
Happy Reader 🥰
Setelah memutuskan teleponnya Rania tidak sengaja menubruk seseorang, ia mencoba minta maaf, tetapi ia terkejut kalau orang itu adalah teman sekolahnya dulu.
“Diandra?” sapa Rania dengan ramah.
“Iya, bentar kamu Rania kan?” tanya Diandra pura-pura ramah.
“Benar sekali, kau kesini bersama siapa?" tanya Rania mencoba untuk basa-basi sebentar.
“Bersama temanku, apa kau mau bergabung?” ajaknya.
Rania, akhirnya kita bertemu, mari kita lihat permainan selanjutnya, batinnya.
“Tidak perlu, aku bersama putraku, mungkin lain waktu," tolaknya dengan lembut.
“Baiklah kalau begitu, okay aku setuju,” sahutnya menyetujui, tetapi ada niat yang tersembunyi di dalam hatinya.
“Okay.”
Setelah itu Rania berlalu meninggalkannya sendirian, dan langsung menghampiri Zheihan dan Mexty.
“Mama kenapa lama? Mexty sama Papa sudah menunggu Mama hampir setengah jam, liatlah makanannya juga mulai dingin,” celoteh Mexty panjang lebar.
“Maafin Mama ya sayang, tadi di toilet Mama lagi ketemu teman lama," ujarnya sambil mengelus rambut Mexty.
Zheihan yang sedang menyimak kedua, ia merasa ada sesuatu yang aneh saat Rania menyebut teman lama.
__ADS_1
Teman yang mana? Bukannya dia tidak terlalu akrab dengan orang lain? Siapa orang itu? batin Zheihan penasaran.
Rania pun duduk di sebelah Mexty, dan Zheihan melihatnya dengan kode seolah ia bertanya padanya. Rania paham apa yang dimaksud oleh Zheihan, ia pun tersenyum lantas berkata.
“Cepatlah makan, habis ini kita langsung pulang,” tuturnya.
“Oh iya.”
Sejam kemudian, mereka sudah selesai dan siap untuk pulang. Mexty sudah berkali-kali menguap karena mengantuk. Sesampainya di rumah Zheihan langsung mengintrogasi Rania yang baru saja selesai mencuci mukanya.
“Sayang, tadi kamu ketemu sama siapa?” tanya Zheihan penasaran.
“Owh itu loh Dad, teman waktu SMP," jawabnya Rania berbohong.
“Temanmu yang mana? Setahuku kau tidak terlalu banyak teman perempuannya," cibirnya. “Kalau itu teman lamamu, kenapa kau tidak mengajak makan bersama?" tanya Zheihan semakin mengintimidasi.
“Ya karena aku ingin tau, kamu bisa gak jujur sama aku?!” seru Zheihan kesal.
Rania pun menghela nafas dan menoleh lalu menyentuh wajah tampan Zheihan.
“Zhei please, jangan emosi, ini udah malam, bagaimana kalau Mexty terbangun?" tuturnya mencoba untuk menenangkan Zheihan.
Zheihan yang sudah sudah tidak tahan melihat wajah cantik Rania, ia pun langsung menciumnya tanpa aba-aba. Rania terkejut saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari Zheihan.
Berkali-kali Rania memukul dada Zheihan agar melepaskan ciumannya.
“Maaf," ucapnya langsung mengusap bibir ranum Rania dengan ibu jarinya.
__ADS_1
“Sudahlah, bibirku serasa jadi permen kesukaanmu," sahut Rania kesal.
“Sayang jangan gitu lah, ya kan cuman kamu istriku, emangnya mau aku cium orang lain?" tanya Zheihan mencoba untuk memanas-manasi Rania.
“Apa kau bilang? Katakan sekali lagi?!" seru Rania marah.
“Mencium orang lain, apalagi yang masih perawan, kayaknya sihh bagus,” ucapnya sekali lagi.
“Owhh gitu yaa, okay kalau gitu," ucap Rania mengangguk-anggukkan kepalanya, tapi pasti ada niat tersembunyi. Ia berjalan mendekati tempat tidur dan mengambil bantal.
“Ini bantalmu, terus keluar dari kamarku, jangan harap kau tidur di sini malam ini!" teriak Rania sambil melempar bantal ke arah Zheihan.
“Hey, ini rumahku, kamarku, jadi ...,"
“Tidak, malam ini kau tidak boleh tidur bersamaku!”
“Sayang ayolah, aku tadi cuman bercanda, sayang aku gak bisa tidur tanpa kamu," ucap Zheihan memohon pada Rania.
“Tidak, jangan ganggu aku, kau tidur di luar!" seru Rania sambil mendorongnya keluar pintu.
Brakkkkk!
***
See you next Part 🥰
Like 💚Komen 💚 Favorit 💚
__ADS_1