Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Penyamaran (2)


__ADS_3

Anton, anak buah Beno kini sudah berhadapan dengan dokter Lee.


Meskipun tampan tapi tatapannya mengisyaratkan kebengisan luar biasa.


"Kamu Anton?" tanyanya dengan logat Indo yang sangat jelas.


"Betul dok" jawab Anton lugas.


"Oke, silahkan duduk" sapanya terdengar ramah.


Dokter Lee memeriksa wajah Anton yang memang ada jerawat. Jerawat yang suka nongol janjian, nongol satu maka yang lain pun ikutan.


"Wow, type jerawat kamu ini memang type jerawat bandel tuan. Bisa hilang meski tidak ditreatment, tapi pasti meninggalkan bekas" ujar dokter Lee ketika wajah mereka saling berhadapan dekat.


"Heeiiii, kenapa suara jantung kamu sampai kedengeran olehku" seru dokter Lee dengan tersenyum.


"Gugup. Tertalu dekat dengan dokter tampan seperti kamu" ucap Anton seolah memuji dokter di depannya.


Bagai mendapat makanan segar, dokter Lee pun memepet Anton. Semakin tak bisa bergeraklah si Anton.


"Apa yang kamu lakukan dok?" engap juga Anton dipepetin terus.


"Meriksa kamu, apalagi? Atau kamu ingin pelayanan yang lain?" ucapnya penuh tanda tanya.


"Periksa aja dok, sebal juga melihat muka dengan jerawat yang kerasan" kata Anton jengah.


"Oke, makanya diam aja" seru dokter Lee.


Tiba-tiba masuk seseorang dengan wajah yang tak kalah tampan dengan dokter Lee.


"Eh lo Mahen, apa kabar?" sapa dokter Lee ketika melihat pria yang baru datang.


"Panggil Rudi aja bos. Lo kan tahu nama panggilan gue yang sekarang" bilang laki-laki itu.


"Ha...ha....sampai lupa" ujarnya terbahak.


"Mana Andah, sama Dimas?" tanyanya seakan lupa kalau dirinya sedang nanganin seorang klien.


"Katanya sih, bentar lagi mau ke sini" bilang orang yang meminta dipanggil Rudi itu.


"Oke dech"


"Dok, bisa garing nih muka ditinggalin ngobrol mulu" seru Anton.


"Oke...oke...sori gue sengaja. Biar tuan Anton betah berlama-lama di sini" tukas dokter Lee.


"Lah, gue juga punya kesibukan dok" tukas Anton.


"Emang apa kesibukannya?" tanya dokter Lee.


"Biasa dok, kerjaan swasta. Kalau aku nggak rajin bisa-bisa aku dipecat" jelas Anton.


"Oke, kalau begitu aku akan lebih cepat" imbuh dokter Lee.


"Ikutan kerja di sini. Dan kerja lah sebagai asisten aku" kata dokter Lee sementara tangannya mentreatment muka Anton.


"Sori dok, bukannya tak mau. Tapi aku suka kerja di lapangan" tolak halus Anton.


"Oke lah. Aku pun tak bisa maksain" seru dokter Lee tak memaksa.


"Makasih dok" sela Anton.


Dan tak lama setelah orang yang bernama Rudi tadi datang, menyusul dua orang lagi yang datang menyusul.


Mereka dipanggil Andah dan Dimas oleh dokter Lee.


"Kalian duduk aja dulu di dalam".


"Setelah nge-treatment tuan Anton selesai, akan aku susulin kalian" suruh dokter Lee ke mereka berdua.


"Siap bos" tukas laki-laki yang tadi dipanggil Dimas.


Anton keluar setelah selesai membayar biaya treatment.


Saat keluar dari salon itu, Anton kaget saat tiba-tiba ada orang yang menariknya dari samping.


"Gimana tugas kamu?" serunya.


"Bentar lagi aku laporan, nggak sabar amat sih" gerutu Anton.


"Muka gue gimana bos?" sela Anton di antara keseriusan sang bos.

__ADS_1


"Iissshhh" Beno menjawab sebal.


"Ayo pergi. Mereka di dalam sedang ngumpul" ujar Anton sembari menyebut nama masing-masing yang ada di dalam.


Kali ini Beno nebeng dengan mobil Anton, dia nggak mau ketahuan seperti yang lalu-lalu saat dirinya memakai mobil Raditya yang berujung dengan dibuntuti.


"Kita ke rumah sakit aja, sekalian lapor bos besar" seru Beno kala keduanya berada dalam mobil.


"Eh bos. Serius nanya nih. Muka gue ada perubahan nggak sih?" kata Anton menyela.


"Apa sekalian nggak lo rubah aja hidung besar itu. Biar nggak ngabisin oksigen di dunia ini" olok Beno.


"Wah bos tahu aja sih mau gue. Modalin bos, kata mereka cuman butuh lima puluh juta doang" seru Anton menimpali.


"Lima puluh juta kamu bilang doang. Enak aja. Bisa nggak gajian setahun lo, mau potong gaji?" tandas Beno.


"Ogah" balas Anton.


"Oh ya bos, lima puluh juta tuh bagi mereka murah loh. Daripada langsung ke negara dokter Lee, biayanya sampai dua ratusan juta katanya" imbuh Anton.


"Mau lima puluh juta ataupun dua ratus juta nggak ngaruh sama gue" ulas Beno tak terpengaruh.


"Nyatanya mereka juga bisa gantiin wajah kita jadi super tampan loh" Anton semakin banyak cerita.


"Bos" panggil Anton.


Beno tak bergeming.


"Bos" Anton memanggil lagi.


"Apaan sih?" tutur Beno sebel.


"Di sana tadi ada tuan Rudi, Andah dan juga ada yang dipanggil Dimas. Sepertinya mereka mau rapat membicarakan sesuatu. Anehnya tuan Rudi itu awalnya dipanggil tuan Mahen" terus saja Anton bercerita meski tanggapan sang bos irit sekali.


"Lantas?" ucap Beno.


"The end, karena aku terus keluar dan membayar admin" lanjut Anton menutup cerita.


"Eh belum tuan, ada yang kelewat" sambung Anton.


"Apa?" ujar Beno.


"Mereka menawari bisa merubah identitas juga. Nggak tahu tuh caranya bagaimana" celoteh Anton.


"Oke, langsung ke rumah sakit aja. Kita temuin bos di sana" perintah Beno.


"Siap tuan" jawab Anton sambil melajukan mobil ke arah yang dimaksud Beno.


.


Sore hari Riska terbangun dari tidur yang lumayan panjang, karena ada yang mengetuk dari luar.


"Iya, bentar" jawab Riska sambil benahin rambutnya dengan mengucir kuda.


"Oh mommy" seru Riska saat pintu kamarnya terbuka.


"Masuk mom" suruh Riska.


"Malam ini, kamu berangkat seperti biasa. Ada kepala penyidik yang butuh kamu. Tempat di hotel yang jadi satu dengan mall besar di timur kota" jelas mommy.


"Siap mom" tukas Riska.


"Lakukan tugas kamu dengan baik. Dengar-dengar dia ada kelainan, makanya aku suruh kamu untuk menakhlukkan dia. Karena aku lihat pasti kamu mampu" entah memuji atau sengaja menaruh Riska di sarang penyamun.


"Okey mom, yang penting bonusnya bisa buat foya-foya" tukas Riska sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Sungguh mommy baik dech, pasti ikan paus yang selalu dikasihkan padaku. Makasih mommy" mulai dech ilmu menjilat Riska muncul.


"Bersiaplah. Setengah jam lagi anak buahnya akan menjemput" suruh Mommy.


"Okey mom" balas Riska.


Riska mulai menyiapkan diri, kala mommy telah keluar dari kamar.


Dan benar apa yang dibilang oleh mommy jika anak buah dari orang yang membutuhkan jasa Riska telah menjemputnya.


"Lumayanlah tak perlu order taksi online" ujar Riska saat masuk mobil yang tergolong mewah itu.


Dengan bersenandung kecil, Riska dibawa menjauhi lokasi rumah tinggal mommy.


Kedua orang yang membawa Riska tak banyak kata.

__ADS_1


Hanya memberikan kartu akses kepada Riska yang tertera nomor kamar yang dimaksud.


Saat Riska turun, mereka berdua melaju tanpa banyak kata.


"Pergerakan mereka rapi sekali" gumam Riska sambil melenggang menuju lift.


"Hasr4t aku juga butuh disalurin nih. Eh pas lagi butuh, ada yang nyariin. Pas dech" celoteh Riska saat sendirian dalam lift. Senyuman mengembang dari bibir Riska.


Sampai di depan pintu kamar, Riska tekan bel pintu. Sekali belum kebuka, kedua juga belum. Bahkan sampai kelima kalinya belum kebuka juga.


"Berarti belum ada orang di dalam" pikir Riska.


Riska gunakan kartu akses tadi, dan terbukalah pintu kamar yang ternyata memang kosong. Dan keadaan kamar masih rapi.


Riska lempar tas yang dia bawa. Sebuah paper bag telah disiapkan.


Riska raih dan ada secarik kertas ada di dalamnya.


"Pakailah, dan siapkan dirimu sebelum aku datang!" begitulah tulisannya.


Oleh Riska dia keluarkan, dan ternyata isinya adalah sebuah lingerie transparan.


"Wow, fantasinya luar biasa orang ini" Riska malah terbahak membayangkan dirinya memakai itu.


"Hhemmm sebaiknya aku pakai aja, sebelum dia datang. Memuaskan pelanggan apa salahnya" celoteh Riska.


Karena di kamar sendirian, dengan penuh percaya diri Riska lucuti bajunya hingga tak bersisa. Selanjutnya Riska pakai barang yang ada di paper bag.


Riska puas meliat siluet tubuhnya yang ramping itu. Bahkan kedua bukitnya mulai menegak sempurna menunggu musuh yang akan datang.


Riska baring di tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut menanti siapa yang akan datang nantinya.


Tak sampai setengah jam, terdengar pintu kamar terbuka dan Riska pun bersiap menyambut tamu yang dibilang oleh mommy.


Sedetik dua detik tak ada yang masuk.


"Loh pintunya kan sudah kebuka" gumam Riska.


Hendak beranjak tapi terlanjur sudah pakai baju begituan. Riska mencoba bangkit untuk meraih baju yang sebelumnya dia pakai.


Seorang laki-laki gagah setengah baya datang begitu saja masuk kamar Riska.


"Owh, anda kah yang membutuhkan jasa ku hari ini?" sambut Riska dengan genit.


"Hhemmmm" jawabnya dengan gumaman.


"Mau langsung atau mau ngajak ke mana dulu?" ujar Riska.


"Kamu sudah makan belum?" tanyanya dengan mata tak berkedip memandang tubuh Riska yang memang sengaja dibuat memancing hasr4t laki-laki itu.


"Makan dipikirin nanti aja, main aja yuukkk" mata genit Riska mulai bermain seakan memanggil laki-laki itu mendekat.


Lama tak dapat penyaluran, Riska bermain sangat agresif. Laki-laki itu malah dibuat tak berdaya oleh Riska.


Hingga dia limbung terkulai karena mendapatkan pelepasan beberapa kali.


'Huh, segitu saja tenaganya. Katanya punya kelainan?' sungut Riska dalam hati.


'Padahal aku juga ingin dipuasin' gerutu Riska.


Keduanya kini tertidur. Laki-laki itu tetap memeluk Riska dengan tubuh sama-sama polos.


Riska yang belum terpuaskan mulai menggoda, tapi nyatanya laki-laki itu malah mengeluarkan dengkuran dengan keras.


"Sshiiiittt...sial banget gue hari ini" gerutu Riska.


Sebuah ketukan pintu terdengar. Sebenarnya Riska malas untuk membuka. Tapi melihat laki-laki disampingnya tertidur pulas, membuat Riska mau tak mau bangkit dari ranjang dan memakai bajunya dengan cepat.


"Lagian siapa sih yang datang? Apa layanan kamar? Aku kan nggak pesan apa-apa?" Riska beranjak dengan mulut tak berhenti ngedumel.


Saat pintu terbuka, beberapa laki-laki berpakaian preman menghampiri.


"Nyonya Riska?" tanya mereka.


"Iya, saya Riska" jawab Riska.


"Ada apa ya?" tanya Riska kemudian.


"Anda ditangkap atas tuduhan prostitusi" seru orang yang paling depan.


Sementara yang lain meringsek masuk untuk mengamankan lokasi.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2