Aku Yang Tersisih

Aku Yang Tersisih
Mulai Terkuak


__ADS_3

"Aku tak akan melakukannya" ujar mommy.


"Paling aku cuman dijadikan saksi. Bukan seperti kamu yang nyatanya keciduk di tempat kejadian" kata mommy sinis.


"Ha...ha...bukannya itu karena jebakan kamu mom? Dan aku akan bilang seperti itu ke penyidik. Biar mom langsung keciduk dan nggak diperbolehkan pulang lagi" tandas Siska.


"Wanita licik seperti kamu pantas mendapatkannya Riska" kata mommy sengit.


"Apa kamu punya bukti untuk menyeretku?" sela mommy dan membuat Riska terdiam.


"Hah? Nggak punya kan? Makanya jangan sombong kamu wahai Riska. Diatas langit masih ada langit" seru Mommy.


Mommy sengaja datang hari ini, selain untuk menemui Riska tentu saja ingin memberikan bukti tambahan kepada penyidik atas tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh Riska.


"Ingat! Banyak masalah yang kamu tinggalkan padaku. Jadi jangan harap kamu akan bebas begitu saja" ancam Mommy.


"Emang aku punya salah apa pada mommy?" sela Riska.


"Hah? Kamu nggak nyadar? Setelah apa yang kamu perbuat dan dengan santainya melibatkan aku dalam setiap kasus mu dengan para penyidik itu" terang mommy.


"Jadi hanya karena itu? Padahal semua hak mommy sudah aku berikan bahkan lebih" hardik Riska.


"Itu belum cukup Riska. Pasti dalam pikiran kamu ingin segera lepas dariku kan? Lantas kamu akan buka hal yang sama dengan apa yang aku lakukan" seru mommy.


"Bagaimana mommy tahu?" sela Riska.


"Tahu saja. Dari gerak gerik kamu aja aku bisa menilai" jelas mommy panjang lebar.


Para panyidik belum ada satupun yang datang untik mengkonfrontasi mereka.


"Harusnya mommy bangga dong punya anak buah seperti aku. Kita akan kerjasama bareng-bareng. Anggap saja seperti buka cabang" seru Riska.


"Bukannya keuntungan mommy akan lebih banyak. Benar bukan?" rayu Riska.


"Come on Mom, mommy sudah punya nama. Meski nantinya cabang akan aku buka di kota lain, dengan nama besar mommy pastinya pelanggan banyak yang akan datang. Pundi-pundi uang akan masuk kantong mommy" ujar Riska memprovokasi.


"Apa kamu kamu bisa jamin, prosentase sesuai pelanggan yang datang?" sela mommy.


"Yaelah Mom, kalau nggak percaya sama aku. Mommy bisa kan buat surat tertulis tentang perjanjian kerjasama di antara kita berdua. Jika aku menyalahi kontrak, tinggal mommy masukin aku ke penjara. Seperti ini" bilang Riska.


"Akan aku pikirkan" tandas mommy.


"Ayolah Mom, aku yakin kali ini aku ditangkap karena jebakan Mommy" seru Riska.


"Oke, akan aku cabut laporanku per hari ini" terang Mommy.


"Makasih Mom" tukas Riska dengan wajah riang.


Dan Riska pun dibebaskan hari ini. Berita tentang dugaan atas kegiatan asusila terselubung pasti akan hilang seiring berjalannya waktu.


.


Dimas datang ke mansion keluarga Rahardian. Mansion yang menjadi saksi tumbuhnya dia bersama Veronica di sana.


Dimas tersenyum simpul mengingat akan hal itu.


Veronica sengaja ingin menemui Dimas di mansion sang papa, karena rencananya untuk membalas dendam ke Alex suaminya yang telah tega menghabiskan harta sang papa selama ini.


Veronica juga baru tahu kemarin, jika papa nya baru saja rugi puluhan milyar karena turunnya saham Samudera grub yang membuat papa nya menjualnya ke ErDua.


Dan perusahaan yang dipegang Alex pun ternyata sudah dinyatakan kolaps. Tapi bagaimana papanya tidak tahu. Itu yang menjadi pertanyaan Vero.


Makanya Dimas dipanggil untuk membantunya mengusut tuntas dan juga mendepak Alex suami Veronica sekarang.


"Gimana Dim? Apa lo mau bantu gue?" tanya Vero menegaskan.


"Bukannya gue sedari dulu siap bantuin lo kapan saja?" tukas Dimas.


Vero tersenyum kecut.


"Mulai besok, rencana semua perusahaan akan aku ambil alih. Dan akan aku tunjuk kamu sebagai wakil direktur. Jadi tolong bantu aku" ulas Vero.

__ADS_1


"Heemmmm" Dimas hanya bergumam.


"Harusnya lo tahu Vero, hanya aku yang tulus padamu" imbuh Dimas.


"Cih, bukannya lo laiknya Alex yang hanya ingin harta peninggalan papa gue" sindir Vero.


"Tapi tetap saja gue lah yang lebih tulus mencintai lo" Dimas tetap saja ngotot.


"Ha...ha...tulus lo bilang? Kalau dibaliknya ada tendensi harta, apa itu yang dinamakan tulus?" Vero tersenyum getir.


"Hanya Raditya yang sebenarnya bisa ngimbangin gue, tapi nyatanya Raditya lebih memilih janda itu" lanjut Vero.


"Apa artinya itu, lo mencintai Raditya?" tegas Dimas yang baru tahu sekarang.


Setahu dirinya Vero mencintai Alex hingga mau hamil dengan Alex meski belum menikah.


"Hah, awalnya gue mendekat ke Alex karena segala perhatian gue untuk Raditya tak digubris sedikitpun. Hingga akhirnya kita berdua melakukan hal yang tak pantas sampai aku hamil" cerita Vero.


"Jadi lo ngedekatin Alex karena frustasi dengan Raditya. Kenapa lo nggak mepet ke gue aja sih waktu itu?" tanya Dimas penuh sesal.


"Waktu itu kan lo masih kuanggap saudara gue. Bahkan sampe sekarang" kata Vero.


"Jadi selama ini, lo nggak tahu kalau gue cinta sama lo?" tanya Dimas heran.


"Tau lah. Seperti yang gue bilang tadi, lo itu saudara gue Dim" tandas Vero.


"Lantas sejak kapan Om Rahardian tahu lo hamil?" tanya Dimas ikut penasaran.


"Papa tahu aku hamil, sesaat setelah Raditya memutuskan tali pertunangan nya denganku" lanjut Vero.


"Kamu tahu sendiri kan, gimana watak papa. Nama baik adalah segalanya. Meski untuk menjaga nama baik itu, selalu saja ada yang dikorbankan. Termasuk aku. Detik itu juga aku harus menikah dengan Alex. Alex mau menikah denganku asal papa memberinya sebuah perusahaan yang di atas namakan dirinya" panjang lebar Vero menceritakan yang sebenarnya kepada Dimas.


"Iya aku tahu itu" tanggap Dimas.


"Selama gue menikah, sepak terjang Alex tak luput dari pandangan. Bahkan jal4ng yang terlibat saat kematian papa, itu pun juga teman kencan suamiku" lajut Vero.


"Ha...ha...ternyata hidup lo pahit juga Vero" camda Dimas.


"Makanya bantu gue untuk mengurus perusahaan. Sudah cukup gue hidup foya-foya selama ini" kata Vero serius.


"Ha...ha...sifat matre kamu ternyata belum hilang Dim" olok Vero.


"Masih untung lo kuajakin ngurus perusahaan. Padahal sudah jadi rahasia umum kalau lo adalah buronan" tukas Vero.


Iya, status Dimas masih menjadi daftar pencarian orang sampai hari ini pada kasus penggelapan dana anak cabang perusahaan Samudera Grub.


"Gue tak akan tertangkap" tukas Dimas dengan penuh percaya diri.


"Bisa saja, kalau lo kulaporin penyidik maka lo akan langsung diciduk saat itu juga. Gue punya bukti siapa lo sebenarnya, maski muka lo sudah dipermak sedemikian rupa" terang Vero.


"Jadi ceritanya lo ngancam gue nih? Maksa gue untuk bantuin lo tanpa imbalan apapun?" tandas Dimas.


"Bisa dibilang seperti itu" Vero menimpali.


"Ha...ha...Dimas dikadalin nih" Dimas terbahak. Mau saja dimanfaatin Vero.


"Gimana? Mau nggak lo?" Vero menegaskan persetujuan Dimas.


"Oke, akan gue bantu. Tapi setidaknya beri kesempatan gue untuk dekat denganmu. Buka hati kamu untuk gue Vero" ujar Dimas.


"Pintar ngerayu juga lo Dim" Vero terbahak.


Senyum lebar Vero membuat Dimas senang.


"Setuju nggak lo, kalau nggak mau mendingan gue mundur aja. Daripada ngorbanin perasaan gue kedua kalinya" kata Dimas.


"Akan gue coba" tukas Vero serius kali ini.


"Deal?" Dimas mengacungkan kelingkingnya.


"Deal" Vero pun menautkan kelingkingnya di jari Dimas.

__ADS_1


"Besok temani gue ngajukan gugatan cerai" tegas Vero.


"Besok? Bahkan saat keluarga lo masih dalam suasana duka?" Dimas menegaskan dan Vero pun mengangguk tanpa ragu.


"Lebih baik sekarang daripada menunggu hal yang tak pasti" putus Vero.


"Kalau Alex tak setuju?" ujar Dimas dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Gue sudah punya bukti kuat untuk membuatnya setuju dengan gugatan yang akan gue ajukan" seru Vero.


"Hhhmmm terserah lo dech" Dimas pun beranjak untuk pergi meninggalkan rumah keluarga Rahardian.


"Hati-hati aja. Gue juga tahu sepak terjang lo Dim dengan orang macam Lee" ujar Vero tiba-tiba membuat Dimas menghentikan langkah nya.


"Lo kenal sama dokter Lee?" pertegas Dimas.


Dan Vero pun mengangguk.


"Sejak kapan?" tukas Dimas penasaran.


"Besok akan aku ceritakan. Dan dua orang yang lain, stop aja kerjasama lo dengan mereka. Tak ada untungnya bukan?" Vero masih saja menahan Dimas untuk bicara.


"Maksud lo dokter Andah dan Mahendra? Itu kerjasama sudah kuakhiri kemarin" beritahu Dimas.


"Oke, sip lah kalau begitu"


Dimas pun pergi dengan hati lebih gamblang sekarang.


.


Di rumah sakit, Rania sedang diperiksa oleh dokter kandungan yang merawatnya.


"Dok, kapan boleh pulang nih?" tanya Rania. Dirinya sudah mulai bosan dengan situasi rumah sakit.


"Hhhmmm, kalau di rumah bisa menjamin untuk bedrest total. Maka besok nyonya akan kuijinin pulang" kata dokter yang cantik itu.


"Di rumah ada putra kembar kami yang masih kecil dok" sela Raditya.


"Kalau begitu, nggak mungkin kan nyonya tega untuk tak menggendong mereka" canda sang dokter.


"Pasti itu dok" seru Raditya.


"Kan di rumah banyak yang bantuin sayang" sahut Rania.


"Begini saja nyonya, kalau sampai tiga hari ke depan anda sudah bebas dari flek dan nyeri perut maka akan aku ijinin pulang" saran dokter.


"Tiga hari lagi?" tanggap Rania bengong.


"Siap dok. Akan kita tunggu dengan sabar waktu tiga hari itu" sela Raditya penuh canda.


Kalau menunggu rapat dengan sang istri pasti berujung debat. Raditya ingin yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya.


Rania dibuat sewot oleh tanggapan Raditya barusan membuat dokter itu tertawa.


"Sabar nyonya. Tak ada seorang pasien pun yang betah berlama-lama di rumah sakit" ucap dokter itu untuk menyikapi keadaan.


"Terima kasih sarannya dok" Rania menimpali.


"Oh ya dok, apa obat penguat kehamilan yang diresepkan itu punya efek samping buat mengantuk?" tanya Rania sebelum sang dokter pergi.


Karena Rania merasa, jika habis minum obat itu tuh mata rasanya bagai kena lem G. Apalagi kalau diminum pagi hari. Lengket sekali...he..he...


"Benar, obat itu memang tujuannya merilekskan tubuh. Jadi mengantuk itu salah satu efek sampingnya" imbuh dokter itu memberikan penjelasan.


"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi nyonya, tuan?" tanyanya sebelum pergi untuk melakukan kunjungan pasien yang lain.


"Sementara sudah cukup dokter, terima kasih" kata Raditya.


"Yank" panggil Rania sepeninggal dokter itu pergi.


Hhhmmm, pasti ada yang maunya nih istriku. Batin Raditya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2