Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 114 ~ A Reason


__ADS_3

Happy Reading 🥰


.


.


.


Cantika menghentak kakinya karena kesal, ia mengikuti keinginan Alvina tapi ia merasa seperti budaknya. Ada rasa kesal dan jengkel di hatinya.


“Alvina, aku akan bersabar menghadapimu sebelum aku mendapatkan apa yang ku inginkan,” ucapnya sinis.


Ia pun meraih gelas yang berisi anggur dan meminumnya. Satu tegukan berhasil membuat ia merasa tenang, tentram dan berdamai dengan dirinya. Namun, ia tidak sadar bahwa dirinya masih berada di Bar. Perlahan tatapan matanya mulai buram setelah menghabiskan beberapa gelas anggur merah.


“Aku pusing, ahhh panas!” seru Cantika dan ingin melepaskan kemejanya.


Tiba-tiba ada seseorang pemuda datang dan menahannya.


“Hemmm, siapa kamu?” tanya Cantika dengan nada lirih.


“Ahh, aku salah satu waiters di Bar ini Nona,” ujar pemuda itu dengan spontan.


“Hemm.” Cantika pun tertidur.


Sedangkan pemuda itu terkejut dan berusaha untuk membangunkan Cantika, tetapi sampai berkali-kali ia mencoba untuk membangunkannya, hasilnya tetap sama.


“Nona, cepat bangun! Barnya udah mau ditutup,” ucap pemuda itu sambil menepuk-nepuk punggung Cantika.


“Ada apa?" tanya seseorang yang baru saja datang.


“Nona ini gak mau bangun, padahal sebentar lagi kita harus tutup," tutur pemuda itu padanya.


“Kamu antar dia pulang, aku yang akan mengurus Barnya,” ucap sang teman.

__ADS_1


“Kan kamu tahu sendiri kalau aku bawa motor, bukan mobil Ardan!” geramnya.


“Eumm, dia bawa mobil tidak?” tanya Ardan.


“Kayaknya sih iya, kenapa?"


“Kau antar dia saja, nanti aku jemput kamu bagaimana?”


“Boleh.”


***


Di pagi hari yang cerah, tidak seperti biasanya Zheihan berkutat di dapur sendirian tanpa Rania. Mexty yang melihat itu merasa heran karena itu adalah momen langka yang belum pernah ia liat.


“Papa!” seru Mexty mengejutkan Zheihan.


“Astaga Mexty! Bisa tidak jangan mengagetkan Papa seperti itu,” celoteh Zheihan sambil mengaduk sup yang dia bikin.


“Iya maaf, eumm kenapa Papa yang masak?” tanya Mexty lembut sambil celingak-celinguk.


“Mama sakit? Aku akan menghampirinya!” seru Mexty dan ingin melangkah ke arah kamar di mana Rania tidur, tapi Zheihan menahannya.


“Mau kemana?” tanya Zheihan dengan tatapan yang menakutkan.


“Mau lihat Mama,” sahut Mexty dengan lembut.


“Tidak boleh, kau bantu Papa masak saja, sudahlah kau mandi saja!” ucap Zheihan sambil menggendong Mexty ke kamarnya.


“Papa!!” seru Mexty kesal.


“Menurutlah, sebentar lagi kamu akan masuk asrama,” ujar Zheizhan tersenyum manis.


“Ahh Papa! Mexty tidak mau!”

__ADS_1


“Harus!”


“Hemmm.”


***


Seperti biasa Atika mulai menjalani kesehariannya dengan baik, meskipun pikiran dan hatinya sedang berusaha untuk tenang. Tetapi hatinya yang tidak bisa membuatnya berbohong bahwa ia sedang merindukan sosok yang selalu ada di setiap ia membutuhkannya.


Perpisahan tanpa ada kata pamit dan menyisakan rindu yang tidak pernah hilang di hatinya. Ingin marah dan egois untuk sekali saja agar orang itu tetap tinggal disisinya. Namun, semua jauh dari ekspektasi yang dia inginkan.


“Aku merindukan Paman, apakah Paman juga merindukan Atika?” batin Atika menahan diri agar tidak menangis.


“Kenapa lagi?” tanya seorang gadis cantik berkacamata.


“Aku merindukan Paman," sahut Atika lirik.


“Aku yakin Paman juga merindukanmu,” ujarnya dengan lembut.


“Tidak mungkin.”


“Apanya yang tidak mungkin, sudah jelas dia memperlakukan kamu seperti ratu," tuturnya.


“Lalu kenapa dia pergi?” tanya Atika sendu.


“Pasti ada alasannya," sahutnya lagi. “Tapi, kalau kamu percaya dia akan kembali, dia akan kembali suatu saat nanti,” sambungnya.


“Alasan?”


.....


TBC


See You Next Part🥰

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah mampir.


__ADS_2