Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 102 ~ Dady and Sons


__ADS_3

Happy Readers 😘


.


.


.


.


Zheihan langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperhatikan siapapun. Sedangkan Mexty yang sedang main game di ruang tamu bersama Raka terlihat bingung. Begitu juga dengan Raka melihat aneh ke arah Zheihan.


“Ayah, ada apa dengan Papa?” tanya Mexty kebingungan.


“Ayah tidak tahu, sepertinya dia lagi kesal,” ujar Raka santai.


“Apa Mexty harus menelpon Mama?” tanya Mexty minta pendapat pada Raka.


“Coba saja kau telpon!” seru Raka.


“Tapi, Mexty lagi bermain,” sahut Mexty santai tanpa melihat ke arah Raka.


Raka yang mendengar penuturan dari bocah itu, ia pun langsung menoleh. “Astaga Mexty! Kau harus belajar jangan main game terus!” seru Raka. Lalu mengambil gadget dari tangan Mexty.


“Ayah kembalikan! Aku sedang Mabar bersama Auraf!” seru Mexty kesal dan cemberut.


“Siapa dia?” tanya Raka serius.


Tidak lama kemudian panggilan masuk di ponselnya Mexty. Mexty pun langsung mengangkat panggilan video tersebut. Di balik layar, tampaklah sosok gadis cantik nan imut sedang cemberut karena kesal.


“Mextii!” teriak gadis itu berhasil membuat Raka terkejut.


“Astaga, siapa lagi dia?" seru Raka kesal.


Mexty yang hanya diam dan menepuk jidatnya, bahkan ia melirik gadget alias Ipad-nya di tangan Raka.


“Mextii! Aku sedang berbicara denganmu! Kau bilang ingin menemaniku main, karena kau kalah taruhan! Kau dengar tidak?!” celoteh gadis kecil itu yang tidak lain adalah Auraf.

__ADS_1


“Tidak boleh!” seru Raka tiba-tiba membuat wajah Mexty cemberut.


“Kau dengar? Itu suara ayahku, dia tidak memperbolehkan aku main game sekarang,” Tutut Mexty padanya.


“Ayah? Apakah dia uncle yang sangat tampan itu?! Apakah aku boleh berbicara padanya?” cerocos Auraf tanpa henti.


“Ayah, Auraf ingin berbicara denganmu!” seru Mexty menyodorkan ponselnya pada Raka.


“Hai My Charming Uncle, apakah aku boleh meminjam adek Mexty untuk bermain?” tanya Auraf dengan penuh semangat.


Raka pun menghela nafas panjang, ingin rasanya ia mencubit pipi tembem gadis itu, tapi apalah daya jika ia tidak bisa bertemu dengannya langsung.


“Hai putri cantik, kau mau mendengarkan Uncle tidak?” tanya Raka lembut.


Dengan cepat Auraf pun mengangguk antusias. “Yes, Uncle!”


“Jadi, kalian tidak boleh bermain game lagi, mengerti tidak?” tanya Raka lembut.


“Iya mengerti, tapi Uncle tidak tahu satu hal,” ujar gadis itu dengan berani.


“Aku sudah berumur tujuh tahun, dan adek Mexty sudah enam tahun, tapi kita masih anak-anak, bukannya anak-anak itu hobinya bermain,” celoteh Auraf panjang lebar.


“Haishh dasar bocah, siapa yang mengajarimu seperti itu?”


“Eumm, dari televisi Uncle, kemarin malam aku menonton kontes lawak di televisi,” ujar Auraf cengengesan.


“Astaga, mulai sekarang tidak boleh banyak bermain mengerti?!”


“Siap komandan!” seru Auraf kegirangan.


“Adek Mexty!” panggil Auraf.


“Aku malas berbicara, hemm.” Mexty yang terlihat kesal, ia pun tidak mau melihat ke arah Raka yang ingin memberikan ponsel miliknya.


“Ahhh, Uncle ini semua gara-gara kau!” seru Auraf kesal dan marah.


What?! Kenapa jadi seperti ini?batin Raka kebingungan.

__ADS_1


***


“Halo, ada apa? Kenapa menelponku?” tanya seseorang dari seberang telepon.


“Kapan kau pulang?” tanyanya sedikit datar.


“Mungkin satu jam lagi, memangnya ada apa?” tanyanya lembut.


“Kenapa sangat lama? Aku sudah di rumah, apakah kau tidak bisa pulang sekarang?”


“Astaga Zheihan, ada apa denganmu? Ini masih jam tiga, bukannya kau di kantor?”


“Akhhh cepat pulang, aku merindukanmu, Raniaku sayang,” ucap Zheihan manja.


“Bagaimana aku pulang, aku masih ada urusan. Tidakkah kau menunggu satu jam lagi?” ujar Rania lembut.


“Tidak, sekarang kau harus pulang! Apakah urusanmu itu lebih penting dariku?!” seru Zheihan terdengar kesal.


“Baiklah, tunggu sepuluh menit aku pulang,” ucap Rania menyerah.


“Hemm.”


Zheihan pun memutuskan panggilannya, lalu memejamkan mata. Cukup lama ia menutup matanya, tidak lama terdengar samar-samar suara Mexty dari kejauhan.


Apakah bocah itu sudah kembali? tanya Zheihan pada dirinya sendiri.


Terpaksa ia pun bangun dan keluar dari kamar, setelah ia melihat dari lantai dua, baru ia bisa melihat Mexty dan Raka yang asik mengobrol satu salam lain. Ia pun langsung berjalan menuruni tangga.


“Kapan kalian datang?” tanya Zheihan santai, lalu duduk di sofa panjang.


“Sudah satu abad yang lalu,” sahut Mexty santai dan sembarang. Sedangkan Raka hanya bisa menahan tawanya.


Dasar bocah gak tahu diri! batin Raka menahan tawanya.


......TBC......


Like dan Komen sebelum lanjut 🥰 dan terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2