
...Happy Readers 😘...
Rania yang baru saja sampai di butik pikirannya masih kepikiran pada kotak misterius tadi pagi, ia penasaran dengan isi di dalamnya.
Ia menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa penasarannya, dan ia pun mencoba untuk fokus mengerjakan design yang ada di depannya.
“Permisi Bu,” suara seseorang dari balik pintu.
“Iya, silahkan!” ucap Rania sambil mengotak-atik kertas di hadapannya.
“Maaf Bu, hari ini ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda,” ujarnya lembut.
”Seseorang? Apakah dia suamiku?” tanya Rania penasaran.
“Bukan Bu, saya juga baru pertama kali melihatnya,” jelas karyawan tersebut.
“Oiya, dia perempuan atau laki-laki?”
“Perempuan Bu, kalau gak salah dia orang kantoran,” jelasnya sekali lagi.
“Baiklah, aku akan kesana," ujar Rania lalu merapikan kertas-kertas yang sempat berantakan di atas mejanya.
Setelah itu, Rania pun keluar dari ruangan menuju ruang pertemuan. Sesampainya di sana ia melihat sosok wanita muda yang sangat cantik dan seksi.
“Maaf nona, apakah anda mencariku?” tanya Rania lembut.
“Lama tidak berjumpa Rania,” ujarnya santai.
“Maaf, anda siapa? Kenapa bisa mengenaliku?” tanya Rania sedikit penasaran.
“Owh, ternyata Zheihan tidak memberitahumu, kalau kemarin aku bertemu dengannya,” tuturnya santai.
“Lalu untuk apa kau datang ke sini? Apakah kau berniat untuk merebut suamiku?” tanya Rania terlihat santai, bahkan ia terlihat tidak ada masalah dengan apa dikatakan olehnya.
__ADS_1
“Ternyata kau cukup pintar, aku kira kau wanita bodoh," cibirnya.
“Kenapa? Kau ingin merebutnya? Mohon maaf nona, kau tidak akan pernah berhasil,” sahut Rania santai, padahal ia ingin sekali menampar wajah cantiknya itu.
“Aku ke sini hanya ingin memberitahumu, kalau aku dan Zheihan tidak pernah putus, mengerti?!” ujar wanita itu.
“Aku tidak peduli dengan itu, karena dia sekarang sudah menjadi suamiku," jawab Rania sinis.
Rania, kamu tidak akan tahu apa yang akan aku lakukan, batinnya sinis.
“Kenapa diam? Kau ingin melawanku, Alvina?” ucap Rania berhasil membuat Alvina terkejut.
“Kau?!”
“Kenapa?”
Alvina berubah menjadi kesal, bahkan ia menghentakkan kakinya. Ia tidak menyangka jika Rania mengetahui namanya, padahal ia tidak memberitahunya. Alvina langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
***
Seperti hari biasanya di sekolah, Mexty tidak pernah akur dengan Auraf. Keduanya selalu mempermasalahkan hal kecil menjadi besar, seperti halnya hari ini.
“Auraf! Jangan mengambil punyaku!" seru Mexty kesal saat menyadari Auraf mengambil rotinya.
“Adek Mexty yang imut, tidak boleh kasar sama kakak ya?” ucap Auraf santai sambil memakan roti itu.
“Aku tidak imut!! Dasar gadis jelek wlewkkk!” seru Mexty kesal sembari menjulurkan lidahnya.
“Hei, kata Dady aku cantik, hemm,” celetuk Auraf kesal dan memoyongkan bibirnya.
“Kalian kenapa bertengkar lagi?” tanya seorang gadis cantik, dia yang tidak lain adalah Audira.
“Dia yang memulainya!” seru Auraf menunjuk Mexty.
__ADS_1
“Bukan aku!” teriak Mexty kesal.
“Baiklah, tidak ada yang salah, kalau begitu bersalaman,” ucap Audira lembut.
“Tapi aku tidak salah!” Mexty kesal.
“Aku kakaknya! Jadi dia yang harus minta maaf padaku!" ucap Auraf kesal.
Audira yang sudah tidak tahu harus berbuat apalagi, bahkan tiap hari ia menemukan dua anak itu selalu bertengkar.
“Kalau kalian tidak mau bersalaman, apa perlu Bu guru minta kalian berpelukan?” ucap Audira sambil tersenyum manis melihat kedua anak itu.
“Tidak! Aku tidak mau berpelukan dengan gadis jelek!” seru Mexty kesal.
Auraf yang merasa dapat tantangan kedua, ia sangat senang mengerjai orang, tentu saja ia langsung memeluk Mexty dalam hitungan detik.
"Benarkah adik kecil?” tanya Auraf terdengar mengerikan bagi Mexty.
“Lepaskan aku!” teriak Mexty seketika.
Sedangkan Audira hanya bisa menahan tawa melihat keduanya.
Kenapa mereka sangat lucu? batinnya.
“Anak pintar,” ujarnya sembari mengelus kepala Auraf dan Mexty secara bergantian.
Wajah Mexty berubah menjadi cemberut.
“Pokoknya aku tidak mau berteman denganmu!” seru Mexty kesal.
“Mexty, tidak boleh seperti itu,” ujar Audira.
Mulai lagi, batin Audira.
__ADS_1