
Happy Reader 🤩
.
.
.
.
“Paman, besok Atika boleh sekolah lagi kan?" tanya Atika pada Raka yang sedang berkutat dengan komputernya.
“Terserah kamu, kalau kamu merasa baikan, jadi kamu boleh sekolah." ujar Raka tanpa menoleh sedikitpun pada Atika.
“Apa Paman sangat sibuk?" tanya Atika lirih dan cemberut.
Raka yang mendengar hal itu, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian ia menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Atika.
“Aku sedang bekerja, jadi kamu harus mengerti, apa kamu membutuhkan sesuatu?" ujar Raka lembut.
“Apakah pekerjaan Paman sangat penting, sampai malam-malam begini masih bekerja." celetuk Atika turun dari atas kasur.
”Iya, jadi kalau kamu butuh sesuatu nanti saja." ujar Raka lembut lalu kembali fokus pada komputernya.
Greebb
Atika memeluk leher Raka dari belakang, sehingga membuat Raka terkejut.
“Paman, itu apa? Kenapa Atika tidak paham?" ujar Atika cemberut saat menatap layar komputer yang digunakan oleh Raka.
“Hei! Bisa lepaskan tanganmu dulu, leherku terasa tercekik!" seru Raka menahan nafasnya.
“Akhhh, maaf Paman, Atika tidak sengaja." seru Atika cengengesan.
“Sudahlah, cepat tidur! Ini sudah jam sepuluh malam." ujar Raka lembut.
“Tidak mau! Atika mau tidur kalau Paman juga tidur." ujar Atika sedikit manja.
Raka yang mendengar hal itu, ia pun membuka kacamatanya, lalu berdiri dan menghadap Atika.
“Aku masih lama, jadi kau harus tidur duluan." ujar Raka sambil mencubit pipi tembem Atika.
“Atika mau tidur sama Paman!" seru Atika berhambur ke dalam pelukannya.
Astaga, bocah ini! batin Raka kesal. Tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
“Atika pliss, kamu itu bukan anak kecil lagi, dan beberapa bulan ke depan kamu akan lulus, jadi ..., tolong jaga sikap kamu hem?" ujar Raka lembut untuk menasehati Atika.
“Tapi Atika sayang sama Paman!" ucap Atika cemberut.
__ADS_1
“Paman tau, tapi kamu harus fokus sama ujian kamu. Kalau kamu ingin menjadi dewasa, kamu harus ubah sikap kamu, mengerti?" tanya Raka lembut sambil mengelus rambut Atika.
“Kalau Atika nurut sama Paman, Paman sayang gak sama Atika?" tanya Atika polos.
“Iya kok, Paman sayang sama Atika." ujar Raka lembut.
“Kalau begitu peluk!" ujar Atika merentangkan kedua tangannya.
“Kemari!" Raka pun menarik Atika ke dalam pelukannya.
Maafkan Paman, karena Paman tahu, perjalananmu masih panjang, jadi aku tidak ingin membuatmu jatuh dalam cinta ini, walaupun hatiku mulai menyayangimu, dan tidak ingin kau pergi, tapi biarkan waktu ini aku alami untuk saat ini, batin Raka memeluk Atika dengan erat dan mengecup puncak kepalanya.
****
Keesokan harinya, Rania mengantar Mexty ke sekolah sendirian, meskipun pada awalnya sangat susah untuk membujuk Mexty yang tidak mau sekolah. Dan kini ia mencoba untuk menenangkan Mexty.
“Hai Bibi! Hai juga cantik!” seru seseorang dengan suara imutnya.
Rania yang mendengar suara itu, ia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat milik siapa suara itu.
“Hai sayang, dengan siapa kamu berangkat ke sekolah?" tanya Rania lembut pada gadis kecil itu.
“Sama Momy!" ujar gadis itu menunjuk seseorang yang sedang membelakanginya dan mungkin dia mengambil sesuatu untuk putri kecilnya.
“Sayang, kamu menjatuhkan ini.” ujar wanita itu.
“Kak Aisy!" seru Rania.
“Aku baik-baik saja Kak, ternyata Auraf cantik mirip denganmu.” ujar Rania perlahan melepaskan pelukannya.
“Momy! Itu dia yang aku ceritakan! Dia yang udah bikin Auraf jatuh!" celoteh gadis itu.
“Tidak Aunty! Dia yang mendorong Mexty duluan!” protes Mexty tidak terima.
“Sayang minta maaf sama Kakak," ujar Rania lembut.
“Dia yang salah Mah!" seru Mexty tidak terima.
“Auraf! Momy gak pernah mengajarinya loh." ujar Aisy lembut.
“Tapi Dady sering memukul Momy." ujar Auraf polos.
“Kalau begitu kalian saling minta maaf." ujar Aisy lembut.
“TIDAK MAU!” teriak keduanya secara bersamaan.
“Haish, kita harus gimana nih Kak? Anak-anak gak mau akur.” ujar Rania meminta saran pada Aisy.
“Aku juga tidak mengerti, andaikan suamiku ikut, mungkin Auraf tidak seperti ini." ujar Aisy merasa frustasi.
__ADS_1
Keduanya yang sedang berdiskusi untuk membuat mereka akur, akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa keduanya sedang berkelahi dan saling menjambak.
“Dasar jelek!”
“Dasar banci!"
“Astaga kalian!!” teriak Rania dan Aisy secara bersamaan saat menyadari bahwa keduanya saling berantem.
Aisy menarik tubuh mungil Auraf, dan begitu juga dengan Rania.
“Dasar nakal!" seru Rania mencubit pipi tembem Mexty.
“Dia yang mulai! Bukan Mexty!" protes Mexty kesal, dan menyilangkan tangannya.
“Auraf!! Kamu sebagai Kakak harus baik padanya, dia adikmu." ujar Aisy lembut.
“Kenapa aku harus memanggilnya adik?" tanya Auraf cemberut.
“Kan kamu lebih tua dari Mexty sayang.”
Mendengar hal itu, Auraf pun tersenyum kegirangan, sedangkan Mexty yang melihat senyuman itu, merasa ada yang aneh.
“Baiklah, aku akan menjadi Kakak yang baik untuknya!" seru Auraf kegirangan lalu berlari merangkul leher Mexty masuk ke dalam sekolah.
“Maaf ya kak, Mexty memang seperti itu." ujar Rania merasa tidak enak.
“Santai aja, mereka masih kecil, apalagi Auraf yang jahilnya minta ampun." ujar Aisy menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana kalau Kakak mampir di butik ku?” ajak Rania lembut.
“Boleh. Tapi sebelum itu, kamu harus ikut aku ke restoran, karena Livia memintaku untuk menemuinya." tutur Aisy lembut.
“Okay."
****
**Seoul, South Korea
Prang!
Braakkk!
Dor!
“AKHHHH!!” teriaknya penuh frustasi bahkan cermin dihadapannya hancur karena hantaman darinya.
“Zhaif hentikan! Jika seperti ini terus, itu akan merusak mental mu!" teriak seseorang dari arah pintu.
Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk temannya itu, karena kali ini ia terlihat seperti monster yang menakutkan. Sikap dingin dan kejamnya telah kembali, entah apa yang membuatnya seperti itu, tidak ada yang tahu kecuali dirinya.
__ADS_1
TBC
Masih mau dilanjut gak? Eventnya udah berakhir loh?🤣🤣**