Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 96 ~ Janji, kecuali Khilaf


__ADS_3

Happy Readers 😘


.


.


.


.


Zheihan yang merasa kerjaannya semakin banyak, bahkan banyak pengajuan kerjasama dengan perusahaan ternama. Namun, satu hal yang membuat ia enggan menerima tawaran itu, karena pemilik perusahaannya adalah mantan kekasihnya.


Apakah aku harus menolaknya? Tapi, ini adalah sebuah bisnis, sedangkan hubunganku dan dia hanyalah sekedar masa lalu yang bersifat pribadi, apakah aku harus meminta pendapat dari Rania? batin Zheihan kebingungan.


Tidak lama kemudian ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.


“Maaf Tuan, ini adalah dokumen yang anda minta,” ujarnya lembut sambil meletakkan dokumen tersebut.


“Iya, kalau begitu kau boleh keluar,” ujar Zheihan sedikit dingin.


“Baik Tuan.”


Zheihan pun memejamkan matanya, berusaha untuk menenangkan pikirannya. Bahkan ia belum sempat makan siang karena pikirannya yang sedang kacau.


***


Semua orang akan merasa lelah setelah sepanjang hari bekerja, sama halnya Rania yang baru saja tiba di rumahnya.


Huhh Rania menghela nafas panjang.


Untung saja aku meminta Raihan menjemput Mexty, kalau tidak, anak itu akan mengoceh, batin Rania lega.


Rania yang masih lelah dan berusaha menenangkan diri terlebih dahulu, tiba-tiba ia teringat pada kotak yang tadi pagi. Lalu, ia menoleh ke arah meja di dekat televisi, ia bisa melihat kotak itu masih ada dan tetap berada di posisi. Kemudian ia pun bangun dan mengambil kotak tersebut.


Perlahan ia membuka kotak itu dengan perasaan yang aneh, tidak tahu apa yang ada di dalamnya, tapi ia merasa kalau itu adalah sesuatu yang buruk.


Sontak Rania terkejut saat melihat isi dari kotak itu, yang mana di sana ada sebuah boneka tertusuk paku, wajahnya yang di penuhi oleh darah, bahkan kaki dan tangan tidak menyatu dengan tubuhnya.


Braakk


Rania memukul meja dengan keras, senyum sinis terlihat jelas di bibirnya, tatapan yang lembut berubah menjadi sinis.

__ADS_1


Teror, apakah dia ingin bermain-main dengan Rania? batinnya.


Rania pun langsung membungkus boneka itu kembali masuk dalam kontak, lalu ia berjalan keluar dan membuangnya.


Hah, baru kali ini aku ketemu orang yang ingin meneror kehidupanku, lihat saja nanti akibatnya, umpat Rania kesal.


Rania yang masih memikirkan cara untuk menemukan siapa yang mengirim kotak itu, sampai ia tidak menyadari bahwa Zheihan sudah tiba sedari tadi dan memperhatikannya.


“Sayang, apa yang kamu lakukan di luar?” tanya Zheihan berjalan mendekati Rania.


Zheihan merasa ada yang aneh dengan Rania, karena tidak menjawab pertanyaannya.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Zheihan sekali lagi sambil menepuk pundak Rania.


“Akhh, astaga Zheihan! Bikin aku kaget saja,” ujar Rania terkejut.


“Aku dari tadi panggil kamu gak di respon,” ucap Zheihan menghela nafas panjang.


“Iyakah?” tanya Rania.


”Iya sayangku," ujar Zheihan mencium singkat bibir Rania.


“Kau! Ini di luar, bagaimana jika ada tetangga yang lihat?!” seru Rania celingak-celinguk.


“Zheihan!” geram.


“Panggil Dady saja,” pinta Zheihan.


“Huuh, Dady yang ganteng, aku juga belum mandi, jadi harus sabar dulu ya, aku mau mandi terus masak,” tutur Rania lembut sambil mengalungkan tangannya di leher Zheihan. Tidak peduli sudah berapa orang yang lewat di depan rumahnya.


“Kalau begitu kita mandi bareng saja.”


Zheihan pun langsung menggendong tubuh Rania tanpa meminta persetujuan darinya lebih dulu. Lalu membawa Rania masuk ke dalam rumah, tidak lupa ia menutup pintunya.


“Akhh Dady cepat turunkan aku!” seru Rania.


“Tidak, kita mandi sambil bermain,” ujarnya sambil mengedipkan matanya.


“Apa?!” Rania terkejut.


“Apalagi, kita mandi sambil bermain, mumpung si bocah tidak ada di sini,” ucap Zheihan santai sambil menurunkan Rania di dalam kamar.

__ADS_1


“Tidak, aku mau mandi sendiri!” ujar Rania mengambil handuk.


Greeb


Zheihan memeluknya dari belakang sambil mencium punggungnya yang mulus.


“Sayang, sekali saja,” bisiknya membuat Rania merinding.


“Tidak mmmph ...," ucapan Rania terputus gara-gara Zheihan menciumnya begitu saja.


Zheihan tidak peduli dengan Rania yang berkali-kali mendorong tubuhnya, bahkan ia semakin gencar melakukan aktivitas. Tangan yang ia gunakan untuk memeluk tubuh Rania kini berpindah ke gunung Fuji.


Rania yang sudah tidak bisa menahannya lagi, sehingga ia pun terhanyut dalam permainan itu. Bahkan suara erangan kini memenuhi ruangan itu.


Satu jam kemudian, keduanya saling berpelukan tanpa mengenakan sehelai benang pun, sesekali Zheihan mencium kening Rania dengan lembut.


“Terima kasih sayang," ujar Rania.


“Tapi punya Rania masih sakit,” ucap Rania malu-malu.


“Bagaimana kalau kita melakukannya sekali lagi?”


“Tidak! Apa kau sudah gila, milikku masih sakit tahu!" Rania kesal dan cemberut.


“Katanya kalau sering melakukan itu, tidak akan sakit. Makanya tiap hari kita buat Dedek bayi ya?” ucap Zheihan santai tanpa dosa.


“Zheihan!” seru Rania.


“Hahaha, kau sangat lucu kalau lagi marah,” ujarnya sambil mencubit pipinya.


“Hemmm.”


“Mau mandi bersama?”


Rania menatap dingin.


“Aku janji tidak melakukan apapun.”


“Janji?”


“Janji,” ucap Zheihan santai.

__ADS_1


Janji, kecuali khilaf, batin Zheihan.


__ADS_2