Anak Genius : Menculik Papa Muda

Anak Genius : Menculik Papa Muda
PART 69~ Terima Kasih Telah Menungguku


__ADS_3

Happy Reader 🤩


.


.


.


Apakah Zheihan akan bersikap seperti ini, jika dulu aku tidak pergi? Maafkan aku Zheihan, yang selalu egois, batin Rania.


Kemudian, tanpa persetujuan dari Zheihan, ia pun memeluknya dengan erat, ia ingin mendekapnya, walaupun masih ada kebohongan.


“Sayang, ada apa? Apa kamu merindukan aku?" tanya Zheihan penasaran.


Rania pun mengangguk dan masih berada dalam pelukannya.


“Aku sudah pulang, tapi ...,” ucapnya Zheihan terpotong, ia tidak sanggup meninggalkan Rania di rumah sendirian, karena ia ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya.


Rania pun mendongakkan kepalanya.


“Kenapa?” tanya Rania lirih.


“Aku besok harus pergi ke Swiss, kamu gak apa-apa aku tinggal kan?" ujar Zheihan lembut sambil mengelus rambut Rania.


“Papa! Mexty tidak di peluk!” seru Mexty dengan suara cemprengnya, tiba-tiba datang.


Zheihan pun melepaskan pelukannya dari Rania dan menggendong Mexty.


“Apakah anak Papa mulai manja hemm?” tanya Zheihan.


“Mexty bosan bermain dengan Uncle raihan.” ujar Mexty cemberut.


“Raihan? Siapa lagi dia?" tanya Zheihan penasaran.


“Hai Kakak ipar!" seru seorang dengan menyunggingkan senyuman khasnya.


“Kamu?”


“Iya, kenapa?" tanya Raihan cuek.


“Apa kau yakin tidak mau?" seru seseorang lagi, dan tentunya membuat Zheihan bingung, sejak kapan rumahnya menjadi penampungan orang?.


“Kenapa kalian bisa di rumah?" tanya Zheihan heran.


“Dia Bu guru cantiknya Mexty Pah, dia juga yang menemani Mexty di rumah, karena Mama juga baru pulang beberapa menit sebelum Papa pulang.” tutur Mexty jujur.


“Sayang, kamu kemana?” tanya Zheihan menoleh ke arah Rania.


“Ke rumah Mama." ujar Rania cengengesan.


“Owh ...,"

__ADS_1


“Papaku ganteng deh," puji Mexty miliki niat terselubung.


“Sudah katakan saja, jangan basa-basi.” ujar Zheihan mengerti maksud dari Mexty.


“Mexty ingin komputer 3!” seru Mexty kegirangan.


“Hahh??!" Zheihan terkejut.


Sedangkan yang tiga lainnya hanya bisa tertawa.


“Baiklah, Papa akan membelikan semua komputer untukmu, tapi ada syaratnya." ujar Zheihan sambil tersenyum nakal.


“Zhei, jangan manjakan dia." ujar Rania menghela nafas, karena ia tidak ingin Mexty terlalu gila dengan komputer di usianya yang masih terbilang terlalu dini untuk memahami komputer.


“Sayang, sudah tidak perlu khawatir." ujar Zheihan lembut.


“Apa syaratnya?" tanya Mexty sedikit curiga.


“Kamu harus menyelesaikan studi sampai S1 aja," ujar Zheihan tersenyum penuh kemenangan.


“Akhh, Papa gak asik!" ujar Mexty cemberut.


“Kalau begitu, aku lebih baik pulang saja." celetuk Raihan dan mulai melangkah.


“Istrimu tidak mau dibawa pulang?" ujar Zheihan sekenanya, karena ia mengira keduanya adalah sepasang suami istri.


Raihan pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Audira (Bu guru cantik).


“Kalau begitu, Kak Rania, aku pamit dulu." ujar gadis itu sambil menghampiri Rania, lalu mencium tangannya.


“Hati-hati." ujar Rania.


Gadis itu hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Raihan.


****


Di sisi lain, Atika yang bersikap manja pada Raka, karena ia baru tadi siang Raka sudah membawanya keluar dari rumah sakit, dengan alasan tidak ada yang menjaga Atika jika dirinya berada di kantor, jadi dia membawanya pulang.


“Paman!” teriak Atika kesal yang kesekian kalinya, karena Raka tidak mendengarkannya.


Atika pun mengambil ponselnya dan memilih salah satu kontak yang ada di ponselnya. Raka yang melihat Atika dengan tatapan aneh, sampai pada akhirnya Atika memanggil nama seseorang dengan keras.


“Gaiden! Jemput Atika dong!" seru Atika manja.


Raka pun dengan cepat menghampiri Atika dan mengambil ponselnya, lalu melihat layar ponsel Atika yang masih mati.


“Kau membohongiku?" tanya Raka kesal.


“Makanya Paman jangan cuekin Atika terus!" celetuk Atika kesal.


“Terus, mau kamu apa?"

__ADS_1


“Gendong Atika ke kamar mandi." ujar Atika cengengesan.


Hah ..., Raka pun menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kembali ke udara.


****


“Sayang, gak apa-apa kan aku tinggal besok?" bisik Zheihan ditelinga Rania, agar Mexty tidak terbangun yang mana kini berada dalam pelukannya Rania.


“Apakah lama?" tanya Rania lirih.


Zheihan, aku baru ingat, kenapa kamu udah mau pergi? batin Rania.


“Tidak, hanya tiga hari,” ujar Zheihan sambil memeluk Rania dari belakang.


Rania yang mendengar itu sedikit kecewa, pasalnya ia berharap Zheihan hanya satu hari di luar negeri.


“Owh." ujar Rania sedikit enggan.


“Sayang, kamu marah?" tanya Zheihan penasaran.


“ ....” tidak ada jawaban dari Rania.


Zheihan pun membalikkan tubuh Rania agar menghadapnya.


“Kamu kok nangis?" tanya Zheihan penasaran.


“Maafkan aku, karena aku terlalu egois." ujar Rania memeluk tubuh Zheihan dengan erat.


“Sayang, kamu ngomong apa sih?" ujar Zheihan kebingungan.


“Maafkan aku karena pernah pergi meninggalkanmu." ujar Rania dalam isakkannya.


“Sayang, kamu mimpi buruk?" tanya Zheihan semakin penasaran.


“Tidak.” ujar Rania singkat. “Lalu kamu kenapa mau pergi?" ujar Rania lirih.


“Raniaku sayang, kalau ngomong yang bener, aku gak paham maksud kamu itu apa?" tanya Zheihan lembut sambil menangkup wajah Rania.


“Aku bilang aku minta maaf, karena sempat menyembunyikan Mexty darimu.”


Sampai disini Zheihan pun tersadar, bahwa Rania sudah mengingatkan semuanya. Jadi kesimpulannya kini, Rania sudah tidak lagi membencinya. Sehingga hal itu membuat Zheihan meneteskan air matanya.


“Sayang, kau sudah sembuh?” tanya Zheihan semakin tidak percaya.


Rania pun mengangguk, “Terima kasih karena kau mau menungguku.” ujar Rania lirih dan masih meneteskan air matanya, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah Zheihan.


“Karena aku mencintaimu.” ujar Zheihan meraih tangan Rania, lalu mengecup telapak tangannya sekilas.


TBC


Warning!!

__ADS_1


Menuju Konflik terakhir ☺️ dan Mungkin akan segera tamat😍 dan berganti cerita baru☺️.


__ADS_2