Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 116 ~ Mexty Kesal


__ADS_3

Happy Readers🥰


***


Mexty duduk di sofa dengan tatapan kosong bahkan ia terlihat sangat kesal dan ingin berteriak. Tapi, ia tidak bisa melakukan apapun selain menunggu Rania dan Zheihan datang menjemputnya.


Berbeda dengan gadis kecil yang imut itu terus berada disamping Audira dan terus memperhatikannya.


“Bu guru, apakah aku boleh melakukannya?” tanya Auraf sambil mengedipkan matanya.


“Eumm, emangnya cantik yakin bisa melakukannya?”


Dengan antusias gadis itu langsung menganggukkan kepalanya. Audiera pun tersenyum lembut dan membiarkan gadis itu ikut membantunya.


Setelah satu jam kemudian mereka berdua berkutat dengan dapur, akhirnya selesai juga dan kini mereka sudah siap untuk menyantap makanan yang sudah terhidang.


“Paman, Mama sama Papa kapan kesini?" tanya Mexty mencairkan suasana yang hening.


Raihan pun menoleh sambil mengelus rambut Mexty. “Papa Zheihan, mungkin lagi banyak pekerjaan, jadi sabar lohh. Tidur di sini juga gak apa-apa kan?” tuturnya selembut mungkin agar Mexty tidak badmood.


“Benar tuh apa yang dibilang Paman Rai, Auraf saja tidak nangis,” ucap Auraf sambil menatap ke arah Mexty.


“Aku tidak ingin bicara padamu!" seru Mexty kesal, karena ia sudah tersiksa setiap kali bertemu Auraf. Apalagi hari ini ia sudah cukup tersiksa dan segera pergi.

__ADS_1


“Mexty, tidak boleh marah sama kakak,” ucap Raihan.


“Siapa suruh dia menyebalkan, rasanya aku ingin mengutuknya jadi batu!" seru Mexty sekali lagi kesal, sehingga ia tidak nafsu makan.


“Aku tidak melakukan apapun," sahut Auraf santai dan melanjutkan makan.


“Suliit,” batin Audira sambil menghela nafas. Sedangkan Raihan hanya memijat pelipisnya.


Sedetik kemudian suasana kembali hening hanya terdengar dentingan sendok yang sedang berperang dengan piring.


Dari kejauhan terdengar suara deruan mobil berhenti di depan rumah, tetapi mereka tidak menghiraukan sampai selesai makan.


“Mexty, apa kau di sini?" seru Rania saat membuka pintu.


“Hai, anak Mama kenapa?” tanya Rania penasaran.


“Huaaa Mama, Mexty ingin bertemu dengan Ayah sama Dady!" seru Mexty dengan cemberut.


Rania pun berjongkok di depan putra kesayangannya, sambil mengusap wajah tampan dan menggemaskan itu.


“Lain kali kita bertemu mereka ya? Sekarang Mexty cerita sama Mama, kenapa sedih?” ucapnya lembut.


“Aku tidak ingin bertemu nenek lampir lagi!” serunya sambil menoleh ke arah Auraf yang sudah duduk santai di sofa.

__ADS_1


Ya ampun nihh bocah lama-lama ku sleding aja yak, ku kira ada masalah huhh, ternyata lagi kesal. batin Rania berusaha untuk menahan tawa, padahal ia ingin sekali tertawa saat melihat putranya itu cemberut.


“Sudah tidak boleh kesal, seharusnya dedek sama kakak harus akur," ucapnya berusaha menenangkan Mexty.


“Tidak mauu, Mexty tidak mau memanggilnya kakak!”


“Hei sudahlah, cuman masalah sepele tidak usah kesal seperti itu, bukannya wajahmu itu emang cantik," cibir Raihan santai.


“Paman jelek! Mexty tidak cantik!" seru Mexty kesal dan langsung melepaskan sepatunya, lalu dilemparkan kepadanya.


“Kak Rania tidak ingin makan malam dulu?" tawar Audira disele-sela perdebatan.


“Boleh. Mexty jadi anak yang nurut yak, sudah tidak boleh emosi, apa sudah makan?”


Mexty hanya cemberut dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Baiklah ayo kita makan,” ajak Rania sambil menggendong Mexty ke ruang makan.


Auraf yang sudah menguap berkali-kali karena mengantuk, akhirnya ia tidak lagi menjaili Mexty karena sudah mengantuk dan tertidur begitu saja.


“Akhirnya nihh bocah sudah tidur, kalau tidak pasti cari gara-gara lagi,” ucap Raka sambil menggendong Auraf dan membawanya ke kamar.


See You Next Part 🥰

__ADS_1


__ADS_2