Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 109 ~ Sikap Jail Auraf


__ADS_3

Happy Readers 🥰


.


.


.


Malam mulai menyelimuti kota Jakarta, lampu-lampu mulai bersinar diantara gelapnya malam dan menjadi sang pijar bagi pada penghuni bumi.


Namun, disuatu ruangan yang gelap hanya terdapat lilin kecil menyinari ruangan tersebut. Dan di sana terdapat sosok wanita cantik dan tersenyum sinis menatap selembar foto di tangannya.


“Rania, kamu akan mendapatkan semua pembalasan dariku,” ucapnya sinis.


Berkali-kali ia menatap foto Rania dengan rasa kebencian, bahkan ia ingin sekali membunuh Rania meskipun ia hanya melihat fotonya.


“Rania, aku baru bertindak, dan secara perlahan kamu akan kalah,” ucapnya penuh dengan percaya diri.


Kemudian ia mengambil segelas wine lalu meneguknya. Sampai ia dikejutkan oleh sebuah panggilan dari lauar ponselnya. Dengan cepat ia pun mengangkat panggilan tersebut.


“Aku sudah mengikuti sesuai yang kamu rencanakan,” ucapnya dari seberang telepon.


“Bagus.” ucapnya tersenyum saktaris. “Oiya, kamu tidak boleh lengah sedikit pun dalam misi kali ini,” ucapnya dingin.


“Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah gagal dalam menjalankan misi,” ucapnya dengan bangga.


“Okay, aku percaya kamu.” Wanita itu langsung memutuskan panggilannya.

__ADS_1


***


Atika yang merasa kesepian karena ia merindukan sosok seorang Raka. Pemuda yang berhasil memikat hatinya, tetapi sampai sekarang ia belum mendapatkan pesan sedikit pun sejak Raka berpamitan pergi.


Paman, kenapa paman tega meninggalkan Atika di sini? Paman, Atika kangen. Tidak bisakah kau memberi kabar padaku? Paman, hikss ..., batin Atika dalam isakannya.


Jika hati sedang merindukan sosok yang dicintainya, maka ia akan terlihat lemah, begitulah Atika yang sekarang, ia ingin sekali memeluk tubuh kekarnya, yang selalu memberikan kehangatan baginya.


“Nak, ayo makan!” ajak seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Dengan rasa malas, Atika pun duduk dari tidurnya. “Bunda, Atika tidak ingin makan,” jawabnya lirih.


“Tapi Nak, kamu sudah setengah hari tidak makan, tadi pagi saja kamu cuman makan roti," tutur Sang Bunda lembut.


“Bunda, Atika tidak lapar, hanya saja Atika ingin bertemu dengan Paman Raka," ucapnya lirih sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup menahan rasa rindunya.


“Nak, Raka sudah pergi meninggalkanmu, jadi itu artinya dia tidak suka padamu,” tutur Sang Bunda berbohong.


“Enggak! Bunda bohong! Paman sudah berjanji pada Atika, bahwa ia akan menikahi Atika," Atika sudah tidak sanggup menahan rasa ini dalam hatinya.


“Nak, Bunda tidak ingin melihat putri Bunda yang cantik jadi sedih. Oiya, ayah sudah mendaftarkan kamu di Universitas Al-Azhar,” ucap Sang bunda lembut sembari membelai rambut Atika.


“Apa?!” Atika terkejut bukan main.


***


“Papa! Mexty ingin minum!” seru Mexty sambil cemberut.

__ADS_1


“Adek Mexty yang imut, kalau ngomong sama Uncle tuh yang sopan, jangan teriak-teriak,” celetuk Auraf.


“Aku tidak bicara denganmu!” seru Mexty kesal.


“Sayang, gak boleh gitu loh,” ujar Rania mengambilkan air minum untuk Mexty.


Mexty pun terdiam karena ia harus meneguk air. Sedangkan gadis kecil nan jail terus menatap wajah tampan Mexty.


“Aunty, apakah aku boleh tidur dengan adek Mexty?” tanya gadis itu dengan polosnya.


Uhuuk, ukhuuk, ukhuukk. Mexty tersedak saat mendengar ucapan Auraf.


“Boleh kok, kenapa tidak boleh,” ucap Rania lembut.


“Mama! Aku tidak mau tidur dengannya!” seru Mexty cemberut.


“Lah, kenapa tidak boleh?” tanya Auraf polos.


“Aku tidak ingin tidur bersama anak perempuan,” renggek Mexty pada Rania. “Papa!” teriak Mexty memanggil Zheihan yang entah ke mana.


“Sayang, Papa lagi kerja," ucap Rania lembut.


“Tidur bersamaku yaak?” seru Auraf sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Nooo!” seru Mexty.


...TBC...

__ADS_1


...Like dan Komen...


__ADS_2