
Riska kali ini ikutan keluar kamar, untuk menuju kamar klien yang menunggunya.
Sudah diberi sakit, tapi kelakuan kamu tak ada yang berubah Riska.
Kamar tempat klien yang menunggunya berada tepat di atas lantai kamar yang ditempati Riska sekarang.
Riska menunggu lift yang lumayan lama kebuka.
"Ini lift kenapa lama banget, buat pusing aja" gumam Riska.
Riska berjalan menuju tangga, tapi belum mencapai tangga lift sudah kebuka duluan.
Riska balik arah, daripada jalan naik.
Saat lift berhenti di lantai atas dan membuka, Riska limbung tepat di pintu lift dan terjatuh.
Hampir setengah jam di sana, keberadaan Riska tak ada yang tahu. Hingga seseorang pengunjung hotel kaget dengan kondisi Riska
Petugas hotel membawa Riska ke rumah sakit terdekat, rumah sakit tempat Riska dirawat sebelumnรฝa.
"Ini tamu hotel kami, mungkin identitasnya ada di tas miliknya ini dok. Kalau sudah selesai, kita pergi" ujarnya.
"Baik" jawab dokter.
Saat identitas Riska sudah ketemu, petugas pendaftar segera mengecek atas nama Riska.
Di sana diketahui jika Riska pasien pulang paksa alias permintaan sendiri. Pasien yang mustinya menjalani proses kemo tapi memaksa pulang hari ini.
Hampir tiga puluh menit di sana Riska baru sadar dari pingsan.
"Di mana ini?" gumam Riska dengan mata menyipit, silau dengan cahaya lampu yang berada tepat di atasnya.
Perawat maupun dokter menghampiri Riska.
"Selamat malam nyonya Riska, apa ada yang dikeluhkan?" tanya sang dokter yang memeriksa kembali Riska saat sudah sadar.
"Apa aku di rumah sakit? Harusnya aku di hotel sekarang" gumam Riska.
"Betul nyonya, anda tadi ditemukan pingsan di sana dan oleh petugas hotel anda dibawa ke sini kembali" terang dokter.
"Dan keadaan saat ini mengharuskan anda untuk kembali masuk rumah sakit" imbuh dokter memberi penjelasan.
"Aku nggak mau dok" tolak Riska secara reflek.
"Kalau tak mau, anda silahkan tanda tangan lagi saja. Dan segera lunasi biaya tindakan yang telah dilakukan terhadap anda" dokter itu mulai ketus karena pasiennya tak menurut.
"Biar kuselesaikan saja dok" sela perawat mendekat ke Riska sambil membenahi letak masker nya.
Riska tak menyadari, jika ada kondisi nya yang menyebabkan dia terlalu bau bagi orang-orang di dekatnya. Dan itu biasa terjadi pada pasien dengan kanker mulut rahim.
"Nyonya apa anda memaksa pulang?" pertegas perawat itu.
"Kalau iya kenapa?" jawab Riska sengit.
"Ya nggak papa, berarti anda ingin segera meninggal" kata perawat itu.
"Ingat sel kanker anda sudah menyebar, kalau anda tak segera menjalani pengobatan. Maka anda akan lebih cepat wassalam" tandas perawat itu.
"Oke...oke...aku setuju" kata Riska ketus.
"Nah begitu dong. Sekali-kali jadilah pasien penurut nyonya" imbuh nya lagi.
Perawat itu pun dengan cekatan memberikan obat-obatan sesuai perintah dokter.
__ADS_1
Riska dipindah ke ruang gynekologi, ruang khusus penyakit kandungan.
.
Rania yang merasa jenuh di kamar karena harus bed rest. Mengajak bu Marmi untuk mengunjungi Raditya kembali.
"Nyonya muda, anda kan musti istirahat dulu. Apa nggak sebaiknya sore nanti aja kita ke kamar tuan muda" saran bu Marmi.
"Selain tuan Raditya, anda juga musti mikirin kedua janin yang ada di perut anda" lanjut bu Marmi.
"Tapi aku tak bisa tidur bu" seru Rania.
"Ya main game aja di ponsel, atau yang lain" bilang bu Marmi.
Rania melakukan apa yang dikatakan oleh bu Marmi. Tapi tetap saja matanya ogah dipejamkan.
"Aku telpon ayah aja, kangen sama Celo dan Cio" gumam Rania.
Ditekannya nomor ayah Handono, belum sampai panggilan tersambung. Sudah ada panggilan masuk dari papa Andrian.
"Papa?" kata Rania belum juga mengangkatnya.
Bu Marmi beranjak mendekat saat melihat Rania terdiam padahal ada panggilan masuk di sana.
"Nyonya, itu ada yang nelpon kok malah dianggurin?" tanya bu Marmi menyela.
"He...he....aku ini gimana sih?" Rania tertawa kerena baru menyadari.
"Halo Pah!!!" sapa Rania.
"Datang saja ke ruangan Raditya sekarang. Minta bu Marmi ngantar" suruh papa di ujung telpon.
Rania mengiyakan sambil menatap bu Marmi.
Bu Marmi pun mengiyakan dan mengantar Rania sampai depan ruang intensif.
Saat Rania masuk, Raditya telah tertutup kain kafan putih dan tak ada yang lain di dekatnya.
"Sayang...." panggil Rania kaget dan memeluk tubuh Raditya yang tertutup itu.
Rania menangis tersedu karena hal ini.
Saat merasa ada yang memeluk maka Rania pun mendongak. Dan buka penutup kain yang menutup muka Raditya.
Rania kembali menangis bahagia saat Raditya tersenyum ke arah nya.
Rania mencubit lengan Raditya yang berhasil menggodanya kali ini.
"Awh sakit sayang" seru Raditya.
Kembali Rania mengelap air mata yang mengalir.
"Kok malah menangis sih?" tutur Raditya melihat Rania.
"Aku terlalu bahagia sayang" ujar Rania kembali memeluk sang suami.
"Terima kasih telah kembali" kata Rania sambil memeluk.
"Harus dong, ada empat anak dan istri yang menungguku" canda Raditya.
Kembali Rania mencubit lengan Raditya karena saking bahagia nya.
Kebahagiaanya telah kembali datang.
__ADS_1
Karena sudah stabil, oleh dokter yang merawat Raditya dipindahkan ke ruangan kamar biasa bukan ruangan intensif lagi.
"Dok, aku minta sekamar saja dengan istriku ini" pinta Raditya.
"Oh ya, sampai lupa kalau nyonya juga pasien sini" tukas dokter itu terkekeh.
Raditya diijinkan untuk berada dalam kamar perawatan yang sama dengan Rania.
Ruangan kamar yang luas dan kondisi yang memungkinkan juga menjadi pertimbangan untuk mengijinkan Raditya sekamar perawatan dengan dengan sang istri.
Kondisi mental yang baik dan saling mendukung tentu juga akan mempercepat penyembuhan.
Dan disinilah mereka berdua, berada dalam ruang rawat inap vvip rumah sakit itu.
.
Beberapa hari setelahnya Raditya telah diijinkan pulang dan Rania pun demikian.
Tentu saja Beno tak kalah heboh untuk menyambut sang bos.
"Alhamdulillah, pekerjaanku akhirnya akan lebih ringan sekarang" ujarnya merasa senang.
Beno kaget saat ada yang menepuk bahunya keras.
"Awh.." keluh Beno. Dan dilihatnya arah belakang, ternyata ada tuan Andrian berdiri tegak di sana.
"Tugas kamu sudah diselesaikan semua?" hardik tuan Andrian.
"Siap tuan" tukas Beno.
"Mahendra hari ini sidang putusan, dan mendapat hukuman seumur hidup tuan. Laporan selesai" beritahu Beno.
"Oh ya tuan, jangan lupa akan bonus aku" seru Beno menambahi.
"Urusan bonus gercep aja kamu itu. Sekarang pastikan dulu keamanan anak dan menantuku sampai rumah" perintah tuan Andrian.
"Siap" jawab Beno karena merasa sudah melakukan apa yang diperintahkan oleh tuan besar nya.
Raditya dan Rania telah kembali pulang.
Meski mobilisasi Raditya masih terbatas, tapi hati Rania sangatlah bahagia karena bisa kembali berkumpul dengan suami tercinta.
Menjalani kehidupan dalam rumah tangga untuk mencapai kebahagiaan bersama.
Apalagi sudah ada Celo dan Cio dan juga kedua janin di perut Rania, melengkapi kebahagiaan itu.
"Makasih, sudah jadi kebahagiaan terbesar dalam hidupku sayang" Raditya memeluk Rania dengan sayang.
"**Tetap ada pelangi setelah hujan badai"
๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป**
***To be continued happy reading.
Makasih author ucapin, sudah setia mengikuti episode demi eposide kehidupan Rania dan Raditya.
Author minta maaf, masih banyak hal yang tak sempurna dalam novel ini baik itu tata bahasa, penulisan, rutinitas update dll.
Salam sehat untuk kalian semua
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
Happy Ied Mubarak***
__ADS_1