Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Kondisi Riska.


__ADS_3

Dokter yang sedang visite itu membuka semua hasil pemeriksaan dengan dibantu oleh asistennya.


"Maaf nyonya, karena tak ada yang nungguin. Maka semua hasil pemeriksaan akan aya sampaikan di sini saja" terang dokter mengawali penjelasan.


Dokter telah melihat kode yang diberikan oleh rekan sejawat saat pemeriksaan penunjang.


Dan di sana dituliskan C53.9.


"Dok, jangan bertele-tele deh. Aku sudah habis banyak nih. Mana klien ku pada lari semua, karena aku musti rawat inap di sini. Kalau bisa hari ini aku minta pulang saja" kata Riska ketus.


"Loh, kenapa tidak pakai asuransi saja nyonya. Maka akan lebih ringan biayanya" saran dokter itu.


"Asuransi tuh ribet" tukas Riska.


"Siapa bilang? Kalau anda mengerti sistemnya, itu akan mempermudah pengobatan anda selanjutnya" terang dokter.


"Sudah jelaskan saja dok apa penyakit saya" kata Riska masih saja dengan nada ketus.


Dokter itu duduk tepat di depan Riska, akan perlu waktu untuk menjelaskan semua nya.


"Begini nyonya, menurut pemeriksaan darah dan hapusan lewat jalan lahir anda waktu itu didapatkan hasil yang kurang bagus" ujar dokter.


Deg...kurang bagus? Apa maksud dokter ini? Batin Riska.


"Nggak usah bertele-tele dok" tandas Riska.


"Anda terkena kanker mulut rahim stadium tiga A, itu artinya sel kanker sudah menyebar" lanjut dokter obgyn itu menjelaskan.


"Anda pasti bohong dok, nyatanya tubuh saya baik-baik saja. Apa ada keluhan badan lemas, jatuhnya diagnosa ke kanker mulut rahim. Anda pasti salah" kata Riska sengit.


"Semua hasil pemeriksaan mengarah ke sana nyonya. Menolak diagnosa juga menjadi hak anda. Sementara tugas saya menyampaikan apapun yang berhubungan tentang pasiennya. Dan itu sudah saya lakukan. Anda pun berhak menerima atau menolak saran perawatan yang akan saya sampaikan" ujar dokter itu menjelaskan masih penuh kesabaran.


Riska diam.


"Enggak mungkin aku kena kanker" tolak Riska. Saat ini dia masih dalam tahap denial, menolak semua yang dikatakan oleh dokter.


"Aku minta pulang saja dok" pinta Riska.


"Owh, kalau itu sudah menjadi keputusan anda. Maka kami pun tak bisa memaksa" sela perawat itu.


"Oh ya, jangan lupa kalau keluhan semakin bertambah rumah sakit kami akan terbuka menerima anda kembali" tukas dokter itu.


"Jelas saja mau menerimaku, aku selalu bayar mahal untuk semua ini" ucap Riska semakin ketus.


"Oh ya nyonya, jika anda berubah pikiran. Saat ini seharusnya anda sudah menjalani terapi kemo" imbuh dokter tetap menyarankan semua demi kebaikan pasiennya.


"Aku menolak" tegas Riska.


Dokter itu tersenyum, "Kalau anda menolak, berarti anda harus tanda tangan penolakan" imbuhnya.

__ADS_1


Dan perawat yang mengasisteni menyiapkan berkas yang harus disiapkan untuk setiap pasien yang menghendaki pulang paksa.


Infus yang terpasang pun akhirnya dilepas karena Riska memaksa pulang.


Sepeninggal doktรจr dan perawat, Riska kembali menghubungi Alex untuk menjemputnya.


Ada satu klien yang menunggu Riska di sebuah hotel bintang lima di kota itu.


Karena tak diangkat maka Riska mengirim pesan ke Alex.


"Lex, gue beneran minta tolong nih. Jemput gue di rumah sakit, abis itu anterin gue ke hotel dekat balai kota" ulas Riska dengan ketikan.


Lama juga Alex membalas.


"Gue bukan sopir lo!" ketiknya.


"Sekali ini aja Lex" mohon Riska.


"Oke, sekali ini aja. Tapi kasih bonus aku, main sekali aja" balas Alex.


"Sialan lo, udah tau gue baru keluar rumah sakit. Lo masih minta aja" ketik Riska.


"Menolak, itu tandanya tidak ada jemputan" bilang Alex.


"Oke, tapi sekali aja" akhirnya Riska menyetujui apa yang jadi permintaan Alex.


"Ke admin dulu, gue belum lunasin semua biaya rumah sakit" kata Riska meminta.


"Kirain langsung pulang, seperti lo dengan teganya ninggalin jenazah bayi lo waktu itu" sela Alex.


"Lo tahu?" tanya Riska kaget juga. Karena Alex tahu semua.


"Tahu lah. Alex" kata Alex sembari menepuk dada nya sombong.


Riska menaikkan sudut bibirnya sinis sebagai reaksi atas ucapan Alex.


Riska kaget juga dengan tagihn rumah sakit yang mencapai angka dua puluh juta lebih dikit.


"Apa-apaan ini. Nggak sampai tiga hari penuh, tagihan aku banyak banget. Hitung sekali lagi mba" suruh Riska.


"Aku yakin lo salah hitung dech mba" lanjut Riska lantang.


Enak aja. Apa mereka tak tahu susahnya cari uang. Enak aja mau main-main denganku. Keluh Riska.


"Tapi maaf nyonya, setelah saya hitung kembali dan tagihan yang saya sampaikan tadi benar adanya" ulang mba kasir menjelaskan.


"Kenapa tak lo bayar semua sih? Semakin lo teriak, maka membuktikan kalau lo itu tak mampu" bisik Alex.


"Siapa bilang? Gue mampu" tandas Riska sewot.

__ADS_1


Dan disinilah mereka sekarang, di sebuah hotel bintang lima. Tapi beda lantai dengan klien Riska yang membookingnya.


Alex langsung aja memeluk Riska dari belakang.


"Tak sabar amat sih?" Seru Riska.


"Katanya lo mau buru-buru?" tukas Alex.


"Iya juga sih" ujar Riska senyum.


"Eh Lex, betewe lama juga kita tak melakukan ini" kata Riska dengan tangan mulai aktif.


"Nah, ini yang gue kangenin dari lo. Agresif" kata Alex full senyum.


Mereka berdua saling menikmati, hingga akhirnya Alex mencium bau menyengat sampai dirinya merasakan mual yang luar biasa.


Alex langsung lari ke toilet.


"Riska, lo kenapa jadi bau banget sih???" seru Alex. Sementara Riska menciumi bau badannya.


"Jelas saja bau, aku kan tak mandi semenjak masuk rumah sakit. Tajam juga penciuman kamu Lex" seru Riska.


Alex keluar kamar mandi dengan wajah pias.


"Inti tubuh kamu tuh bau banget. Buat ilfeel.aja sih" jelas Alex.


"Masak sih?" tanya Riska dan mencoba membaunya.


"Nggak ada, biasa aja" seru Riska setelah membau tubuhnya sendiri.


"Gue balik aja" tutur Alex beranjak. Nafsunya sudah hilang sekarang.


"Eh main balik aja, lo aneh Lex" seru Riska saat Alex pergi begitu saja dari kamar hotelnya. Riska nggak rugi, karena kamar ini sudah dilunasin sama Alex tadi saat check in.


Riska kali ini ikutan keluar kamar, untuk menuju kamar klien yang menunggunya.


Sudah diberi sakit, tapi kelakuan kamu tak ada yang berubah Riska.


.


Kasus yang melibatkan Mahendra pun dengan cepat bergulir di kejaksaan. Hanya menunggu berapa hari lagi untuk sidang.


Banyak bukti sudah cukup untuk menjerat Mahendra.


Beno yakin tak ada ampun lagi buat Mahendra sekarang.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2