Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Persiapan Akad


__ADS_3

Riska menatap sang suami. Menelisik barangkali ada yang tidak diketahui olehnya.


"Ada apa?" tanya Mahendra ketus.


"Ada hal yang tak kuketahui kah?" kata Riska menanggapi.


"Tentang?" tukas Mahendra.


"Antara kamu dan dokter yang tadi?" tanya Riska.


"Ha...ha... Kamu curiga?" ucap Mahendra.


"Mana dia mau sama laki macam aku" seru Mahendra.


"Bisa saja, kalau dia kegatelan" sahut Riska.


"Asal kamu tahu, dia seperti nya ada hati dengan Raditya" terang Mahendra.


Riska menautkan alis, seperti berpikir sesuatu. Sesuatu yang jahat pastinya.


"Kirain dia kegatelan sama kamu sayang" ucap Riska.


Mahendra hanya diam. Apa aku manfaatin aja tuh dokter, untuk misahin Raditya sama Rania. Mahendra pun berpikir kurang lebih sama dengan Riska.


.


Beno dibuat kelabakan karena acara Raditya yang super duper mendadak. Ditambah Beno tak begitu mengenal dengan kota ini.


Mau mencari wedding organizer recomended pun, harus mendadak browsing segala. Apalagi kalau mendadak, pasti akan sangat mahal jadinya.


"Bos kalau kasih perintah emang tak kira-kira" gerutu Beno.


Beno menelpon pak Supri. Enak aja kok aku sendiri yang repot. Dia musti bantuin gue. Pikir Beno.


Tapi jawaban pak Supri semakin membuat Beno sewot. Karena pak Supri bilang kalau akan mengantar tuan muda bersama Rania.


"Alamat repot banget gue. Belum lagi urusan dengan penyidik" Beno mengacak rambutnya kasar.


"Hadech....andai ada Siska sekretarisku yang cantik dan seksi" gumam Beno berandai-andai.


Beno malah melamun, yang akhirnya tersadar karena dering ponselnya yang terlalu keras.


"Idih, ngagetin aja sih. Siapa nih yang nelponin" gerutu Beno sembari melihat layar ponsel.


"Kamu di mana? Sudah persiapan belum buat acara ku hari Minggu. Untuk kelengkapan berkas punya Rania jangan lupa mampir ke apartemen" bilang Raditya.


"Siap bos" kata Beno.


"Jangan hanya bilang siap-siap aja. Tinggal tiga hari nih" tegas Raditya.


Beno ngedumel tak karuan. Tahu tinggal tiga hari, tapi tetep nekad aja. Emang persiapan nikah gampang apa.


"Beno, loe masih hidup kan?" kata Raditya karena lama tak mendengar suara Beno.


"Au ah gelap" tukas Beno.


.


Di apartemen, Raditya sedikit memaksa agar Rania mau ikut dengannya.


Dalam tiga hari kebaya untuk Rania harus sudah jadi. Pikir Raditya.


"Kita mau ke mana?" tanya Rania saat Raditya menggandeng begitu saja lengannya di basement apartemen.

__ADS_1


"Ntar juga bakalan tahu" imbuh Raditya.


"Pak, langsung ke tempat yang kuminta tadi" perintah Raditya buat pak Supri.


"Baik tuan" jawab pak Supri sopan.


Rania diam selama perjalanan.


"Kok diam sih?" Raditya mengawali bicara.


"Lantas musti ngomong apa?" tukas Rania.


"Oh ya, perlu kamu tahu Rania. Mantan suami kamu terlibat atas penggelapan dana perusahaan. Dan sekarang dalam proses pelaporan oleh Beno. Nggak tahu juga, mungkin dalam sehari dua hari ini Mahendra akan keciduk" cerita Raditya.


"Sudahlah, kenapa musti bicarain dia sih" kata Rania menimpali dengan wajah sewot.


"Hanya ingin kamu tahu saja" tandas Raditya.


"Selain itu, aku juga ingin kamu tahu. Di malam kejadian itu, sebenarnya juga ada campur tangan Mahendra di sana" lanjut Raditya.


Rania menengok untuk menatap Raditya.


"Apa maksudnya?" sela Rania.


"Begini...sebenarnya malam itu Mahendra disuruh bos nya untuk menjebakku. Aku yang waktu itu masih hobi mendatangi club malam, tentu saja sudah diketahui oleh Mahendra. Melalui orang yang disuruh, mereka memasukkan obat per4ngsang ke minumanku. Dan sial nya, kamu yang waktu itu notabene masih menjadi istri Mahendra malah menghampiriku dengan pengaruh obat yang sama" kata Raditya menggambarkan suasana malam itu.


Rania menatap Raditya, mencari barangkali ada kebohongan di sana.


"Aku jujur Rania" tandas Raditya.


"Lantas kenapa pagi buta, dia menggrebek kita?" sambung tanya Rania.


"Waktu itu aku juga belum tahu cerita yang sebenarnya. Aku tahu juga baru-baru ini. Mahendra melakukan itu karena ingin menghilangkan jejak dan melimpahkan kesalahan kepadamu" lanjut Raditya memberikan penjelasan.


Rania mengepalkan tangannya erat. Tak mengira sang suami akan sejahat itu.


"Kenapa dia melakukan semua itu. Sungguh tega sekali dia" Rania menangis. Raditya raih puncak kepala Rania untuk menyandar di bahunya.


"Tak perlu disesali yang telah terjadi. Saatnya kita tatap masa depan bersama" ujar Raditya.


Entah rasa apa yang dirasakan Rania. Yang pasti dia merasa nyaman dengan lelaki di sampingnya saat ini.


"Minggu ini akad akan berlangsung" kata Raditya akhirnya jujur ke Rania.


Rania mendongak, "Secepat itu? Kenapa kamu seyakin itu padaku Raditya?" ucap Rania tak percaya dengan ucapan Raditya barusan.


"Satu yang perlu kamu ingat Rania. Aku yakin kamu wanita baik. Sebejat-bejatnya laki-laki, pasti mengharap wanita baik lah yang akan jadi pendampingnya" terang Raditya.


"Wajah cantik, kulit putih, senyum manis itu hanya bonus yang aku dapat" lanjut Raditya disela dengan candaan.


Pak Supri menghentikan laju mobil tepat di depan butik terbesar di kota tempat tinggal Rania ini.


Dulu membayangkan aja tak pernah terlintas di benak Rania. Tapi sekarang malah diajak Raditya ke sini.


"Ayo turun" ajak Raditya dengan tangan menyambut Rania.


Terlihat serasi sekali mereka berjalan. Dan tentu saja banyak pasang mata menatap ke arah mereka.


"Selamat siang tuan, ada yang bisa dibantu?" tanya karyawan wanita yang berada di front office.


Raditya mengutarakan maksud hatinya mendatangi butik ini.


"Oh ya, silahkan masuk tuan. Di dalam ada nyonya Yasmine pemilik butik ini yang akan mengarahkan" terangnya.

__ADS_1


"Makasih" ucap Raditya.


Dengan tetap menggandeng sang calon istri, Raditya masuk ke ruang sebelah.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" tanya wanita yang sepertinya asisten sang desainer.


Raditya kembali mengutarakan niat awalnya tadi.


Wanita setengah baya dengan gaya elegan menghampiri Raditya.


Dia menelisik wajah Raditya dari atas sampai bawah.


"Ada apa ya nyonya?" tanya Raditya merasa aneh.


"Heemmmm, wajah kamu mengingatkan ku pada seseorang" kata nya terang-terangan.


Raditya yang merasa tak kenal menanggapi acuh.


"Heemmm...aku ingat. Kamu seperti Andrian Marino sahabatku" katanya tiba-tiba.


"Hah? Ya jelas saja. Andrian Marino itu papaku" ujar Raditya.


"Oh, kamu putranya. Kenalin aku tante Yasmine" katanya mengulurkan tangan ke Raditya.


"Iya tante, aku Raditya dan ini calon istriku Rania" kata Raditya tak lupa mengenalkan sang calon.


"Owh cantik" puji nyonya Yasmine.


"Rania, putri keluarga mana?" tanya tante Yasmine seakan ingin tahu. Baginya tak mungkin keluarga Marino punya menantu dari keluarga biasa.


Rania gelagapan menjawab.


"Oh, keluarga Handono tante" jawab Raditya biasa aja.


"Kok aku nggak tahu ya? Dari perusahaan mana?" lanjut nyonya Yasmine.


Raditya mulai paham arah pembicaraan wanita setengah baya ini. Dia pasti akan menguliti Rania. Biasalah, wanita yang mengaku dari kalangan atas pasti akan menanyakan hal itu. Seperti mama nya dulu, sebelum dia kenal Rania yang telah memberinya dua cucu kembar.


"Tolong tante, dipercepat. Aku sibuk hari ini" potong Raditya, agar sang desainer tak semakin menyelidiki tentang Rania.


"Oke, baiklah" tanta Yasmine menyetujui permintaan Raditya.


Karena mendadak, desainer itu menunjukkan stok yang sudah ada. Karena semua barang yang dia buat limited, tante Yasmine menjamin barang yang dipakai Rania tak mungkin sama dengan yang lain.


Pilihan Raditya tepat mengarah ke sebuah kebaya yang tak terlalu terbuka. Terutama bagian dada.


"Yang ini saja tante" tunjuk Raditya. Rania pun mencoba pilihan Raditya.


Meski pas di badan, tapi memang tidaklah terbuka.


"Makasih Raditya" kata nyonya Yasmine saat Raditya pamitan bersama Rania.


Dan tepat waktu mereka berdua hendak keluar, berpapasan dengan dokter Andah yang merawat si kembar.


"Loh, kalian di sini?" tanyanya.


"Dokter kok di sini juga?" tukas Rania.


"Iya, ini kan butik mamaku" terangnya.


"Owwhhh begitu ya. Kalau begitu kita pamit duluan" kata Raditya dengan tetap menggandeng Rania.


Terlibat obrolan mama dan putrinya itu sepeninggal Raditya dan Rania.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2