
"Yank" panggil Rania sepeninggal dokter itu pergi.
Hhhmmm, pasti ada yang maunya nih istriku. Batin Raditya.
"Iya" jawab Raditya sambil menoleh ke arah sang istri.
"Boleh nggak saat diperbolehkan pulang, aku nengokin Chiko. Aku kangen dengannya" bilang Rania.
"Tentu saja. Tapi tunggu kondisi bayi kuat, dan kamu nya sehat dulu" jawab Raditya mengiyakan.
Rania mengangguk.
"Makasih" ucapnya.
Bu Marmi datang dengan membawa perbekalan yang banyak.
"Apaan tuh bu?" seru Raditya.
"Baju tuan. Buat besok berangkat ke kantor. Dan tentu saja baju ganti nyonya juga" terang bu Marmi.
Raditya rebahan di kursi panjang yang ada di samping tempat tidur.
"Lama juga nggak ngegame" gumam Raditya.
Raditya buka aplikasi game yang menjadi favoritnya.
Sementara Rania ngobrolin Celo dan Cio dengan bu Marmi.
Bu Marmi cerita jika keduanya kalau diajak ngobrol ikutan ngoceh plus tawa lucu keduanya.
Saat tidur pun sudah pintar menguasai ranjang, miring-miring sendiri juga sudah pintar.
"Jadi ingin nelponin mereka bu" kata Rania.
Rania raih ponsel nya. Dan tekan nomor mama Andrian.
"Halo Mah" sapa Rania.
"Heeiii apa kabar kamu Rania? Sudah mendingan belum?" tanya mama.
"Maaf Mah, Rania ngerepotin mama terus jadinya" bukannya menjawab, Rania malah minta maaf.
"Loh, mama nggak ngerasa direpotin sayang. Mama papa malah senang. Ada hiburan. Celo dan Cio menggemaskan sekali" mama mengerahkan arah kamera ke kedua bayi yang tengah bercengkerama dengan susternya.
Dengan lucunya mereka mengeluarkan celotehan khas bayi dan kadang tertawa lucu.
"Wah, tadi rasanya kangen sekarang malah kangen banget" ucap Rania.
Melihat kedua putranya yang lucu-lucu rasanya ingin lari pulang saja sekarang.
"Daddy nya mana?" tanya mama dari balik kamera.
Rania pun mengarahkan kamera ke arah Raditya.
"Wah, enak-enak aja ya di rumah sakit" olok mama.
Raditya yang merasa ada yang memanggil pun ikutan gabung obrolan telpon.
"Radit, kapan Rania dibolehin pulang?" tanya mama.
"Kata dokter tiga hari lagi sih Mah. Doakan saja semoga mama dan bayinya sehat" seru Raditya.
"Tentu saja" tukas mama.
Terlihat di layar ponsel mama, papa Andrian ikutan nimbrung obrolan juga.
"Raditya, Rania besok pagi mau kalian ijinin atau enggak. Celo dan Cio akan kuajak ke mansion" ujar papa Andrian disambut gelak tawa mama.
"Itu anak aku loh Pah" sela Raditya.
"Tapi kalau nggak ada aku, juga nggak bakalan ada kamu" tukas papa.
Karena papa yang memaksa, ijin Raditya akhirnya keluar juga.
Celo dan Cio keluar markas bersama tuan besar besok pagi.
Begitu diperbolehkan, di panggilan itu terlihat kehebohan yang luar biasa.
Mama langsung saja menyuruh para suster prepare untuk pergi besok.
"Celo dan Cio mau diajak pindahan Mah?" seloroh Raditya saat melihat barang-barang yang akan dibawa putra kembarnya.
"Ha...ha...malah nggak kuanterin pulang boleh?" canda mama.
Panggilan itu berakhir setelah Rania puas bertemu dengan kedua putranya.
__ADS_1
"Masih ada satu yang masih aku kangenin" bilang Rania.
"Siapa nyonya?" bu Marmi menyela.
"Chiko" jawab singkat Rania sendu.
Jika mengingat Chiko, yang ada hanya rasa bersalah menghinggap.
"Chiko sudah tenang di surga sayang. Bantu doa biar Chiko bahagia di sana" kata Raditya menguatkan.
Perubahan emosi bumil ini sungguh luar biasa cepat. Yang barusan ketawa ketiwi karena senang jumpa dengan kedua putra kembarnya, sekarang drastis berubah sendu.
Raditya rengkuh tubuh sang istri.
"Percayalah sayang, Chiko itu sangat sayang sama kamu" ulas Raditya.
Tangisan Rania pun berhenti. Raditya tatap serius sang istri.
"Tapi aku ingin nasi pecel yank" kata Rania yang nggak nyambung sekali dengan kesedihannya tadi.
Mau ketawa tapi takut dosa, nggak ketawa tapi kok nggak bisa nahan.
Akhirnya tawa lepas Raditya pun keluar juga.
"Kok malah ketawa sih yank?" kata Rania sewot.
"Ha...ha....abisnya, kamu itu habis nangis-nangis kangen Chiko. Tapi endingnya nggak banget dech. Nasi pecel" gurau Raditya.
Bu Marmi aja yang sedari tadi diam, ikutan tertawa lepas.
"Nggak tahu lah nyonya. Bu Marmi nggak ikut-ikut" ujar bu Marmi masih saja tertawa.
"Ih...terus saja kalian mengolok aku. Emang hanya pak Supri yang memahamiku" tukas Rania.
"Eh, ada apa ini? Kok namaku dibawa-bawa?" sela pak Supri yang baru datang ikutan nimbrung.
"Pak Supri yang baik hati dan tak sombong. Tolong belikan nyonya nasi pecel" bilang Raditya.
"Wah, kebetulan nyonya. Aku punya langganan nasi pecel yang josssss" seru pak Supri.
"Iyakah?" tanya Rania antusias.
"Yaaapppp, pecel yang berasal dari daerah saya kan terkenal nyonya" beritahu pak Supri.
"Mulai dech sombongnya" ejek bu Marmi ke sang suami.
"Yeeeeiiii, kamu kan juga suka" balas pak Supri ke sang istri.
"Aku berangkat ya nyonya?" kata pak Supri.
"Lekaslah! Dan tak pakai lama" perintah Raditya.
"Pak, nasinya sedikit terus sayurnya dibanyakin" pinta Rania.
"Pakai taburan kelapa disangrai nggak nyonya? Kalau di tempatku namanya tuh serundeng" kata pak Supri.
"Pakai pak, aku ingin coba" Rania menanggapi dengan senang.
"Jangan lama-lama ya pak" bilang Rania.
"Siap nyonya" pak Supri pun berangkat dengan langkah tegap laiknya tentara.
Bu Marmi kembali meledak tawanya, melihat ulah sang suami yang konyol itu.
"Suami siapa sih itu bu?" olok Raditya.
"Suamiku tuan" tawa bu Marmi tambah keras tawanya.
Berbarengan itu ponsel Raditya berbunyi. Beno lah pelakunya.
"Halo Beno" kata Raditya menyapa.
"Bos, apa Adam sudah laporan tentang apa yang terjadi di ErDua?" tanya Beno.
"Belum aku cek" jawab Raditya melangkah ke depan, di ruangan tamu tempat Rania dirawat.
Rania yang sudah tahu akan kebiasaan sang suami yang suka lupa waktu kalau sudah ngomongin kerjaan membiarkan saja dan malah asyik nonton berita dengan bu Marmi.
"Bosen juga ya bu, tidur-bangun-makan. Gitu terus beberapa hari ini" kata Rania memulai obrolan.
"Ya sabar nyonya" tukas bu Marmi.
"Ini seperti kebalikan nya waktu kembar ya nyonya. Waktu itu nyonya tak ada keluhan apapun. Malah menjadi wanita yang sangat kuat oleh keadaan" kata bu Marmi.
"Iya juga ya. Keluhan apapun waktu itu aku kesampingkan. Karena kepepet kebutuhan...he..he..." kata Rania seperti bernostalgia.
__ADS_1
Obrolan bu Marmi dan Rania seperti tak berujung. Ngobrol sana sini untuk buat hati bahagia dan waktu cepat terlewati.
Sementara Raditya, setelah panggilan Beno terputus dia buka email yang dimaksud.
Di sana memang nampak jelas laporan Adam dari ErDua.
Dalam tiga hari ini ada penurunan omset di divisi luar negeri.
Adam juga melaporkan hasil analisa penyebab omset turun.
"Wah, nggak bisa dibiarin nih. Aku harus turun tangan dan bergerak cepat" pikir Raditya.
"Apalagi ini perusahaan yang benar-benar aku mulai sendiri dari nol" Raditya beranjak dan kembali mendekat ke sang istri.
"Yank, aku pergi bentar sama Beno" pamit Raditya.
"Nggak bisa ditunda besok?" tanya Rania.
"Urgen nih yank. Kalau besok keburu gulung tikar" tandas Raditya.
"Oke lah kalau begitu. Hati-hati" pesan Rania.
Raditya pun mengiyakan apa yang jadi perhatian sang istri.
Raditya masih menunggu Beno datang saat pak Supri datang.
"Lama amat pak, belinya apa di bulan?" seloroh bu Marmi.
"Antriannya puaaannjaaaang dan laaaaammaaaaa" kata pak Supri menirukan iklan sebuah jajanan anak-anak.
"Sayang, makan dulu aja" saran Rania yang belum melihat kedatangan Beno.
Raditya mengiyakan asal disuapin.
"Manja kali nih anak besar" canda Rania.
Raditya menghampiri Rania dan "Aaaaaaaa" kata Raditya membuka mulut.
"Pak Supri, bu Marmi ini adalah salah satu usaha agar langgeng hubungan" ujar Raditya menggurui. Karena meski secara usia mereka lebih senior, tapi urusan menikah duluan Raditya dan Rania.
"Siap tuan" tukas pak Supri.
"Bu, suapin" rengek manja pak Supri.
"Ih ogah. Sudah tua nggak usah neko-neko" tolak bu Marmi membuat Raditya dan Rania mendapatkan hiburan gratis.
Beno datang tepat saat Raditya selesai makan.
"Pintar lo Beno, nunggu aku selesai makan baru lo datang" ucap Raditya.
Dan kini mereka telah berada dalam mobil menuju ErDua, karena telah ditunggu beberapa staf di sana.
"Bos, penasaran nggak sama dokter Lee?" tanya Beno dengan mata tetap fokus di jalanan.
"Lo sudah dapat info tentang dia?" tanya Raditya.
"Baru sedikit info yang aku dapat. Cuman yang aku tahu sih dia terkenal dengan manusia seribu wajah" jelas Beno.
"Kok seperti itu?" tanggap Raditya heran.
"Banyak wajah yang telah dipermak oleh tangan terampilnya. Tapi sepertinya dia sendiri juga sering berganti wajah. Info yang aku dapat, dia aslinya sini juga. Tapi banyak orang salah paham darimana dia berasal karena perubahan wajah dan namanya itu" jelas Beno.
"Bisnis ilegalnya lumayan banyak bos. Satu yang aku dapat info adalah jual beli obat bius ilegal" lanjut Beno.
"Dan saat ini Andah, Mahendra dan Dimas semua terlibat dengan bisnis itu" terang Beno.
"Kalau mau ngehancurin mereka, ini waktu yang tepat bos" saran Beno.
Raditya mengangguk mengiyakan.
"Akan aku pikirkan" seru Raditya.
Raditya masih memikirkan celah agar buronan seperti Mahendra tertangkap tanpa dirinya banyak terlibat.
"Akan aku hubungi temanku aja, biar dia yang selidikin" kata Raditya.
"Nunggu surat perintah atasan kadang lama bos" sela Beno.
"Biar saja temanku itu bergerak dulu. Kita bantu dia kalau kesulitan. Tak perlu mengotori tangan kita untuk orang seperti Mahendra dan teman-teman" ulas Raditya.
Beno diam, masih memikirkan cara yang lebih baik.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1