
Di ruang tengah Raditya terlibat obrolan dengan tuan Handono yang telah dipanggilnya ayah itu.
"Duduklah!" suruh tuan Handono.
"Makasih yah" ucap Raditya menimpali.
"Bu, tolong bilang Rania. Suruh siap-siap. Raditya sudah datang nih" beritahu tuan Handono saat sang istri melewati mereka.
"Iya, nih mau ke kamar Rania" bilang ibu.
Suasana rumah yang biasanya dingin, kaku, sepi serasa tak berpenghuni berasa hidup lagi karena ada Rania.
Biasanya tiap week end Rania juga mengajak Chiko untuk datang menyambangi kedua orang tuanya.
Tapi semenjak delapan bulan yang lalu, hal itu menjadi tak pernah lagi. Jangankan mengajak Chiko untul berkunjung. Rania sendiri aja kesulitan menemui putra semata wayangnya saat itu.
"Nak Raditya, makasih ya atas penjagaan kamu terhadap Rania" kata tuan Handono.
"Seharusnya aku yang minta maaf ayah. Karena perbuatanku juga Rania mengalami hal yang tragis seperti ini" imbuh Raditya serius.
"Sudah menjadi takdir yang kuasa. Jodoh, Rizki, dan mati adalah rahasiaNya. Siapa yang tahu kalau kamu adalah jodoh sebenarnya yang disiapkan yang diAtas untuk putriku Rania" ucap bijak tuan Handono.
"Oh ya Yah, Minggu ini papa dan mama akan berkunjung" beritahu Raditya.
"Heemmmmm..." gumam tuan Handono sambil mengangguk.
"Baiklah...kami akan membuka pintu rumah ini lebar-lebar untuk niat baik kedua orang tua kamu" balas tuan Handono.
Rania keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar dari biasanya.
Dengan memakai blouse bunga-bunga warna kalem, tapi malah menampakkan aura kecantikan yang selama ini dibalut pakaian lusuh dan wajah pucat. Sapuan lip gloss tipis, pas sekali di wajah yang dasarnya sudah putih bersih itu. Rambut dibiarkan tergerai begitu saja.
Raditya dibuat terpukau olehnya (is...is...sudah seperti novel lain aja thor).
"Mau berangkat sekarang?" tanya tuan Handono.
"Apa nggak sarapan dulu kalian?" nyonya Handono menawari.
"Terserah Rania nya saja bu" tukas Raditya.
Mau menolak nggak enak, mau menerima ternyata Rania ingin segera berangkat. Yaacchhh gimana baiknya saja. Batin Raditya.
Rania menatap lekat netra Raditya, membuat seorang Raditya Marino gugup dibuatnya. Casanova takhluk dengan janda beranak tiga.
"Sarapan aja dulu bu" suara Rania akhirnya keluar juga.
Sekeluarga mereka menikmati makan dalam hening. Dentingan sendok, garpu dan piring saling beradu.
"Nak Raditya, kira-kira kapan si kembar boleh di bawa pulang?" tanya ibu Rania.
"Nanti akan aku tanyakan ke dokter Andah bu" jawab Raditya membuat Rania memandang laki-laki tampan di sampingnya. Pandangan tak suka nampak sekali di raut muka Rania.
Raditya yang merasa diperhatikan menengok ke arah Rania. Raditya tahu jika Rania tak suka saat dia menyebut nama dokter itu.
"Kami berangkat" pamit Raditya saat sudah selesai sarapan.
__ADS_1
Dengan sopan Raditya cium punggung tangan kedua orang tua Rania.
Sampai di halaman depan, banyak ibu-ibu tetangga yang sudah pada kumpul.
Terkagum-kagum melihat Oppa Korea dan kebule-bulean pagi-pagi nyamperin kompleks mereka.
"Morning mister" sapa mereka kompak.
Raditya hanya menyunggingkan senyumnya tipis.
"Kok diam aja sih mister, sapa balik kami dong" teriak salah satu dari mereka.
"Morning" kata Raditya membalas.
"Wah....cakepnya" bahkan ada yang tak sungkan memuji Raditya di depan Rania.
"Rania, kenalin ke kita dong" membuat Rania tepuk jidat.
Apa mereka kurang kerjaan ya? Apa kabar suami mereka? Pagi-pagi sudah nggosip di pagar rumah orang.
"Kapan-kapan ya bu ibu" jawab Rania dengan senyum dipaksakan.
"Issssshhhhh...sombong kali kamu Rania" olok mereka.
Rania tak perduli. Dia masuk saja ke mobil saat Raditya sudah membuka pintu untuknya.
"Makasih" tukasnya.
Raditya menangkupkan kedua tangan untuk penggemar barunya, ibu-ibu kompleks. Tanda dirinya pamit.
Rania diam tak membalas. Padahal dalam hati senang juga dipuji oleh lelaki di sampingnya ini.
Rania tak lupa mengambil sebuah paper bag yang tak lupa dibawanya tadi saat mobil telah terparkir di basement rumah sakit.
Raditya menggenggam tangan Rania erat, seakan tak mau ada penolakan dari Rania.
Mereka berdua menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang bayi di mana si kembar berada. Raditya belok ke ruang admin sebentar, dan Rania mendahului Raditya pergi ke ruang bayi.
"Pagi sus" sapa Rania saat sudah berada di ruang jaga para suster.
"Iya nyonya, anda keluarga pasien siapa?" tanya suster, sepertinya dia tak mengenali Rania saat ini.
"Saya bunda nya kembar sus" kata Rania menimpali.
"Oooooo...nyonya Rania ya? Cantik sekali hari ini nyonya" pujinya.
"Makasih. Oh ya sus, saya nitip hasil pompa ASI ya" tukas Rania.
"Oke nyonya. Nanti akan kita berikan saat anda pas tak ada di sini" terangnya.
Raditya barusan nyusul karena tadi sempat belok ke ruang admin terlebih dahulu.
Para suster itu lebih antusias menyambut Raditya daripada menyambut Rania barusan, membuat Rania sewot.
Tersungging senyum di bibir Raditya, mudah sekali membuatnya cemburu. Batin Raditya tertawa.
__ADS_1
Raditya dan Rania tengah sibuk dengan si kembar. Rania juga asyik memberikan susu untuk bayi kedua. Sementara Raditya menggendong bayi kedua yang tertidur karena sudah kenyang.
Infus dan selang minum yang terpasang di mulut mereka telah dilepas. Itu tandanya keadaan mereka lebih baik daripada kemarin.
Saat asyik bercengkerama dengan kedua bayinya, dokter Andah datang untuk kunjungan rutin hari ini.
"Waooooowww, perkembangan mereka cepat sekali" kata dokter Andah.
"Kalau begini terus, akan kupastikan besok sudah boleh dibawa pulang" ulasnya.
"Benarkah?" mata Raditya berbinar.
"Heemmmmm, benar tuan Raditya" kata dokter Andah mengiyakan pertanyaan Raditya.
"Nanti suster-suster yang akan memberikan petunjuk untuk perawatan bayi prematur di rumah" terus dokter Andah.
"Apa aku harus sedia alat seperti ini?" tanya Raditya menunjuk sebuah inkubator seharga ratusan juta itu.
"Kalau perlu. Bayi kecil perlu dijaga kehangatan tubuhnya tetap stabil" jelas dokter Andah.
"Bukankah metode skin to skin contact lebih akurat dokter?" tanya Rania. Bagi Rania membeli alat yang mahal seperti itu untuk apa, jika masih bisa dicoba dengan cara yang lebih alami dan low budget. Rania tak sadar apa, siapa Raditya sebenarnya.
"Nah, itu nyonya Rania sudah tahu" kata dokter Andah menimpali.
"Oke, kalau begitu aku pamit" kata dokter Andah saat sudah selesai memeriksa kedua pasiennya ini.
"Tuan Raditya, kalau ada apa-apa hubungi nomer ku saja. Stanby dua puluh empat jam untuk konsulan" terangnya seperti ada maksud di balik kata-katanya barusan.
Raditya mengangguk tanpa kata.
"Sehat-sehat terus sayang, besok kita pulang" ujar Raditya dengan binar mata bahagia yang nampak sekali di raut mukanya.
"Pulang ke mana?" tanya Rania.
"Oh iya ya" Raditya garuk kepala.
"Pulang ke rumah kamu" tatap Raditya.
"Aku nggak punya rumah, hanya kontrakan kecil di samping rumah bu Marmi" beritahu Rania.
"Besok aku anterin aja ke rumah kamu" kata Raditya sengaja ngerjain Rania.
Rania dibuatnya cemberut.
"Oh ya, Minggu ini siapin fisik kamu. Sepertinya tuan Handono mau punya gawe" beritahu Raditya.
"Gawe apa? Ayah nggak bilang apa-apa padaku" tukas Rania.
"Belum kali" sanggah Raditya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading guyyssss
Maafin jika ada salah ketik, salah salah yang lain...he...he...love you pullllll kalian 💝💝💝💝💝***
__ADS_1