Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Eksekusi Raditya


__ADS_3

Mereka masih terdiam dan belum bersuara.


"Apalagi yang kalian pikirkan? Silahkan keluar" kata Beno menimpali.


"Hah, kami semua akan menuntut anda karena memberhentikan sepihak. Perusahaan juga wajib memberikan pesangon untuk kami" kata seorang mewakili yang lain. Seorang yang tidak mau menyerahkan ponselnya barusan dengan mendekati Raditya.


"Oh ya?" timpal Raditya.


"Untuk kalian tahu, kalian ini tidak berada dalam posisi bisa menawar sekarang. Mau menuntut, kami ada bukti keterlibatan kalian dengan Dimas. Apa kasus ini mau sekalian kita serahin ke polisi" terang Beno.


"Tuan Raditya masih begitu baik untuk menonaktifkan kalian. Atau jika kalian tidak setuju, kami membuka pintu lebar-lebar agar kalian segera menyerahkan surat pengunduran diri. Paling lambat saya terima besok pagi" imbuh Beno.


Mereka terdiam lagi seperti mencerna kata Beno barusan. Memang tak ada pilihan yang baik bagi mereka yang berdiri di hadapan Raditya saat ini.


"Oke, kalau kalian tak mau memutuskan" terang Beno.


"Ini berkas pengunduran diri kalian semua, silahkan tanda tangani" lanjut Beno. Dan Beno tak mau seperti Raditya yang hanya menonaktifkan mereka karena resiko akan tuntutan mereka meski Raditya ada bukti untuk menuntut balik.


Masalah ini harus segera selesai. Menurut Beno.


"Ini pemaksaan tuan" ucap salah satunya.


"Kalau nggak mau, siap-siap saja menghadapi tuntutan perusahaan atas penggelapan yang kalian lakukan" intimidasi Beno.


"Untuk tuan Mahendra, tinggal menunggu waktu saja. Kebijakan yang sama juga berlaku untuknya" sambung Beno, meski saat itu Mahendra tidak berada di sana. Hal itu disampaikan oleh Beno, agar mereka bisa membuka mata. Bahwa peraturan perusahaan tak tebang pilih.


Mereka pun dengan berat hati melakukan apa yang diminta oleh Beno barusan. Tiba yang terakhir untuk tanda tangan, tiba saja orang itu bersujud di kaki Raditya.


"Maafkan aku tuan, aku tak bermaksud mengkhianati perusahaan ini. Aku melakukan semuanya karena intimidasi dari mereka semua dan juga tuan Dimas" terangnya membuat netra Raditya dan Beno memicing.


"Hei, kamu mau cari aman ya??? Dasar pengkhianat" tukas yang lain dan mendekat ke orang yang bersujud di kaki Raditya. Tapi keburu dicegah Beno.


"Bangunlah! Bicara yang jelas" suruh Beno.


"Mereka semua bekerjasama dengan tuan Dimas untuk menghancurkan perusahaan ini perlahan tuan" katanya mulai mengakui semua.


Dan dia menyerahkan bukti-bukti lain untuk diberikan kepada Beno.


Beno lihat sekilas dan mengangguk ke arah Raditya.


"Wah, tak bisa kita biarkan kali ini tuan. Kesalahan mereka sangatlah fatal" tukas Beno menatap Raditya.


"Ampun tuan" kata mereka bersamaan.


"Jangan masukkan kami ke penjara" mohon yang lain.


"Tak bisa menangkap tuan Dimas, anak buahnya pun tak apa" ungkap Beno dengan sengaja mengejek mereka.

__ADS_1


Masing-masing dari mereka saling mencari aman dengan mengadu kesalahan masing-masing temannya.


"Huh, seperti anak kecil saja ulah kalian" tukas Raditya di antara kegaduhan yang ada.


"Silahkan kalian pulang, nikmati waktu yang ada untuk puas-puasin bersama keluarga. Tunggu pihak berwenang menjemput!!!" kata Beno membuat mereka tak bisa menjawab.


"Keluar kalian" usir Raditya dengan nada tinggi.


"Beno, siapkan laporan untuk mereka. Aku tak mau bersikap lunak lagi" tandas Raditya.


"Kan sudah kuingatkan dari kemarin. Loe aja yang pake acara menonaktifkan mereka dulu" tukas Beno.


"Iya, gue ngaku salah deh. Puas loe!" sanggah Raditya.


"Ha...ha..." Beno terbahak.


"Lantas Mahendra mau kamu apain?" tanya Beno.


Belum sampai Raditya menjawab, nampak Mahendra datang tergopoh mendekat ke arah Raditya dan Beno.


'Loh, kok dia sudah di sini aja? Bukankah harusnya di rumah sakit. Kata Beno istrinya mau melahirkan' pikir Raditya.


Sementara Beno juga berpikir sama, 'Kok Mahendra malah ke sini, mau ngapain dia' batin Beno.


"Tuan Raditya, tuan Beno saya minta tolong. Istri saya melahirkan dan sekarang mengalami komplikasi. Saya ingin minta bantuan kepada anda sekalian" kata Mahendra dengan tak tahu malu.


Sementara Beno, "Loh, kok malah ke sini? Bukankah harusnya ke dokter yang merawat?" kata Beno menanggapi keluhan Raditya.


"Bukan itu tuan Beno, aku ke sini untuk meminjam uang. Istri saya tak akan dioperasi jika aku tak memberikan uang muka terlebih dahulu ke pihak rumah sakit" terang Mahendra yang tak didengar oleh Raditya.


"Heeeeiiii...kita bukan bank. Tau nggak sih" ucap Beno sekenanya.


"Tolonglah aku tuan Beno, tuan Raditya" kata Mahendra mengulangi permohonannya.


"Kita bukan bapak ibu kamu lho tuan" ujar Beno masih saja meladeni.


"Aku lihat perhiasan istri kamu lumayan banyak yang dipakai, kenapa tak kamu jual saja" kata Beno untuk menyikapi keluhan Mahendra.


"Tolong tuan, sekali ini saja" tukas Mahendra malah sekarang pakai acara bersimpuh segala.


"Sori tuan Mahendra, kita tak bisa membantu" tegas Raditya menolak.


Raditya masih teringat bagaimana Mahendra sengaja menghindari biaya pemakaman putranya sendiri. Bisa jadi saat ini juga hanya akal-akalan Mahendra saja, karena tak mau kehilangan uang. Licik dan juga pelit.


Raditya beranjak dan melangkah keluar.


"Oh ya Beno, hampir lupa. Minggu ini siapin acara pernikahan di kediaman tuan Handono. Dan aku tahunya beres" kata Raditya sambil berlalu pergi tanpa memperdulikan Mahendra.

__ADS_1


Beno terbengong di tempat mendengar kata Raditya barusan.


"Pernikahan siapa?" gumam Beno.


Sementara Mahendra yang berada di belakang Beno mengepalkan tangannya erat.


"Sori tuan Mahendra, kalau uang pribadi aku nggak punya. Apalagi uang perusahaan, bisa kena pasal seperti beberapa staf direksi tadi gue. Hiiii...ngeri" tandas Beno ikutan meninggalkan Mahendra yang termangu di tempatnya.


"Staf direksi? Kena pasal? Apa mereka benar dilaporkan oleh bos sialan itu" gumam Mahendra sambil mengumpat.


Dirinya pun keluar dari ruangan yang tadi karena tak mendapat apa yang dia inginkan.


"Sialan, sepertinya mereka tahu modusku kali ini" gerutu Mahendra sambil terus berlalu melewati lobi.


Beno keluar dari balik tembok, "Hhhmmmm untung nggak terperdaya oleh akal bulusnya" Beno ikutan menggerutu karena ulah manager tak tahu malu itu.


"Eh, aku tadi mau telpon bos Raditya sampai terlupa. Mau nanyain acara nikahnya siapa" gumam Beno.


.


Sementara Raditya sudah bersama pak Supri menuju aparteman untuk mampir melihat si kembar.


Ponsel Raditya berdering. Dan langsung dilihat Raditya.


"Beno??? Ada apa lagi dia?" gumam Raditya membiarkan panggilan Beno.


"Nggak diangkat tuan?" tukas pak Supri.


"Beno pak. Padahal juga habis ketemuan. Awas saja kalau dia kasih bantuan ke Mahendra" kata Raditya yang nampak gusar.


Pak Supri diam tak berani bicara lagi. Daripada kena amukan sang bos, mendingan diam.


Ponsel kembali berdering.


"Bos, lama amat sih? Aku cuman mau nanya, hari Minggu aku nyiapan acara nikahan siapa kok di kediaman tuan Handono?" rentetan pertanyaan Beno seperti sudah di list sebelumnya. Tahu saja kalau panggilannya sudah tersambung.


"Kira-kira buat siapa?" kata Raditya balik nanya.


"Loh, kok malah balik nanya. Aku beneran nggak tahu bos" ungkap Beno menimpali.


"Nikah siapa pak?" tanya Raditya sengaja meloudspeaker ponsel nya.


"Pernikahan tuan Raditya dan Nyonya Rania, bos Beno" beritahu pak Supri tanpa menoleh ke belakang karena fokus mengemudi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2