
Happy Reader 🤩
.
.
.
.
Rania yang sudah mempersiapkan makan malam, dan hanya tinggal Raka yang belum berkumpul, sehingga ia berinisiatif untuk memanggilnya keluar. Namun, pembicaraan Raka dengan seseorang yang ia dengar sangat familiar, hingga ia semakin dekat dan ...,
“Bibi Hazna ingin bertemu denganmu."
“Baiklah Pah, nanti aku akan ke sana." ujar Raka langsung mematikan ponselnya.
Rania yang mendengar suara Papanya begitu jelas, ia pun merasa ada yang aneh, karena nama yang disebut oleh Papanya tidak pernah ia ketahui.
Siapa wanita itu? Kenapa aku tidak pernah mendengar namanya? batin Rania.
Karena ia sangat penasaran, ia pun langsung bertanya setelah panggilan tersebut selesai.
“Bibi Hazna siapa kak?" tanya Rania secara tiba-tiba dari belakang, membuat Raka terkejut.
“Itu ..., ada apa kamu kesini?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan.
“Kakak jawab aku?! Apakah dia selingkuhan Papa?!" tanya Rania sedikit meninggi. Sampai semua orang yang ada didalam mendengar suaranya.
“Rania tenangkan dirimu." ujar Raka lembut dan memegang kedua bahu Rania.
“Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Rania lirih.
“Rania, itu tidak penting, sekarang kita makan malam yuk!" ajak Raka.
“Kakak jawab Rania!" teriak Rania penuh emosi.
“Ada apa?" tanya Zheihan penasaran.
“Paman Zhei, biarkan mereka selesaikan dulu, kita tanyanya nanti saja." ujar Atika lembut.
“Baiklah."
Raka yang masih diam dan bingung, antara jujur dan berbohong. Jika ia jujur, apakah Rania akan membencinya?. Itulah yang terlintas dipikiran Raka saat ini.
“Dia bukan selingkuhan Papa, apa sudah cukup?" ucap Raka lembut sambil membelai rambut Rania.
“Lalu apakah kakak mengenal wanita ini?" tanya Rania menunjukkan selembar foto, yang ia simpan di dalam sakunya.
Deg.
Jantung Raka seakan-akan berhenti berdetak sejenak, saat ia melihat wanita yang ada di dalam foto itu. Dan pertanyaannya kini adalah bagaimana Rania bisa mendapatkan foto itu?.
“Dimana kau mendapatkannya?” tanya Raka berusaha tidak tegang.
__ADS_1
“Kakak, aku bertanya padamu, kenapa kau berbalik tanya padaku?" ucap Rania sedikit datar dan tersenyum sinis. “Apakah kau pikir aku bodoh? Apakah Kakak menganggap ku anak kecil?! Kak, aku sudah dewasa! Aku bukan anak kecil yang harus kamu bohongi!" teriak Rania kesal dan penuh emosi, sampai tidak terasa meneteskan air matanya.
“Sayang, tenangkan dirimu." ujar Zheihan lembut dan mengelus rambut Rania dari belakang.
“Jangan ada seorang pun yang menyentuhku!" teriak Rania sekali lagi.
Zheihan tersentak kaget saat mendengar penuturan dari Rania, karena ini adalah pertama kalinya ia melihat Rania yang dikuasai oleh emosinya. Sedangkan Raka hanya menutup matanya dan mengusap dengan kasar.
Gila, dia sudah dikuasai oleh emosinya, batin Raka.
“Rania, Kakak bisa jelaskan," ujar Raka lembut.
“Apa?!" teriak Rania.
“Rania cukup!" teriak seseorang dari kejauhan yang baru saja tiba. “Apa kamu sudah gila teriak malam-malam begini!" prosesnya kesal.
“Owh, jangan bilang Kakak juga menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Rania padanya dengan datar.
“Kak Zhaif," seru Raka dan Zheihan secara bersamaan.
“Sudahlah, jangan bertengkar seperti ini, dimana Mexty?" tanya Zhaif berusaha tenang dan tidak tegang, meskipun ia sudah tahu sejak awal tentang perdebatan mereka.
“Dady!" seru Mexty kegirangan dari dalam.
Semua orang terkejut, saat melihat Mexty yang langsung berlari ke arah Zhaif, padahal sebelumnya ia masih bermain game bersama Auraf.
“Waww! Apa aku boleh memanggil Dady juga?" seru seseorang yang baru saja tiba sambil cengengesan.
“Hai cantik, siapa namamu?” tanya Zhaif lembut, dan mencoba untuk menghibur gadis kecil itu, agar suasana malam ini tidak tegang.
“Yang mana?" tanya Zhaif pura-pura lupa.
“Aku boleh panggil Paman Dady, seperti Dedek Mexty?" tanya Auraf dengan wajah polosnya.
“Boleh,” ujar Zhaif mencubit pipi tembem Auraf.
“Auwwh, sakit Dady!" seru Auraf kesakitan.
“Maaf.” ujar Zhaif lembut. “Rania, ku harap kamu bisa mengontrol emosimu, jika tidak ...," belum sempat Zhaif melanjutkan perkataannya. Tiba-tiba Rania memotong ucapannya
“Maaf." ujar Rania lirih.
“Apa kau sudah tenang?" tanya Zheihan sedikit ragu, karena takut di bentak oleh Rania.
Rania pun mengangguk.
“Kak Raka, aku minta maaf." ucap Rania lirih dan mendekati Raka untuk memeluknya.
“Aku juga minta maaf." ujar Raka dan mencium kening Rania dengan lembut. Zheihan yang melihat itu sedikit kesal dan langsung menarik Rania kedalam pelukannya.
“Haishh, dasar posesif!" cibir Raka.
“Bodoh amat!" seru Zheihan lalu mengecup puncak kepala Rania.
__ADS_1
“Dady! Mexty ingin tidur!" seru Mexty tiba-tiba.
“Yeah, gak jadi pergi ke pasar malam dong!” seru Atika dan Auraf secara bersamaan.
“Hahaha ..., kalian kenapa jadi kompak?!" tanya Raka menahan tawanya.
“Paman!” seru Auraf dan Atika kembali bersamaan.
“Ihhh, kenapa Kakak jadi ikutan!" seru Auraf kesal dan menghentakkan kakinya.
“Dedek Auraf sama Bibi aja yaa." seru Rania langsung menggendong Auraf.
“Kenapa tidak jadi pergi!" ujarnya kecewa.
“Besok saja bagaimana?" tanya Zheihan.
“Paman janji!" seru Atika dan Auraf secara bersamaan untuk yang ketiga kalinya.
“Huhh menyebalkan!” seru Auraf.
“Kau yang menyebalkan!" teriak Atika kesal.
“Ayo kita pulang saja." ujar Raka menarik tangan Atika.
“Wleekk!" Auraf menjulurkan lidahnya pada Atika.
“Kau!”
“Kau sudah tua, jangan meladeni bocil!" seru Raka menjewer telinga Atika.
“Huaaa Paman!"
“Diam atau aku tinggal!"
“Iya."
Dengan wajah yang cemberut, Atika pun mengikuti Raka masuk ke dalam mobil.
“Mau jalan-jalan?" tanya Raka sedikit malu-malu.
“Mau!" seru Atika kegirangan langsung mencium pipi Raka.
“Atikaa!"
****
Tuan Jack's dan Tuan Cody kini berada disebuah ruangan VIP di restoran. Keduanya saling berhadapan dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kak Jack's, dimana Hazna?" tanya Cody lirih.
“Kenapa? Apakah kamu belum puas menyiksa adikku?" tanya Tuan Jack's dingin.
“Maaf, tapi ...,”
__ADS_1
TBC
Like dan Komen 🤩