
Zheihan membawa Rania dan Mexty ke taman hiburan, yang mana suasana kali ini begitu ramai, bahkan banyak para pasangan yang sedang menikmati keindahan tempat tersebut.
Mexty yang masih berada dalam gendongan Zheihan, hanya bisa berdecak kagum melihat tempat itu.
“Papa, Mama, aku ingin naik yang itu!” seru Mexty menunjuk pada Bianglala.
“Sayang, itu sangat tinggi, apa kamu yakin?” tanya Rania lembut.
“Tentu saja, karena sekarang Mexty sudah punya Papa sama Mama!” ujar Mexty kegirangan.
“Tumben anak Papa pintar!” ujar Zheihan mencubit hidung Mexty.
“Auwhh …, Papa sakit,” seru Mexty seraya mengusap-usap hidungnya.
“Utututu … anak Papa gemesin." ujar Zheihan geram mencium pipi Mexty.
“Papa! Mexty bukan anak kecil lagi!" celetuk Mexty kesal.
“Mama! Mexty tidak ingin digendong Papa lagi.” renggek Mexty pada Rania, dan mengulurkan kedua tangannya.
“Tidak boleh. Mama baru sembuh, gak boleh manja sama Mama, okay!” ujar Zheihan lembut, sedangkan tangan kanannya masih setia merangkul pinggang Rania.
“Sudahlah Zhei, tidak apa-apa, aku sudah sembuh.” ujar Rania lembut.
“Tidak sayangku, biarkan Mexty biar aku saja yang gendong, benarkan sayang?" ujar Zheihan meminta persetujuan dari Mexty, lalu mencium pipi kanan Mexty dengan gemas.
“Papa! Jangan cium Mexty terus hemmm.” seru Mexty kesal.
__ADS_1
“Baiklah, anak Papa yang imut." ujar Zheihan sambil mengacak-acak rambut Mexty.
“Mama!” teriak Mexty sudah tidak tahan karena perbuatan Zheihan, yang selalu memperlakukan seperti anak kecil.
“Sayang, gak apa-apa kok, itu tandanya Papa sayang Mexty.” tutur Rania lembut.
“Tapi Mexty tidak suka!” saut Mexty kesal.
“Sekarang mau naik bianglala tidak?” tanya Zheihan pada keduanya.
“Mau!” ujar Mexty kegirangan.
“Bagaimana denganmu sayang?" tanya Zheihan pada Rania.
“Iya gak apa-apa.”
“Kamu yakin?”
“Mama! Papa lihat, kembang api!" seru Mexty kegirangan dan terus melihat keluar dengan penuh kekaguman.
Berbeda dengan dua insan, yang mana Zheihan tiba-tiba menarik tekuk Rania dan menciumnya. Setelah lima menit kemudian, Zheihan pun melepaskan pagutannya, dan bertepatan dengan Mexty yang menoleh ke arah mereka.
“Papa, apa Mama baik-baik saja?” tanya Mexty polos, saat melihat Zheihan mengakui wajah Rania.
Zheihan pun menoleh dan begitu juga dengan Rania, yang pada akhirnya saling tersenyum.
“Mama, baik-baik saja kok." ujar Rania lembut, tetapi detak jantungnya masih berdetak kencang dari biasanya. Bahkan wajahnya kini masih memerah.
__ADS_1
Mexty pun mendekatkan diri kepada Rania.
“Tapi wajah Mama memerah, apa Mama yakin baik-baik saja?” tanya Mexty polos.
Sedangkan Zheihan hanya bisa tersenyum manis, melihat Rania yang sedang di interogasi oleh detektif mungil, yang tidak lain adalah Mexty.
Rania … aku janji akan selalu membuatmu bahagia, dan kita akan menjaga Mexty bersama-sama, batin Zheihan, lalu mengecup kening Rania.
”Kok cuman Mama doang? Papa tidak sayang Mexty?” protes Mexty cemberut.
“Yeah, aku kira Mexty tidak suka, dari pada marah seperti tadi.” tutur Zheihan, mengingatkan kejadian beberapa menit yang lalu.
“Papa tidak hemm.” seru Mexty merajuk.
“Baiklah, anak Papa yang imut!” seru Zheihan, lalu mencium pipi gembul Mexty.
“Mexty sayang Mama dan Papa, cup … cup.” Mexty mencium Rania dan Zheihan secara bergantian.
“Kita juga sayang Mexty!” seru keduanya, dan mencium pipi Mexty secara bersamaan. Sungguh mereka telah sampai di titik tertinggi dari Bianglala, bahkan kini mereka terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis.
Tuhan … andaikan aku bisa menghentikan waktu, aku ingin waktu ini berhenti di sampai saat ini, agar aku tidak akan pernah kehilangan mereka, batin Zheihan.
*****
TBC
Author double up, tapi mengapa likenya gak berurutan 😞
__ADS_1
Salam manis Rania, Zheihan dan Baby Mexty 🤩