
Sementara itu di ruangan jenguk lapas, telah berhadapan Beno dengan Mahendra.
Raditya menunggu di ruang penyidik karena tak sudi untuk bertemu Mahendra langsung.
"Meneruskan yang kemarin? Apa sudah kamu lakukan semua?" kata Beno menegaskan.
"Ya, aku sudah merubah semua keterangan yang aku buat. Tapi aku tidak tahu apa penyidik percaya dengan keterangan yang berubah-ubah itu" tukas Mahendra.
"Oke, nanti aku akan mampir ke penyidik. Memastikan apa tugas kamu telah selesai" imbuh Beno.
"Bayaranku???" tagih Mahendra.
"Yang tenang bro. Pantang bagiku sebagai seorang laki-laki plin plan kalau bicara" ucap Beno dengan lugas seakan menyindir Mahendra.
"Kamu minta berapa kemarin?" tanya Beno seakan lupa akan nominal yang dikatakan Mahendra.
"Lima ratus juta" ucap Mahendra mengulangi permintaannya.
"Ternyata sebegitu aja nilaimu" olok Beno.
Mahendra mengepalkan erat tangannya kali ini. Awas saja kamu kalau aku bebas nanti. Ancam Mahendra dalam hati.
"Oke, akan aku transfer uang yang kamu minta. Tapi hanya separo. Sisanya akan aku transfer jika Dimas tertangkap" terang Beno.
"Wah, nggak bisa gitu dong bro. Kamu sudah janji kemarin. Kalau gitu mendingan aku tarik kembali keteranganku yang tadi" ulas Mahendra seakan dirinya bisa merubah keterangan di depan penyidik dengan mudah.
"Ha...ha...jika kamu merubah sekali lagi. Apa kamu akan dipercaya? Pastinya kamu akan dipanggilkan seorang psikolog karena disangka gila. Kalau berani lakukan aja" kata Beno terbahak membuat Mahendra menatap tajam ke Beno.
"Bahkan kamu akan kehilangan uang dari Dimas dan dariku. Karena kamu adalah pengkhianatnya" sambung Beno.
"Sanggah aja jika ucapanku salah" ujar Beno melanjutkan.
"Oke, siang ini aku tunggu transferan kamu" ucap Mahendra.
"Sabar dong bro, aku harus ke penyidik dulu. Memastikan apakah keterangan mu tadi terpakai oleh penyidik" ungkap Beno.
Beno beranjak, "Thanks kerja sama nya. Aku akan ke penyidik setelah ini" dan meninggalkan Mahendra yang duduk termangu.
Beno menyusul Raditya yang tengah berbincang dengan penyidik.
"Sudah bos" kata Beno.
"Oke, ayo kita pergi" ajak Raditya.
"Bentar bos. Aku mau say hello sebentar sama pak penyidik" kata Beno basa basi.
"Siang pak" sapa Beno.
"Siang tuan Beno. Apa kabar?" penyidik itu menyalami Beno.
"Silahkan duduk tuan Beno. Akan kuberitahukan sesuatu yang menyangkut kasus yang anda laporkan" beritahu penyidik itu. Dan hal itu lah yang ditunggu oleh Beno.
"Hal yang mana tuan?" tanya Beno seakan tak tahu apa-apa perihal apa yang akan disampaikan penyidik.
"Tuan Mahendra merubah lagi pernyataannya" kata penyidik.
"Dan tadi sudah saya sampaikan langsung ke tuan Raditya" imbuhnya.
"Lantas?" tanya Beno.
"Status DPO yang pernah dicabut, maka akan dikenakan lagi ke tuan Dimas. Apalagi bukti yang anda berikan waktu itu sudah cukup untuk membawanya ke pengadilan atas tuduhan penggelapan uang perusahaan" ujar penyidik itu menjelaskan.
"Dan kasus penjebakan itu tetap dilanjutkan dengan tersangka utama tuan Dimas. Kali ini tuan Mahendra memang tidak terlibat langsung. Berdasarkan keterangan yang disampaikan tadi pagi" sambung pak penyidik.
"Kasus penggelapan paling lama kena empat tahun. Belum lagi jika Dimas bersedia mengganti uang perusahaan, maka itu akan memperingan hukumannya. Maka nya kasus penjebakan diriku tetap aku lanjutkan" terang Raditya.
Beno mengangguk tanda setuju. Yang penting pancingannya untuk Mahendra berhasil dan Mahendra bersedia merubah keterangan dan kesaksiannya kali ini.
.
Raditya dan Beno kembali ke perusahaan, setelah sebelumnya mampir makan siang di sebuah resto sederhana dekat kantor penyidik tadi.
"Beno, setelah ini mungkin aku tak akan datang lagi ke perusahaan. Akan kupantau aja dari jauh. Besok aku sudah mau beres-beres untuk kepindahanku" kata Raditya saat mereka berdua berada di lift.
"Lagak loe bos. Kayak semua dikerjakan sendiri aja" olok Beno.
"Ujung-ujungnya aku lagi yang akan repot" gerutu Beno.
"Ha...ha...benar juga apa kata kamu. Ngapain aku musti repot. Kalau perlu ajak tuh Siska ke apartemen buat bantuin" kata Raditya seakan mendapat ide baru setelah apa yang dikatakan Beno tadi.
"Aduh, kenapa gue salah ngomong sih. Harusnya aku diam saja tadi" kata Beno merutuki dirinya sendiri.
Saat pintu lift terbuka. Pandangan mata Beno langsung tertuju ke arah Siska yang telah duduk di meja nya.
"Jaga mata kamu tuh" tandas Raditya saat tahu arah mata Beno.
__ADS_1
"Suka-suka gue. Rugi dong kalau ada yang mulus dianggurin" ujar Beno menimpali.
Alhasil toyoran tangan Raditya mengenai kepalanya. "Kalau suka bilang. Kalau dipendam ntar jadi bisulan loe" olok Raditya saat berjalan menuju ruangannya.
Beno mampir ke meja Siska.
"Loh, katanya mau ke tempat teman kamu?" tanya Beno.
"Nggak ketemu. Katanya dia dipecat dari kantornya" jawab Siska.
"Wah, pasti parah tuh pelanggarannya. Apalagi cewek" tukas Beno.
"Iya sih. Katanya dia selingkuh dan digerebek suaminya sendiri" ujar Siska bercerita.
"Mendingan nggak usah berteman dengan orang model begituan. Bisa ketularan loe nanti" ucap Beno menanggapi.
"Aku sih nggak percaya kalau temanku melakukan itu. Pasti ada yang salah" kata Siska menyangkal.
"Orang bisa berubah kapan saja Nona. Apalagi keadaan yang menuntut orang itu untuk berubah" kata Beno.
"Hanya satu yang tak berubah di dunia ini?" sambung Beno.
"Apa?" sela Siska.
"Rasa kagum aku padamu" ujar Beno membuat Siska mengerucutkan bibirnya.
"Aku suka tuh model bibir kamu yang begitu, ayo masuk ruangan aku" ajak Beno mulai bermodus ria.
"Beno....ini kantor. Jaga sikap loe" teriak Raditya dari dalam ruangannya.
"Issshhh...dia dengar aja sih. Mentang-mentang sudah ada yang sah di rumah" gerutu Beno sembari masuk ke ruangannya.
Siska tertawa kecil, menertawakan sang asisten yang sebenarnya Siska sukai.
Tapi apa iya, cewek yang harus nembak duluan. Gengsi dong. Batin Siska.
Di ruangannya, Raditya sedang asyik melihat monitor komputer di depannya.
Dia yang lagi gabut sedang melihat rekaman cctv yang ada di apartemen.
Beberapa kali Rania mondar mandir di kamar Celo dan Cio. Dia nampak sibuk dengan kedua putranya.
Beno masuk menyusul kala Raditya sedang tersenyum-senyum.
"Bos, obat loe habis ya? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Beno dengan mimik muka serius.
"Gangguin aja. Ngapain loe ke sini?" tandas Raditya.
"Issshhh...galak banget sih. Pasti benar dech, obat bos habis kan?" tanya ulang Beno dengan mimik yang sama.
Sebuah buku Raditya lempar ke arah Beno.
"Yeeeiiiii...nggak kena" kata Beno karena berhasil menghindari lemparan Raditya.
"Cepat, katakan tujuan kamu ke sini!!!" suruh Raditya.
"Transfer uang untuk Mahendra kapan? Tadi dia sudah nagih untuk itu" jelas Beno.
"Mata duitan sekali dia" umpat Raditya.
"Dia minta lima ratus juta" terang Beno.
"Berikan saja" jawab Raditya tanpa pikir panjang.
"Tapi aku bilang ke dia, mau kukasih separuh dulu. Sisanya kalau Dimas berhasil ditangkap" timpal Beno.
"Apa komen dia?" telisik Raditya.
"Awalnya dia menolak. Tapi biasa lah bos, aku negoisasi dengan sedikit mengeluarkan akal bulus barulah dia menerima nya dengan ikhlas" terang Beno.
"Jelas lah dia ikhlas, terima uang segitu tanpa bekerja keras" imbuh Raditya.
"Kalau kerja, tak bakalan dia bisa ngumpulin uang segitu banyak dalam setahun" tandas Beno.
"Oke, kamu transfer yang dua ratus lima puluh dulu. Jika dia tak bisa membantu menangkap Dimas, maka sisa uang itu jangan kamu berikan. Pastikan uang yang diterima Mahendra benar dipakai untuk biaya pengobatan anaknya" perintah Raditya. Beno mengangguk menyetujui.
Raditya beranjak. "Mau ke mana?" tanya Beno.
"Pulang lah" imbuh Raditya.
"Kok main pulang aja"
"Sudahlah, kamu transfer aja uang Mahendra" suruh Raditya.
"Heemmm, sekalian pulang nanti akan kuberikan uangnya. Ini bos tanda tangani" Beno menyodorkan sebuah cek.
__ADS_1
Raditya menandatangani lembar cek itu tanpa banyak kata.
"Enak banget Mahendra bos" ungkap Beno.
"Bener sih, tapi aku lebih nggak tega lagi jika anaknya yang baru lahir itu dibiarkan begitu saja sama seperti kejadian nya Chiko saat itu" kata Raditya.
"Anggap saja menolong keluarga tak berpunya" imbuh Raditya.
"Tak berpunya tapi ada rumah dan mobil" Beno menepuk jidat menanggapi perkataan sang bos yang kadang suka ngasal itu.
"Terserah loe bos, aku senang asal bos bahagia" olok Beno.
Raditya meneruskan langkahnya untuk pulang.
"Beno" Raditya menghentikan langkah.
"Apa lagi?" seru Beno. Dirinya berasa penampungan keluhan sang bos memang.
"Jangan lupa besok ajakin Siska" kata Raditya.
"Tanpa kamu suruh, Siska pasti kuajakin" tandas Beno.
"Issshhhhh...ajakin ke apartemen ku" sahut Raditya.
"He...he...kirain apartemen aku bos" tukas Beno terbahak.
"Otak loe ngeres tuh" sindir Raditya.
"Yeeeiiiiii...kamu tuh bos yang ngeres. Aku ngajakin Siska kan cuman untuk ngopi bareng aja" alesan Beno.
"Ngopi sambil karaokean. Begitu kan maksud loe?" tebak Raditya dan langsung dibenarkan Beno.
"Terserah loe, asal kau bahagia" ujar Raditya menirukan ucapan Beno tadi
Sesuai janjinya, Beno kembali ke lapas untuk memberikan cek buat Mahendra.
Dengan rapi dia menyelipkan sesuatu ke sebungkus rokok yang dibelinya untuk Mahendra.
Sepeninggal Beno, Riska datang mengunjungi sang suami.
Seakan tahu, jika sang suami barusan menerima sesuatu dari asisten Raditya yang tak sengaja berpapasan dengannya di depan pintu depan tadi.
"Mana uangnya" tangan Riska langsung saja menengadah kala Mahendra barusan duduk di depannya.
"Uang apa?" tanya Mahendra seolah tak tahu.
"Jangan gitu sayang. Di depan kantor ini, aku tadi berpapasan dengan asisten songong di depan. Pasti dia sudah kasih kamu uang kan?" bisik Riska dengan senyumnya yang licik.
"Ini jatah makan kamu. Aku bela-belain beli makanan kesukaan kamu loh" ujar Riska sambil menyerahkan bungkusan nasi kotak untuk sang suami.
Baik kalau ada maunya. Gerutu Mahendra dalam hati.
Tapi kalau tidak pada Riska, kepada siapa lagi dia akan bergantung sekarang. Pikir Mahendra.
"Nih, gunakan sesuai kebutuhan. Pakai untuk biaya operasi anak kita" ujar Mahendra dan menyerahkan selembar cek yang diberikan Beno tadi.
"Waaooooowwwww segini banyak" mata Riska langsung saja biru melihat nominal yang tertera.
"Itu hasil jual harga diri suami kamu" tandas Mahendra.
"Sering-sering aja jual harga diri kamu itu sayang" tukas Riska enteng.
'Dasar wanita gila' umpat Mahendra.
"Kamu cairkan, berikan padaku lima puluh juta untuk pegangan. Sisanya persiapkan untuk biaya operasi anak kamu. Jangan pernah ada kata-kata aku laki-laki tak bertanggung jawab lagi" terang Mahendra.
"Siap sayang" ujar Riska dengan hati bahagia membuncah. Bagai mendapatkan durian runtuh.
"Besok aku ke sini lagi. Akan kubawakan uang yang kamu minta. Dan selebihnya akan aku pegang untuk biaya operasi" ujar Riska menanggapi permintaan sang suami.
"Makasih sayang, kamu memang terbaik" puji Riska saat keinginannya terkabul.
Sementara Mahendra diam tak berkomentar.
Riska keluar kantor penyidik dengan bersenandung ceria.
Saat sedang menunggu taksi online yang dipesan olehnya, tiba-tiba sebuah mobil terhenti di depannya.
Riska mengernyitkan alis, mencoba menerka siapa yang ada di dalam mobil itu.
"Mau ke mana? Naik aja" kata seseorang dari dalam mobil.
Riska pun melongok ke dalam kaca mobil yang setengah terbuka. Dan senyum merekah nampak dari bibir Riska.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading