
Happy Reader 🥰
.
.
.
Zheihan yang bari saja pulang kerja merasa terganggu karena suara suara cempaka Mexty memenuhi rumah. Ia pun berjalan menghampirinya sumber suara putranya.
“Astaga Mexty, bisa tidak jangan teriak-teriak!” seru Zheihan mengusap wajah.
“Owh tidak bisa! Siapa suruh uncle Rai merusak sayuranku, aku tadi memintanya untuk memotong dengan benar, tapi cobalah Papa lihat hasilnya?!” seru Mexty kesal dan menunjukkan pada sayuran yang telah di potong oleh Raihan.
Rania yang sedari tadi diam menahan tawanya, gimana tidak mau tertawa jika bentuk sayurnya tebal-tebal dan tentunya tidak sesuai harapan Mexty. Begitu juga dengan Zheihan yang melihatnya langsung tertawa lepas.
”Bwahahahha, itu mau bikin sop atau apa? Bwhahha
...,” Zheihan menghentikan tawanya karena Rania menyenggol lengannya.
Sedangkan Raihan santai dan seolah tidak bersalah. “Baiklah Tuan kecil, tugasku sudah selesai, jadi aku mau pulang, dadah mmmuachhh ...,” ucap Raihan santai, sambil mencium puncak kepala Mexty.
“Jangan menciumku!” seru Mexty menendang kakinya.
“Awwwh ...,” seru Raihan merintih kesakitan. “Kak, aku pulang dulu!” imbuhnya.
“Hati-hati.”
“Okay!”
Mexty sudah kehilangan mood untuk melanjutkan masakannya, sehingga ia pergi keruang makan dan duduk di sebelah Zheihan.
“Kenapa kemari? Bukannya kau ingin membantu Mama?” tanya Zheihan.
“Tidak.” Jawabnya singkat, lalu meletakkan kepalanya di atas meja.
__ADS_1
Sungguh emosian dan gampang moodyan, batin Zheihan.
“Baiklah, kau disini aku akan membantu Mama,” ujarnya.
***
Alvina dan Diandra sedang berbincang-bincang asik, tetapi dari ekspresi wajah mereka terlihat serius dan ada rasa dendam pada orang yang sedang mereka bicarakan.
“Vina, dimana Cantika? Bukannya dia ikut berpartisipasi dalam rencana ini?” tanya Diandra.
“Sudahlah, jangan bahas dia, dia adalah gadis bodoh!” cibirnya.
“Okay aku paham. Bagaimana misimu?” tanya Diandra.
“Selalu gagal, anak buahku dikalahkan oleh Rania.”
“Maksudmu Rania? Yang benar saja kau, Rania selemah itu bisa dikalahkan?” tanyanya tidak percaya.
“Diandra, kamu jangan terlalu meremehkan dia, dia sekarang lebih kuat dan cerdik, bukannya dulu kamu juga kalah sama dia?” celetuknya.
“Bukannya kau yang menaruh perangsang dalam minuman Zheihan waktu itu, tapi kau gagal dan dimenangkan Rania,” tuturnya.
“Tutup mulutmu!”
“Okay.”
***
Rania dan Zheihan mengajak putranya untuk keluar untuk mencari seafood. Mereka pun berhenti di restoran yang mereka tuju, lalu mereka pun duduk di bagian kursi dekat jendela dan langsung memesan makanan.
“Kalian tunggu di sini, Mama ke toilet sebentar,” ucap Rania.
“Okay siap!” seru keduanya serentak.
Rania pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke toilet. Tidak lupa ia membawa tasnya, karena ia ingin menghubungi seseorang. Sesampainya di toilet ia pun langsung menelponnya.
__ADS_1
“Halo kak, aku ingin cerita tentang sesuatu,” ucap Rania padanya.
“Ada masalah apalagi? Baru juga ditinggal sebentar," ujarnya dari seberang sana.
“Ceritanya begini, tapi maaf Rania cuman cerita ke kakak saja, jangan beri tau yang lain, Rania udah diteror dua kali, lalu kemarin ada seseorang yang mengikutiku dan barusan juga,” jelasnya.
“Kau tidak memberitahu Zheihan?"
“Tidak, dia sedang menjalani proyek besar sekarang, jadi aku minta bantuan kakak," ucap Rania.
“Kau tidak cerita dengan Papa?”
“Kak Raka tolong, aku sudah bilang cuman kakak yang tau, aku belum berani cerita pada yang lainnya, apalagi Papa, dia kan sudah di Afrika,” tuturnya.
“Akhh baiklah, dasar cerewet. Aku akan membantumu tapi bukan aku yang ke sana, tapi Yonxi,” jawabnya.
“Tidak ada yang lain? Kenapa Yonxi?”
“Mau tidak?”
“Baiklah.”
Panggilan pun terputus, Rania mencoba untuk merapikan rambutnya. Namun, saat berbalik ia hendak menabrak seseorang.
“Sorry," ucap Rania.
“Its okay.”
“Diandra?”
Happy Reader 🥰
Bantu Like, Komen dan Share juga ya 🤗
See you next Part 🥰
__ADS_1