Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Kembali ke Rutinitas


__ADS_3

Sampai di mansion, bukannya ke kamar. Rania berniat langsung ke kamar si kembar.


"Yank, ganti baju dulu biar bersih" seru Raditya mengingatkan.


"Kan aku barusan mandi" ucap Rania.


"Iya, tapi ganti baju dulu. Barusan dari luar" jelas Raditya.


Rania mengikuti apa kata suaminya.


Seminggu tak bertemu dengan Celo dan Cio berasa setahun lama nya.


Dengan semangat Rania masuk ke kamar si kembar. Ternyata keduanya sedang bersama kedua Oma dan bu Marmi.


"Loh, sudah datang?" tanya mama Andrian.


"Iya Mah, barusan. Mereka berdua rewel nggak?" tanya Rania.


"Tuh" arah mata mama ke Celo dan Cio yang berada di ranjang.


Bahkan kedua bayi itu tiduran miring saling berhadapan.


"Idih, lucunya mereka" sorak Rania senang.


"Kamu belum melihat mereka kalau senyum, manisnyaaaaa..." seru bu Marmi.


"Iya kah?" tanya Rania tak percaya.


Dan sebentar kemudian Raditya ikutan menyusul ke kamar Celo dan Cio.


"Ya kan, kalau sudah ketemu mereka akhirnya lupa dengan suami" kata Raditya.


"He...he...maaf. Aku belum siapin baju ganti kamu" tutur Rania menimpali sembari tersenyum.


"Tuh Mah, aku mulai diduain" lapor Raditya ke arah mama Andrian.


"Mengalah sedikit napa? Seminggu kemarin Rania sudah kamu monopoli penuh kan?" tukas mama.


"Issshhh mama ini. Seminggu kemarin kan Celo dan Cio juga dimonopoli oleh kalian" imbuh Raditya bersungut.


Tapi kala melihat ekspresi Celo dan Cio yang sedang tersenyum membuat perhatian Raditya beralih ke mereka.


"Menggemaskan" seru Raditya dan langsung menciumi kedua bayi kembarnya membuat keduanya menangis seketika.


"Hello...kamu ini datang-datang sudah mengacau aja sih. Sana ke ruang kerja aja" kata mama menyuruh putranya.


"Loh, mereka anakku loh Mah" Raditya tak bergeming dan malah mengambil Celo untuk digendong.


"Mau di bawa ke mana?" tanya para Oma bersamaan.


"Ke ruang kerja dong" jawab Raditya tak menggubris para Oma yang masih berada di kamar kedua bayi itu.


Sementara Rania merengkuh Cio untuk digendong dan membawanya ke kamar.


"Loh...loh...kalian ini gimana sih?" sela ibu Rania.


"Papa sama bunda kangen sama Celo dan Cio" tukas Rania menjelaskan.


Dan setelahnya meninggalkan para Oma terbengong di kamar Celo dan Cio.


Rania menaruh Cio di tempat tidur dan ingin segera memberikan susu yang mulai terasa penuh.

__ADS_1


Ternyata Cio langsung melahapnya dengan kuat. Ternyata anakku tak lupa, setelah aku tinggal seminggu. Batin Rania senang.


Tak lama Celo pun nyusulin bunda bersama Dad.


Cio yang sudah tidur sekarang gantian Celo yang melahap milik Rania. Sementara Raditya memeluk Cio yang sudah terlelap.


"Kalian lah kebahagiaan aku sekarang" ucap Raditya memeluk sang istri dan kedua anaknya bersamaan. Meski nyatanya tangannya tak bisa mencapai semuanya dalam satu pelukan.


.


Di lapas, terjadi keributan. Mahendra membuat ulah dengan sesama warga binaan yang lain. Bahkan sesama staf yang dulunya satu perusahaan pun tak saling sapa dengan Mahendra.


Mereka merasa terkhianati oleh ulah Mahendra yang membuat mereka terbui tanpa kompensasi dari Dimas sang bos.


Warga binaan yang lain, diprovokasi oleh mereka untuk mengeroyok Mahendra. Tujuannya apa lagi selain membuat jera Mahendra.


Mahendra babak belur dihajar beberapa orang, bahkan mereka memfitnah Mahendra. Sehingga Mahendra ditempatkan di sel isolasi sekarang.


Tentu saja Mahendra tak terima dengan penghinaan mereka.


"Awas saja kalian" gerutu Mahendra sambil menendang tembok di sampingnya.


Dalam tiga hari ini Mahendra akan berada dalam ruang isolasi karena perbuatannya.


Seorang penjaga ruang isolasi menghampiri depan sel Mahendra dan melemparkan sebuah kertas melalui lobang kecil yang ada di pintu.


"Bacalah" suruh sipir itu.


Mahendra membuka lipatan kertas kecil itu.


"Hhhmmm apa maksudnya? Aku sengaja ditaruh di ruang isolasi? Jadi aku akan di pindah di lapas ibukota?" gumam Mahendra. Dia sandarkan kepala nya di dinding lapas yang dingin.


Mahendra tak mengira, perjalanan hidupnya akan demikian pahit setelah dia memutuskan untuk berpisah dengan Rania. Kehilangan putra semata wayang untuk selamanya, bahkan juga kehilangan seorang istri.


Mahendra menyesal, kenapa tak mendengarkan penjelasan Rania saat itu. Dan lebih percaya dengan tipuan Riska. Kembali dia meninju tembok demikian kerasnya dan kembali membuat gaduh.


"Hei...bisa diam nggak! Berisik" seru penghuni sel isolasi sebelah Mahendra.


"Aku janji, akan kurebut kembali Rania dari tangan Raditya" kata Mahendra sembari mengepalkan erat tangannya.


Di penjara ternyata tak membuat Mahendra sadar akan perbuatannya. Malah membuat dendam tak berkesudahan.


Dia akan bersiap, untuk dipindahkan dalam dua hari mendatang.


Dalam benak Mahendra, dia mengira jika semua ini ada kaitannya dengan tuan yang menemuinya kemarin. Tuan yang menjadi bos nya tuan Dimas.


Tapi sekilas Mahendra juga melihat Riska kemarin. "Hhmmm, apa aku salah lihat ya?" Batin Mahendra.


"Tapi kok dia tak menemui aku?" tanya Mahendra dalam benak.


"Awas saja kamu Riska. Akan kutendang kamu jika berani macam-macam sama aku" kembali Mahendra mengumpati Riska.


Ternyata Mahendra ragu jika kemarin yang dilihatnya adalah Riska.


.


Di apartemen yang ditinggali Riska, saat ini Riska menggelayut manja di tangan laki-laki setengah baya.


"Tuan, aku tadi ke mall. Tapi nggak jadi beli apapun" bilang Riska.


"Kenapa?" sela sang lelaki.

__ADS_1


"Abis aku tak kamu kasih tau PIN kartu yang kamu berikan tadi" jelas Riska.


"Sori, aku lupa sayang" serunya mulai berani memanggil sayang ke arah Riska. Riska yang mendapat panggilan itu pun berinisiatif untuk menyerang tuan xx.


Saat Riska mengulum sesuatu, terdengar lenguh4n laki-laki setangah baya. Dan membuat Riska semakin agresif.


Kala di tengah puncak nikmat, tiba-tiba ponselnya berdering. Dan langsung dia angkat, sementara Riska tetap melanjutkan aktivitasnya.


"Halo" sapa tuan Rahardian di tengah kenikmatan yang tiada tara.


"Tuan, kita sudah kerjakan sesuai apa yang anda perintahkan. Perusahaan rekanan Samudera Grub satu persatu mulai menarik diri dan menghentikan kerjasama dengan mereka. Tinggal selangkah lagi, kita bisa menghancurkan mereka" beritahu orang yang ternyata asisten tuan Rahardian.


"Perusahaan rekanan itu memutuskan hubungan karena mosi tak percaya. Ternyata orang-orang kita di Samudera lumayan bergerak cepat" imbuhnya.


"Hmmm baiklah. Mulai sekarang lanjutkan rencana kedua!" suruh tuan Rahardian kepada asistennya.


Sementara tangannya menahan kepala Riska untuk tetap berada di inti tubuhnya. Riska bergerak cepat dan tak lama terdengar erangan dari mulut tuan Rahardian.


"Makasih sayang" ucap nya puas.


"Sama-sama mas" jawab Riska dengan mengubah nama panggilan.


"Habis ini aku mau istirahat. Kalau kamu mau keluar, keluarlah. Minta antar aja sopir yang menunggu di bawah" kata laki-laki yang telah dipanggil mas oleh Riska.


"PIN nya mas?" tentu saja Riska tak lupa akan hal itu.


"Heeemmmmm..." laki-laki itu pun menyebutkan beberapa angka kombinasi sebagai pin di kartu yang diberikannya kepada Riska tadi.


"Oke, makasih mas" jawab Riska tentu saja dengan mencondongkan tubuh polosnya kembali mendekat untuk mencium bibir laki-laki yang menjadi sumber utama keuangannya kali ini.


Sementara tangan tuan Rahardian meremas buah kembar yang menggantung itu.


"Nakal" kata Riska sembari terkekeh.


.


Esok hari Raditya sudah dihadapkan agenda jadwal rapat dengan semua staf Samudera Grub.


Pagi-pagi buta tadi, Raditya sudah mendapatkan laporan dari Beno bahwa beberapa perusahaan rekanan Samudera menghentikan kerjasama secara tiba-tiba. Padahal proyek-proyek sedang berjalan separuh dan tak mungkin langsung mengganti dengan rekanan baru yang belum tentu kinerjanya baik.


"Sayang, aku mau berangkat nih" kata Raditya yang menyusul Rania yang pagi-pagi sudah berada di kamar Celo dan Cio setelah menyiapkan segala keperluan sang suami.


Bahkan Raditya masih menenteng dasi nya di tangan dan meminta kepada sang istri untuk memasangkannya.


"Nggak sarapan dulu kah?" tanya Rania.


"Iya lah. Tak mungkin aku melewatkannya" tukas Raditya.


Rania meninggalkan Celo dan Cio yang telah selesai mandi dan meminta suster untuk mengantarnya ke depan setelah minum susu.


Sementara Raditya sudah berada di meja makan terlebih dulu.


"Sayang, aku nanti akan pulang telat. Jadi nggak usah nungguin aku makan malam" jelas Raditya.


"Ada masalah di perusahaan?" tanya Rania.


"Biasalah, aku akan sibuk karena seminggu kemarin aku tak kerja" jelas Raditya sembari tertawa. Tak mungkin juga memberitahukan masalah perusahaan kepada sang istri. Raditya tak ingin membebani Rania dengan semuanya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2