Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 81 ~ Kisah Kasih Di Masa Lalu Part 2


__ADS_3

Happy Reader 🤩


.


.


.


.


Hazna yang mendapati suaminya kembali, membuat ia langsung berhambur dalam pelukannya.


“Kakak! Syukurlah kalau kamu tidak jadi pergi ke luar negeri." ujarnya kegirangan dan terus memeluknya dengan erat, lalu mendongakkan kepalanya.


“Kakak capek yaa? Atau kesal karena tidak jadi pergi? Baiklah aku ada disini untuk menemanimu.” ujarnya terus memeluk pemuda itu dengan penuh kasih sayang.


“Tidak, aku tidak lelah, aku hanya ingin merindukan Istriku." ujarnya.


“Wah, Kakak benar-benar mencintaiku?” seru Hazna sedikit malu-malu.


Hazna, apa kamu benar-benar mencintainya? Tapi lihat nanti, aku akan membuatmu takluk padaku, batinnya.


"Tentu saja," ujarnya penuh dengan akting lalu menyambar bibir mungil Hazna dengan lembut.


Hazna merasa ada yang aneh dengan ciuman itu, karena ia merasa ada yang berbeda dengan ciuman yang seperti biasanya. Dengan perlahan ia melepaskan ciuman tersebut.


“Kenapa melepaskan ciumanku?" tanyanya sedikit kesal.


“Tidak apa-apa, aku hanya tidak mood untuk melakukannya." ujar Hazna sedikit berbohong.


“Baiklah, aku akan ke atas dulu." ucap pemuda itu.


Hazna pun mengangguk tanpa ada niatan untuk membalas ucapannya.


Kenapa aku merasa asing dengan Kak Cody? batinnya penuh pertanyaan.


****


Sedangkan pemuda yang tadi mengaku sebagai Cody, kini tersenyum puas dan berada di kamar Cody dan Hazna.


“Cody, selama ini aku bersembunyi darimu, tapi aku akan mengambilnya darimu hari ini.” ucapnya tersenyum sinis.


“Haish, kenapa semua orang memilihmu? Kenapa bukan aku? Akhhhh!" mengusap wajahnya dengan kasar.


“Aku sudah mempersiapkan hadiah yang tidak bisa kamu lupakan." ucapnya sekali lagi.


Tidak lama kemudian, pintu pun sudah terbuka dan menampakkan Hazna sedang membawa nampan yang berisi kopi dan cemilan.


“Kak Cody, ini aku buatkan kopi expreso kesukaanmu," ujar Hazna berusaha tersenyum.

__ADS_1


“Bisakah kamu ganti yang lain?" ucapnya sedikit dingin.


“Bukannya ini kopi kesukaan Kakak?" tanya Hazna lembut.


“Aku bilang buat lagi, ngerti gak sih?!" ujarnya penuh emosi.


“Kenapa Kakak jadi marah sama Hazna?" tanya Hazna lirih.


Pemuda itu menghampirinya dengan tatapan yang dingin, sehingga membuat Hazna merasa ketakutan.


“Baiklah, akan aku buatkan yang baru." ujar Hazna lalu berlari keluar kamar.


Hazna merasa hatinya tidak menentu, antara ingin berteriak dan menangis, karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Cody, yang tiba-tiba marah padanya.


Apakah dia benar-benar suamiku? batin Hazna.


Namun, ia mencoba untuk menenangkan pikirannya, agar ia bisa menjaga bayi kecilnya didalam tubuhnya.


Sayang, kamu harus kuat yaa, mungkin ayah lagu marah karena gagal tidak jadi berangkat, Hazna mengelus perut ratanya dengan lembut.


****


Berbeda dengan Cody Rhodes Sheifen yang mana diperjalanan, ada banyak segerombolan orang-orang kuat sedang mencegahnya. Sedangkan dirinya hanya bersama supir dan sekertarisnya.


“Maaf Tuan, saya tidak tahu kenapa ada banyak orang disini." ucap sang supir.


“Tenang Pak, mungkin mereka lagi ada acara." ucap Cody berusaha tenang.


“Bagaimana bisa seperti ini?" tanya Cody kebingungan.


“Sebentar, aku akan menelpon bawahan ku." ujar Tuan Cody.


“Tunggu, kenapa ponselku tidak ada?" ucap Tuan Cody heran.


“Apa Tuan yakin sudah membawa ponselnya?” tanya Pak supir.


“Haiden, berikan ponselmu!" ucap Tuan Cody panik, dan meminta sekertaris untuk meminjamkan ponselnya.


“Ini Tuan."


Dengan susah payah Cody menghubungi ponselnya sendiri, tetapi tidak ada satupun yang mengangkatnya. Kini ia merasa frustasi, karena ia memang tidak menyiapkan senjata apapun.


Sial. umpatnya kesal.


“Cepat keluar!" teriak salah satu dari mereka.


“Bagaimana Tuan?"


“Kalian tenang saja, kita hadapi mereka." ucap Cody berusaha tenang.

__ADS_1


Cody pun keluar dari dalam mobil untuk menghajar mereka satu persatu, tetapi tanpa sepengetahuan darinya, ada seseorang dari belakang telah menembakan peluru di punggungnya.


Dor


Dor


Dor


Secara bersamaan, tiga peluru mengenai tubuh Cody, yang pertama di punggungnya, yang kedua dan ketiga di bagian betis.


Hazna, tunggu aku kembali, batinnya sebelum pingsan.


Flashback Off (sudah cukup kan Flashback nya🙈)


****


Rania yang sudah menjemput Mexty bersamaan dengan Zheihan, kini mereka tengah duduk santai disebuah restoran, tetapi ada satu bocah yang ikut gabung dengan keluarga gaje tersebut, dia yang tidak lain adalah Auraf.


“Kapan kalian jadi akur?" tanya Rania lembut pada kedua bocah itu.


“Kemarin!" seru Auraf kegirangan, sedangkan Mexty diam karena malas meladeninya.


“Benarkah?" tanya Zheihan imut menimpalinya.


“Benar Paman, kemarin Paman Raka bilang, kalau Auraf sama Dedek Mexty tidak baikan, nanti kalau sudah besar akan berjodoh, begitu Paman." jelas Auraf dengan menunjukan ekspresi imutnya.


Rania dan Zheihan hanya bisa tersenyum sambil mengangguk mengerti.


“Memangnya kalau Dedek Auraf udah besar tidak mau menikah dengan anak Bibi?" tanya Rania sedikit menggoda Auraf dan Mexty.


“Uhh, Dedek tidak mau! Masa Auraf mau nikah sama Dedek cantik." celetuk Auraf cemberut.


“Aku tidak cantik!" protes Mexty.


“Hahaha, tapi kalau sudah besar nanti Adek Mexty bisa setampan Paman loh," ujar Zheihan sambil tersenyum pada Auraf.


“Benarkah Paman?" tanya Auraf kegirangan, lalu mendekatkan wajahnya untuk meneliti wajah Mexty secara intens.


“Jangan dekat-dekat!” seru Mexty kesal.


“Tapi dia cantik dan imut Paman." ujar Auraf kegirangan.


“Kau!"


“Mexty!" seru Rania dan Zheihan secara bersamaan.


“Baiklah, Mexty mengalah."


TBC

__ADS_1



(Cocok gak buat Visual Dedek Auraf 6 tahun? Author bingung 😭🤣)


__ADS_2