Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Berharap Restu


__ADS_3

Bik Surti mengawasi dari atas sampai bawah sosok Raditya, sudah seperti penyidik menghadapi tersangka saja...he...he...


"Bik, bisa saya bertemu dengan tuan Handono" harap Raditya.


Baru kali ini Raditya memohon untuk bertemu seseorang. Biasanya kolega bisnis banyak yang mengantri untuk bisa bertemu dengan seorang Raditya.


"Bisa tunggu sebentar mas, saya ke dalam dulu untuk bilang sama bapak" tukas bik Surti.


Bik Surti yang sudah menenteng tas untuk belanja kembali masuk untuk menemui tuan Handono.


Ada wanita yang mungkin seusia dengan nyonya Andrian ikut mengiringi bik Surti.


"Ini bu tamunya" beritahunya.


"Saya Raditya bu" Raditya memperkenalkan diri.


"Iya, silahkan duduk" ucapnya sopan, tapi ada ketegasan di setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Terima kasih" ujar Raditya.


"Surti buatkan minuman dulu sana sebelum belanja" suruh wanita yang sepertinya ibunya Rania. Kalau tebakan Raditya benar. Karena ada guratan kemiripan dengan Rania.


"Baik bu. Tunggu ya mas ganteng, Bik Surti buat minum dulu" kata Surti penuh canda.


"Surti!" panggil nya agar Bik Surti bergegas ke dapur.


"He...he...siap bu. Habis baru kali ini ada mas ganteng yang datang ke rumah. Biasanya kalau nggak Aki ya Nini yang datang" imbuh bik Surti.


Seorang laki-laki setengah baya, namun masih nampak guratan kewibawaan di wajah nya. Dengan sedikit tertatih dirinya menghampiri dan duduk di depan Raditya.


"Ada apa mencari saya anak muda?" tanya nya tanpa basa basi.


"Perkenalkan saya Raditya Marino" Raditya mengulurkan tangan dengan sopan.


Tuan Handono menyambutnya.


"Saya Handono" dirinya pun menyebutkan nama.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya sambil mengingat sesuatu.


"Belum tuan" jawab Raditya mulai sedikit was-was.


"Lantas? Apa tujuan kamu ke sini anak muda?" telisik tuan Handono.


Raditya menarik nafas panjang, hendak mengutarakan maksud tujuannya menghadap tuan Handono.


"A...aku...." Raditya agak gugup untuk mengutarakan.


"Kenapa gugup? Santai aja. Ini kan bukan acara lamaran anak muda, apalagi ijab kabul...ha...ha..." Tuan Handono tersenyum getir, walau kata-katanya barusan hanya untuk bercanda.


"Minumnya mas" kata bik Surti yang menyela untuk mengantarkan minum buat Raditya.


"Makasih bik" balas Raditya.


Sepeninggal bik Surti, Raditya hendak mengutarakan kembali niat awalnya datang tadi.


"A...aku..." kata Raditya.


"Minum dulu nak Raditya, biar nggak gugup" kata nyonya Handono mempersilahkan.

__ADS_1


Untuk mengurangi kegugupan, Raditya pun minum teh hangat yang baru disodorkan bik Surti.


"Sekarang, katakan dengan pelan apa maksud tujuan kamu ke sini" suruh tuan Handono.


"A...aku..ingin melamar putri anda tuan" kata Raditya membuat kedua orang tua di depannya ini terkaget, meski sedetik kemudian mereka berusaha menutupinya.


"Putri yang mana? Saya tak punya seorang anak perempuan" tegas tuan Handono, kali ini ada kilatan marah di kedua netranya.


"Rania Putri Handono, itu nama putri anda tuan" Raditya menanggapi.


"Dulu iya, sebelum dirinya mempermalukan kami" tegas tuan Handono.


Raditya berusaha menjelaskan kejadian malam itu, tapi keburu diusir oleh laki-laki setengah baya itu.


"Pergilah anak muda jika hanya itu yang ingin kamu bicarakan" suruhnya sebagai kata pengusiran secara halus.


Raditya beranjak mengikuti perintahnya, "Untuk kalian ketahui, Rania sekarang berada di rumah sakit. Dia barusan melahirkan bayi kembar laki-laki, dan kedua bayi itu anak saya" beritahu Raditya.


Tuan Handono langsung menampar laki-laki muda di depannya ini.


"Jadi kamulah perusak pagar ayu itu?" hardiknya.


"Berani-beraninya kamu datang ke sini" hardik tuan Handono penuh emosi.


"Maafkan aku tuan, aku menyesal. Aku harap anda bisa memberikan restu untukku buat menikahi putri anda" Raditya bersimpuh di hadapan tuan Handono.


"Jangan hinakan dirimu di depanku anak muda. Sampai kapan pun aku tak akan merestui. Rania bukan lagi anakku. Camkan itu!!!" kata Tuan Handono tegas sekali.


"Pergi!!!" usirnya.


Raditya melangkah keluar dari rumah itu.


Sebelum pergi tadi, sekilas Raditya melihat bagaimana nyonya Handono menitikkan air mata.


.


"Gimana bos? Sukses? Kapan ijab kabulnya?" berondong tanya Beno saat Raditya masuk mobil.


"Sukses pala loe peyang" tukas Raditya.


"Lah? Gimana? Kasih tau dong" timpal Beno.


"Gagal gue" ujar Raditya serius.


"Gagal, coba lagi!" tanggap Beno.


"Syuueeemaaangaaaattt bos" ujar Beno mengangkat kedua lengan.


"Bisa diam nggak sih loe" gerutu Raditya jengah. Pusing dengan penolakan tuan Raditya diimbuhi kebawelan Beno.


"Siap bos" Beno diam, paham dengan raut muka sang bos.


Beno mulai menyalakan mesin mobil dan pergi dari tempat tinggal Rania.


"Besok kita ke sana lagi!" perintah Raditya saat mobil sudah sampai jalanan utama.


Beno diam nggak bicara, daripada kena omel lagi.


"Loe nggak punya mulut untuk menjawab?" kata Raditya.

__ADS_1


Beno mengacak rambutnya kasar. Hanya bisa menggerutu dalam hati. Menjawab salah, diam juga salah. Memang pasal satu sedang berlaku saat ini yaitu bos selalu benar.


"Laper bos. Makan dulu yuk! Marah pun butuh energi" ajak Beno.


"Loe ngeledek gue?" tajam Raditya menatap Beno.


"Biasa saja bosss....keep calm" kata Beno menimpali.


"Makan...makan..." Beno membelokkan arah mobil di sebuah resto.


"Turun nggak? Gue laper" tukas Beno.


Terpaksa Raditya mengikuti langkah Beno.


Beno memanggil salah satu pelayan.


"Silahkan tuan" katanya menyerahkan sebuah buku menu dan nota pemesanan.


"Kamu pesen apa?" tanya Beno.


"Ikut kamu aja" jawab singkat Raditya.


Mereka berdua menikmati makanan dalam hening. Beno tak ingin menggoda sang bos yang sedang galau tingkat dewa, karena belum mendapatkan restu dari kedua orang tua Rania.


"Kita ke perusahaan aja bos setelah ini" ujar Beno.


"Di sana ada banyak orang untuk menerima pelampiasan kemarahan kamu" lanjut Beno.


"Issshhhh...loe meledekku ya" sahut Raditya.


"Habisnya, sedari tadi loe seperti orang yang sedang PMS aja" celetuk Beno.


"Abis baru ini gue terima penolakan" terang Raditya yang emosinya mulai stabil.


"Kalau ditolak, ikutin saran gue" kata Beno.


"Apa?" tanya Raditya serius.


"Dukun bertindak...ha...ha..." Beno setelah candaan garingnya.


"Nggak lucu" kata Raditya menimpali.


Di perusahaan, Raditya bener-bener mengikuti saran Beno. Semua yang menghadap ke Raditya pasti apes semua nasibnya.


Tak terkecuali Dimas direktur anak cabang dan juga Mahendra sang manager.


"Perlu kalian ingat, jika dalam seminggu ini kalian tidak menemukan pengkorupsi di perusahaan ini. Maka terpaksa aku akan hentikan masa jabatan kalian" terang Raditya.


Dimas sangat santai menanggapi, karena dia yakin itu tak akan terjadi. Sang paman, tuan Rahardian punya saham yang lumayan besar di perusahaan ini.


Tidak demikian halnya dengan Mahendra. Dia mulai gelisah dengan ancaman Raditya barusan. Dia harus cari titik aman kali ini. Batin Mahendra.


'Pancingan aku kena lagi' pikir Raditya yang melihat reaksi Mahendra kali ini. Dia pasti diam, karena terlibat dengan kejadian saat itu.


'Akan kumanfaatkan kebodohan dia, untuk mendapatkan restu dari orang tua Rania'


"Kalian berdua boleh keluar" seru Raditya kepada Dimas dan Mahendra.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2