
Happy Reader 🤩
.
.
.
Atika yang masih belum paham, ia sedikit bingung, karena Raka tidak pernah memberitahunya.
“Uh … aku kurang paham kak, sebentar aku telepon Paman dulu.” ujar Atika meraih ponsel iPhone yang di berikan oleh Raka. Dan menjauh dari meja resepsionis.
“Eh … nona tunggu …" ujar salah satu resepsionis lirih.
Atika pun sedikit menjauh dari resepsionis dan menelpon Raka.
“Paman! Aku sudah tiba di tempat Paman bekerja, tapi Kakak resepsionis bilang aku ingin bertemu dengan Pak Presdir, jadi aku tidak tahu, apa paman bisa ke lantai satu," tutur Atika panjang lebar.
“Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan turun sekarang.” ujar Raka dari seberang telepon.
“Okay,” seru Atika.
Tut
Panggilan pun berakhir, dan Atika pun menunggu di depan meja resepsionis.
“Kakak sudah lama kerja di sini?” tanya Atika sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
“Iya, kita bekerja hampir dua tahunan."
“Wah lama sekali Kak, apa kakak tidak mau menikah?” tanya Atika ceplas-ceplos tanpa ampun.
Ting
Pintu lift terbuka.
Atika pun menoleh dan mendapatkan sosok yang sangat tampan dan mempesona, meskipun penampilannya sudah tidak serapi tadi pagi, bahkan rambut Raka yang sedikit berantakan membuat dirinya semakin terpana.
Wah paman sangat tampan, batin Atika.
“Pamaaaaaaaaaan …," seru Atika kegirangan, dan berlari lalu memeluk erat tubuh Raka.
Deg.
Jantung Raka mulai berdetak kencang, mendapatkan perlakuan seperti itu dari Atika, bahkan ia merasa, bahwa Atika seperti sedang merindukannya.
Tanpa ragu-ragu ia pun membalas pelukannya dan semakin erat. Kemudian ia pun melepaskan pelukannya dan sedikit membungkuk agar sejajar dengan wajah Atika.
“Apa kamu lapar?” tanya Raka sambil mengelus rambut Atika dengan lembut.
__ADS_1
Atika pun mengangguk kegirangan, karena ia sangat senang mendapatkan perhatian khusus dari Raka.
“Baiklah, ayo ikut denganku.” ajak Raka pada Atika, lalu masuk ke dalam lift.
“Lain kali kalau mau kesini jangan memelukku sembarangan!” geram Raka menjewer telinga Atika.
Atika yang awalnya mengira bahwa perlakuan Raka tadi sangat romantis, tapi siapa sangka jika sekarang ia mendapatkan perlakuan sebaliknya.
“Huaaa … Paman, sakit huhuhu … Atika janji tidak akan melakukannya, jadi tolong lepaskan tangan Paman dari telingaku.” seru Atika memohon, agar Raka melepaskannya.
Ting
Pintu lift pun terbuka, dan Raka masih tidak mau melepaskan tangannya dari telinga.
“Paman lepaskan!" seru Atika merintih kesakitan.
“Itu hukuman untukmu.” ujar Raka santai.
“Permisi Pak," seru seseorang, Raka pun menoleh, “ada dokumen yang harus anda tanda tangan.”
“Baik, kamu antar saja nanti keruangan ku.”
“Baik Pak." ujarnya lalu pergi.
“Paman tidak boleh melirik wanita itu!” seru Atika kesal.
“Hah?? Apa maksudmu?” tanya Raka bingung.
“Haish … dasar bocah!” seru Raka. Lalu membuka pintu ruangannya.
“Paman tunggu!" seru Atika.
Raka pun menoleh.
“Apa lagi?” tanya Raka semakin pasrah.
Tanpa aba-aba dan basa basi, Atika mendekatkan diri pada Raka, lalu …
Cup
Dengan penuh tekad dan keberanian, Atika mengecup singkat bibir Raka.
Raka masih terkejut dan membeku.
Aku di cium oleh bocah? batin Raka.
******
“Papa!!! Mama!!” suara cemprengnya sampai terdengar diseluruh vila. Dan dia yang tidak lain adalah Mexty.
__ADS_1
Zheihan yang awalnya ingin mencium Rania sebelum ketahuan oleh Mexty. Namun saat ia hendak menciumnya dan kurang satu centi, suara cempreng itu menggangunya, meskipun orangnya masih belum menampakkan wajahnya. Lagi dan lagi usahanya gagal total.
“Papa!! Mexty sudah siap!” seru Mexty, dan kini sudah sampai di pintu kamar.
Zheihan pun menghela nafas panjang, lalu menghembuskan kembali.
“Sayang, aku harap kamu bisa menahannya," ujar Rania sambil menepuk pundak Zheihan, menandakan ikut prihatin.
“Papa!! Mexty pengen gendong!” seru Mexty dengan wajah imutnya yang terlihat sangat manja.
“Baiklah sayangku Mexty,” ujar Zheihan geram.
“Papa gak boleh marah loh ... Cup.” ujar Mexty sambil mencium pipi kanan Zheihan.
“Mama juga mau dong!” seru Rania.
“Cup ..., sudah.” ujar Mexty kegirangan.
“Kenapa anak Papa hari ini sangat manja?” tanya Zheihan sedikit curiga.
“Papa janji tidak marah?” ujar Mexty sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
“Iya Papa janji.” ujar Zheihan pasrah.
“Ini, Mexty tadi tidak sengaja menjatuhkannya.” ujar Mexty lirih, sambil menunjukkan jam tangannya berwarna silver sudah hancur lebur.
“Mex ...,”
“Papa janji sudah tidak marah padaku.” ujar Mexty lirih dan membuat wajahnya seimut mungkin.
“Sudahlah Zhei, jangan marah, nanti kita beli lagi.” ujar Rania mencoba menenangkan Zheihan.
“Tapi itu hadiah pertama kali dari kamu sayang.” ujar Zheihan sedikit tidak rela.
“Apa Papa lebih mementingkan jam tangan daripada Mexty?” ucap Mexty sedikit sendu.
“Tidak sayangku, Mexty lebih berharga buat Papa, asalkan Mexty jadi anak yang rajin.” ujar Zheihan sambil mencubit pipi tembem Mexty.
“Papa!” seru Mexty.
“Kita jadi berangkat atau mau tidur saja?” celetuk Rania.
“Lets go!” seru Mexty dan Zheihan bersamaan.
TBC
Like, like, like,like,like,like, like,like,like,like,like,like
Komen,komen,komen,komen,
__ADS_1
komen,komen,komen,komen,komen
Please bantu like yaa🙏🙏🙏*