raditya melangkah ke ruang kerja untuk menelpon Beno dan sebelumnya mampir ke kamar si kembar.


"Rewel sus?" tanya Raditya.


"Tidak tuan, hanya tadi nangis bentar. Setelah kita kasih minum sekarang sudah pulas lagi" terang suster yang sedang menggendong Celo.


"Makasih sus" ucap Raditya sembari keluar dari kamar kembar dan beralih ke ruang kerja.


Raditya tekan nomor Beno di panggilan yang terakhir.


"Bos, pasti sibuk buat adik nya Celo dan Cio kan?" olokan Beno langsung terdengar kala panggilan tersambung.


"Kok tahu? Dukunkah?" tukas Raditya.


"Ada apa? Sampai kamu gangguin orang lagi enak-enak" kata Raditya.


"Ini masih siang bosss" timpal Beno.


"Sensasinya beda Beno. Kalau malam hari mah biasa...ha...ha..." ujar Raditya terbahak.


Dan di ujung sana malah terdengar des4h4n dari suara seoarang wanita.


"Eh, sialan loe" umpat Raditya yang baru tahu Beno sedang ngapain.


"Ha....ha...." kata Beno terbahak.


"Loe apain Siska?" bentak Raditya.


"Santai bosss, gue nggak ngapa-ngapain. Hanya ingin ngerasain cerry ranum aja" jelas Beno.


"Pas gue isap, pas bos nelpon" lanjut Beno menerangkan.


"Gila loe" seru Raditya.


"Ha...ha..." Beno malah terbahak dibuatnya.


Dan memang saat ini Beno berada di ruang direktur anak cabang bersama Siska.


Mereka masih saja melanjutkan hobi lama nya.


Siska main karaoke sementara Beno naik gunung. Saling melengkapi di jalan yang yang sesat.


"Cepet halalin tuh Siska. Kalau nggak.." kata Raditya.


"Kalau nggak???" sela Beno masih saja melanjutkan aktivitasnya.


"Gue suruh orang kantor untuk manggil orang tua Siska. Biar mergokin kelakuan loe" tandas Raditya.


"Ha...ha...gue malah senang. Cepetan dinikahin" seru Beno.

__ADS_1


Raditya sampai habis kata untuk mengingatkan Beno.


Saat hendak mematikan panggilan keburu dicegah Beno.


"Ha....ha...sukses gue. Anda kena prank" kata Beno teriak di ujung sana.


Beno sengaja menggoda sang bos karena beberapa panggilannya diacuhkan Raditya.


Raditya mengalihkan panggilan video karena tak percaya kata Beno barusan.


Dan Beno langsung menerima.


"Tak percaya amat sama gue. Nih lihat! Pikiran loe bos sudah ngeres aja sih?" arah kamera Beno dialihkan untuk menelusuri ruangan.


Memang terlihat ruangan yang rapi dan tidak berantakan.


Kebetulan Siska masuk dengan membawa minuman untuk bos nya saat ini, Beno.


"Siska, dicariin bos CEO nih" seru Beno.


"Selamat sore tuan Raditya" sapa Siska dengan baju yang rapi.


Raditya dan Beno memulai pembicaraan serius kala perdebatan awal tadi telah selesai.


"Bos, Dimas ditengarai telah melarikan diri ke luar negeri. Dan sepertinya ada campur tangan tuan Rahardian" beritahu Beno.


"Heemmm" gumam Raditya.


"Ternyata orang tua itu tak berhenti bertindak, kala aku memutuskan tunangan dengan putrinya" kata Raditya menimpali.


"Perusahaan yang dibangun Dimas di sini pun pailit bos" sambung Beno.


"Ha...ha...dia lebih apes lagi. Cek yang bos kasih, semua dibawa istrinya. Bilangnya sih untuk berobat anak nya" imbuh Beno.


Raditya mengangguk.


"Staf yang lain?" lanjut Raditya.


"Ha...ha....ini yang aneh. Setelah mendengar bos nya melarikan diri, mereka saling membuka diri untuk mencari titik aman" terang Beno terbahak.


"Minggu depan sidang mereka akan dimulai" beritahu Beno.


Raditya bertujuan untuk memberikan efek jera buat mereka semua. Dan khusus Mahendra ada sesuatu yang spesial buatnya.


"Bos, kapan gue dibalikin ke pusat?" tanya Beno sembari merengek.


"Ha...ha... Sabar dong. Setelah semua selesai" kata Raditya.


"Beno, sering-sering lah mampir ke rumah mertua gue" suruh Raditya.


"Ntar tetangganya mengira menantunya ganti gimana?" seloroh Beno.


"Oh ya bos, sudah bertemu dengan dokter anak yang merawat Celo dan Cio belum. Kudengar dia ikutan pindah ke ibukota. Hati-hati, dia sepertinya wanita ular loh" imbuh Beno.


"Nggak penting" seru Raditya menutup ponsel.


Sore ini papa dan mama kembali datang, kala Raditya keluar dari ruang kerja.


"Dimana Rania?" tanya mama.

__ADS_1


"Dia capek Mah" beritahu Raditya.


"Pah, sepertinya ada yang barusan ngegolin gawang nih?" olok mama, karena melihat bekas kemerahan di leher sang anak.


Meski tak merah sekali, tapi itu nyata terlihat di kulit Raditya yang putih.


"Iya kah?" kata papa Andrian.


"Nih lihat!" suruh mama langsung menunjuk ke area yang dimaksud.


"Putra kita sudah dewasa Mah" ujar papa.


"Terang aja lah. Tuh dua cucu sebagai buktinya" sela Raditya.


Mama melangkah menuju kamar si kembar.


"Mulai sekarang rajin-rajinlah bekerja putraku. Ada keluarga yang musti kamu nafkahin" ujar papa Andrian.


"Terus papa sendiri?" imbuh Raditya.


"Menemanin cucu bermain lah. Itu tugas baru papa" jawab papa dan meninggalkan Raditya untuk menyusul sang istri yang sudah berada di kamar Celo dan Cio.


Meninggalkan gerutuan Raditya.


Dengan ucapan papa nya itu, secara tidak langsung memberi perintah pada Raditya untuk mengelola Samudera Grub beserta seluruh anak cabangnya.


Raditya menjadi CEO yang sebenarnya di perusahaan keluarga dan menjadi penerus kedua era kejayaan Samudera Grub.


Raditya menyusul Opa dan Oma itu di kamar putra-putranya.


Mereka malah asyik dengan kedua cucu nya itu. Cucu yang baru bisa menangis jika haus dan penuh lampin nya itu.


Rania berdiri di belakang Raditya.


"Yank, kok mbangunin aku sih kalau papa dan mama di sini. Aku kan jadi nggak enak" kata Rania.


"Nggak usah dipikirin, mama tahu kamu pasti capek. Abis dihaj4r Raditya kan? Bisa berapa ronde dia? Paling cuman dua sudah mentok" olok mama absurd. Membuat Rania malu bukan kepalang.


Raditya tak terima dengan olokan mama nya.


"Yuk yank, kita ulangin tiga ronde kita tadi" kata Raditya tak kalah absurdnya dengan ucapan sang mama.


Papa Andrian hendak mengatakan sesuatu tapi keburu di stop oleh Raditya.


"Kalau ke sini cuman mau ngolok-ngolok gue. Pulang aja sana!" suruh Raditya.


"Issshhh apaan sih. Papa dan mama kan mau nemenin Celo dan Cio" ulas Rania menengahi.


"Baiklah, kalau begitu kita balik kamar aja. Kan sudah ada Oma dan Opa nya" ujar Raditya dan menarik kembali tangan sang istri untuk mengungkungnya kembali di kamar.


Papa dan mama hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Raditya dan kembali fokus dengan kedua cucu nya yang barusan bangun dengan kedua mata menatap opa dan oma nya.


"Opa, lucunya mereka" kata mama


Sementara Raditya sudah balik menikmati kedua buah ranum di kamarnya. Malam ini tak akan dia biarkan Rania keluar kamar.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2