
Happy Reader 🤩
.
.
.
.
Setelah makan siang, kini mereka sudah sampai di Villa milik Zheihan. Begitu juga dengan Auraf yang ikut Rania dan Zheihan, karena itu adalah kemauannya.
“Bibi, apa ini rumahmu?" tanya Auraf tidak percaya.
“Bukan sayang, tapi ini rumah paham Zheihan." ujar Rania lembut sambil mengelus rambut Auraf.
“Mama, Mexty ingin tidur! Tidak boleh di ganggu!" seru Mexty main nyelonong masuk begitu saja.
“Kok Dedek Mextynya udah mau bobok?" tanya Auraf cemberut.
Zheihan yang melihat Auraf cemberut, sehingga ia sangat gemes padanya.
“Sayang, nanti kalau setelah nikah, kita bikin adek buat Mexty yak?" bisik Zheihan di telinga Rania.
“Eh ...," Rania terkejut mendengar penuturan dari Zheihan.
Auraf yang melihat Rania sedikit terkejut, membuat ia bertanya-tanya. “Bibi kenapa?” tanya Auraf polos.
“Tidak apa-apa sayang, nanti Auraf mau ikut pergi ke pasar malam tidak?" tanya Rania lembut.
“Mau!" seru Auraf kegirangan. “Tapi Auraf takut Dady marah." sambungnya lirih.
“Kalau itu, nanti Paman Zhei, bilangin sama Dady okay!" ujar Zheihan mencoba menghibur Auraf.
__ADS_1
“Paman janji!" seru Auraf memberikan jari kelingkingnya.
Seketika Zheihan menoleh pada Rania, yang mana ia ingat saat mereka berjanji akan terus bersama sampai kapanpun. Sehingga ia merasa bahwa janji itu kini telah terpenuhi.
Rania, tunggu satu hari lagi, aku akan memberikan kejutan paling mewah untukmu, batin Zheihan tersenyum pada Rania.
“Ada apa?" tanya Rania bingung karena mendapatkan tatapan aneh dari Zheihan.
“Tidak ada."
“Wah, apakah Paman ingin mencium bibi? Kalau begitu Auraf tidak mau liat!" seru Auraf lalu menutup matanya dengan kedua tangannya.
Zheihan yang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini, ia pun memberikan kecupan singkat di bibir Rania. Tiba-tiba ...,
“Papa!!" teriakan Mexty dengan suara cemprengnya terdengar sangat jelas. Bagaimana tidak? Jika anak itu tengah berdiri di depan pintu masuk rumah, padahal ia sudah masuk ke dalam, tetapi ia merasa bahwa gadjednya ketinggalan, sehingga ia harus kembali. Tetapi hal yang tidak terduga, ia pun melihatnya lagi.
“Astaga sayang, apa kamu tidak bisa teriak sebentar saja." ujar Zheihan geram.
“Papa yang tidak tahu waktu, ini masih siang!" seru Mexty bersedekap.
“Bodoh amat!"
Zheihan dan Rania hanya bisa menepuk jidatnya, karena mereka sudah tahu watak putranya.
****
Waktu yang begitu cepat berlalu, sampai tidak terasa malam pun telah tiba. Raka dan Atika yang di minta oleh Zheihan untuk datang ke villanya, kini sudah duduk diruang tamu.
“Kenapa kau memintaku kemari?" tanya Raka penasaran.
“Aduh Kakak ipar, jangan dingin seperti itu, aku jadi takut.” ujar Zheihan sedikit bergurau.
“Mau ku tonjok kau!” seru Raka.
__ADS_1
“Paman!" geram Atika memperingatinya.
“Kapan kau akan pulang?" tanya Zheihan tiba-tiba, karena penasaran.
“Aku tidak mau pulang! Aku mau sama Paman Raka!" seru Atika lalu memeluk lengan Raka.
“Haissh, dasar bocah!" seru Raka.
“Paman aku bukan bocah!" teriak Atika kesal.
“Aku hanya bercanda, jangan serius begitu.” ujar Raka lembut.
“Hemm."
Mereka pun berbincang-bincang sejenak, sebelum berangkat jalan-jalan. Sampai pada akhirnya ponsel Raka berbunyi.
“Tunggu sebentar, aku mengangkat telpon dulu.” pamit Raka mengindari kumpulan mereka, dan kini sudah berada di teras depan.
“Hallo Pah, ada apa?"
“Dimana kau sekarang?" tanya Tuan Jack's dari seberang.
“Aku lagi ada di Villa Zheihan dan Rania, apa ada yang Papa ingin katakan?” tanya Raka penasaran, karena selama ini Papanya sangat jarang untuk menghubunginya.
“Bibi Hazna ingin bertemu denganmu."
“Baiklah Pah, nanti aku akan ke sana." ujar Raka langsung mematikan ponselnya.
“Bibi Hazna siapa kak?" tanya Rania secara tiba-tiba dari belakang, membuat Raka terkejut.
“Itu ...,"
TBC
__ADS_1
Like dan Komen 🤩