
Laporan Raditya tentang Dimas tak hanya kasus penggelapan saja. Tapi juga kasus penjebakan dirinya delapan bulan yang lalu. Penjebakan yang berujung dengan penggerebekan suami wanita yang ternyata juga ikut membantu Dimas.
Mahendra masih belum keluar dari ruang penyidik. Dan masih memberikan keterangan, tentunya tentang kejadian delapan bulan yang lalu.
Mahendra memberikan keterangan, bahwa dialah yang bertugas mencari orang yang dipercaya untuk memberikan obat ke minuman Raditya yang saat itu berada di sebuah club malam.
Raditya yang saat itu juga masih doyan clubing dan sering berakhir dengan ons.
Sehingga memudahkan rencana Mahendra yang didasari info dari Dimas.
Awalnya Mahendra menolak saat dirinya dibilang terlibat, tapi saat penyidik memberikan bukti chat antara dirinya dengan Dimas, Mahendra pun diam belum menanggapi. Tapi dia tetap mengelak jika terlibat langsung dengan aksi malam itu.
"Kami minta tolong, anda bisa bekerjasama. Berdasarkan informasi dari anggota yang meluncur ke tempat yang kamu sebut tadi, tuan Dimas tak berada di sana" kata penyidik.
"Aku juga tak tahu lagi kemana tuan Dimas pergi" kata Mahendra mengangkat kedua bahunya.
"Kalau sampai tuan Dimas belum tertangkap minggu ini, maka anda akan menjadi tersangka utama dalam kasus penjebakan tuan Raditya" terang penyidik.
"Mana bisa begitu, saya dipanggil ke sini hanya sebagai saksi" tukas Mahendra.
"Tapi bisa saja kami meningkatkan status anda menjadi tersangka, jika kami mendapatkan fakta-fakta baru. Meski dengan bukti yang ada sudah cukup kuat untuk memasukkan anda ke penjara. Tapi karena pelapor tak menghendaki itu, maka anda masih bisa melenggang dengan leluasa" ujar penyidik pendamping.
"Aku rasa cukup tuan Mahendra, terima kasih untuk hari ini. Sori jika dalam waktu seminggu ke depan anda belum bisa pergi ke mana-mana" terang penyidik utama.
Mahendra menatap kedua penyidik itu, seakan tak terima dengan apa yang mereka lakukan hari ini padanya.
"Silahkan keluar" kata sang penyidik.
Belum juga melangkah keluar pintu, ponsel Mahendra berdering. Sepertinya dari Riska.
"Iya ini sudah mau selesai. Aku mau pulang" jawab Mahendra.
"Kita langsung ketemuan di rumah sakit saja" bilang Mahendra berikutnya.
"Issshhhh...biasa aja Riska. Semua wanita juga ngalamin. Rania aja dulu tak seperti kamu. Jangan manja dech" tandas Mahendra dan menutup panggilan.
"Wanita di mana saja sama, suka ribet" gerutu Mahendra.
"Tuan, mau ke mana? Buru-buru amat?" kata Beno yang memang masih berada di kantor yang berwajib itu. Gerutuan Mahendra pun masih kedengeran oleh Beno.
Beno masih di sana karena juga sebagai saksi dari pelapor.
Selesai Mahendra maka dia lah yang akan dipanggil penyidik.
"Kepo, istriku mau lahiran" kata Mahendra meski mengumpat tapi tetap menjawab yang ditanyakan Beno.
"Jangan lupa order vvip, biar seperti Rania" ledek Beno.
"Apa urusan kamu, terserah gue dong" tukas Mahendra mulai naik nada suaranya.
__ADS_1
"Jangan sembunyi lagi kalau nanti ada tagihan biaya" ucapan Beno menohok.
"Apa maksud kamu?" Mahendra mulai menatap nanar.
"Ha...ha...jangan lupa bagaimana kamu sembunyi saat putra kamu dimakamkan" olok Beno.
"Aku sakit" sanggah Mahendra.
"Ha...ha....bahkan istri kamu sendiri yang bilang kalau loe sengaja sembunyi. Takut kena tagihan makam ya? Licik!" olokan Beno sengaja agar membuat Mahendra naik pitam.
Beno ikut geregetan dengan laki-laki pengecut macam Mahendra.
"Apa loe bilang?" Mahendra balik kanan berjalan mendekat ke Beno.
Saat akan menarik baju Beno, tepat penyidik memanggil Beno untuk masuk.
"Tunggu saja waktumu" ancam Mahendra berbisik.
"Ha...ha...sebelum terlaksana, kamu sudah beralaskan lantai penjara" tandas Beno mengintimidasi Mahendra.
Mahendra berlalu begitu saja meninggalkan Beno yang masuk ke ruang penyidik.
.
Di apartemen, si kembar sudah berada di kamar bayi yang telah disiapkan Raditya.
Bahkan sekarang si kembar ditemani oleh perawat yang diambil dari rumah sakit. Mereka akan saling bergantian shift selama dua puluh empat jam.
"Kamarnya gimana?" tanya Rania, karena memang belum diberitahu oleh Raditya.
"Abisin dulu tuh makanan. Ntar abis ini aku tunjukin" kata Raditya.
"Bu Marmi, semua bahan makanan sudah disiapin oleh Beno dan pak Supri di dapur. Kalau mau masak apapun silahkan" terang Raditya.
Bu Marmi diam tak menanggapi, seakan bingung dengan ucapan Raditya.
"Kenapa bu?" tanya Raditya.
"He...he...tapi aku nggak bisa pakai alat masak model beginian tuan. Takut rusak. Pasti mahal ya harganya?" tukas bu Marmi menimpali.
"Ha...ha...hari ini pak Supri biar tinggal. Nggak usah nganterin aku. Biar dia kasih tahu cara pakai semuanya" ujar Raditya sembari terbahak.
"Jangan diketawain tuan, bu Marmi memang nggak bisa" kata bu Marmi tersipu.
"Maaf...maaf...aku sendiri juga nggak bisa. Makanya pak Supri yang kusuruh tinggal untuk ngajarin" Raditya masih saja terbahak.
"Sudah tahu nggak bisa, dibeli aja" sela Rania mengolok Raditya.
"Ha...ha...hanya untuk gayaan saja, ada rumah kok nggak ada dapur. Maksud awalku sih begitu" kata Raditya beralasan.
__ADS_1
"Nanti kuajarin bu. Biar pak Supri tetap dengan kerjaannya" jelas Rania.
"Kamu bisa?" tanya bu Marmi tak percaya.
"Dikit-dikit sih, ntar kalau bu Marmi biasa pasti bisa" ujar Rania.
Raditya menikmati obrolan kedua wanita berbeda usia itu.
"Sudah selesai belum makannya? Ayo kutunjukin kamar nya" kata Raditya menyela.
"Baiklah" tukas Rania ikut beranjak mengikuti Raditya. Sementara bu Marmi membereskan meja makan.
"Nih kamar utamanya" terang Raditya.
"Loh, kok kamar utama?" kata Rania menimpali.
"Iya, nantinya sih buat kita berdua" kata Raditya absurd.
Rona merah langsung nampak di kedua pipi Rania yang memang sudah putih itu.
Raditya tertawa melihatnya.
"Ayo masuk, silahkan dilihat nyonya. Apa yang perlu ditambahkan?" kata Raditya menyilahkan Rania masuk ke sana.
Rania dibuat kagum dengan interior yang bahkan sesuai selera nya. Warna dinding pun warna favoritnya.
"Oh ya, ruang wardrob ada di balik pintu itu. Baju ganti kamu semua ada di sana" terang Raditya.
"Hah?" Rania bengong lagi.
"Kok bengong sih, kapan dilihatnya?" kata Raditya menyambung.
Rania berjalan ke pintu yang ditunjukkan Raditya barusan.
Dan benar saja, baju-baju baru lengkap tersedia untuknya.
"Kamu berlebihan Raditya" kata Rania.
"Tidak berlebihan untuk wanita yang telah ikhlas melahirkan kedua putraku" imbuh Raditya.
Rania dibuat terharu oleh perlakuan Raditya kepadanya.
Melihat Rania yang hendak menangis, "Sudah nggak usah menangis lagi, sudah selayaknya kamu bahagia sekarang" kata Raditya.
"Sekarang kamu istirahatlah. Aku akan ke perusahaan siang ini. Nanti sore baru aku mampir" pamit Raditya.
Rania mengangguk mengiyakan ucapan Raditya barusan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading